
Pagi ini, Azlan sudah sampai di kantornya. Alazka menunggu kedatangan sang CEO di dalam ruangan.
"Kkamja."
Azlan memegang dadanya saat ia melihat Alazka tengah duduk di sofa.
"Ada apa?" tanya Azlan
"Pelelangannya dipercepat mulai hari ini, mereka sangat mengiginkan properti itu," ucap Alazka dengan wajah sedih. Mungkin ia takut jika Azlan Marah.
"Ya sudah, lebih cepat lebih baik." Azlan berjalan menuju meja kebesarannya sambil membuka jas lalu ia gantungkan di punggung kursinya.
"Apa kau tak marah?"
"Buat apa?" tanya Azlan Heran.
"Ah, baiklah. Saya akan menyiapkannya." Alazka keluar dari ruangan dengan wajah gembiranya. Sementara Azlan menggelengkan kepala melihat rekan kerjanya itu.
***
Alazka menjemput Azlan ketika para orang penting itu sudah sampai di kantor. Azlan dan Alazka lebih dulu memasuki ruang rapat dan memulai pelelangan dengan 31 properti terbaru.
Mereka sangat menginginkan properti tersebut ketika Azlan dengan mudahnya memberikan harga yang fantasi.
Inilah yang membuat perusahaannya meningkat lebih jauh dari perusahaan lain.
"Saya menawarkan dari properti ke-1 dan 2 dengan harga 100 juta, properti ke-3 sampai 8 dengan harga 900 juta, properti ke-9 sampai 21 dengan harga 3 miliar, properti ke-22 dan terakhir 10 miliar," terang Reyndad.
Mereka tidak bisa menawarkan harga untuk direndahkan, karena properti milih Adipratama Crop itu sangat memuaskan dan sangat bagus.
Pelelangan dimulai, mereka menawarkan berbagai harga hingga Azlan menutup harga tersebut bersamaan dengan nama orang yang akan mengambil macam-macam properti.
Alazka mengetik nama mereka beserta dengan harga. Mereka langsung mendapatkan properti tersebut hari itu juga.
"Terima kasih atas kerja sama Anda, Pak Azlan."
Mereka menjabat tangan Azlan dengan wajah yang bahagia karena bisa mendapatkan properti tersebut.
Azlan dan Alazka membawa mereka menuju ruang khusus di mana properti-properti tersebut sudah selesai dibuat dan siap diambil.
Mereka juga memberikan cek untuk Azlan agar segera dicairkan. Azlan Memerintahkan pada 4 karyawannya agar memasukkan uang tersebut ke saham perusahaannya.
***
Siang ini, ia mengisi perutnya dengan bekal yang dibuat oleh Dara , sang istrinya. Ia mengambil ponsel untuk melakukan panggilan video.
"Ya?" tanya Dara ketika panggilan tersambung.
"Sayang, hari ini pelelangannya sudah selesai."
Mata Dara membola mendengar penuturan sang suami.
"Bagaimana bisa?" tanya Dara
Azlan meletakkan ponselnya di komputer lalu menyandarkan punggungnya di kepala kursi yang ia duduki.
"Ya, mungkin mereka menginginkan properti itu," jawab Azlan sambil bertumpu dagu dengan tangannya.
"Berapa semuanya?" tanya Dara penasaran.
"Sekitar 20, 5 miliar," jawab Azlan enteng.
Sementara Dara menutup bibirnya dengan tangan saking terkejut dengan nominal uang.
"Kenapa mahal sekali!" geram Dara membuat kekehan Azlan terdengar sampai sana.
"Mahal? Mereka yang memberikan harganya, sayang. Kakak hanya menutup harganya saja, selesai."
Azlan memasukkan sesendok nasi goreng buatan Dara ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Ya sudah, makan siang, ya."
"Kamu udah makan?" tanya Azlan.
"Gak mau."
"Maunya apa? Biar nanti kakak yang belikan."
"Hm." Dara mengetuk dagunya dengan jari telunjuk sambil memikirkan keinginannya saat ini.
"Mau brownies kukus."
"Ya sudah, tunggu Kakak pulang sore, ya."
Dara menganggukkan kepalanya.
"See you," ucap Azlan saat ia ingin mengakhiri panggilan video.
"Too," balas Dara sambil mematikan panggilan video tersebut secara sepihak.
Dirumah mama mertua
Selesai dari kantor, Azlan menyempatkam pulang ke rumah ibu mertuanya untuk melihat keadaan mereka.
"Eh, nak Azlan. Masuk dulu." bunda Fisya mempersilahkan sang menantunya masuk ke dalam rumah yang sudah bagus dari sebelumnya.
"Mau minum apa, nak?"
"Gak perlu, ma. Chaca mana?"
"Lagi les sama temannya," jawab bunda fisya
"Oh, iya nak. Sekarang ibu udah buka usaha kue. Alhamdulillah kedai rame, banyak yang mau mengambil kue ibu."
"Wah, kebetulan sekali, bu. Dara sekarang ngidam brownies kukus."
"Owalah, kenapa kamu gak bilang dari tadi siang?" timpal bunda fisya.
"Oh, iya. Bentar, bu." Azlan berjalan krluar menuju mobilnya lalu kembali masuk dengan sebuah kue brownies ukuran besar dan ia letakkan di meja tamu.
"Untuk kalian."
"Terima kasih banyak ya, nak. Udah buat kamu repot begini."
"Enggak kok, bu."
"Eh, mamamu ke mana?" tanya bunda fisya yang tak melihat kehadiran sang besan,
"Mama ke Korea, bu. Mau lihat papa," jawab Azlan.
