Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 45. Tuhan, Kenapa kau Ambil Anakku?


__ADS_3

PoV Azlan


Hari ini, aku tidak berangkat kerja satu hari. Siang ini, aku memasak bubur kacang hijau untuk Dara agar tubuhnya segar dan tidak anemia.


"Buburnya udah datang," seruku. Ia tengah berdiri di balkon kamar. Sehingga aku meletakkan nampan itu di nakas dan menghampirinya yang tengah berjemur.


"Masuklah, nanti kulitmu hitam. Ini bukan matahari pagi," ucapku. Ia tak bergeming sama sekali.


Aku menarik tangannya masuk ke dalam kamar lalu menarik kursi.


Aku hendak menyuapinya, tapi mulut mungil itu tidak bergerak untuk ia buka.


"Buka mulutmu, biar kakak suapi buburnya. Ini masih hangat."


Aku kembali menyuapinya dan ia melakukan hal yang sama.


"Kamu mikirin apa?" tanyaku mulai jengah.


Dara menggelengkan kepalanya menatao kosong ke bawah.


Ada buliran bening di pelupuk matanya.


"Kakak tahu ini menyakitkan, tapi cobalah untuk bersabar. Berdoa, Tuhan pasti memberikan jalan yang terbaik," ujarku menggenggam tangannya.


"Bisa tinggalkan aku sendiri."


"Kenapa? Kamu tak menganggapku sebagai suamimu?" tanyaku sinis.


"Bukan, aku ingin sendiri. Pergilah."


Terpaksa aku menuruti keinginannya ini. Aku meletakkan bubur di nakas lalu keluar kamar sambil menutup pintu rapat.


PoV Author


Semenjak kepergian Azlan , Dara menghempaskan tubuhnya di ranjang seiring air mata itu tumpah yang sejak tadi ia tahan agar tidak keluar di depan suaminya.


Dulu, ia sangat menyayangi dan sangat merawat buah cinta mereka. Tapi, ada wanita bernama Kang Yuri yang membuat hatinya goyah. Di sisi lain, ia ingin lepas dari Azlan..


Begitu susahnya ia mengucapkan kata berpisah untuk Azlan darinya.


Karena lelah menangis, akhirnya Dara menutup matanya. Ia tak mengisi perutnya sebab ia tak nafsu.


***


4 jam kemudian, Azlan mematikan televisi lalu berjalan menuju kamar.


Ceklek!


Azlan menatap Dara yang tertidur dengan kedua kakinya yang menjuntai ke bawah. Dara tidak merubah posisinya sejak Azlan pergi.


Langkahnya berjalan mendekati Dara terlihat bekas air mata yang membasahi sudut pelipisnya.


Matanya beralih pada nakas. Bubur dan air putih itu belum disentuh oleh Dara. Masih utuh. Bubur kacang hijau sudah dingin, air putih yang tadinya ia beri beberapa es batu sudah mencair.


Azlan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ia memutar kran shower dan membasahi dirinya yang belum membuka pakaiannya.


Air shower turun bersamaan dengan air matanya. Azlan menangis mengingat Dara yang memendam kesedihannya dan kehilangan buah cinta mereka.


"Tuhan, kenapa kau ambil dia? Dia anakku, dia calon anakku yang akan menjadi keturunanku. Kenapa Engkau juga ambil kebahagiaan Dara, senyumannya, tawanya, semuanya."

__ADS_1


Azlan mendongakkan kepalanya ke atas. Ia kembali memutar kran shower itu hingga airnya sangat deras mengalir ke bawah.


"Aku sangat bersyukur jika Yuri kau telan di bumi, tapi jangan istriku. Dia milikku, aku juga sudah berjanji bahwa aku akan menjaganya sampai titik darah penghabisan."


Azlan terduduk di lantai keramik hingga ia puas menangis.


***


Setelah selesai,Azlan keluar dengan mata yang sedikit sembab. Di wastafel, ia memakai obat mata karena matanya memerah.


Dara tengah duduk di bibir ranjang. Kembali pandangannya kosong ke depan. Bahkan Azlan sendiri merasa sangat iba dan kasihan menatap wanita kesayangannya.


"Kenapa gak dimakan buburnya?" tanyanya seraya mengeringkan rambut dengan hairdryer.


Dara tak menjawab pertanyaannya dan memilih masuk ke dalam kamar mandi.


Malam Harinya


Malam ini, mama datang ke rumah mereka melihat keadaan Dara tak seperti biasanya. Ia sangat terpukul.


"Malam ini, mama mau buat brownies kukus. Kamu mau memakannya?" tanya mama.


Dara menganggukkan kepalanya menatap mama. Mereka mulai mempersiapkan bahan-bahannya. Azlan juga ikut membantu memasukkan adonan ke panci ukuran sedang.


"Hm, enak banget," ucap mama girang ketika mereka mencicipi kue tersebut.


Azlan menatap Dara yang mencicipi kue di tangannya tanpa ekspresi.


"Kalau dicampurin sama es krim lebih enak."


