Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 62.Memantaunya


__ADS_3

Aku terus memantau pergerakan mereka. Jong Ru membawa gadis kecil itu entah ke mana sementara Dara ia tinggalkan dengan sebuah senyuman.


"Wah!"


Aku bisa mendengar teriakan dari gadis kecil itu saat Jong Ru membawanya ke dalam gendongan dan melayangkan gadis kecil itu ke udara.


Senyumannya sangat manis dan cantik, hingga aku tak sadar aku tersenyum tipis memandangi senyuman gadis itu.


"Shall we be here first, sir, to monitor them?"


(Apa kita akan di sini dulu, tuan untuk memantau mereka?)


Aku menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah pria yang mengemudi di sampingku.


"Buy food and drinks. We will monitor them until the woman returns home, Marck Aku memberikan beberapa lembar uang pada Marx. Ia keluar dari mobil untuk membeli yang kuperintahkan.


"Geuga dangsin-eul usge mandeul su issseubnikka? Haengbog? Geuttaeman neoleul ulge hal su iss-eossjiman. Dara, nae insaeng-eseo du beonjjae gihoeleul jwo. Naneun geugeos-eul banboghaji anh-eul geos-ida. Jigeumkkaji nae gyeot-eseo dangsin-eul gotongseuleobge mandeuneun geos-eun naui uidowa mogjeog-i anieossda. Naneun dangsin-ege il-eonan modeun il-eul geuliwohabnida." Aku bergumam.


(Apa dia bisa membuatmu tertawa? Bahagia? Sementara aku hanya bisa membuatmu menangis waktu itu. Dara, berikan aku kesempatan kedua selama hidupku. Aku takkan mengulanginya, itu bukanlah maksud dan tujuanku selama ini untuk membuatmu menderita ketika di sampingku. Aku merindukan semua yang terjadi pada dirimu, tidak lebih.)


Tak lama, Marx datang. Ia membuka pintu mobil lalu memberikan paper bag padaku. Ia membeli minuman soda, roti dan snack lainnya.


"if I may know, who is that woman you sir?" tanya Marx.


"She is my wife." Aku menjawab.


"Sorry Mister. I don't know."


"It's okay, let's eat."


(kalau boleh tahu, wanita itu siapa Anda tuan?)


(Dia istriku.)


(Maaf, tuan. Saya tidka tahu.)


(Tak apa, ayo di makan.)


Kami menghabiskan makanan yang dibeli Marx.


Tak lama, mereka kembali ke mobil. Marx mengikuti mobil itu agar jauh dari pandangan karena mobil yang dikendarai Jong Ru lebih cepat dari kami.


"Looks like they returned home, this is the way to the Halal Cafe sir," ujar Marx.

__ADS_1


(Sepertinya mereka kembali ke rumah, ini jalan ke Cafe Halal tuan.)


Aku hanya diam seraya melihat ke mobil Jong Ru agar tak kehilangan arah. Ya, memang jalan ke Cafe Halal, tapi mereka melewati cafe itu.


Mobil berhenti tepat di tepi jalan. Adnan keluar dari mobil bersama gadis kecil itu. Jong Ru melakukan hal yang sama. Sebelum masuk ke dalam rumah, gadis kecil itu melakukan kiss bye pada Jong Ru.


"What are we going to do, sir?" tanya Marx.


(Apa yang akan kita lakuan, tuan?)


"Right now, we won't do anything just yet. I'll do it myself," jawabku menatap Marx.


(Saat ini, kita tidak akan melakukan apa-apa dulu. Aku akan melakukannya sendiri.)


"Can I borrow your car for a few days? I'll make a 7 fold down payment," pintaku pada Marx.


(Bisakah aku meninjam mobilmu untuk beberapa hari? Aku akan membayar uang muka 7 kali lipat.)


Marx menganggukkan kepalanya. Ia keluar dari mobil setelah aku memberikan puluhan lembar uang padanya.


Aku berjalan menuju hotel, untuk membersihkan tubuh, mengisi perut dan melakukan pengintaian nanti malam.


***


Sampai di hotel, aku memberhentikan seorang wanita yang tengah mendorong troli yang berisi makanan di sana.


(Permisi, saya mau makan malamnya langsung diantar ke kamar nomor 208, ya.)


"What would you like to eat, sir?" tanyanya.


"The luxury is accompanied by orange juice."


(Anda mau makan malam apa tuan?)


(Yang mewah ditemani dengan jus jeruk.)


Wanita itu menganggukkan kepala tanda mengerti. Aku berjalan menuju lift dan memencet tombol berlantai lima belas di mana kamarku berada di lantai sana.


***


Malam harinya, selesai aku membersihkan diri, salat magrib dan isya', mereka membawakan menu ke dalam kamarku.


"Thanks," ucapku singkat. Mereka keluar dari kamar dan menutup pintu kamarku untuk memberi waktu menghabiskan makanan ini.

