Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 117.Menemui si Peneror


__ADS_3

Kali ini, aku akan memberikan pengarahan untuk 5 sekretarisku. Kenapa tidak 2 saja?Karena tugasku lumayan banyak dan aku akan menugaskan semuanya. Apalagi kantor kami tengah maju.


"Kalian harus mengikuti peraturan yang ada di kantor saya karena kalian telah resmi diambil dan melaksanakan tugas yang lumayan berat. Saya tidak mau ada kesalahan empat puluh lima persen setiap pekerjaan kalian beberapa bulan kedepan dan jaga sikap dan attitude kalian. Jika sampai kalian kelewatan dan para staff mengadu ke saya, siap-siap kalian angkat kaki dari sini dan nama kalian akan masuk blacklist!" tegasku memasang wajah datar membuat staff-ku menunduk ketakutan.


Ping!


Aku menghentikan langkahku menuju lift dan memilih duduk di kursi tunggu.


Nomor tak dikenal


(Sudah siap untuk memulai permainannya? Atau aku harus memulainya dulu? Aku akan memperlihatkan permainanku padamu. Tapi, aku tidak tahu kapan dan jam berapa. Yang pasti, kau akan terkejut nantinya. Azlan semakin hari kau semakin tanpan. Sayangnya, kau bukan menjadi milikku. Bagaiman rasanya jika aku bisa memilikimu seutuhnya? Pasti aku sangat bahagia dan menjadi wanita paling bahagia bisa memilikimu. Apa yang paling kau takuti dan kau sukai di seluruh duniamu? Apa aku bisa mendapatkan dan merebutnya darimu?)


Aku berdesis setelah membaca pesan tersebut, mengumpat dan meremas ponsel yang ada di dalam genggamanku.


Aku menekan tombol hijau yang berada di pojok kanan atas lalu berjalan menuju lift.


Aku menekan tombol 11 di mana ruanganku berada paling atas.


"Hei bang***, ada perlu apa dan apa tujuanmu mengirim pesan teror itu ke nomorku? Kau tahu, kau berurusan dengan siapa, ha? Bicaralah! Jangan hanya diam seperti orang bodoh saja."


Hening.


"Sh**!" umpatku lalu panggilan itu ia matikan sepihak.


Aku kembali menekan tombol hijau, tapi ia mematikannya.


Ting!


Pintu lift terbuka lalu aku berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam ruanganku.


Ping!


Nomor tak dikenal


(Kau sangat ingin tahu siapa aku, Azlan? Kenapa? Kau ketakutan karena aku akan langsung berbuat pada orang yang kau cintai itu? Tidak-tidak, aku lebih suka jika permainanku begitu pelan dan lembut. Bahkan kau tak bisa menyadarinya nanti. Kau tenang saja, awalnya aku tak akan membunuh semuanya. Kau tahu, aku orang yang sangat takut dengan kecerobohan dan tergesah-gesah seperti dirimu. Jangan pernah menelfon diriku, cukup berkirim pesan saja. Aku tak ada waktu untuk berbicara denganmu karena aku juga sibuk lebih dari dirimu.)


To +62 xxxxxxxxxxx


(Dasar manusia biadab, siapa sebenarnya dirimu. Angkatlah teleponku, aku ingin bicara denganmu atau kita bertemu hari ini juga.)

__ADS_1


Aku mengirim pesan pada nomor teror itu dengan cepat.


Ping!


Nomor itu mengirim alamat yang harus kubuka dengan menggunakan data internet.


Nomor tak dikenal


(Kau benar-benar pria yang sangat berani, bernyali tinggi dan membuatku tertantang. Jikapun kita bertemu, kau tak akan mengetahui siapa diriku karena kita tak pernah bertemu. Jangankan bertemu, menjalin kerja sama antar perusahaanku saja aku tak pernha dengan perusahaanmu. Aku takut nantinya kau akan terkejut dengan rupaku yang terlihat sangat luar biasa. Bagaimana? Kau akan tetap bertemu denganku? Baiklah, aku akan mengirim alamatnya.)


Dapat, tapi ini menunjukkan lokasi yang tak pernah kutuju. Jalannya sangat sempit. Tak apa, aku akan menemuinya dan jika perlu, aku akan menghajarnya sebelum dia menyentuh keluargaku.


Aku segera keluar dari ruanganku menuju parkiran mobil. Sebelum aku menuju alamat tersebut, terlebih dahulu aku mengisi bensi mobil karena hampir sekarat dan aku tidak mau pulang dengan keadaan darurat.


"Gosh, God. Is this true? He brought me to this address? It's a grave and I don't know where. There is no one here but myself. That guy really messed up my mind," gumamku seraya mengambil pisau lipat dan pistol kecil.


(Astaga, Tuhan. Ini apa benar? Dia membawaku ke alamat ini? Ini kuburan dan aku tak tahu di mana. Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali diriku sendiri. Pria itu benar-benar membuat pikiranku kacau saja.)


