
Aku berjalan gontai memasuki mobil menuju hotel. Sesampainya di kamar, aku melamun menatap jendela kamar yang disuguhi pemandangan yang spektakuler.
Tapi, tidak dengan hati dan suasanaku saat ini. Aku memejamkan mata sambil menghembuskan napas secara kasar.
Memikirkan kejadian yang tak berlangsung lama, apakah ini garis takdirku?
Sungguh membuatku jengah, kecewa, frustasi dan emosi. Dia benar-benar menginginkanku untuk pergi.
"O, ileon. Nae insaeng-eun eolmana bogjabhabnida. Wae aghwadoego issseubnikka? Naneun igeos-eul wonhaji anhgo geuleul nog-igo nae pallo dol-aol su issseubnida. Geuneun ije wanjeonhi bakkwieossgo deo isang naleul wonhaji anhseubnida. Igeos-i naega aneun Dara-ibnikka? Ileon, jigeum-eun andoui hansum-eul swil su eobs-seubnida. naega geuleul seutokinghanji 2 il-i jinassneunde igeos-i naega eod-eun gyeolgwainga? Jong Ru, uli sa-eob-eun kkeutnaji anh-assseubnida. ije mag sijaghaessseubnida. Dangsin-i je anaeleul joh-ahandaneun geon aljiman geunyeoneun yeojeonhi je anaeibnida." Aku berucap seraya berjalan ke kamar untuk membersihkan diri.
(Oh, tuhan. Betapa rumitnya hidupku. Kenapa semakin parah? Aku tak menginginkan ini, buatlah dia luluh dan kembali ke dalam pelukanku. Dia benar-benar berubah sekarang, dia tak menginginkanku lagi. Apakah ini benar-benar Dara yang kukenal? Astaga, aku tidak bisa bernapas dengan lega sekarang. Sudah 2 hari aku menguntitnya, dan ini hasil yang kudapatkan? Jong Ru, urusan kita belum selesai. Aku baru memulainya. Aku tahu kau menyukai istriku, tapi dia masih milikku.)
***
Malam hari, aku mengirim pesan pada Jong Ru.
[정말 원하세요? 그는 내 것이고 내 보물입니다. 내 물건을 다른 물건으로 대체 할 수있는 것은 없습니다. 내가 먼저 가져 왔어, 넌 나 한테서 가져 가려고하지도 마. 아니면 당신의 삶은 내 것입니다.]
Aku mengirim pesan padanya dalam bahasa Hangul atau Korea.
(Jeongmal wonhaseyo? geuneun nae geos-igo nae bomul-ibnida. Nae mulgeon-eul daleun mulgeon-eulo daeche hal su-issneun geos-eun eobs-seubnida. Naega meonjeo gajyeo wass-eo, neon na hanteseo gajyeo galyeogohajido ma. Animyeon dangsin-ui salm-eun nae geos-ibnida.)
(Apa kau benar-benar menginginkannya? Dia milikku, dia barang berhargaku. Tak ada yang bisa menggantikan barangku dengan barang yang lain. Aku lebih dulu mendapatkannya, kau jangan coba-coba mengambilnya dariku. Atau nyawamu berada di tanganku.)
Ping!
Aku membuka pesan yang mendapatkan balasan dari Jong Ru.
[아니, 무슨 소리 야? 이봐, 우린 사촌이야. 내가 어떻게 당신에게서 Dara을 빼앗을 수 있습니까? 그저 위로하는거야 왜 이러니 하?]
Aku berdengus kesal mendapatkan balasan tersebut darinya.
__ADS_1
(Ani, museun soli ya? Ibwa, ulin sachon-iya. Naega eotteohge dangsin-egeseo Dara-eul ppaeas-eul su issseubnikka? Geujeo wilohaneungeoya wae ileoni, ha?)
(Tidak, apa yang kau bicarakan? Hey, kita sepupu. Mana mungkin aku mengambil Dara darimu. Aku hanya menghiburnya saja, kau kenapa seperti ini, ha?)
'Apa yang dia maksud menghibur?' batinku.
Aku mengambil kunci mobil untuk menemui Jong Ru ke hotel lebih tepatnya ke kamarnya.
***
Sesampainya di sana, aku mengetuk pintu kamarnya dengan tergesa-gesa. Banyak orang yang menatapku heran, tapi aku tak peduli.
Ceklek!
"Who?"
"Ibwa, gaejasig, himnae lani museun soli ya? Dangsin-eun geuleul gyeoglyeo hal jagyeog-i eobs-seubnida. Naneun geuleul gyeoglyeo hal jagyeog-iissneun salam-ibnida!" Aku membentaknya lalu mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar.
(Hei, kepa***, apa maksudmu menghiburnya? Kau tak pantas menghiburnya, aku lah yang pantas menghibur dirinya!)
Jong Ru berkacak pinggang sambil menjilat bibirnya menatapku yang menatapnya dengan tatapan horor.
"Ibwa, geuneun iyagi hal chinguga pil-yohae. I munjeneun geuga honja innaehagiga maeu eolyeowossseubnida. dangsin-i jib-eseo geuleul jjoch-a naess-eul ttae geuneun yeol-inassseubnida. Naega geuleul jal dolbol suneun eobsjiman. Geuleona geuneun hangsang gotong sog-eseo dangsin-ui ileum-eul malhaessseubnida. Dangsin-eun geuleohge neukkiji anhseubnikka? Ibwa, neomu maldo andwae. Ulineun deo isang gabs bissan chaleul nohgo ssauneun aideul-i anibnida. Geugeo al-a?" terang Jong Ru panjang lebar.
