
Setelah 4 hari berwisata bersama Dara selama seminggu ini, aku dan Dara pulang ke Indonesia.
Keesokan harinya
Aku berangkat kerja dan Dara dirumah.
Aku melirik kursi yang kosong di depan mejaku dan Mira berjalan mendekati kursi tersebut.
"Untuk bulan ini, kalian akan mendapatkan gaji tambahan karena saya dan Alazka sudah menambahkan sahan di perusahaan kita. Ini juga berkat kalian yang membuat saya bangga. Jadi, tugas kamu dengan temanmu yang lain, masukkan 12% di setiap gaji mereka bulan ini dan seterusnya. Jika ada salah satu yang tak mendapatkan, kamu akan masuk ke dalam blacklist."
"Baik, pak."
Mira berjalan keluar ruangan, tapi sebelum itu ia berpamitan padaku dan menutup pintu ruangan dengan rapat.
Aku mengembuskan napas pelan seraya memijat pelipisku.
Ting!
Aku sedikkt tersentak dengan suara ponsel yang menandakan pesan masuk. Amu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerja lalu melihat pesan dari papa. Ada apa gerangan?
[이것은 무엇을 의미 하는가?! 사실인가요? 왜 할 수 있습니까?]
[날 믿지 않니?]
[아빠는 왜 그렇게 말할 수 있는지 궁금했습니다.]
[오랜만이야, 아빠. 나는 그것을 직접 숨기고 내가 그것을 좋아하지 않는다고 전에 말했다.]
[좋아요, 아빠가이 문제를 처리 할 것입니다.]
(Igeos-eun mueos-eul uimi haneunga?! sasil-ingayo? wae hal su issseubnikka?)
(Nal midji anhni?)
(Appaneun wae geuleohge malhal su issneunji gung-geumhaessseubnida.)
(Olaenman-iya, appa. Naneun geugeos-eul jigjeob sumgigo naega geugeos-eul joh-ahaji anhneundago jeon-e malhaessda.)
(Joh-ayo, appagai munjeleul cheoli hal geos-ibnida.)
(Apa maksudnya ini?! Apa itu benar? Kenapa bisa?)
(Apa papa tidak percaya padaku? )
(Papa hanya heran kenapa mereka bisa mengatakan itu.)
(Sudah lama, pa. Aku menyembunyikannya sendiri dan sudah mengatakan pada kalian dulu bahwa aku tidak menyukainya.)
(Baiklah, papa akan mengurus masalah ini.)
Aku tersenyum melihat pesan terakhir dari papa.
Sore harinya, aku membawa Dara ke sebuah danau yang sering dikunjungi pasangan menggunakan perahu.
Tiba-tiba kami tertawa begitu saja hingga keseimbangan perahu yang kami naiki terbalik sehingga kami terjatuh ke dalam danau.
Untung saja aku bisa berenang, aku mendekat dan membantu Dara.
Kami berjalan menuju mobil lalu mengambil handuk yang sempat Dara bawa dan pulang ke rumah mama karena rumah kami sangat jauh dari danau dan aku takut jika Dara menggigil dengan pakaian yang basah.
"Apa yang kalian lakukan sehingga bisa basah seperti ini?"
Mama melihat kami yang berdiri di teras. Mamam menuntun Dara untuk masuk ke dalam rumah.
"Perahu kami oleng .. dan kita masuk ke danau," ucapku dan tiba-tiba kami kembali tertawa.
Sedangkan kedua orangtuaku terlihat kebingungan melihat tingkah aneh kami.
"Mulutku sudah sangat lelah karena terus tertawa, ah aku ingin mandi dulu," ujarku berjalan menuju kamar untuk mengambil pakaian dan handuk baru. Lalu membersihkan diri di kamar mandi di dapur.
Aku dan Dara sedang berada di kamar, kami tengah asik mengobrol sambil menatap ke luar jendela.
"Kamu tahu saat pertama kali aku melihatmu aku sangat takut, karena bagiku, kamu ini menyeramkan, apalagi melihat wajahmu yang seperti kera,-"
"Hei, suamimu ini tampan. Jangan mengatai kera." Aku menjitak kepala Dara dan ia meringis kesakitan.
Aku segera membawanya ke pelukanku, meniup kepalanya dan mengelusnya sayang.
"Aish, menjengkelkan."
Dara melepaskan pelukanku dengan kasar lalu ia berjalan ke dalam kamar.
"Hehehe."
__ADS_1
Aku tertawa lalu menyusulnya yang cemberut dengan tingkahku barusan.
***
Setelah selesai makan malam, kami hendak pulang, tapi papa menahan dan memerintahkan padaku untuk mengikutinya ke belakang rumah.
