Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 47.Kamu lebih Sempurna di Mata Kakak


__ADS_3

"Apa kamu menyukainya?" tanyaku.


Adnan menganggukkan kepalanya.


Setelah dirasa cukup, aku memisahkan makanan yang tidak kami sentuh atau dimakan, takutnya nanti akan dihitung oleh pelayan restaurant ini.


"Semunya 5.975.134," ucapnya.


Aku mengeluarkan kartu debit, lalu ia menggesek dan kembali memberikan padaku. Kami berjalan keluar restaurant awalnya aku mau mengajak Adnan jalan-jalan, tapi sepertinya ia lelah jadi aku memutuskan untuk pulang ke rumah.


Tak ada percakapan sama sekali waktu kami berada di dalam mobil sampai berbaring di ranjang.


Sampai dirumahnya


"Apa dinner kita malam ini kurang?" tanyaku seraya memeluknya dari belakang dan menggenggam jemarinya.


"Tidak."


"Kamu lebih sempurna di mata kakak, jangan seperti ini. Lebih baik kamu marah pada kakak dari pada diam seperti ini," ujarku sedih.


Aku sangat merindukan dirinya.


"Aku mau tidur."


Ia menutup tubuh sampai wajahnya dengan selimut.


Aku bisa apa?


Menatapnya.


Dadaku terasa sakit melihatnya yang hanya menganggapku seperti patung.


Aku kembali memeluknya karena jika tidak, aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak.


Pagi harinya


Pagi ini, aku bangun tanpa membangunkan Dara . Ia masih setia di dalam selimut. Aku bersiap-siap pergi ke kantor karena Alazka akan membicarakan masalah properti yang akan ia luncurkan.


PoV Author


Sebelum pergi, Azlan mengecup kening dan pipi Dara lalu ia benar-benar pergi dari rumah.


Sementara Dara


Pukul 9 pagi, Dara terbangun dan tak mendapati Azlan di ranjang dan dapur.


"Tuan sudah pergi jam 7 tadi, non," sahut Bi Ima yang melihat majikannya terlihat mencari sesuatu.


"Oh, baiklah."


Ia kembali ke atas untuk membersihkan diri, mencuci baju mereka, menyetrika baju yang kering dan memasukkannya ke dalam lemari dengan rapi.


Dulu pertama kali mereka menikah, Azlan sempat menggunakan jasa pada sebuah toko untuk mencuci dan menyentrika bajunya.


Tapi, setelahnya Dara dengan senang hati mencuci baju, dan mencuci sepray mereka dengan alasan ia tidak ada pekerjaan di rumah selain menyiram dan menanam bunga.


Dara mengusap peluh yang keluar dari pelipisnya dengan punggung tangan.


Hari sudah siang, tapi perutnya belum juga diisi. Pantas saja rasanya sedikit sakit.


***


"Bi, masak apa?" tanya Dara saat ia berada di dapur.


"Bibi tadi masak ikan nila sama sayur bayam, non. Kalau nona gak suka, bibi bisa buatin yang lain."


"Itu saja, bi."


Dara mulai menikmati makan pagi menjelang makan siangnya. Sementara di kamar, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk dari Azlan.


Di tempat Azlan


"Kok gak diangkat. sih?" gerutu Azlan kesal.


Pasalnya ia sudah dua belas kali menelpon sang istri.

__ADS_1


Sementara Dara


Setelah selesai, Dara duduk di ruang televisi untuk menghilangkan suntuknya. Tak lama, ia tertidur di sofa dengan remote televisi di genggamannya.


***


Pukul 16.00 WIB, Azlan pulang ke rumah dan melihat Dara yang sudah berbaring di sofa dengan televisi yang menyala.


"Bukan dia yang nonton, tapi TV-nya yang menonton dia," gumamnya.


Azlan mengangkat tubuh Dara ke kamar dan membaringkannya di ranjang.


Ia melihat ponsel Dara yeng tergeletak di ranjang. Ia melihat panggilan tak terjawabnya.


Berarti perempuan itu tidak memengang ponselnya seharian ini, pikirnya.


Ia masuk ke dalam kamar mandi dan keluar dengan rambut yang basah.


Azlan melihat rambutnya yang sudah memanjang sampai daun telinganya.


Tapi, dia terlihat manly dan maskulin. Banyak pegawai wanitanya yang terpanah dengan pesona Azlan sekarang.


Bukan, Azlan selalu tampan dalam keadaan apapun.


"Eugh."


Dara terbangun dari tidurnya sambil merengangkan tangannya ke atas. Ia membuka mata perlahan lalu menatap Azlan yang baru selesai melaksanakan ritual mandinya.


Aroma tubuhnya sampai ke indra penciuman Dara.


"Mandilah, kamu terlalu lama tidur siang."


"Iya."


