
Aku mengambil ponselnya lalu membidik dengan gaya aku menatap wajahnya yang terlihat tanpa ekspresi.
Cekrek!
"Ih, kakak!" teriak Dara yang melengking membuat telingaku sakit.
"Foto lagi."
Aku kembali menjepret momen kami. Setelah menghasilkan sembilan puluh delapan foto yang tersimpan di galeri Dara, kami menyudahi lalu mengisi perut dengan pudding yang diantarkan Bi Ima.
Sambil makan, Dara juga memperlihatkan hasil foto di ponselnya. Ia juga mengirimkan beberapa foto tersebut ke group WhatsApp keluarga untuk dipamerkan.
PoV Author
Tring!
Bunyi ponsel Dara menandakan ada pesan masuk dari aplikasi berwarna hijau lambang telepon, WhatsApp.
Chaca
[Cantik banget, kak]
Tring!
Bibi Kim
[Kalian dinner, ya? Cantik sekali kamu, Dara.]
Papa Mertua
[Papa senang kalau lihat kalian romantis gitu, cepat beri kami cucu ya, sayang.]
Dara terpaku melihat pesan dari Seok. Ada rasa trauma hingga saat ini di dalam dirinya.
Ia meletakkan ponselnya lalu kembali fokus pada makanan dan minuman yang ia tunda beberapa detik lalu.
Azlan yang merasa tak ada kejanggalan dari diri istrinya, hanya menatap sekilas sambil tersenyum dan menatap Dara yang tengah menikmati puddingnya.
Setelah selesai, Dara membawa piring kotor, sementara Azlan membawa gelas kotor dan mereka letakkan di wastafel.
"Ayo, ke kamar. Udah jam 9 malam," tutur Reyndad seraya melihat jam digital yang tertempel di pintu kulkasnya.
***
Ceklek!
Pintu kamar tertutup rapat oleh Azlan. Sementara Dara masuk ke dalam kamar mandi dan keluar dengan keadaan wajahnya yang basah.
Azlan juga masuk ke dalam kamar mandi dan keluar dengan keadaan wajah yang basah dan menyusul Dara yang tengah memakaikan beberapa perawatan ke wajahnya.
Puk ... puk ... puk ...
Azlan menepuk wajahnya dengan bar-bar saat ia mengaplikasikan serum ke dari punggung tangan ke wajahnya. (Kebiasaan saya juga.)
"Oh, iya tadi mama bilang kalo dia mau cucu."
Pergerakan tangan Dara yang tengah meletakkan benda bulat kaca di atas meja riasnya terhenti.
Mereka berada di posisi berdiri menghadap meja rias yang panjangnya lumayan lebar, tapi yang diisi hanya sedikit sekitar 10 persen saja.
Reyndad yang melihat Dara gugup juga terhenti lalu Dara berbalik dan berbaring di ranjang mereka yang empuk.
Tid!
Azlan mematikan pending ruangan dengan remote control kemudian ia mengolesi body lotion ke leher, tangan, kaki dan perutnya sebelum ia menyusul Dara di ranjang.
Saat Azlan menghadap ke arah ranjang, ia melihat Dara berbaring seperti biasa. Menghadap ke arah dinding kamar membelakanginya.
Srek!
__ADS_1
Azlan menarik selimut sampai batas dadanya lalu menoleh ke arah Dara dan memeluknya dari belakang.
Azlan mencari tangan Dara dan merasakan tangan itu dingin. Padahal pendingin ruangan di kamarnya mati total.
Azlan mengeluarkan karbon dioksida dari hidungnya dengan kasar tepat di bagian leher Adnan sehingga mata dark knight tadinya tertutup, terbuka ketika merasakan napas panas yang bersumber dari Azlan.
Sementara jemari Azlan terus saja bergerak mengelus jemari mungil Dara dan punggung tangannya.
"Modeun keopeul-eun maeu gwiyeobgo salangseuleoun agileul jeongmallo, jeongmallo wonhago gidaehaeyahabnida. Bubuui bumojochado agiui ul-eum soli, jingjing daeneun soli, us-eum solileul deudgo sip-eohabnida. Uli gajog-eun malhal geosdo-eobsgo geugeosdo galmanghabnida. Geuleona naneun ttohan dangsin-i imsinhaess-eul ttae junbihago najung-e chulsanhagileul balabnida," gumam Azlan
(Semua pasangan pasti sangat-sangat menginginkan dan menantikan seorang bayi yang sangat lucu dan menggemaskan. Bahkan orang tua dari pasangan itu juga sangat mendambakan sekali mendengar tangisan sang bayi, rengekannya dan ketawanya yang sangat menggemaskan. Aku juga mendambakan itu, apalagi keluarga kita. Tapi, aku juga ingin kamu siap sedia ketika akan mengandung dan melahirkan nanti.)
