
Aku keluar dari mobil berjalan beriringan bersama Alazka masuk ke dalam kantor setinggi enam meter.
"Selamat pagi, Pak Azlan"
"Selamat pagi, Pak Alazka."
"Sehat, pak?"
"Makin hari Pak Azlan makin tampan aja."
"Iya, kayak dua puluh satu tahun aja. Perawatannya apa, ya?"
"Astaga, betapa beruntungnya Nyonya Azlan bisa mendapati Pak Azlan dengan harta, kastanya yang berlimpah."
"Iya, Pak Azlan juga beruntung karena semenjak ia menikah. Senyumannya itu selalu ia tebar."
"Ya ampun, Pak Azlan benar-benar gagah setiap hari. Apalagi dengan rambutnya yang sudah gondrol.
"Kesannya sangat seksi."
Banyak sekali kata-kata dan bisikan dari para staff wanita yang bekerja di kantorku hingga kami berjalan memasuki lift VVIP yang digunakan untukku, Alazka, staff serta tamu yang ingin menuju ruanganku.
"Lo gak dengar apa kata mereka?"
Aku menoleh ke arah Alazka yang menatapku.
"Aku dengar, but I don't care," ujarku seraya memperbaiki tatanan rambutku.
"Boss, besok-besok potonglah rambutmu. Gue benar-benar iri."
Aku tersenyum sebelum akhirnya terkekeh mendengar kata Alazka yang sangat iri dengan penampilanku.
"Dulu gue juga minta istri gue buat potong poni rambut ini. Lo tahu sendiri 'kan kalo istri gue pencinta sayur dan buah. Makanya rambut gue tumbuh lebih cepat gak kaya biasanya."
"Astaga."
Ting!
Pintu lift terbuka setelah obrolan kami selesai. Aku berjalan memasuki ruanganku, sementara Alazka memasuki ruangannya.
Ceklek!
Aku membuka pintu ruangan disapa dengan segelas kopi di meja kerjaku.
Aku menyeduh kopi itu dengan asap yang masih mengepul. Setidaknya moodku membaik setelah ini.
Aku melihat beberapa berkas yang harus ditanda tangani sebelum menghidupkan komputer.
Lima belas menit kemudian.
Tet!
__ADS_1
Aku memencet sebuah tombol di telepon.
"Panggil staff yang mengirim berkas di ruangan saya."
Aku berjalan menuju jendela ruangan untuk menikmati hangatnya matahari pagi lalu mengirim pesan pada Adnan.
My Wife, My girlfriend, My Idol, My Princess
[Sedang apa?]
Send!
Aku kembali menatap matahari pagi yang dengan gagahnya meyinari bumi ini tanpa malu-malu.
Ping!
[Cinta sedang di rumah. Dia gak masuk hari ini, terus dia langsung main ke rumah. Setidaknya ada temanku di sini, kami sedang nonton drakor.]
Aku tersenyum ketika membaca pesannya yang terakhir.
[Drakor? Apa judulnya?]
Send!
Ping!
My Wife, My girlfriend, My Idol, My Princess
[Gak tahu, gak tahu siapa aktor sama wanitanya. Tapi, mereka sangat tampan dan cantik. Cocok banget, suka.]
Send!
Ping!
My Wife, My girlfriend, My Idol, My Princess
[Aamiin suamiku.]
Ceklek!
Aku membalikkan tubuhku ke arah pintu yang terbuka lalu memasukkan ponselku ke dalam jas.
"Maaf, pak. Saya yang meletakkan berkas bapak di ruangan ini. Tadi pagi saya pergi jam 7 dan saya buru-buru karena di rumah gak sempat untuk ngetik," kata Mira.
"Ya sudah, ambil berkasnya. Sudah saya tanda tangan. Oh iya, buat laporan untuk kantor kita karena saya akan membuka lowongan pekerjaan untuk sarjana 2. Nanti saya kirim pesan sama kamu, apa-apa aja yang harus kamu ketik. Tapi, lebih dulu kamu perlihatkan brosur itu sama saya."
"Baik, pak."
Mira berjalan masuk seraya mengucapkan kata permisi untuk mengambil berkas tersebut lalu kembali menutu pibtu ruanganku.