Yang kutuju ini adalah sebuah kuburan kristen dan hanya sebuah lapangan dan di belakang kuburan itu adalah semak belukar.


Tanpa pikir panjang, aku mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil. Berjalan memasuki semak itu menggunakan senter yang kecil di dalam genggamanku.


To +62 xxxxxxxxxxx


Send!


Aku mengirim pesan pada nomor teror itu dengan cepat.


Ping!


Nomor tak dikenal


(Kau benar-benar pria yang sangat berani, bernyali tinggi dan membuatku tertantang. Jikapun kita bertemu, kau tak akan mengetahui siapa diriku karena kita tak pernah bertemu. Jangankan bertemu, menjalin kerja sama antar perusahaan ku saja aku tak pernahkah dengan perusahaan mu. Aku takut nantinya kau akan terkejut dengan rupa ku yang terlihat sangat luar biasa. Bagaimana? Kau akan tetap bertemu denganku? Baiklah, aku akan mengirim alamatnya.)


Nomor itu mengirim alamat yang harus kubuka dengan menggunakan data internet.


Dapat, tapi ini menunjukkan lokasi yang tak pernah kutuju. Jalannya sangat sempit. Tak apa, aku akan menemuinya dan jika perlu, aku akan menghajarnya sebelum dia menyentuh keluargaku.


Aku segera keluar dari ruangan ku menuju parkiran mobil. Sebelum aku menuju alamat tersebut, terlebih dahulu aku mengisi bensin mobil karena hampir sekarat dan aku tidak mau pulang dengan keadaan darurat.

__ADS_1


"Gosh, God. Is this true? He brought me to this address? It's a grave and I don't know where. There is no one here but myself. That guy really messed up my mind," gumamku seraya mengambil pisau lipat dan pistol kecil.


(Astaga, Tuhan. Ini apa benar? Dia membawaku ke alamat ini? Ini kuburan dan aku tak tahu di mana. Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali diriku sendiri. Pria itu benar-benar membuat pikiranku kacau saja.)


Yang kutuju ini adalah sebuah kuburan kristen dan hanya sebuah lapangan dan di belakang kuburan itu adalah semak belukar.


Tanpa pikir panjang, aku mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil. Berjalan memasuki semak itu menggunakan senter yang kecil di dalam genggamanku.


Aku sangat takut untuk berjalan kaki menyusuri kuburan yang terkadang tak sengaja kuinjak. Mau bagaimana lagi, aku sendirian dan aku juga harus berani.


Ping!


Langkahku terhenti mendengar suara ponselku berbunyi.


Nomor tak dikenal


[Sudah di mana, kau? Apa kau benar-benar datang sendirian? Teruslah susuri kuburan itu hingga kau dapat melihat kehadiranku. Jangan sampai kau kabur dan aku akan menangkap orang yang kau cintai.]


Dia kembali mengancam ku dengan kata-kata yang ia kirim melalui pesan ke ponselku.


To Nomor tak dikenal


[Kau gila?! Aku tak takut padamu.]


Aku kembali menyimpan ponselku di saku celana dan kembali melanjutkan perjalanan menurut kata hatiku karena dia tak mengirim lagi alamatnya.


***


Sampai akhirnya aku menemui mereka. Hari semakin gelap dan aku harus menyelesaikan semuanya sebelum pulang.


"Hei!" teriak seseorang. Kulihat 3 orang pria bertubuh sedang berdiri di tepi danau. Aku berjalan mendekati mereka.


Seorang pria berwajah cacat itu ingin menjabat tangan denganku. Sementara aku hanya diam bergeming lalu melipat tangan di depan dada.


"Kau Azlan? Perkenalkan, aku orang yang mengirim pesan denganmu.)


"Halo orang tua. Apakah kamu yang mengirimiku pesan? Apa artinya mengganggu rumah tangga saya? Tidak punya istri atau warisan yang memilih membuat hidup Anda lebih berwarna dan malah mengganggu kehidupan orang lain? Hei, kamu sudah tua. Lebih banyaklah beribadah dan lakukan lebih banyak hal yang berguna daripada memperlakukan saya. Tak berapa lama lagi, Anda akan dimasukkan ke dalam peti dan ingat itu tua bangka," ucapku sinis.


Mereka tertawa remeh mendengar ocehan ku. Sementara pria cacat itu berjalan mendekatiku, aku berjalan mundur untuk mengambil ancang-ancang agar dia atau bawahannya jika memukulku, aku tahu seberapa luas ruangan agar aku bisa mengelak nantinya.

__ADS_1


"Kau anak muda, tapi bicaramu sangat dewasa dan sangat kasar. Apakah Seok tak mengajarkanmu bagaimana berbicara dengan orangtua dengan sopan, ramah dan tamah? Jangan katakan hal itu lagi, aku bisa emosi dan melakukan hal yang tidak-tidak padamu dan membuatmu menangis, kecewa dan malah bertekuk lutut di depanku."


__ADS_2