
Mobil Azlan berhenti tepat di depan gerbang rumah Bibi Kim.
Mereka turun dari mobil Azlan dan juga Dara sembari melambaikan tangannya. Dara membalas lambaian mereka sampai akhirnya tak terlihat lagi mobil hitam mewah milik Azlan dari pandangan mereka.
"Terima kasih, paman, bibi. Jaga adiknya ya, bi. Jangan sampai hilang lagi, Azka sayang sama bibi dan juga adiknya di sini. Oh iya, paman. Nanti malam kalau papa dan mamam ada waktu, kami akan main ke rumah untuk mengambil cutton candy dari kalian. Sampai jumpa Paman Azlan dan juga Bibi Dara ."
"Ternyata Bibi Dara sempat tertegun mendengar ocehan Azka. Mungkin ada trauma di sana, tapi Paman Azlan benar-benar paham di situasi yang dialami wanitanya. Walaupun ia tak melihatnya, tetapi paman bisa merasakan hal itu. Apakah itu yang dinamakan cinta? Bahkan, aku yang mau menginjak sekolah menegah atas saja belum memikirkan hal pria. Tapi, setelah melihat keakraban mereka, aku jadi ingin menikah muda. Apalagi dengan pria yang sudah dewasa, mapan dan tidak sombong. Jujur saja, sulit mendapatkan pria yang benar-benar mencintai wanita yang terlihat dari fisik biasa-biasa saja. Di komik malah pria yang lebih kejam dan Bibi Dara bisa menaklukan Paman Azlan," gumam Ahyun saat ia berada di kamar tamu, di rumah Jeehyoon.
Ahyun membaringkan tubuhnya di atas ranjang single. Ia mengambil ponsel pintar itu di dalam tas mungilnya lalu melihat postingan Azlan di aplikasi twitter.
"Bahkan, paman saja tak pernah mempublish foto istrinya di twitter. Berbeda dengan pasangan sekarang yang lebih mengumbar wajah istrinya dan bahkan mereka tak segan memamerkan bentuk tubuh wanitanya. Inilah yang membuatku enggan untuk mendekati pria. Mana mau pria mendekatiku jika aku saja tidak bisa berdanda dan hanya memakai celana jeans atau training keluar rumah. Tapi, wajah bibi tadi benar-benar membuatku terpanah. Apalagi dengan penutup kelapanya, itu yang membuatku betah berlama-lama di dekatnya. Semoga saja, aku bisa mendapatkan pria yang bisa menyayangiku sepenuh hati, merubah sikap dan semuanya yang ada dalam diriku. Sama seperti paman. Dia benar-benar beruntung bisa memiliki pria tampan itu, bahkan wanita-wanita dulu dan karyawannya saja mati-matian agar terlihat menarik di depannya," ucap Ahyun panjang lebar. Ia tengah melihat postingan Azlan di twitter yang memposting gambar gaun yang dulu akan dikenakan Dara dan cincin mereka yang berada di telapan tangannya. Puluhan ribu like dan komentar di sana. Tetapi, Ahyun tak tertarik untuk membaca komentar itu satu per satu.
Bukan karena kecantikan atau suka kepada Reyndad. Melainkan sikap Kang Yuri yang terlalu berlebihan pada Azlan. Seperti suami istri, Kang Yuri dengan beraninya meminta uang pada Azlan setelah ia berada di atas, dulu.
Ping!
Ponselnya bergetar menandakan ada DM masuk.
Dae Kim
[Kapan kau akan pulang? Aku akan menjemputmu, tentukan harinya. Apakah di sana menyenangkan?]
Ahyun tersenyum mendapatkan pesan dari sang kakak laki-lakinya.
To Dae Kim
[Rencananya dua hari lagi, kau bisa menjemputku setelah aku sampai berada di bandara Seoul. Ya, sangat menyenangkan. Apalagi aku tengah berbagi cerita dengan istri Paman Azlan. Dia sangat menyenangkan, cantik dan teduh pandangannya. Tak bisa kugambarkan bagaimana aku senang hari ini. Kami banyak bercerita mengenai masalah pria,] balas Ahyun pada sang kakak.
Send!
Ping!
Dae Kim
[Berhentilah membahas masalah pria. Kau ini masih kecil dan sangat labil. Kasihan jika pria itu mendekatimu. Yang ada dia tidak mau mendekatimu. Selesaikan dulu sekolah dan pekerjaanmu. Baru membahas pria padaku.]
Ahyun melemparkan ponselnya di sisi ranjang lalu keluar dari kamarnya berjalan menuju dapur.
"Ah, sudah pulang bibi?" tanya Ahyun seraya mendekati Bibi Kim yang tengah mengiris bawang bombai.
"Sudah, bagaimana perjalanan kalian tadi? Apa kau sudah bercerita dengan Dara?" tanya Bibi Kim penasaran.
__ADS_1
"Sudah bibi, ternyata Bibi Dara orangnya sangat bersahabat dan humble. Dia juga menceritakan pengalaman dia bertemu dengan paman."
"Pasti kau menanyakan padanya bukan?" Bibi Kim mencolek hidung Ahyun dan membuatnya tertawa kecil seraya menundukkan kepalanya.
***
Di sisi lain, Azlan dan Dara tengah selesai melaksanakan salat isya bersama.
"Sayang, buatkan kakak telur mata sapi," pinta Azlan membuat Dara bingung. Tak biasanya Azlan meminta hal aneh. Padahal Azlan selalu memakan semua yang dimasak oleh Dara, tanpa ada alasan asin, kemanisan atau hambar.