Pasti membicarakan masalah Tante Dewi, pikirku.
Papa mengambil posisi duduk di kursi yang terbuat dari bambu, sementara aku berada di sampingnya menatap lurus ke depan.
"Jasehi allyeojuseyo," pinta papa padaku.
"Naneun geudeul-i nae gyeolhonsig-e oji anh-assgi ttaemun-e Dara-eul geudeul-ui jib-eulo delyeo wassseubnida. Amugeosdo aniya, appa. Geugeos-eun uliui ginjangdoen hyeongjeaeleul gochigo Tante Dewi-jocha nae anaeleul goelobhinda. Naneun budeuleobge malhaessgo geoui geudeul-ui deoleoun ib-eul ttaeligo sip-eossda. Ulineun jib-eul tteonassgo geu jeon-e naneun dangsin-i mid-eul su issdolog daehwaleul nog-eum hal sigan-eul gajyeossseubnida."
Aku menjelaskan secara rinci. Papa menggunakan bahasa hangul mungkin takut didengar oleh Dara.
****
Setelah salat subuh dan mandi di rumah mama, kami berangkat menuju rumah kami karena aku akan bekerja di kantor.
Sampai di pekarangan rumah, aku melihat Bi Ima tengah menyiram tanaman. Dara menyapa beliau seraya masuk ke dalam rumah diikuti aku dari belakang.
Selesai berpakaian, aku menemui Dara di dapur yang tengah berkutat dengan kompornya.
"Bekal kali ini aku masakin sup ayam ya, kak."
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Mataku teralih pada roti bakar yang sudah disiapkan Dara di atas piring.
Dulu aku ingin membelikannya alat pemanggang roti, tapi Dara menolak dan ia bisa menggunakan teflon atau yang lainnya.
Aku mendudukkan diri di kursi dan memakan roti bakar tersebut dengan lahap sembari menunggu sup ayam buatannya.
"Ini."
Aku menghentikan mengunyah ku lalu menoleh ke arah Dara yang tengah meletakkan rantang di sampingku.
"Oh iya, kemaren Bi Ima kirim pesan katanya kabinet hampir habis dan dia sudah membelinya. Kamu nanti tanyain ke Bi Ima berapa uangnya kepake," ujar ku.
"Ha? Oke."
Selesai sarapan, aku mengambil bekal dari Dara dan membawanya. Tap,sebelum itu aku mengecup pipi, kening dan terakhir bibirnya.
"Kakak pergi dulu, hati-hati di rumah." Aku berucap ketika Dara terdiam karena terkejut dengan perlakuanku.
"Kakak yang hati-hati," pungkasnya membuatku tersenyum.
Ping!
Saat aku hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ponselku berdering menandakan pesan masuk yang tersimpan di jas hitam milikku.
Manager Alazka
[Reyn, pelaku sudah masuk ke dalam sel.]
Aku tersenyum smirk membaca pesan darinya. Pasalnya, dulu ia pernah di rampok. Alazka kehilangan ponselnya yang seharga 5 juta.
Tapi, ia mencoba mengikhlaskan ponselnya karena mungkin itu bukan miliknya.
Setelah beberapa bulan kemudian, Alazka membeli ponsel baru. Saat ia tengah pulang ke rumah, entah kenapa pintu rumahnya terbuka padahal setelah ia pergi ke kantor, ia sempat mengunci dengan rapat.
Akhirnya, Alazka melihat dari ruang khusus CCTV yang ia letakkan di balik pot bunga, guci dan pengharum ruangan dan melihat pergerakan dari 3 orang yang membobol rumahnya.
Pelaku sempat melirik ke sana-kemari untuk melihat apakah ada CCTV di rumahnya.
Alazka menceritakan semuanya padaku dan aku memerintahkan agar membawa bukti rekaman tersebut ke pihak yang berwajib.
Pasalnya semua pencuri itu tidak menggunakan topeng untuk menutupi wajah bejat mereka.
Aku melempar ponsel ke kursi pengemudi dan menjalankan mobil keluar rumah menuju kantor.
***
Sampai di kantor, semua staff dan karyawan menyapaku sampai lift VVIP khusus.
Ceklek!
Aku membuka pintu ruangan ku dan berjalan masuk menuju meja kerja. Aku melihat sebuah flashdisk berwarna gold dan melihat kapasitas penyimpanannya sebanyak 1 Terabyte.
"Punya siapa ini?" tanyaku seraya melihat ruangan dan tak ada siapa-siapa kecuali diriku.
Aku mencolokkan flashdisk ke CPU seraya menghidupkan CPU dan komputer. Aku melihat gambaran sebuah hunian mewah dan luas lahan.