"Nampyeon-euloseoui oppa-ah dangsin-eul jinsim-eulo dolbogo dolbol geos-ibnida. Aniyo, najung-e uli salang-ui yeolmaeleul maej-eul ttaega anibnida. Geuleona mae sungan, cho, bun, sigan geuligo uliui salm-ii mom-eseo bunli doel ttaekkaji. Pigonhaji masibsio. ulineun hamkkei il-eulhago uliui nongdam-eulo gadeug chaiss-eul geos-ibnida. Naneun ttohan najung-e sonyeon-ideun sonyeoideun uliui sarangseuleoun agileul godaehago issseubnida. Jung-yohan geos-eun geonganghago eomeoniloseo chungbunhan seobchwilyang-ibnida," lanjutnya.
(Kakak sebagai suami kamu akan menjaga dan merawat kamu dengan sepenuh hati. Bukan, bukan saat kamu mengandung buah cinta kita nanti. Tapi, setiap saat, detik, menit, jam dan sampai nyawa kita lepas dari raga ini. Tak ada kata lelah, sayang. Kita akan melakukan ini bersama-sama dan dibumbui dengan candaan kita. Aku juga menantikan bayi menggemaskan kita nanti, tak peduli entah itu laki-laki atau perempuan. Yang penting sehat, dan cukup asupan dari kamu sebagai ibunya.)
Dara hanya diam tak mengerti dengan apa yang suaminya bicarakan. Sesekali Azlan mengecup bahunya yang dibaluti piyama tidur panjang lengan berwarna pastel itu.
"Kakak ngomong apa?"
Akhirnya Dara membuka suara ketika Azlan tak lagi mengucapkan kata-kata Hangulnya.
"Kakak mau punya anak," ujar Azlan spontan sehingga mata Adnan melebar tak percaya. Masih dengan posisi yang sama.
Hening.
Sepi.
Suara hujan mulai membasahi bumi dan membuat tirai jendelanya menari-nari di dalam kamar yang hanya dihiasi lampu tidur tepat di samping ranjang kiri Azlan.
"Kita sama-sama menantikan buah cinta kita, bukan?" bisik Azlan dengan suara serak basahnya.
Dara menarik tangannya yang berada di dalam genggaman Azlan. Merasa aneh, janggal dan ia juga merasakan aura negatif dari diri Azlan. (Emang hantu?)
Sementara Azlan tersenyum smirk ketika merasakan tubuh Dara sedikit bergetar dan kakinya ia gerakkan untuk menghilangi kegugupan itu.
Ralat, Azlan juga bisa membaca apa yang wanitanya rasakan saat ini. Tangannya yang tadi menganggur kini bergerak naik ke atas lalu menyentuh bahunya dari belakang.
Bahunya sangat bergetar hebat saat Azlan membalikkan posisi tubuhnya yang tadi miring menjadi terlentang bahkan ia benar-benar terkejut dengan Azlan yang sudah di atas tubuhnya.
Sk!
Azlan menurunkan tubuhnya sehingga menopang tubuhnya hanya kedua sikut dan tak terlalu menindih tubuh wanita yang memasang wajah shock dan scream.
Smirk Azlan kembali muncul di bibirnya, ia merasakan napas Dara terhenti ketika dahi mereka bersentuhan.
Bibir dan lidah Dara kelu untuk digerakkan. Sementara tangan kanan Dara mengelus bahu Dara agar groginya berkurang.
"Bernapaslah, sayang. Kamu bisa mati mendadak nanti," celetuk Azlan Menatap mata dark knight itu.
Mata Azlan sangat tajam, menusuk ke retina Dara sehingga ia mengalihkan pandangan elang itu ke arah lain.
"Wae?" tanya Azlan padanya.
Sementara Dara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, tapi mata indah itu hanya menatap ke arah lain. Bukan ke mata elang milik Azlan.
Senyuman manis dan tulus Azlan terpancar ketika melihat kegugupan dari sang istri.
Ibu jarinya ia letakkan di atas kening mungil milik Dara sembari mengelusnya lembut.
Perlahan, Azlan mendekatkan birainya pada birai milik Dara dan hanya Azlan lah yang memimpin hingga selesai.
