
Keesokan harinya
Kami menyantap makanan yang kubawa. Awalnya aku hanya ingin melihat mereka menikmati makanan tersebut, tapi aku juga merasa lapar ketika melihat Dara dengan begitu lahapnya memakan makanan itu.
Bunda Fisya juga menceritakan masa kecil Adnan padaku saat Dara berada di dalam kamar Chaca untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah sang adiknya.
"Ibu mau tahu, gimana sih sikap Adnan sama kamu? Apa dia ceplas ceplos atau sarkas?" tanya ibu padaku.
Aku menggelengkan kepala pelan seraya menatap wanita paruh baya yang telah melahirkan Dara untukku.
"Kenapa, bu? Emang, Dara dulu begitu?" tanyaku balik.
"Ya, Dara dulu orangnya sangat sarkastik atau berbicara dengan fakta. Tanpa mengetahui orang itu sakit hati dengan ucapannya atau tidak," jawab ibu.
'그래서 Dara 은 그랬습니까? 나는 그의 더러운 얼굴을 처음 만났을 때를 기억한다. 나는 그가 내 외모와 매력에 눈이 멀었다 고 생각했다,' batinku.
(Geulaeseo Dara-eun geulaessseubnikka? Naneun geuui deoleoun eolgul-eul cheoeum mannass-eul ttaeleul gieoghanda. Naneun geuga nae oemowa maelyeog-e nun-i meol-eossda go saeng-gaghaessda.)
(Jadi, Dara dulu seperti itu? Aku ingat waktu pertama kali bertemu dengan wajahnya yang jutek. Kukira dia buta dengan ketampanan dan pesonaku.)
"Iya, bu. Dulu waktu pertama kali saya ketemu sama Dara. Dia jutek banget, apalagi kesannya gak sopan gitu," aduku.
__ADS_1
Bunda Fisya menggeser duduknya ke arahku.
"Bagaimana kalian pertama kali bertemu? Dara gak pernah cerita."
"Jadi, gini bu. Waktu itu Azlan gak sengaja cipratin air becek ke baju Dara . Azlan juga gak kenal Dara waktu itu, ya udah Azlan berhentiin mobil di depan dia terus mau bilang minta maaf malah dikasih omelan sama dia."
Bunda Fisya tertawa pelan sementara aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Bagaimana pun juga aku akan tetap menyayangi Dara melebihi aku menyayangi diriku sendiri.
"Iya, Azlan. Dara emang berubah waktu kakanya meninggal. Awalnya dia drop banget, jarang makan dan dia nanya 'kaka di sana udah makan atau lagi ngapain ya, bu?' Ibu sampe mau nangis, gak tahu harus jawab apa. Dara dulu sangat polos langsung hilang."
Aku menyentuh punggung tangan yang wanita yang sedikit berkerut itu. Mencium punggung tangannya hikmad.
"Bunda apa yang ibu bilang itu semuanya sudah berubah. Dara dulu emang kasar dan ngegas, tapi sekarang dia sudah berubah, bu. Berkat dia juga, Azlan semakin berubah. Dia wanita yang selama ini Azlan cari. Bukan karena fisik, tapi hatinya yang benar-benar tulus untuk memberi hatinya untuk Azlan sendiri. Azlan sangat berterima kasih pada Ibu karena sudah melahirkan Dara untuk istri Azlan dan juga membesarkannya hingga Azlan dapat memilikinya dengan sepenuh hati," ungkapku.
Senyumannya terukir sangat jelas di bibirnya, jemarinya mengelus permukaan kulit wajahku dengan lembut.
"Iya, nak. Bunda juga berterima kasih sama kamu karena sudah mau menerima kekurangan Dara--anak bunda. Kamu mau berkorban untuk mendapatkan hatinya."
"Bunda, ini juga rezeki yang pantas kalian dapatkan. Ini juga tanda pengabdian Azlan kepada orang tua walaupun ibu bukan melahirkan, membesarkan dan dulunya Ibu juga tak mengenal Azlan. Tapi, inilah bakti seorang anak. Walaupun itu belum sepenuhnya, tapi ini adalah cara yang bisa Azlan ungkapkan pada kalian," balasku.
"Papa Azlan gak pernah bilang pada Dara 'jaga anak papa, ya. Sayangi dia sebagaimana Dara menyayangi diri kamu sendiri' atau 'jaga anak papa sama mama, ya dia anak kesayangan kami.' Melainkan papa delaku bilang untuk menjaga menantunya karena ia rela berkorban meninggalkan keluarganya demi sang suami. Ia rela melepas masa lajangnya demi sang suami dan ia rela untuk melakukan pekerjaan rumah demi melihat wajah sang suami yang kelelahan terbayar ketika melihat rumah mereka bersih."
