Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 123.Kecurigaan Jong Ru


__ADS_3

"Jadi, begini. Managermu Alazka menyuruhku untuk aku mengurusnya karena dia tak mengerti mengenai hukum. Aku membayar polisi sekitar tiga puluh juta rupiah untuk menyelidiki mereka. Aku meminta mereka untuk mengaku, tapi tidak mempan. Terpaksa mereka menyuntik bius dengan dosis tinggi ke tubuhnya agar mereka mengaku dan mereka tidak goyah. Polisi memilih memasukkan mereka ke dalam sel dengan penjara seumur hidup. Tapi, aku berharap mereka mengaku dan menyebutkan nama orang yang menyuruh mereka untuk mengirim pesan teror di ponselmu," terangku pada Jong Ru.


"Aku sempat berpikir bahwa, kenapa mereka sangat menutupi orang itu? Aku sangat penasaran dengan orang itu. Tapi, di sisi lain aku juga penasaran apakah ini ulah dari keluargaku ataukah dari mantan kekasihku? Entahlah, aku hampir saja tak bernapas ketika melihat pesan itu dan aku dulu merasa akan mati karena aku harus melawan 3 orang dalam 1 waktu. Bagaimana kerja samamu selanjutnya?" tanyaku.


Jong Ru memperbaiki posisi duduknya dengan menyandarkan punggungnya ke kepala kursi.


"Saat ini otakku buntuh untuk berpikir bagaimana caranya. Tapi, saranku agar kamu tidak terlalu memikirkan hal ini. Kau 'kan tak memberitahu ini pada istrimu, 'kan? Jangan sampai dia melihatmu pusing karena masalah ini. Perempuan pasti akan sangat penasaran tak terkecuali istrimu. Yang penting, kau kabari saja aku saat pesan itu muncul. Maka, otakku akan kembali berjalan untuk memikirkannya," celotehnya seraya memijit pelipisnya lalu tertawa pelan.


Aku mengembuskan napas pelan lalu menyenderkan punggungku di kursi seraya menyeduh coffee americano. Adnan tengah memainkan ponselnya tanpa menghiraukan perkataan kami tadi.


"Huh, bagaimana pun juga. Ini adalah masalah baru kalian, aku akan membantunya. Bila perlu, aku akan membunuhnya. Aku sangat tak suka bila kalian diganggu apalagi kau sepupuku. Aku curiga antara mantan kekasihmu dan sepupu kecilmu yang dulu meminta lamaran pekerjaan ke kantormu."


"Dari mana kau tahu?" tanyaku mencondongkan tubuhku ke arah Jong Ru.


"Ya, orangtuamu memberitahuku. Aku tak bisa membantu karena aku tak bekerja di kantormu. Kita beda kantor, bidang dan cabang. Aku hanya menjadi pendengar dan kurasa ini salah satu jebakannya. Mungkin saja, aku hanya mengada-ngada. Aku juga tak tahu." Jong Ru kembali menyeduh coffee americano-nya yang tinggal setengah di gelasnya.


"Ya sudah, kalau begitu sampai di sini dulu pertemuan kita. Aku harus pergi dulu karena ada yang harus kukerjakan di rumah. Hanya pekerjaan kantor saja, kau jangan curiga padaku. Kabari aku mengenai masalah ini, aku pasti akan membantumu. Jaga kesehatan kalian. Aku pergi, ya." Jong Ru beranjak dari kursinya lalu membayar makanan kami. Dia mentraktir kami sementara Dara menatapnya cengo.


"Kak, kok tiba-tiba dia pergi?" tanya Dara padaku.


"Ceritanya udah selesai," jawabku enteng.


"Cerita apa kalian tadi?"


"Masalah pekerjaan, perempuan gak boleh tahu. Ini masalah laki-laki, kamu mau dengar? Jadi, ceritanya gini--"


"Gak perlu, kita pulang atau ke mana kek, gitu," potong Dara membuatku tersenyum.


"Ayo."

__ADS_1


Aku menarik tangan Dara menuju parkiran mobil. Hari ini, aku membawanya ke sebuah pantai. Apalagi ini adalah hari Sabtu, mungkin pantai akan ramai saat ini.


Sampainya di sana, kami membayar apa yang harus dibayar untuk memasuki pantai tersebut. Membeli beberapa makanan dan minuman yang tersedia di sana.


Sinar matahari lumayan terik saat ini, apalagi langit yang sangat mendukung serta angin sepoi-sepoi berhembus menerpa tubuhku yang dibaluti hoodie berwarna brown.


"The sun is quite stinging, even though it's still eleven o'clock in the afternoon and we have to use sunscreen so that our skin doesn't turn black due to ultraviolet rays, dear."