***
Pagi ini, Dara lebih dulu bangun sambil memegang kepalanya yang sedikit sakit. Ia tersentak bagun jam 3 dini hari karena kerongkongannya kering.
Melihat ke nakas lalu matanya teralihkan pada sosok pria yang hanya memakai selimut.
Pikirannya kembali melayang pada kejadian semalam di mana mereka kembali setelah bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
Dara menoleh ke arah bajunya yang berserakan di lantai lalu memungutnya dan mengenakan dengan cepat.
Gelas di atas nakas itu kosong, jadi terpaksa ia harus mengambil air ke dapur dan menuruni beberapa anak tangga.
"Aduh ..." Dara meringis kesakitan di area bawah perutnya, tapi ia lebih mementingkan kerongkongannya saat ini.
Tap ... tap ... tap ....
Derap langkah kaki mungil itu bersuara ketika saat ia menuruni anak tangga. Hanya lampu di dapur yang menyala.
Dara membuka kulkas lalu menuangkan air dingin ke dalam cangkir plastik dan meneguknya dengan pelan hingga tandas.
Ia kembali ke atas untuk tidur, tapi entah angin dari mana Dara malah berjalan mendekati jendela kamar dan melihat hujan belum juga reda hingga dini hari ini.
Sorot matanya menangkap sosok wanita yang mengenakan baju hitam berdiri tepat di depan rumah miliknya dengan menggunakan payung berwarna merah.
'Siapa itu?' batinnya melihat gelagatan wanita itu. Karena lampu taman tetap hidup jadi Dara bisa melihat wanita itu.
Perlahan, payung merah itu jatuh ke bawah tanpa terlepas dari genggaman wanita itu.
Ralat, ternyata wanita itu menggunakan topeng gold yang menutupi seluruh wajahnya.
Kepalanya mengadah ke atas di mana ia melihat tepat di jendela kamar milik Dara dan Azlan tempati.
Mata Dara membola saat perempuan itu menaikkan tangan kirinya ke atas dan terlihat ia tengah memegang gangang besi.
Tak!
Ternyata itu sebuah pisau lipat. Langkah kaki wanita Azlan itu mundur seiring tangannya mengatup mulutnya yang terbuka.
Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajah guna menyadarkan dirinya. Apakah ini mimpi, ilusi atau kenyataan?
Azlan terbangun ketika mendengar suara kran air menyala tepat di kamar mandi mereka.
Ia berjalan dengan telanjang dada dengan gontai seraya mengacak rambutnya agar menutupi keningnya.
"Ada apa?" tanya Azlan membuat Dara terkejut bukan main. Matanya membola, wajahnya basah dan Azlan mengucek matanya guna memperjelas penglihatannya.
"Kamu gak apa-apa?" tanyanya lagi.
Kepala Dara menggeleng ribut dan menormalkan wajahnya yang ketakutan dan shock lalu kembali berbering di ranjang.
"Aku hanya mimpi buruk," jawab Dara ketika Azlan menatapnya tajam.
Sementara Azlan hanya mengangguk mengerti lalu menuntun Dara berbaring kembali.
Azlan kembali menutup matanya untuk melanjutkan bunga tidur yang sempat tertunda beberapa detik lalu. Sementara Dara menatap langit-langit kamar yang gelap karena pikirannya berkecamuk dengan wanita tadi.
'Who is the woman with the red umbrella? Is she a spy or a woman who will terrorize me?,' batin Dara seraya menoleh ke arah Azlan yang sudha tertidur pulas.
(Siapa wanita berpayung merah itu? Apakah dia mata-mata atau wanita yang akan menerorku?)
No, it can't be. I have no enemies, pikirnya.
Ia kembali memejamkan mata lalu memeluk Azlan agar ia bisa kembali tidur dengan nyenyak.
***
Selesai salat subuh, aku memasak bungoeppang. Bungoeppang adalah kue manis berbentuk ikan yang di dalamnya terdapat selai kacang merah. Biasanya disajikan dalam keadaan panas seperti bakpao.
Azlan sudah lama membeli cetakan ikan itu, sehingga ia bisa memasaknya dengan mudah.
Lalu ia juga membuat Patbingsu. Patbungsu ini adalah salah satu makanan Korea yang berupa dessert atau makanan penutup. Berupa es seru yang pada bagian atasnya ditaburi dengan kacang merah dan sirup.
***
Who is?
bersambung
__ADS_1
Sorry for typo 🙏🙏