
Seorang pria berwajah cacat itu ingin menjabat tangan denganku. Sementara aku hanya diam bergeming lalu melipat tangan di depan dada.
Kau Azlan? Perkenalkan, aku orang yang mengirim pesan denganmu."
"Halo orang tua. Apakah kamu yang mengirimiku pesan? Apa artinya mengganggu rumah tangg saya? Tidak punya istri atau warisan yang memilih membuat hidup Anda lebih berwarna dan malah mengganggu kehidupan orang lain? Hei, kamu sudah tua. Lebih banyaklah beribadah dan lakukan lebih banyak hal yang berguna daripada memperlakukan saya. Tak berapa lama lagi, Anda akan dimasukkan ke dalam peti dan ingat itu tua bangka," ucapku sinis.
Mereka tertawa remeh mendengar ocehanku. Sementara pria cacat itu berjalan mendekatiku, aku berjalan mundur untuk mengambil ancang-ancang agar dia atau bawahannya jika memukulku, aku tahu seberapa luas ruangan agar aku bisa mengelak nantinya.
"Kau anak muda, tapi bicaramu sangat dewasa dan sangat kasar. Apakah Seok tak mengajarkanmu bagaimana berbicara dengan orangtua dengan sopan, ramah dan tamah? Jangan katakan hal itu lagi, aku bisa emosi dan melakukan hal yang tidak-tidak padamu dan membuatmu menangis, kecewa dan malah bertekuk lutut di depanku."
Pria cacat itu langsung menghadiahiku sebuah pukulan yang akan mengenai wajahku.
Dengan cepat, aku mengelak dan memelintir tangan kanannya ke belakang lalu menendang salah satu kakinya.
"Serang dia, jangan menjadi penonton saja!" teriaknya pada anak buah.
Mendengar teriakannya, aku menendang punggungnya sehingga tubuhnya terbentur di atas tanah yang basah.
Terjadilah adengan di mana aku harus melawan dua orang dalam satu waktu.
"Shit!"
Aku mengelap darah yang keluar dari ujung bibirku karena salah satu dari mereka telah berani memukul ujung bibirku.
Kuharap ini tak akan membiru.
"Shit, jangan pernah menantangku. Kalian tidak akan tahu berhadapan dengan siapa, ha?!"
Buk!
Aku menendang kepala mereka dan akhirnya mereka bertiga pingsan di tempat.
Aku menelfon Alazka agar ia segera datang ke alamat yang telah kukirim. Dua puluh menit kemudian, Alazka datang dengan bajunya yang santai. Awalnya dia terkejut.
"Bawa mereka masuk ke dalam mobil lo. Lo bawa barang 'kan yang tadi gue suruh?" Aku menatap Alazka yang terlihat pucat.
"Ya."
Alazka mengeluarkan seonggok tali tambang yang ukuran lumayan besar, aku mengikat mereka bertiga di dalam mobil Alazka lalu kami melanjutkan perjalanan ke rumah Alazka.
__ADS_1
Aku meminta izin padanya untuk memakai kamar mandi dan untung saja aku membawa baju yang tersimpan di dalam mobil.
Sekarang sudah pukul 17.00 WIB. Aku menyerahkan mereka pada Alazka untuk dibawa ke kantor polisi dan mengirim bukti screenshoot dari ponselnya untuk menjadi barang bukti.
"Astaga, aku hampir saja lupa membeli nasi Padang pesanannya. Aku membelikan pesanannya dulu baru langsung pulang," gumamku seraya menepikan mobil lalu mengecek restoran yang menyediakan nasi Padang.
Sampainya di restoran, aku langsung memesan pada pekerja di restoran sana untuk membungkuskan untukku nasi Padang 2 porsi.
"Terima kasih."
Aku berjalan memasuki mobil lalu menjalankan mobil menuju rumah.
"Oh, Tuhan. Semoga lukanya tidak membiru dan memar. Aku sangat takut jika Dara nanti tahu jika aku babak belur dan dia marah padaku. Semoga saja tidak, aku akan mencari alasan apa jika aku pulang memakai pakaian seperti ini? Macet? Atau kemaleman saja? Ah, aku akan mencari alasan jika aku pulang terlalu larut dan membersihkan diri di toilet ruanganku. Ah, kau sangat pintar Azlan."
Aku memberhentikan mobilku saat lampu merah menyala. Mataku berkeliaran pada jalan raya yang ramai dan padat dikelilingi oleh para pengamen.
