
PoV Azlan
Pagi hari, kurasakan ranjangku bergerak. Mataku terbuka perlahan. Kulihat Dara beranjak dari ranjang lalu berjalan gontai ke kamar mandi dengan rambut yang berantakan.
Sementara aku kembali menutup mata ketika mendengar suara pintu kamar mandi tertutup rapat.
***
Pagi ini, aku membuka mata. Melihat wajahnya yang damai dibantu dengan pantulan cahaya lampu tidur yang sama-samar.
Punggung tanganku bergerak menghapus jejak keringat yang berada di kening dan lehernya.
Bibirku terangkat ketika melihat wajahnya yang sangat lucu. Aku penasaran bagaimana anak kami nantinya.
Aku mendudukkan tubuhku di ranjang, menyibak selimut dan berjalan gontai menuju kamar mandi untuk mencuci wajah, menghosok gigi dan mengambil air wudu.
"Dara, ayo bangun. Kita salat subuh," ucapku saat mengelap wajahku dengan handuk.
Sepertinya ia tak mendengar ucapanku. Aku bergerak mendekatinya lalu menyibak selimut dari bagian bawah dan menekan jari kakinya membuat ia tersentak kaget.
"Kakak ngapain, sih?"
Dara membuka matanya, menggeliat lalu duduk di ranjang seraya mengucek matanya.
"Salat," ujarku padanya lalu membentangkan kedua sajadah, terdengar suara derap kakinya memasuki kamar mandi lalu measang mukenahnya dengan perlahan.
Kulihat rasa kantuk dari wanitaku sangatlah berat. Aku mrmbantunya mengenakan mukenah di bagian kepala lalu kami memulai dengan takbir.
***
Setelah selesai, Dara pamit untuk ke dapur membuatkan sarapan untukku sebelum aku berangkat ke kantor.
"Ya, kakak juga mau siap-siap dulu. Hati-hati jarimu," pesanku padanya saat punggung itu tak terlihat.
Langkahku membawa tubuhku menuju kamar mandi. Aku memutar kran air di bath up bersamaan dengan memasukkan sabun cair ke dalam sana.
Srek!
Pergerakanku terhenti ketika mendengar suara dari luar.
Aku meletakkan sabun cair pada tempatnya, berjalan mendekati jendela, menyikap tirai jendela tersebut.
Mataku membola saat melihat seorang perempuan berambut silver terurai panjang nan lurus sampai pinggangnya. Memakai payung hitam.
Kepala itu terdongak ke atas dan kulihat tangan satunya memengan sebuah batu. Ia menyembunyikan batu tersebut di tangannya, tapi dapat kulihat.
'Geu sinbihan yeojaneun nugu-ibnikka?' batinku seraya membuka perlahan kunci jendela lalu membuka jendela.
(Siapa wanita misterius itu?)
"Yak, geogiseo mwohaneungeoya?!" teriakku sehingga wanita itu mengadah ke atas dan berlari.
(Hei, apa yang kau lakukan di sana?!)
Anehnya, wanita itu memakai topeng di wajahnya dan aku tak tahu bagaimama bentuk rupanya.
Sementara aku masih mengenakan piyama tidurku. Aku berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari kamar mandi lalu mengecek CCTV melalui ponselku
__ADS_1
Ya, aku sudah lama memasang kamera CCTV yang berukuran kecil bermerek Alro.
Informasi:
Arlo adalah perusahaan otomasi rumah yang berdiri pada tahun 2014 sebagai sebuah divisi dari Netgear, perusahaan jaringan komputer multinasional dari Amerika Serikat.
Produk Arlo adalah kamera keamanan nirkabel yang telah memiliki jutaan pengguna terdaftar.
Fitur andalan adalah salah satunya adalah Arlo Ultra 2 yang menawarkan kualitas rekaman 4K. Selain menawarkan detail yang tajam saat video CCTV diperbesar, Arlo Ultra 2 juga menawarkan fitur audio dua arah yang memungkinkan pengguna untuk mendengarkan dan berbicara dengan pengunjung.
***
Terlihat dari ponselku bahwa wanita itu masuk ke rumah menggunakan tangga yang ia letakkan di balik pagar beton.
Sudah 1 jam ia berdiri di sana. Ia berdiri memakai payung hitamnya. Entah apa yang ia lihat melalui jendela dapur.
Hingga aku meneriakinya hingga ia kembali berlari menaiki tangganya kembali.
