
"Naega geoman hae? Naega geoman hae? nuga oman hae? Dangsin ttoneun dangsin? Fangsin-ina dangsin-ui abeoji? Ibwa yo, ileon gunjung ap-eseo nuga gul-yog-eul danghago sip-eo hal geos gatnayo? Aldasipi, naneun cheonsacheoleom gamyeon-eul sseun salamdeul-eul mannaneun geos-e jeongmal jil lyeossjiman geuneun jiog-eseo on agmalaneun geos-i balghyeojyeossseubnida. Soljighi dangsin abeojiui iyagileul deudgo nollassseubnida. Naneun geuga ulileul aju jal hwan-yeong hal geos-ilago saeng-gaghaessjiman geuneun geuleohji anh-assda. i haengsa-e ogedoeeo jeongmal silmang seuleobseubnida."
Aku mengerutkan keningku sehingga kedua alis mataku menyatu. Pandanganku sedikit mengabur karena cahaya lampu yang sangat terang.
(Hangul: 내가 거만 해? 내가 거만 해? 누가 오만 해? 당신 또는 당신? 당신이나 당신의 아버지? 이봐 요, 이런 군중 앞에서 누가 굴욕을 당하고 싶어 할 것 같나요? 알다시피, 나는 천사처럼 가면을 쓴 사람들을 만나는 것에 정말 질 렸지만 그는 지옥에서 온 악마라는 것이 밝혀졌습니다. 솔직히 당신 아버지의 이야기를 듣고 놀랐습니다. 나는 그가 우리를 아주 잘 환영 할 것이라고 생각했지만 그는 그렇지 않았다. 이 행사에 오게되어 정말 실망 스럽습니다.)
(Aku angkuh? Aku sombong? Siapa yang angkuh sekarang? Kau atau dirimu? Kau atau ayahmu ini? Hei, kau pikir saja mana ada orang yang mau dipermalukan di depan orang banyak seperti ini bahkan ia menyindir adik dan istriku yang cantik ini. Kau tahu, aku sangat muak jika bertemu orang yang memakai topengnya bak malaikat, tapi ternyata dia adalah iblis dari neraka. Jujur saja, aku tadi terkejut mendengar penuturan ayahmu ini. Kukira dia akan menyambut kami dengan sangat baik, ternyata tidak. Aku benar-benar kecewa bisa datang ke acara ini.)
"Watch your mouth, it come back around
Once upon a time, we learnt how to fly
Go look at your mirror, same damn clothes."
(jaga mulutmu, itu kembali
Dahulu kala, kami belajar cara terbang
Pergi lihat cerminmu, pakaian sialan yang sama)
Aku bangkit dari dudukku lalu Dara memapahku berjalan keluar dari restoran itu. Bukan aku saja, melainkan yang lain juga. Mereka dan para tamu undangan juga keluar dari restoran iti setelah menyaksikan perdebatan kami.
"Biar aku saja yang nyetir."
Aku mengambil kunci mobil dari tangan Dara lalu Cinta merebutnya. Kepalaku terasa sangat sakit dan pusing.
"Biar aku saja. Kakak jaga dia di belakang."
Dara membuka pintu mobil bagian penumpang lalu aku mendudukkan diri dengan sedikit oleng.
Padahal aku hanya meminum dua teguk saja dan mengapa aku sangat mabuk.
***
Di perjalanan Dara menekan tombol Off untuk pagar rumah kami. Sampai di rumah, terlihat mobil papa berada di belakang. Sementara Cinta berlari menuju mobil papa dan aku terduduk di teras rumah untuk menunggu Dara menutup pintu pagar rumah seraya mrngingatkan untuk menghidupkan mode kembali ke awal pada pagar rumahku.
Di kamar, aku membuka pakaianku yang menyisahkan hanya baju kaos putih berlengan pendek dan celana pendek berwarna hitam.
Tubuhku sangat basah oleh keringat. Untung saja aku bisa menahan diri agar tak meninju wajah dan tubuh Tuan Jonathan di sana. Bisa-bisa aku diliput media dan reputasiku lenyap begitu saja jika menuruti emosi.
"Minum dulu."
Aku membuka mata ketika Dara memberikanku secangkir air jahe hangat. Aku meneguknya perlahan dan kembali membaringkan tubuhku di ranjang.
"Tolong sayang, ambilkan obat aspirin atau ibuprofen."