__ADS_1


Diantaranya: Bayam Muda dan Rumput Laut Panggang. Ini adalah makanan pembuka ini juga terlihat simpel, terdiri dari rumput laut panggang dan bayam muda yang dimasak di mentega bening. Namun yang membuatnya unik adalah kehadiran caviar yang menambahkan kesan mewah pada menu ini. Menurut Hoptail, menu ini terasa sangat buttery, seakan meleleh di lidah. Meskipun semua tekstur dari bahan-bahan ini jauh berbeda, namun rasanya bisa bercampur dengan sangat lembut.


Lalu ada Lobak dan Mentega Bening, yaitu Potongan lobak disusun sedemikian rupa dan disiram dengan mentega bening. Di bawah potongan lobak ini, terdapat campuran jelly cuka lobak dan satu potong lobak berbentuk kubus yang telah diasinkan. Rasanya? Sangat segar, sebuah transisi yang baik dari rasa yang kaya di menu sebelumnya.


Ada Labu Panggang, menyajikan labu panggang dalam 3 cara: dilapisi gurita kering, dipanggang perlahan dengan krim mentega susu, serta dijadikan bubur dengan seeds oil. Dua menu pertama terasa lezat, khususnya menu kedua dengan karamelisasi yang sangat baik di permukaan labunya. Namun aku kurang suka menu ketiga yang terasa sangat asin, sampai-sampai aku tidak yakin bagaimana cara memakannya.


Ada juga Steak Antelop, potongan kecil steak antelop disajikan bersama chicory (semacam akar tumbuhan), salad rempah dan biskuit berlapis mentega madu yang terasa seperti pancake.


Ada di piring kecil yaitu Es Krim Asap. Kemungkinan besar es krim ini dibuat dengan menambahkan bara kayu eksotik ke dalam campuran krim sebelum dibekukan. Menurutku rasa es krim ini terasa sangat lezat dengan karamel asin.


Orange Buttermilk Creamsicle yang mereka letakkan di sebuah batu alam, cukup berat untuk diangkat. Dessert yang satu ini terlihat unik dengan bentuknya yang persis seperti jeruk. Di dalamnya terdaoat krim buttermilk yang terasa sangat manis dan lembut, apalagi dengan tambahan potongan jeruk tersembunyi di bawahnya.


Ada juga Sorbet Blueberry Brandy di piring kecil cantik nan mungil. Aku menghabiskan semuanya kecuali Steak Antelop karena aku pernah melihatnya di sebuah film barat.


Setelah selesai, aku memencet bel agar mereka membawakan piring kotor dari kamarku.


Aku meletakkan uang tip pada mereka 50.00 CAD atau senilai RP 548,925.


Aku kembali keluar dengan setelan celana jeans dan jaket kulit berwarna hitam.


Sebelum aku benar-benar keluar dari hotel, terlebih dahulu aku membayar untuk malam berikutnya.


***


Aku mengeluarkan mobil Marx, Koenigsegg CCXR Trevita.


Informasi: Koenigsegg CCXR Trevita merupakan salah satu rentetan mobil termahal di dunia selanjutnya. Untuk membeli mobil mahal ini, harus merogoh kocek senilai 4.8 juta dollar AS atau setara dengan 66 miliar rupiah.


Mobil mahal ini hanya diproduksi 3 unit saja. Seperti namanya, Trevita yang berarti “tiga kulit putih”. Memiliki desain bodi berwarna putih yang dipadupadankan dengan bodi yang terbuat dari karbon dan komposit karbon.


Aku melajukan mobil tersebut menuju rumah yang ditempati Adnan.


Sampai di sana, aku menemukan mobil Bugatti La Voiture Noire berwarna hitam. Mobil itu sangat mewah bahkan lebih mewah dari mobilku yang berada di Seoul.


"Mobil siapa itu?" tanyaku.


Aku mengambil ponselku lalu mencari informasi mengenai mobil bermerek itu.


[Mobil ini memiliki harga senilai 19 juta dollar atau setara dengan 260 miliar rupiah.


Mobil ini diklaim memiliki desain mewah dan juga elegan. Debut pertama peluncuran mobil ini berada di Amerika Utara tepatnya di pameran mobil mewah utama di dunia yang bernama Pebble Beach Concours D’Elegance, California.


Mobil ini dirancang dan dibuat pada tahun 1934 dan hanya memproduksi sebanyak 4 unit saja.

__ADS_1


Memiliki desain yang anggun dengan aksen warna hitam pada bodinya. Mobil ini merupakan mobil termahal dengan desain mobil klasik yang paling diinginkan oleh dunia.]


"Astaga, apa Dara punya lelaki lain selain diriku?" gumamku membaca artikel yang tertera di layar ponselku. Cukup menggiurkan, bahkan lebih dari sahamku di Indonesia.


__ADS_2