Azlan beranjak dari kursi menuju lemari pendingin. Ia mengeluarkan es krim dari sana dan membawanya ke meja makan.


"Wah, kamu pintar sayang. Dara, kamu mau?" tawar mama.


"Biar Azlan aja, ma."


Azlan mengambil alih sendok dari tangan Silvia lalu mengambil es krim rasa strawberry dan meletakkan di atas brownies Dara.


"Selamat mencoba," sahut Azlan.


Dara kembali menyuapi dirinya. Tapi, mulut dan hatinya tidak sinkron dengan keadaan.


Hening.


Setelah selesai, mama yang hendak pulang ditahan Azlan karena hari sudah tengah malam dan ia takut jika mama tidak sampai rumah. Jadi, mama menginap di rumah Azlan di lantai atas.


Selesai membersihkan wajahnya, Azlan melihat Dara yang sudah tertidur di ranjangnya. Keadaan sekarang sangatlah berbeda.


Lagi, Azlan menemukan jejak air mata di hidung mungilnya.


Ia mengambil tissue lalu menghapus jejak itu tanpa mengganggu tidur Dara.


"Jangan memendamnya. Tumpahkan saja kesedihanmu di depanku. Kau istriku, aku suamimu," gumam Azlan lalu menyatukan bibir mereka.


Azlan melepaskan c******nya dan berbaring di samping Dara menghadap ke arahnya. Azlan mengambil posisi membelakangi dinding kamarnya.


Pagi harinya


Pagi hari, Dara terkejut dengan wajah Azlan yang sangat dekat di matanya. Ia melepaskan tangan Azlan sedikit kasar sehingga sang empu terbangun.

__ADS_1


"Ayo, salat subuh," ajak Azlan


Dara beranjak dari kamar mandi untuk mengambil air wudu dilanjutkan dengan Azlan . Diimami oleh Azlan , lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan Azlan membuat air mata Dara luruh. Ia membekap mulutnya agar suara isakan itu tak terdengar.


Saat salat selesai, Azlan menghadap ke belakang untuk memberi tangan kanannya agar dicium oleh Dara. Tapi, atensinya teralihkan dengan wajah Dara yang memerah beserta matanya yang bengkak.


Ia membawa Dara ke dalam pelukannya. Dara menahan isak tangisnya dan tak membalas pelukan dari sang suami.


"Apa aku semenakutkan itu di matamu?" tanya Azlan.


"Menangislah, kakak tahu ini sangat berat. Kakak juga merasakannya."


Dara membalas pelukannya dan mengeluarkan air mata itu walau hening.


Beberapa menit kemudian, Dara melepaskan pelukannya. Ia membuka mukenah dan menggantungkan ke tempat biasa.


Langkahnya keluar kamar, Azlan mempersiapkan diri untuk ke kantor.


"Sayang, siap-siap gih. Kakak bawa kamu ke kantor!" ucap Azlan sedikit berteriak ketika aku tengah menata rambutku di cermin.


Azlan menatap ke Dara ketika ia memasuki kamar. Azlan keluar kamar. Ia menyiapkan salad buah, roti bakar dan segelas susu coklat dingin.


Walaupun Dara tidak tengah hamil, tapi ia tetap membuatkan susu untuknya.


"Kamu mau bawa bekal salad buah atau roti coklat?" tanya Azlan saat Dara menghampirinya.


"Salad buah," jawab Dara singkat.


Azlan menyiapkan sarapan untuk Dara dan dirinya dan menikmati sarapan pagi ini. Setelah selesai, mereka keluar dari rumah bersamaan Bi Ima datang.


"Ya ampun, non. Yang tabah ya, non."


Azlanmemberitahukan Asisten Rumah Tangganya perihal hal buruk tersebut. Dara menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.


Mereka berpamitan sebelum akhirnya benar-benar pergi.


Didalam mobil Dara tidak berbicara sama sekali 'Hening.


Azlan sesekali melirik ke arah Dara yang berpangku tangan menatap jalan raya.


Di kantor Azlan


Sampai di parkiran kantor, mereka turun. Azlan menggenggam tangan Dara dengan posesif saat mereka memasuki lobi.


Dara sedikit heran karena Azlan membawanya menuju lift.


"Bukannya ruangannya di sana, ya?" tunjuknya.


Azlan tersenyum simpul.


"Ruangan kakak ada di lantai paling atas. Di ruangan itu dijadikan tempat lain."


Azlan menjawab lalu menekan tombol lift sehingga pintu tertutup.


Ting!


Mereka memasuki ruangan Azlan yang lebih besar delapan kali lipat dari ruangannya dulu.


Di sana, ada meja kerjanya dan meja rapat yang sangan lebar. Banyak kursi di sana. Di dalam ruangannya juga ada kulkas, sofa dan kamar, mandi dan tempat tidur khusus.Seperti ruangan presdir.

__ADS_1


Dara cukup terkagum-kagum dengan ruangan ini. Ia duduk di sofa yang menghadap ke arah jendela. Di sana ia melihat beberapa gedung menjulang tinggi di depan matanya.


Sorry for typo🙏🙏


__ADS_2