Aku menuangkan sunblock ke tangan Dara. Saat ini kami tengah berdiri di atas pasir putih dan di depan mata kami telah disuguhkan oleh pantai yang jernih berwarna biru sama dengan warna langit.


(Mataharinya lumayan menyengat, padahal sekarang masih pukul sebelas siang dan kita harus gunakan tabir surya supaya kulit kita tidak menghitam akibat sinar ultraviolet, sayang.)


"Dari mana kakak dapat sublocknya?" tanya Dara sambil mengolesi lotion itu pada tangan dan wajahnya.


"Barusan kakak beli waktu kamu beli minuman es ini."


Aku menarik tangan Dara mendekati bibir pantai. Setelahnya Dara menahan tanganku saat aku kembali menariknya ke dalam air pantai yang sangat jernih ini.


Aku mengembuskan napas kasar lalu meminta ponselku yang tersimpan di dalam tas ransel mungil miliknya.


Aku membidik tanganku yang menggenggam tangan Dara dan di backgroundnya adalah pantai.


"Kakak mau ngapain?" tanyanya.


"Mau bawa keluarga main ke pantai," jawabku enteng.


Aku mulai membuka aplikasi WhatsApp lalu membuka room chat group keluargaku.


[Semuanya, keponakanku. Kami sekarang ada di pantai. Ini alamatnya, kalian tak akan pergi kemari kah? Di sini sangat seru, apalagi pemandangannya ini. Tidak banyak bule di sini jadi aman untuk mata kalian. Aku tunggu kabar kalian secepatnya.]

__ADS_1


Aku kembali menarik tangan mungil Dara menuju ke tempat teduh. Kami menduduki kursi kayu yang panjang untuk mengulurkan kaki ditambah dengan payung yang memadai.


Drt ... drt ... drt ...


"Eh, sayang. Bibi Kim video call."


Dara mendekatkan diri padaku lalu aku menggeser ke atas tombol hijau.


Terlihat Azka dan para adik perempuannya tengah menatap kami.


"Paman, bisakah kamu menjemput ku? Mama tidak bisa mengantar kami ke sana karena dia tengah ke kantor. Ada rapat dadakan. Tapi, kita akan ditemani dengan Tante Ahyun. Permasalahannya adalah Tante Ahyun tidak bisa menyetir. Bagaimana ini? Aku ingin pergi ke pantai, aku tidak bisa menyetir karena aku tidak punya SIM dan kakiku tidak sampai ke penginjak gas. Bisakah kau menjemput kami, Paman Azlan ?" cerocos Azka dengan polosnya.


"Ah, bagaimana ini? Aku juga tidak paham karena kami telah membayar dan jika kami menjemput kalian, otomatis aku akan membeli yang baru lagi. Ke mana ayahmu, Azka?" tanyaku menggodanya seraya mengibas ke belakang surai hitamku.


"Astaga, paman. Kenapa kau pelit sekali? Itu tak seberapa daripada cemilan kami. Jika saja aku sudah besar, aku pasti akan menyusul kalian ke sana. Bahkan aku akan membayar pantainya jika aku punya banyak uang sekamarku. Dara sekarang tengah menyiapkan perlengkapan kami. Apakah di sana ramai sekali? Aku tak mau melihat orang yang berpakaian minim karena membuatku jijik dan ingin muntah. Beritahu aku," gerutunya memasang wajah marah, tapi menggemaskan.


Aku tertawa sedikit keras karena melihat wajah Azka yang garang. Terlihat ia sangat marah ditandakan dengan telinganya memerah, sama sepertiku.


"Ya sudah, kami akan menjemput kalian. Jangan cemas, aku akan membayarnya. Jangan mengatakan paman yanga tampanmu ini pelit, hanya saja aku sekarang tengah menabung untuk anakku kelak. Dulu kau bilang ingin punya adik yang perempuan lalu kau akan menikahinya bukan? Baiklah, segeralah bersiap-siap. Aku tak mau menunggu jika sampai di sana nanti," tuturku.


"Tanpa paman minta, kami akan segera siap-siap dan berlari masuk ke dalam mobilmu."


Tit!


Azka langsung mematikan panggilan video kami sepihak.


"Apa katanya, kak?"


"Dia mau ikut, tapi Paman dan Bibi Kim tak bisa datang dan tak bisa mengantar mereka ke sini. Paman Jeehyoon sekarang masih di kantor, sementara Bibi Kim pergi ke kantor lagi karena ada rapat. Terus Azka minta dia di jemput. Dia juga mengatai suamimu yang tampan ini pelit, karena aku tidak mau menjemput mereka."

__ADS_1


Dara tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Lalu ia menarik tanganku keluar dari pantai menuju parkiran mobil.


__ADS_2