__ADS_1
"Tapi, bukan atas dasar mengerjakan perkerjaan rumah, Azlan menikahi Dara. Tetapi. untuk melengkapi kekurangan Azlan. Azlan sangat mudah emosian, tetapi Dara malah sebaliknya. Dia marah dengan diam dan tak berkata-kata. Azlan melakukan banyak hal antara kami berdua, di sanalah Azlan mengetahui Dara adalah wanita yang pantas untuk Dara," sambungku.
Sementara Bunda Fisya telah berlinang air mata mendengar isi hatiku. Ia menghapus air matanya dengan ibu jari.
"Dara dulu termasuk perempuan tomboy. Tapi, ia jarang keluar malam dan jarang sekali keluyuran. Kakanya sangat tegas sehingga ia sangat takut pada Almarhum. Hingga sekarang, Dara telah berubah dari pada dulunya. Bunda bangga bisa mendapatkan menantu yang bisa meluluhkan hatinya," terang Bunda Fisya seraya menyentuh bahuku lembut.
"Berkat Dara juga, Azlan semakin giat bekerja dan selalu ingin pulang ke rumah. Karena saking rindunya untuk berlama-lama di sampingnya."
Kami tertawa renyah setelah percakapan terakhir. Bunda Fisya juga menceritakan bagaimana kehidupan Dara yang dulunya sangat periang, seketika lenyap begitu saja.
Ia lebih banyak berdiam diri, tetapi untungnya nilai semasa ia sekolah dulu tidak menurun terlalu drastis.
Dara lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca novel romance, action dan sad ending. Sayangnya, novel-novel itu sudah dibakar ibu karena menumpuk dan membuat kamarnya dipenuhi oleh novel-novel milik Dara
Ternyata, wanita itu dulu rajin membaca dan kutu buku. Walaupun ia membaca bukan mengenai pelajaran sekolah, tapi novel juga menyimpan ilmu kecuali genre yang Dara sukai.
Berbeda denganku yang lebih menyukai novel atau cerita bergenre berat. Sebuah tantangan bagiku apalagi dengan bahasa asing.
'Ye, geu yeojaneun nae insaeng-eul bakkugo gwageoleul ijge mandeul-eossseubnida. Hal su-iss-eoseo maeu gippeubnida. Geuleona gasiwa nalkaloun mulgeon-eun uli yeojeong-ui modeun dangyee hangsang jonjaehaessseubnida. Ppeosppeoshan yeojawa hamkkeissneun Dara, eoliseog-eun geos gat-eun Dara, ajig nawa hamkke tokkileul bukkeuleowohaneun Dara, geuui haengdong ttaemun-e naleul usge mandeuneun Dara, geuui agi eolgul-eul bolyeogo nun-eul kkaeuneun Dara. Eonniwa eommaleul dolbwa jul yeoja. Geuwa geuui ileum-eul nae ma-eum-e daesin hal su-issneun daleun yeojaneun eobs-seubnida. Geulaedo naneun haengboghago maeu haengboghamyeo imi haengboghabnida,' batinku saat ibu beranjak untuk ke dapur. Sementar aku tetap duduk di bangku lanjang yang terletak di belakang rumahnya.
(Ya, wanita itu telah merubah kehidupanku dan membuatku melupakan masa laluku. Aku sangat bahagia bisa memikinya. Tapi, duri dan benda tajam itu selalu hadir di setiap langkah perjalanan kami. Dara dengan wanita kaku, Dara dengan halnya yang terlihat absurd, Dara yang masih malu-malu kelinci denganku, Dara yang membuatku tersenyum gemas karena tingkahnya, Dara yang membuat mataku terbangun untuk mrlihat wajahnya yang baby face. Wanita yang akan kujaga setelah adikku dan mama. Tak ada wanita yang lain bisa menggantikan dirinya dan namanya di hatiku, walaupun begitu aku bahagia, sangat bajagia dan terlanjur bahagia.)
__ADS_1
(Hangul: 예, 그 여자는 내 인생을 바꾸고 과거를 잊게 만들었습니다. 할 수있어서 매우 기쁩니다. 그러나 가시와 날카로운 물건은 우리 여정의 모든 단계에 항상 존재했습니다. 뻣뻣한 여자와 함께있는 아드 난, 어리석은 것 같은 아드 난, 아직 나와 함께 토끼를 부끄러워하는 아드 난, 그의 행동 때문에 나를 웃게 만드는 아드 난, 그의 아기 얼굴을 보려고 눈을 깨우는 아드 난. 언니와 엄마를 돌봐 줄 여자. 그와 그의 이름을 내 마음에 대신 할 수있는 다른 여자는 없습니다. 그래도 나는 행복하고 매우 행복하며 이미 행복합니다.)