Aku mengacak-acak rambutku ketika mengetahui apa yang telah ia lakukan. Aku mengirim pesan pada Alazka.
Alazka Manager
[Alazka, mohon beri aku beberapa tukang untuk memperbaiki pagar rumahku. Aku membutuhkan beling yang sangat banyak untuk pagar rumahku dengan cepat.]
Send!
Aku meletakkan ponsel di nakas lalu mengecas baterai ponsel tersebut ketika ada tanda peringatan 'Lowbat'.
Aku kembali berjalan memasuki kamar mandi. Setelah selesai, aku krmbali mengecek ponselku.
1 pesan diterima.
Manager Alazka
Aku membalas pesannya.
[Aku butuh 1 hari ini harus selesai!]
Send!
Ping!
Manager Alazka
[Baiklah, gue akan kirimkan dua puluh orang ke sana.]
Aku tak membalas pesan Alazka. Aku segera mamakai pakaianku yang telah disiapkan oleh Dara.
Setelah dirasa selesai, aku berjalan menyusul Dara ke dapur.
"Hm, harun sekali!" seruku membuat punggung kecilnya berbalik ke arahku. Senyumannya membuatku gemas lalu mengecup pipi dan keningnya.
"Hari ini kamu mau ke kantor kakak atau ke rumah mama atau ke rumah bunda?" tanyaku seraya duduk di kursi dan meneguk air hangat.
"Emangnya kenapa? Aku di sini aja."
"Sayang, tadi waktu kakak mau mandi. Kakak liat wanita perpayung hitam. Dia megang sebuah batu di tangan kirinya, terus kakak teriak dan dia lari. Kakak tadi cek di ponsel kalau dati kamera CCTV dia keluar masuk ke pagar belakang rumah kita."
__ADS_1
Dara berbalik, wajahnya terlihat terkejut dan berjalan mendekatiku.
"Terus gimana? Kakak liat perempuan itu?"
Aku menggelengkan kepala.
"Dia pake topeng."
Wajahnya terlihat memikirkan sesuatu.
"Kamu mikir apa?" tanyaku heran.
"A--Ah, beberapa hari lalu aku juga liat dia, kak."
Netraku membola mendengar pernyataan Dara. Bagaimana bisa ia tak memberikanku informasi mengenai hal ini? Pikirku.
"Terus?"
"Waktu itu dia acungkan pisau di tangannya. Kedaan hujan deras dan aku takut."
Aku memeluk tubuhnya dari samping sambil mengelus bahunya lembut.
"Ya, kakak udah panggil Alazka kirim tukang untuk perbaiki pagar rumah kita. Katanya dia bakal kirim tukang ke sini sekitar dua puluh orang. Kakak juga minta supaya pagar di rumah kita diberi beling dan benda tajam lainnya," terangku.
Aku mengambil ponsel di saku jas lalu kembali mengetik pesan untuk Alazka.
Manager Alazka
[Alazka, beri gue tegangan listrik untuk pagar rumah. Supaya tak ada orang yang berani menaiki pagar itu.]
Send!
"Kakak yakin? Kalau orangnya nanti mati, gimana?" tanya Dara setelah aku mengirim pesan pada Alazka di depannya.
"Hm, kenapa takut, sayang? Kita melakukan ini agar nyawa kita tak melayang di tangannya. Kamu masak apa?" tanyaku mengalihkan perhatiannya.
"Astaga, dagingnya!" pekiknya seraya berjalan menuju kompor. Aku terkekeh melihat kecerobohannya.
"Gosong, ya?"
"Alhamdulillah, enggak."
Aku bernapas lega. Setidaknya hari ini dan berikutnya aku tak akan memasang makanan gosong lagi.
"Dulu, Cinta pernah masakin kakak daging ayam. Ya, dia cerita mengenai masalah sekolahnya. Akhirnya daging itu udah gosong di atas toflen dengan api yang sangat besar."
"Beneran?"
Aku menganggukkan kepala meletakkan ponsel di samping karena Dara membawa teflonnya ke mangkuk kaca.
"Hm, pasti enak. Kamu bawa makannya ke mana sekarang kamu mau."
Aku berucap saat Dara menyuguhkanku sepiring nasi panas dan memberiku sarapan yang telah ia siapkan.
***
Sorry for typo๐๐
__ADS_1
Maaf readers author up seminggu 3 kali ya, ga bisa up tiap hari..
Terima๐๐ kasih atas dukungan nya.