"Tumben, kak," timpal Dara.
"Gak tahu, sayang. Pengen aja. Terserah kamu mau temenin nya sama apa. Kakak harus ngurus beberapa gaji karyawan malam ini."
Mendapat anggukan dari Dara, Azlan segera berjalan menuju meja kerjanya untuk mengurus gaji karyawan karena setiap bulan kantor mereka selalu mengeluarkan properti terbaru dan yang lama.
Ping!
Kepala Azlan menoleh ke arah ranjang di mana ponselnya dan ponsel sang istri tergeletak di sana.
"Astaga, siapa yang mengirim pesan? Memang mengganggu sekali, dasar," gumam Azlan seraya berjalan menuju ranjang tanpa melepaskan kacamata anti radiasi di wajahnya.
[Azlan, keponakanmu minta kami agar segera ke sana. Katanya mereka ingin mengambil kembang gula. Aku sudah berusaha agar tidak pergi ke rumah kalian malam-malam begini, tapi bagaimana dengan keras kepalanya Azka, kau tahu itu. Jangan menyuruh istrimu masak yang aneh-aneh, ya. Kami yang datang ke sana, kami akan membelikan beberapa cemilan. Sampai jumpa.]
"Okelah," ucap Azlan seraya meletakkan ponselnya lalu berjalan menuju dapur di mana Adnan tengah memasak makan malam mereka.
"Sayang!" teriak Azlan saat kakinya melangkah menuruni anak tangga dari kamar mereka menuju dapur.
"Ha?!"
Terdengar balasan dari teriakan Dara untuk Azlan
"Nanti Bibi Kim dan anaknya Azka mau main ke rumah. Katanya mau ambil kembang gula."
Mendengar ucapan Azlan, Dara segera berjalan menuju kulkas lalu melihat bahan makanan untuk menyambut mereka.
"Kata bibi, jangan masak yang aneh-aneh, dia kemari cuman sebentar," sambung Azlan.
"Ya, tapi 'kan mau bagaimanapun mereka juga tamu."
"Udah, gak apa-apa. Kamu udah minum susu?" potong Azlan.
__ADS_1
Melihat Dara menggelengkan kepala. ia beralih membuatkan sang istri susu ibu hamil.
"Hm, rasakan nikmat," gumam Azlan setelah ia mengaduk susu coklat tersebut lalu mencicipinya.
"Nih, minumlah."
Azlan memberikan segelas susu coklat untuk Dara yang tengah mengiris bawang merah untuk telur mata sapi. Walaupun resep Dara agak berbeda, tapi kalau kalian coba pasti enak dan juga wangi.
"Makasih, ya."
"Iya, sama-sama."
Azlan duduk di meja makan sembari menunggu Dara memasak telur mata sapi untuknya. Setelah selesai, Dara menghidangkan masakannya di meja makan lengkap dengan telur mata sapi.
Tok ... tok ... tok ...
Baru saja Azlan ingin menyuapi dirinya, bunyi ketukan pintu membuatnya terhenti dan Dara berjalan menuju pintu.
"Wah, kalian sudah datang," seru Dara.
Zahra langsung berlarian memeluk kaki Dara dan Dara dengan mengerti ia menggendong tubuh mungil Zahra.
"Bibi, mana kembang gula untuk kami?" tanya Azka tak sabaran.
"Ada di dapur, sayang. Paman ada di sana tengah makan."
Azka, Zahra dan Dara berlarian menuju dapur dan membuat Azlan yang tengah menikmati makan malamnya tersedak. Pasalnya gorden itu tersibak dengan kasar membuatnya terkejut bukan main. Apalagi makannya tersangkut di kerongkongan, sangat menyakitkan.
"Hei, jangan berlarian seperti itu. Kalian ini membuatku terkejut, bagaimana jika aku mati saat makan dan itu langsung dapat dari media?! Kalian ini benar-benar. Mau apa kalian kemari?" cerocos Azlan pada Azka, Dara dan Zahra. Mereka membuat Azlan benar-benar terkejut. Terbukti sekarang Azlan tengah mengangkat kaki kirinya lalu berbicara sedikit membentak pada mereka.
Azka yang mendengarnya hanya memasang wajah sinis seraya mengangkat kedua tangannya lalu ia membusungkan dadanya menatap Azlan
"Ya ampun, kami ini kemari dan berlari itu karena terlalu senang. Kami mau mengambil kembang gula milik kami. Paman menyimpannya di mana? Biar aku saja yang mengambilnya," ujar Azka.
"Ada di lemari kabinet bawah sebelah kiri paling ujung. Kalian tinggalkan 2 buah. Itu untuk istriku. Kalian paham?" tanya Azlan padanya.
"Ya." Azka, Dara dan Zahra menjawab serentak.
Lalu mereka membawa kembang gula tersebut seraya memeluknya dan berjalan keluar dari dapur meninggalkan Azlan untuk memberi waktu Azlan menikmati makan malamnya.
"Kalian untung masih kecil, kalau tidak. Aku akan suruh Adnan untuk membuat mereka menjadi telur ayam terus aku akan menggorengnya dan memakannya. Huh, untuk Tuhan masih sayang. Terima kasih banyak Tuhan, kau telah memberiku napas lagi untuk menikmati makan malam dan menjalani aktivitasku. Mereka itu benar-benar." Azlan berucap seraya mengelus dadanya dan kembali menyuapi dirinya dengan suapan terakhir lalu mencuci piring kotornya.
__ADS_1