Aku menunjuk ke arah bawah ranjang di mana kotak P3K ukuran kecil dan besar ada di sana.
"Ini ada dua, kak."
"Yang kecil, sayang. Cepat!"
Aku meringis kesakitan ketika merasakan kepalaku mau meledak dengan seperti ditusuk-tusuk dalam waktu bersamaan.
Dara membacanya lalu memberikan aspirin padaku. Aku meneguk obat itu tanpa meminum air dan itu adalah kebiasaanku ketika merasa sudah semakin parah.
"Ayo. tidurlah. Jangan begadang."
Aku menepuk ranjang di sebelahku agar Dara membaringkan tubuhnya di sisiku.
"Sebentar, aku mau hapus make up dulu sama cuci muka."
__ADS_1
Ia berjalan menuju meja rias lalu mebgambil seonggok kapas dan berjalan memasuki kamar mandi.
Ceklek!
Setelah mendengar suara pintu toilet tertutup rapat, aku meringis kesakitan di bagian kepalaku.
Rasanya benar-benar sakit.
Aku jarang meminum wine. Hanya saja aku pernah meminum soju, tapi tidak separah ini.
Bahkan ini sangat menyakitkan daripada sakit kepala akibat melijat layar komputer.
"Ah!"
Aku memukul kepalaku agar sakitnya mereda lalu meneguk perlahan air jahe yang dibuatkan Dara untukku.
Ini juga salahku, entah pikiran dari mana aku harus meneguk wine itu, dan aku merasa ini adalah akibatnya.
"Chagi-ah, seodulleo. Jigeum meoliga jeongmal apayo. Meomus geoliji ma, Dara. aA neomu apayo," ringisku sambil memijat pelipisku.
(Hangul: 여보, 서둘러. 지금 머리가 정말 아파요. 머뭇 거리지 마, 아드 난. 아, 너무 아파요.)
(Sayang, cepatlah kemari. Kepalaku benar-benar sakit sekarang. Jangan berlama-lama, Dara. Ah, sakit sekali rasanya.)
Aku meringkuk di atas ranjang dan selimut yang tadi Dara kenakan untukku entah ke mana perginya.
"Ya ampun, kak!"
Aku mendengar suara teriakan Dara langsung berhamburan memeluknya yang setengaja terduduk di atas ranjang.
Aku menangis kejer karena rasa sakit di kepala dan rasa tak ingin kehilangan dirinya benar-benar menghantuiku.
Tak peduli dengan wajah tampanku yang terlihat jelek lagi.
"Kepalaku sakit, tolong pijatkan," pintaku seraya meletakkan tangannya di atas kepalaku.
Kedua tangan mungil itu bergerak di atas kepalaku. Memijatnya dengan pelan dan lembut sementara kedua tanganku masih setia memeluk pinggangnya.
"Kepalaku sakit, tolong pijatkan," pintaku seraya meletakkan tangannya di atas kepalaku.
Kedua tangan mungil itu bergerak di atas kepalaku. Memijatnya dengan pelan dan lembut sementara kedua tanganku masih setia memeluk pinggangnya.
"Honey, do you want to leave me after I said harshly to Rara and Mr. Jonathan? I said that because you and my little sister were being teased. I don't want you to be told nothing about your career or anything else. That is tantamount to demeaning me with your equipment. Please, don't ever try to leave me. There will be no more enthusiasm for my life if you leave this house. No more smiles when I open my eyes in the morning and come home from work because of fatigue. Don't, don't do it, Dara."
(Sayang, apa kamu mau meninggalkanku setelah aku berkata kasar pada Rara dan Tuan Jonathan? Aku mengatakan hal itu karena kamu dan adik perempuanku diejek. Aku tak mau kalian dikatai yang tidak-tidak perihal karier ataupun hal lain. Itu sama saja dengan merendahkan diriku dengan peralat kalian. Kumohon, jangan pernah untuk mencoba pergi meninggalkanku. Tak ada lagi semangat hidupku jika kau pergi dari rumah ini. Tak ada lagi senyuman saat aku membuka mata di pagi hari dan sepulang dari kantor karena kelelahan. Jangan, jangan lakukan itu, Dara.)
"Ya ampun, kak. Gak ada dan siapa yang mau ninggalin kakak? Kok kakak malah cengeng kayak gini?"
Jemari mungilnya yang tadi memijat kepalaku beralih pada pipiku yang sudah basah oleh air mataku.
