
Malam tiba, Azlan masih betah menunggu Dara siuman dari pingsannya.
Ceklek.
Ia menoleh ke arah pintu karena ia sendiri di ruang rawat VVIP.
"Saya akan men-cek istri Anda, tuan," ucap perempuan tersebut.
Ia mempersilahkan dokter dan perawat untuk melihat kondisi sang istri. Mereka mengecek suhu tubuh, detak jantung, mengganti cairan infus dan mengecek matanya menggunakan senter khusus.
"Kayaknya pasien mengalami kekurangan darah," gumam dokter tersebut. Azlan hanya bisa diam melihat kegiatan mereka yang tengah mengambil sampel darahnya.
"Saya akan mengecek darah pasien."
Azlan menganggukkan kepalanya lalu mereka berlalu meninggalkan berdua.
Tak lama, mereka kembali seraya membawa sepucuk surat.
"Pasien memiliki golongan darah AB, kami mempunyai stock darah itu. Apakah Anda menyetujuinya?"
"Ya, silahkan. Lakukan apapun sampai istri saya kembali pulih."
Dokter tersebut menganggukkan kepala mengerti dengan keadaan Azlan sekarang. Ia menyuruh Azlan duduk di sofa dan mereka lalu melakukan transfusi darah untuk Dara.
"Jika darahnya sudah habis, Anda bisa menekan tombol di samping brankar," ujar perawat dan kembali meninggalkan Azlan.
Di satu sisi, ia tengah menahan lapar. Karena tidak mengisi perutnya sejak tadi siang. Tapi, di sisi lain ia sangat ingin menatap namik hazel brownies. Dara. Ia ingin melihat istrinya siuman dan menatapnya.
"Apa kamu gak lapar? Buka mata kamu, sayang. Kakak rindu masakan kamu, kakak rindu senyuman kamu, kakak rindu mata kamu."
Tak ada jawaban dari perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya. Ia hanya menutup mata dan tak bergeming.
Azlan menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya dengan kasar, ia mengambil ponsel untuk memesan makanan online saja.
"Kamu mau makan apa? Buah? Kakak akan pesankan. Tapi, cepatlah buka mata kamu," pinta Azlan seraya menahan isak tangisnya agar tak mengeluarkan suara.
Ceklek.
Pintu ruangannya terbuka. bunda Fisya yang melihat pemandangan tersebut hanya bisa menangis dan menghapus air matanya. Ia tadi ke rumah Azlan untuk membawa beberapa helai pakaian milik Azlan dan Dara dan juga peralatan lainnya.
"Kamu belum makan?"
Azlan dengan segera menghapus air matanya. Ia. tadi tidak mendengar suara pintu karena tengah menangis sambil menggenggam tangan istrinya.
"Aku udah pesan, bu. Sebentar lagi pasti datang. bunda udah makan?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
"Sudah," jawab bunda Fisya singkat.
"Maaf, bunda tadi sudah melarang Dara untuk pergi ke swalayan. Kami tadi membuat kue, dan ibu gak tahu kalau sebagian dati bahan-bahan membuat kue itu sudah habis. Jadi, Dara membelinya."
"Tak apa, bun. Ini sudah takdir, kita hanya bisa berdoa yang terbaik."
__ADS_1
"Di mana Chaca?Dimana ayah " tanya Azlanmengalihkan pembicaraannya.
"Di rumah, bunda tinggal karena bunda sudah janji pergi sebentar. Maaf, ya Azlan. Bunda gak bisa temani kamu untuk jaga Dara. Ayah masih ada urusan dengan cabang Kantor yang bermasalah."ucap bunda
"Tak apa, bun. Hati-hati, ya."
Bunda Fisya tersenyum lalu mengecup kening anaknya dengan sayang sebelum ia meninggalkan rumah sakit.
Tak lama semenjak kepergian bunda Fisya, ponsel Azlan bergetar menandakan makanannya sudah tiba.Azlan keluar kamar rawat Dara mengambil pesanannya.
"Terima kasih." Azlan memberikan uang pas pada seorang pria yang mengantar makanannya dan kembali memasuki rumah sakit.
Sementara ditempat kang Yuri
Kang Yuri sangat bahagia bisa membuat Dara kesakitan akibat ulahnya. Ia tersenyum puas sambil menenguk alkohol di gelas kecil itu.
Ingatannya kembali berputar ketika ia masih berpacaran dengan Azlan. Di mana mereka berjalan bersama di mall ternama di Korea, membeli baju couple, bermain di taman, menikmati senja di pulau Jeju, merasakan pelukan, senyuman dan perhatian Azlan padanya.
"Rasanya seperti de javu. Tapi, karena perempuan itu, semuanya hilang," cerocosnya. Wajahnya memerah akibat ia terlalu banyak mengonsumsi alkohol.
Dia wanita yang kuat dalam urusan minuman keras. Ia kembali tertawa mengingat darah Dara yang keluar dari tubuhnya.