Tapi, ada salah satu dari mereka menjajahkan cutton candy atau gula awan yang berwarna-warni.
Aku menurunkan kaca mobilku lalu memanggilnya dengan cara melambaikan tangan ke arahnya. Anak remaja laki-laki itu berlari menghampiri mobilku.
"Berapa dek?" tanyaku padanya.
"Murah sekali," gumamku seraya mengeluarkan dompet dari dashboard mobil.
"Saya ambil semuanya."
Mendengar ucapannku, anak itu tersenyum bahagia. Aku menyuruhnya meletakkan cutton candy itu ke dalam kursi penumpang.
"Berapa semuanya?" tanyaku lagi.
"Lima puluh ribu, pak."
Aku mengeluarkan uang merah sebanyak 8 lembar lalu memberikan padanya.
"Kebanya-"
"Ambil saja. Ini rezeki kamu, simpan uangmu baik-baik."
Aku menjalankan mobilku menuju rumah. Tak sabar dengan reaksi Dara nantinya.
__ADS_1
"Sesekali aku membuat hatinya terenyuh dan senang dengan membawakan banyak cutton candy kesukaannya. Setidaknya untuk mengalihkan banyak pembicaraannya nanti. Aku tak sabar ingin melihat reaksinya seperti apa. Apa dia akan girang? Tersenyum? Memelukku? Menciumku? Atau loncat-loncat tak jelas sama seperti anak kecil?"
Sampai di pekarangan rumah, aku meminta bantuan pada Bi Ima yang tengah berjalan masuk ke dalam rumah.
"Bi, tolong bawain gulali nya ke dalam rumah, ya. Ada di kursi belakang," pintaku yang diangguki olehnya. Sementara aku masuk ke dalam rumah menenteng nasi Padang permintaan Dara--istriku.
"Sayang!" teriakku meletakkan nasi Padang di atas meja makan lalu meletakkan ke dalam piring.
"Non Dara sedang mandi, tuan. Dari tadi di nunggu tuan pulang," ucap Bi Ima yang tengah membersihkan tangannya di wastafel.
'Berarti dari tadi siang dia sudah menunggu kedatanganku pulang ke rumah? Aku merasa sangat bersalah, apa yang akan kukatakan padanya nanti? Tuhan, bantu aku dalam menghadapi masalah ini bersamaMu. Maaf, sayang. Aku melakukan ini agar kau selamat.'
"Reyn bawa makanan dulu ya, Bi."
Aku meninggalkan seporsi di atas meja yang belum kubuka karena rencananya itu adalah untuk pembantu rumah tanggaku.
Tok ... tok ... tok ....
Ceklek!
Aku membuka pintu kamar setelah mengetuknya terlebih dahulu. Tak ada Dara di sini, hanya suara shower yang mengalir di kamar mandi. Pasti dia tengah membersihkan tubuhnya di sana, pikirku.
Aku meletakkan nampan yang cukup berat itu di atas nakas lalu berjalan mendekati jendela.
Senja.
Langit tengah mengalami senja yang sangat cantik sore ini. Senyuman itu tertarik di sudut bibirku. Walaupun aku sejatinya bukan seorang penikmat senja, tapi aku cukup menikmati langit hari ini.
Ceklek!
Aku mendengar suara pintu kamar mandi tertutup rapat dan shower telah mati.
"Kak."
Aku membalikkan tubuhku menghadap ke arah Dara yang tengah memakai kimono maroon dan handuk yang ia lilitkan di atas kepalanya.
Aku berjalan mendekatinya dan memeluknya dengan erat. Merasakan aroma tubuhnya setelah mandi dan rambutnya yang membuatku nyaman berada di dekatnya.
'Bisakah aku melakukan ini setiap hari? Aku benar-benar menginginkan wanita ini menjadi milikku selamanya tanpa ada orang yang memisahkan kami. Kenapa begitu banyak orang yang sangat tak suka dengan hubungan kami berdua? Aku tak melakukan hal lain, tapi kenapa banyak sekali tantangan lain dalam masa depanku? Aku ingin dia tersenyum, bahagia, ceria dan tertawa lepas di depanku. Bukan orang lain, aku hanya ingin aku yang selalu berada di sampingnya. Bukan pria lain selain diriku. Jikapun nanti kami berpisah, aku mau nyawa kami yang akan berpisah. Dipisahkan oleh Sang Pencipta, bukan makhluknya yang iri dengan kebahagiaan kami. Jujur saja, ini sungguh tidak adil menurutku,' batinku menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk mataku.
__ADS_1