Ia berpamitan pulang karena hari sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Ia masuk ke dalam mobil mewahnya lalu meluncur menuju rumahnya.
Dirumahnya
Sampai di pekarangan rumahnya, ia memasuki mobil mewahnya ke dalam garasi dan menutup rapat garasi tersebut sambil menjenjeng brownies pesanan Dara dengan ukuran kecil.
"Assalamualaikum," ucap Azlan saat langkahnya memasuki rumah.
"Waalaikum salam," sahut Bi Ima yang sedang membersihkan karpet dengan vaccum.
"Dara mana bi?"
"Ada di kamar tuan, tadi dia siram tanaman belakang. Bibi udah larang, tapi Non Dara malah gak mau dibilangin," terang Bi Ima.
"Gak apa-apa, bi. Selagi gak memberatkannya." Azlan berjalan ke dapur untuk memotong brownies tersebut lalu ia letakkan di piring kecil nan cantik.
"Bi, itu ada setengahnya buat bibi. Terserah mau di bawa pulang juga gak apa-apa."
"Makasih, tuan."
__ADS_1
Azlan menganggukkan kepalanya lalu ia menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya.
Ceklek.
Terlihat Dara sudah selesai mandi, rambut ikalnya basah. Perempuan itu tengah mengeringkan surainya dengan handuk.
"Eh, kakak."
Azlan berjalan masuk ke dalam kamar setelah ia menutup pintu kamar dan meletakkan piring tersebut kenakas.
"Kakak tadi ke rumah ibu, dia udah buka usaha kue kering sama kue basah. Ibu menjajahkan usahanya buat kedai kecil, kakak tadi bagi kuenya sama bibi. Kamu boleh makan kuenya," terang Azlan .
Ia membuka kancing kemejanya tepat di depan Dara sehingga ia buru-buru mengalihkan tatapannya menuju jendela.
Azlan yang melihat gerak-gerik sang istri hanya bisa menggelengkan kepala lalu memasukkan pakaian kotornya ke dalam mesin cuci dan segera ia giling.
"Kakak mandi dulu."
Setelah terdengar suara pintu kamar mandi tertutup, barulah Dara mengembuskan napasnya sambil menutup mata.
Ia melangkah ke nakas untuk mengambil sepotong kue lalu duduk di bibir ranjang untuk menikmati kue yang dibelikan Azlan untuknya.
Setelah selesai, Azlan keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Dara terpaku melihat keadaan Azlan yang bisa-bisanya terbuka dengan Dara yang sampai saat ini malu-malu kelinci melihatnya.
"Enak kuenya?" tanya Azlan sambil memasang baju kaos ke tubuhnya.
"Iya." Dengan cepat, Dara kembali memalingkan wajahnya saat Azlan ingin mengenakan celana.
Azlan duduk di samping Dara sambil memberikan handuk padanya.
Dara yang mengetahui keinginannya segera berdiri lalu mengeringkan rambutnya seraya memijatnya dengan lembut.
"Udah." Dara meletakkan handuk basah itu di gantungan untuk dikeringkan dan kembali duduk di samping Azlan .
"Apa masih mual?" tanya Azlan Sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Dara menganggukkan kepalanya sambil mengelus perut ratanya.
"Kamu gak minum obat dari dokter?"
"Enggak, kalau minum obat itu rasanya lidah itu mati rasa," jawab Dara.
"Ya sudah, kamu habisin kuenya." Azlan memberikan 4 potong kue brownies yang masih tersisa, Dara segera menghabiskan kue tersebut walau terkadang ada rasa manis dari lidahnya dan sebagian hanya rasa hambar yang ia rasa.
"Besok hari minggu, kita jalan pagi ya," pinta Azlan.
Dara menganggukkan kepalanya sambil menikmati kue tersebut. Azlan berjalan menuju meja kerjanya untuk mencairkan gaji karyawannya dan diberikan bonus 3% dari saham yang ia terima.
Ia mengambil ponsel untuk memberitahukan melalui group WhatsApp bahwasanya gaji sudah cair dan bisa diambil mulai dari sekarang.
[Gaji kalian sudah saya cairkan, dan saya berikan bonus 7% untuk karyawan. Manager, sekretaris, admin, saya berikan 5
10%. Kaliam bisa mengambilnya saat ini juga.]
[Terima kasih banyak, pak.]
[Terima kasih, pak. Segera saya ambil.]
[Terima kasih, pak.]
[Terima kasih, pak atas bonus yang sudah bapak berikan pada kami. Kami akan bekerja lebih giat lagi dan tak membuat bapak kecewa atas kerja keras kami.]
Azlan tersenyum membaca pesan dari mereka.
"Kenapa senyam-senyum gitu?" tanya Dara yang melihat gerak-gerik Azlan
"Senang aja lihat pesan dari group WhatsApp kantor, mereka senang mendapatkan bonus," jawab Azlan . Ia meletakkan ponselnya di nakas dan melihat brownies tersebut sudah habis.
"Siap-siap salat magrib."
Mereka melaksanakan salat magrib berjamaah, sambil menunggu adzan isya' Azlan mengajak Adnan untuk mentelaah Al-Qur'an.
__ADS_1
Dara tertegun mendengar lantunan ayat suci nan indah dari bibir Azlan . Ia tak menyangka bahwa Azlan bisa sehebat itu. Bahkan, sekarang sangat malu karena tidak bisa membaca Al-Qur'an dengan nyanyian yang indah sama seperti Azlan.
Sorry for typo 🙏🙏