"Beberapa minggu lagi, aku akan ke Indonesia. Sekedar melihat kondisi mereka, apakah mereka akan bercerain Atau malah sebaliknya."
Ia melangkah masuk ke dalam kamar dengan memegang dinding sebagai tumpuannya. Kepalanya terasa berat dan pening, perutnya sedikit bergejolak dan ia menahan semuanya sampai ranjang.
"Kau tahu Azlan, aku sangat menyesal memutuskan hubungan kita. Kukira kau akan menjadi gelandangan di Indonesia, ternyata kau menjadi CEO dan lelaki paling kaya di bisnismu."
Matanya tertutup rapat setelah ia mengatakan hal itu.
Pukul 23.41 WIB, Dara terbagun dari pingsannya setelah darah itu habis saat Azlan selesai makan malam.
Ia menatap wajah Azlan yang terlelap di bagian lengannya yang bertengger di bahu lebar milik Azlan.
Azlan yang meletakkan tangan mungil istrinya di bahu agar ia bisa tidur dengan pulas karena sentuhan itu.
Dara menarik tangannya lalu mengambil botol air minum di nakas dan meneguknya. Tenggorokannya terasa sangat kering setelah beberapa jam ia tidak sadar.
Namun Azlan belum juga merasakan kehadiran Dara.
Tangannya menyentuh permukaan perutnya yang sedikit sakit. Ia tidak merasakan ada pergerakan di dalam. Mungkin janinnya sedang tertidur, pikir Dara. .
Ia kembali berbaring dan meletakkan tangannya di bahu Azlan seperti semula. Ia tersenyum karena Azlan merawatnya dengan sangat baik.
Pagi harinya
Pagi hari, Azlan terbangun dan melihat Dara yang masih menutup mata dengan posisi yang sama seperti kemaren. Ia mengambil botol air minum dan heran.
"Kenapa bisa sedikit, ya?"
Kepalanya menoleh ke belakang.
__ADS_1
Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali dirinya bersama Dara.
Azlan berjalan menuju koper di mana bunda Fisya membawa barang-barangnya dengan lengkap. Ia mengambil handuk, sabun mandi, sabun muka, gosok gigi dan pasta gigi lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih karena kemaren ia belum mandi.
***
Saat keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai, ia menoleh ke arah Dara yang tengah memakan salad buah. Tadi pagi, Azlan sempat memesan salad buah 2 porsi untuknya dan Dara.
"Sayang."
Dara msnghentikan menyuapi dirinya dan beralih menatap Azlan yang tengah dilanda rindu. Detik kemudian ia berlari menaiki brankar dan memeluk Dara yang terkejut dengan aksi Azlan di luar batas.
"Astaga, sayang. Akhirnya kamu sadar juga, kakak rindu," ucap Azlan sambil memeluknya dengan erat.
"Salad buahnya nanti tumpah."
Azlan melepaskan pelukan mereka dan melihat salad buah di genggaman Dara.
"Mau makan bubur?" tanya Azlan.
Dara menggelengkan kepala karena ia akan mual kalau menyicipi makanan selain dari buah dan roti.
"Bentar, ya. Kakak panggilin dokter dulu."
Azlan beranjak dari brankar keluar dari ruangannya menuju ruang dokter. Mereka berjalan di mana Dara ditempatkan. Memeriksa keadaan Dara dan memberitahukan bahwa Dara sudah boleh pulang. Tapi, dengan bantuan kursi roda.
Di rumahnya
Sampai di kamar, Azlan menggendong Dara ala bridal style ke ranjang mereka lalu membawakan makanan dan segelas susu coklat hangat.
Azlan menyuapi Dara dengan telaten walau terkadang Dara menuntup mulutnya dan ia tak merasakan mual. Akhirnya ia menghabiskan makanan tersebut.
"Kak, kok gak ada gerak-gerak, ya?"
Aktivitas Azlan terhenti lalu beralih pada tangan mungil Dara yang mengusap perutnya.
'Apa aku harus mengatakannya sekarang?' batinnya.
Azlan memposisikan duduknya menghadap ke Dara . Pemilik hazel brownies itu tengah menunggu jawaban darinya.
"Maaf, kemaren kamu mengalami pendarahan hebat. Jadi, janin yang kita rawat selama ini, gak bisa diselamatkan."
Deg!
Bagaikan petir di siang bolong, Dara menangis mendengar kabar buruk itu. Ia menangis dipelukan sang suami sambil meremas baju Azlan .
"Mungkin Tuhan belum bisa menitipkan untuk kita, jadi kita perlu bersabar dan lebih banyak berusaha."
Azlan mengusap punggung kecil Dara agar tangisannya mereda.
Ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dara yang memerah dan basah akibat air matanya.
__ADS_1
"It's oke," bisiknya.
Sorry for typo 🙏🙏