"Udah, ya. Jangan nangis lagi. Laki-laki kok cengeng sih," celetuknya sambil menghapus air mataku dan membaringkan tubuhnya di sampingku.
Aku memeluk tubuhnya lalu meletakkan kepalaku di atas bahu kananya dan menautkan jemari kami sebelum akhirnya kami menutup mata.
***
Tengah malam, aku merasakan suhu tubuhku naik lalu memanggil nama Dara agar dia menghidupkan pendingin ruangan.
Kurasakan ranjang di sebelahku bergerak dan sebuah tangan mungil lembut nan dingin itu menempel di kening, pipi dan leherku.
"Kak."
__ADS_1
Aku merasakan seseorang mengguncang tubuhku seiring suara itu membangunkan ku dari tidur.
Aku membuka mata perlahan lalu melihat wajah Dara yang baru bangun tidur. Terlihat wajahnya sangat lelah dan menahan kantuk di pelupuk mata itu.
"Dingin, sayang."
Aku mencari tangannya lalu kupeluk untuk mencari kehangatan di sana.
"Kakak demam. Sebentar."
Dara melepaskan tangannya dengan kasar lalu kembali bergumam dingin dan memanggil mama.
Perlahan, aku kembali terlelap karena sentuhan istriku yang mengelus rambutku dengan jemarinya dan merasakan sebuah kain basah menempel di pelipis ku serta pelukan hangat itu membuat mataku kian terlelap.
***
Aku terbangun saat merasakan sebuah tangan dan kepala menggeliat di pinggang dan di atas dadaku.
Kelopak mataku bergerak dan melihat suasana kamar yang diterangi cahaya lampu tidur berwarna putih yang sudah tidak terlalu terang.
Kulihat dari balik tirai jendela kamar yang tipis tidak tertutupi gorden tebal. Warna langit pagi ini masih belum terlihat. Kulirik jam digital di nakas yang menunjukkan pukul 4 dini hari.
Handuk di atas kepalaku terjatuh saat aku menoleh ke arah Adnan yang masih terlelap di atas dada bidangku.
'Aku demam?' batinku.
Ah, aku baru saja teringat bahwa tadi malam aku merasakan suhu tubuhku naik dan memeluk lengan Adnan.
Aku teringat akan mama yang selalu merawatku dulu semasa aku kerja. Apalagi dulu aku demam karena Kang Yuri memutuskan hubungan kami.
Aroma rambutnya berbau mawar merah itu menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku.
Aku mengeratkan pelukanku padanya sambil mengelus pelan bahu dan pergelangan tangannya melingkar di pinggangku.
Jangan ditanya bagaimana posisi tidurnya saat ini. Kedua kakinya bahkan telah menindih kedua kakiku dan salah satunya melebar sehingga kedua kakiku sangat sulit digerakkan.
Ya, Dara sangat posesif saat di ranjang. Bahkan dia menganggap ku sebagai bantal guling Nya yang sekena memeluknya dan tak menyadari bahwa aku benar-benar tersiksa dengan perilakunya.
Aku menghela napas kasar dan kembali memejamkan mata.
***
Aku merasakan hembusan napas kembali menerpa dadaku dan kepala itu bergerak menoleh ke atas.
Semenjak Dara melepaskan tangannya dari pinggangku bersamaan dengan kakinya yang menindih kakiku. Aku sudah terbangun, tanpa membuka mata.
"Sejak kapan? Kok malah kayak gini?" gumamnya.
Aku tak lagi merasakan berat kepala dan kakinya di atas tubuhku. Lalu ranjang di sebelahku kembali bergerak seiring aroma tubuhnya yang semerbak menyapa indra penciumanku.
"Apa aku pantas memilikinya? Tapi, dia adalah suamiku."
"Aku merasa kehadiranku membuat suasana hidupnya terasa merepotkan. Banyak hal yang kami lalui beberapa tahun lalu dan sekarang. Bahkan, Kak Azlan juga punya beberapa wanita yang sangat menginginkannya walaupun aku sudah bernotaben istrinya."
Aku tetap diam dan tak membuka mata. Tapi, otakku terus berpikir apa maksud dati perkataan yang keluar dari bibir mungilnya itu.
Tidak pantas?
Merepotkan?
Wanita?
__ADS_1
Apa dia sangat tersiksa jika dia hidup bersamaku?