"Aduh, badanku pegal-pegal. Weekend besok lari pagi sama Dara aja," gumamku seraya merenggangkan otot tangan, leher dan pinggangku yang terasa sedikit sakit.
__ADS_1
Mungkin ini dampak karena aku di kantor selalu menatap layar monitor komputer, seharian berada di ruangan yang dingin dan jarang sekali lari pagi karena di rumah selalu saja ada waktu berdua dengan Dara.
Pukul 09.30 WIB, aku mengirim pesan pada Mira.
[Untuk brosur itu, kamu tulis hanya untuk sarjana 2 saja, umur tidak lebih dari tiga puluh tahun, jujur, pintar, punya skill dalam berbagai bidang akuntansi, mahir berbahasa Inggris dan harus mengikuti peraturan di kantor kita.]
Send!
Ping!
Mira
[Baik, pak. Laksanakan.]
Aku melempar ponsel di meja kerja lalu kembali duduk untuk melihat grafik peningkatan di kantorku, melihat absen karyawan dan mencatat nama yang sudah lembur di bulan ini.
Aku juga memasukkan nama-nama tersebut ke dalam list di microsoft word lalu memberikan gajinya serta bonus yang akan mereka dapatkan nantinya.
Ya, walaupun hanya beberapa bulan kuberi mereka kenaikan gaji ketika properti telah laku terjual drngan harga yang fantastis.
Bukan hanya untuk saham, tapi aku juga membuat sebuah apartemen lima lantai dengan tujuh puluh dua pintu, kamar sebesar 3x4 dengan 2 kamar dan kamar mandi ada di setiap pintu untuk para karyawanku dengan jarak sekitar 5 kilo meter dari kantor.
Banyak keluhan dari mereka bahwa ada beberapa kost-kost an yang tak layak huni, antara kantor dan tempat tinggal mereka lumayan jauh dan beberapa hambatan lainnya.
Hidup sekarang memang kejam dan sangat keras. Maka dari itu, aku memberikan kehidupan yang layak untuk mereka.
Jika mereka keluar atau kuberhentikan, maka dengan sangat terpaksa mereka harus keluar dari apartemen tersebut.
Apartemen ini kurahasiakan untuk mereka dan akan kuumumkan jika sudah selesai. Apalagi para karyawanku ada yang sudah menikah dan memiliki 3 orang anak.
Kugunakan beberapa puluh saham yang kusimpan di kotak khusus untuk membangun apartement itu.
"Ah!"
Aku menggerakkan tulang leherku yang sangat pegal dan kaku, lalu jemariku yang sangat terasa kesakitan.
Ceklek!
"Boss, mereka sudah datang."
Aku mematikan CPU dan komputer lalu mengambil ponsel dan keluar dari ruangan sebelum akhirnya aku mengunci ruanganku.
Aku dan Alazka berjalan masuk ke dalam lift menuju lantai satu di mana mereka sudah menunggu kedatanganku di ruang rapat.
***
"Gue udah siapin semuanya. Mulai dari properti kemarin-kemarin, karena mereka membutuhkan dan proporti sekarang. Nah, lu nanti tinggal tentukan harganya. Masing-masing harganya sekitar empat ratus juta, sertifikat itu udah gue ketik tinggal kasih nama untuk pemiliknya nanti. Pokoknya semua sudah beres 1000%, ini semua ada di tangan lu. Mau lunaikin lima puluh atau sembilan puluh persen juga gak apa-apa," oceh Alazka saat kami berjalan dengan tergesa-gesa menuju lantai satu.
Alazka yang membacakan dan menggeser tablet di tangannya untuk memperlihatkan padaku sebuah gambar yang telah ia rancang dan properti itu sudah bisa diambil sekitar 2 hari lagi.
"Ya, gue tahu. Tapi, lo jangan kayak ibu-ibu arisan, bisa? Lo ngoceh mulu, nyokap gue aja gak pernah kayak gitu," gerutuku.
__ADS_1
"Hehehe, lo kayak gak tahu gue aja. Lo tahu 'kan walaupun kita liburan di Paris, gue selalu mikirin properti."
"Ya, itu termasuk salah satu dari pekerjaan lo. Gue gantungin semuanya ke lo," ujarku.