Dara beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia sedikit terkejut dengan darah di celananya saat ia selesai membersihkan wajah di wastafel.


"Aku gak ada pembalut," gumamnya.


Ceklek.


Azlan menghentikan acara memakai lotion pada lehernya.


"Ada apa?" tanyanya menutup lotion tubuh itu dan melihat kepala Dara yang keluar dari pintu kamar mandi terbuka sedikit.


"Aku halangan."


"Lalu?"


Azlanmasih belum paham dengan situasi ini.


"Beliin pembalut."


Matanya membola mendengar permintaan sang istri.


"Aku gak bisa pergi. Nanti malah tembus lagi, kakak aja yang beli, ya?" tawarnya lagi.


Mau tak mau, Azlan menganggukkan kepala sambil menelan salivanya dengan kasar.


"Beli yang ukuran panjang, pake sayap!" teriak Dara.


"Hah, Nde," jawab Azlan keluar kamar.


Di Indomaret


Sampai di Indomaret, ia melihat betapa banyaknya orang yang mengunjungi swalayan kecil ini.


"Astaga, apa aku harus melakukannya?" gumamnya sambil mengenakan masker.


Kaki panjangnya membawa masuk ke dalam toko tersebut.


Lagi dan lagi ia kembali gemetar karena beberapa wanita sedang bergosip di rak khusus wanita. Di mana lagi kalau bukan rak tissue dan pembalut untuk semua kalangan.


'Tadi dia minta yang ukuran panjang dan bersayap,' batinnya melewati wanita-wanita yang sedang sibuk memilih tissue itu.


"Kak," panggil Azlan pada kasir wanita tersebut. Ia berjalan mendekati Azlan lalu tersenyum manis.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.


"Bisakah Anda pilihkan pembalut yang ukuran panjang dan bersayap?" pinta Azlan


Wanita itu tertegun mendengarnya.


"Buat istri, bapak?" tanyanya.


"Ah, iya."


Mendengar jawaban dari Azlan, ia tersenyum malu lalu kembali ke kasir untuk mengambil kantong plastik dan memilih semuanya.


"Totalnya Rp. 321.000, pak."


Azlan Memberikan kartu debitnya lalu mengambil kresek tersebut.


"Terima kasih."


Azlan menganggukkan kepala lalu meletakkan kembali kartu debitnya ke dalam dompet dan berjalan menuju mobil seraya membawa dua kantong ukuran besar.


Sampai dirumah


Sampai di rumah, Azlan langsung mengetuk pintu kamar mandi.


Ceklek.


Azlan menyodorkan kantong-kantong tersebut pada Dara yang tengah menerima pemberian dari Azlan.


"Astaga, kenapa banyak sekali?!" pekik Dara.


"Kamu tahu, sayang? Saya menahan malu membelinya."


Di dalam kamar mandi, Dara memerah mendengar ucapan Azlan Begitukah, pikirnya.


"Kak."


Azlan menghentikan langkahnya ketika ia mendengar panggilan dari sang istri.


"Ambilin bajuku sama pakaian dalam juga. Udah terlanjur mandi soalnya."


Azlan menganggukkan kepala lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ia mengambil baju tidur milik Dara dan pakaian dalamnya yang berada di laci lemari.


Tok ... tok ... tok ...


Ceklek.


"Makasih."


Dara menerima baju-bajunya dan kembali menutup pintu toiletnya.


"Ini mah, buat setahun," gumam Dara melihat barang yang dibelikan Azlan dengan royal.


Azlan berjalan menuju ranjang sambil memainkan ponselnya.


Ping!


[Angel sekarang sudah tewas, mereka membunuhnya sebagai hukuman yang telah ia perbuat.]


Azlan tersenyum melihat pesan dari Jong Ru, ia sangat puas dengan hasil umpannya. Kini hanya Kang Yuri, ia mau wanita itu segera jera dari perbuatan kejinya.


Awalnya Azlan tak menyangka dengan perbuatan Kang Yuri pada Dara setelah ia melihat CCTV dari Alfamart yang Dara kunjungi.


Tapi, setelahnya ia tidak tahu keberadaan Kang Yuri. Jong Ru dan Alazka juga melacak keberadaannya dan tak ditemukan. Terakhir dia berada di Jakarta.


Selesai salat magrib dan isya, Dara keluar dari kamar untuk membuat mi instan dan sebuah telur mata sapi.


Ia meracik bawang merah, bawang putih, daun bawang, seledri dan sedikit perasan jeruk nipis.


Azlan turun dari kamar ketika mencium bau harum dari bawah.


"Wah, ini pasti enak," seru Azlan. Dara tersenyum tipis melihatnya.


"Ayo, di makan."

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam dengan mie instan. Bukan kabinet sekarang sedang kosong, tapi Dara sedang malas masak jadi dia membuat yang simple saja.


__ADS_2