Tapi, di sini belum ada harga yang tertera. Haruskah aku meletakkan harganya? Apakah ini kerjaan Alazka?
__ADS_1
"Astaga, yang benar saja. Bahkan aku tak tahu luas harga per meternya. Argh, Alazka ... ini pekerjaanmu. Aku hanya memberikan harga yang pas untuk karyawan dan juga dirimu," gerutu ku.
Aku melepaskan flashdisk dari soket CPU dan mulai mengetik berkas ku dan memberikan pada sekretaris ku agar ia mengambil satu per tiga dari berkas ini.
***
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk!" teriakku tanpa mengalihkan atensi ku pada layar komputer. Terdengar suara pintu terbuka dan seorang pria berjalan ke arahku.
"Astaga."
Aku mengadahkan kepala melihat seseorang di sana.
"Astaga, kenapa lo telat?!" bentak ku pada Alazka.
"Hehehe, ada yang harus dikerjakan tadi," ucap Alazka sambil cengengesan.
"Bagaimana dengan bentuk huniannya? Bagus tidak? Aku sudah memperkerjakan sekitar enam puluh tujuh pekerja untuk membangun rumah itu," terang Alazka dan aku melempar flashdisk golden itu padanya.
"Buat saja harganya, nanti biar karyawan IT yang memasarkan di sosial media setelah hunian itu selesai," tukas ku sambil menggerakkan jariku di atas keyboard.
"Astaga, harusnya lo senyum dong. Adnan udah balik, tapi tuh wajah kusut banget. Gak dikasih jatah, ya?"
Aku mengambil ponsel lalu mengayunkan tanganku di udara hendak melepar ponsel itu padanya.
Alazka langsung mengambil langkah seribu nya dan menutup pintu dengan kasar.
Untung saja pintu kaca itu tidak retak. Kalau iya, aku akan memotong gajinya sepuluh persen.
"Ya Tuhan, berikan ia seorang perempuan biar tak menggangguku lagi," bisik ku dan kembali bekerja.
***
Saat jam makan siang, Alazka datang ke ruangan ku dengan membawa kertas berwarna gold.
"Oh iya, gue lupa. Kita diundang ke acara pernikahan Mr. Kyen. Dia mengundang kita untuk ke Italia karena mereka akan menyelenggarakan pernikahan di sana," terang Alazka.
Aku mengambil undangan tersebut dan membaca tulisan yang tertulis Mr. Azlan and family.
Di sana juga tertera bahwa mereka akan mengadakan di Hotel Caruso, Ravello, Italia.
Harga sewa: US$430 ribu (Rp4,04 miliar).
Hotel Caruso berdiri di sebuah bukit di Pantai Amalfi, sebelah selatan Naples. Lokasi ini memiliki salah satu pemandangan paling menakjubkan di dunia.
Lokasi ini juga menjadi pilihan favorit bagi para politisi dan orang-orang yang ingin mencari privasi seperti musisi, dekorator, dan desainer.
Belum lagi jasa pelayanan makanan dan minuman untuk 100 orang bisa mencapai 300 ribu-350 ribu euro.
"Tunggu, ini mahal banget."
"Tenang, Mr. Kyen udah siapin tiket pesawat pulang-balik. Jadi, kita di sana akan membawa koper dan menginap beberapa hari atau minggu," potong Alazka.
Aku tersenyum bahagia bisa mendapatkan undangan pernikahan dari miliader tersebut.
"Baiklah, akan gue beritahu Dara," pungkas ku.
***
Waktu jam pulang, aku mampir ke sebuah bakery untuk membelikan Dara dan Bi Ima di rumah.
"Black forest mininya satu," pintaku pada seorang wanita kasir.
Mereka mengambil bagian yang kuinginkan dan membungkusnya untukku.
***
"Assalamualaikum," ucapku berjalan masuk seraya menjinjung jas, ponsel, paper bag berisi bakery dan sebuah undangan gold.
"Waalaikum salam."
Dara menjawab dari dapur, aku melihat kepalanya muncul dari meja dapur tepatnya di depan kompor.
"Kamu sedang apa?" tanyaku berjalan ke arahnya.
"Kak, tadi gasnya tiba-tiba bocor. Pasangin dong."
"Kalo meledak gimana?" tanyaku.
"Ya, itu 'kan kakak. Bukan aku," ucap Dara membuatku melotot dan mendudukkan diri di atas lantai keramik hitam yang dingin.
"Selesai," seruku kembali mengangkat gas ukuran tiga belas kilo ke dalam kabinet khusus.
__ADS_1
"Kakak mandi dulu."
Aku berjalan keluar dari dapur menuju kamar lalu meletakkan jas dan baju kotor di mesin cuci dan ponsel, dompet, dan undangan di ranjang.