(Hei, dia butuh teman untuk curhat. Masalah ini sangat berat untuk dia pikul sendiri. Kau tahu, dia sempat demam waktu kau mengusirnya dari rumah. Walaupun aku tak bisa merawatnya dengan baik. Tapi, dia selalu menyebut namamu di sela-sela kesakitan. Apa kau tak merasakan hal itu? Hei, jangan berprasangka yang tidak-tidak. Kita bukan anak kecil lagi yang sedang memperebutkan mobil-mobil yang harganya mahal. Kau tahu itu?)
Aku berdecih, tak mudah untuk mempercayai Jong Ru untuk di situasi seperti ini.
"Naneun dangsin-i geojismal jaeng-iinji aninji moleugessseubnida. Naneun ttohan Dara-e daehan dangsin-ui taedo-e nollassseubnida. Jeongmal jiltuhabnida. Naega soyuhago issgi ttaemun-e nae mulgeon-eul gajyeogal geos-ibnida. Dangsin-i anieyo. Geuleomeulo geuleul meollihasibsio. Daleun yeojawa dangsin-ui salang-eul chaj-eusibsio. Geuleona nae geos-i anila, geunyeoneun nae geos-igo, geunyeoneun nae bomul-ibnida, Dara. Dara-eul daleun yeojalo daeche hal su issdago saeng-gaghaseyo? Ani, Jong Ru il su eobs-eo. Geuwa gat-eun jang-eissneun yeojawaui dalkomhan chueog-eul nugungaga ijneun geos-eun maeu eolyeobdaneun geos-eul ihaehasibsio. Ihaehae?" Aku berbalik lalu membuka pintu dan pergi dari hotel yang ia tempati.
(Aku tak tahu kau pembohong atau tidak. Aku juga heran dengan sikapmu pada Dara. Aku cemburu, sangat. Aku akan mengambil barangku, karena aku pemiliknya. Tidak denganmu. Maka dari itu, jauhi dia. Pergilah kau cari cintamu dengan wanita lain, tapi tidak dengan wanitaku, dia milikku, dia barang berhargaku, Dara. Kau pikir, kau bisa mengganti Dara dengan wanita lain? Tidak, tidak bisa Jong Ru. Pahamilah, sangat sulit untuk seseorang bisa melupakan kenangan manis bersama wanita yang berada dalam 1 atap bersamanya. Kau mengerti?)
__ADS_1
****
Sesampainya di tempat tujuan, di depan rumah Dara. Aku berjalan mendekati pintu rumahnya lalu mengetuk lelan pintu katu tersebut.
Tok ... tok ... tok ....
Ceklek!
Dara menatapku dengan sangat terkejut. Ia hendak menutup kembali pintunya, tapi kutahan.
"Give me one more chance, I will change everything. Dara, honey. I'm sorry, come back to me, please. I don't like seeing you hanging out with my cousin. I was very jealous and angry seeing you easily laugh out loud and smile in front of him."
"Then? Should I feel sorry for you? No, my heart has hardened. Don't you cut this wound again."
"I've never cut you, Dara. You were before. Since that incident, you have lived in your brother, right? Then you also invite us to part. Brother had refused, but you stubbornly asked for it"
Aku bersimpuh di depannya.
(Berikan aku saru kesempatan lagi, aku akan merubah semuanya. Dara, sayang. Maafkan aku, kembalilah padaku, kumohon. Aku tak suka melihat kau jalan bersama sepupuku. Aku sangat cemburu dan marah melihat kau dengan mudahnya tertawa lepas dan tersenyum di depannya.)
(Lalu? Apa aku harus merasa kasihan padamu? Tidak, hatiku sudah mengeras. Jangan kau torehkan lagi luka ini.)
(Aku tidak pernah menorehkan luka padamu, Dara. Kamulah sebelumnya. Semenjak kejadian itu, kamu mendiami kakak 'kan? Lalu kamu juga mengajak kita untuk berpisah. Kakak sempat menolak, tapi kamu dengan keras kepalanya meminta hal itu.)
"I had time to think in your way at that time, I who was already emotional can only follow my anger. I'm afraid to make you hurt, but whatever, if you continue to be by my side in this condition I also feel bad. You know, I miss you so much. Missing our memories together, why are you doing this to me Dara, why? I feel so guilty for not being able to take care of you and be responsible for you." Aku menangis dihadapan Adnan dengan sedikit terisak. Aku mencurahkan semuanya di depannya.
(Aku sempat berfikir dengan caramu saat itu, aku yang tadinya sudah emosional hanya bisa mengikuti amarahku. Aku takut membuatmu terluka, tapi apapun, jika kamu terus berada di sisiku dalam kondisi ini aku juga merasa tidak enak. Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Kehilangan ingatan kita bersama, mengapa kamu melakukan ini padaku Dara, mengapa? Aki merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjagamu dan bertanggung jawab untukmu.)
****
Jangan sampai nangis kejer, ya. Cukup saya aja.
__ADS_1