
"Sudah selesai," seru Azlan , Dara menatap makanan tersebut dengan tatapan aneh karena ia belum pernah memakan makanan khas negeri ginseng tersebut.
Azlan menyuapi Dara ,tapi respon Dara hanya diam tak membuka mulutnya.
"Bisa dimakan kok, sayang," ucap Azlan lalu Dara menerima suapannya.
"Hm, enak banget." Dara mengambil piring yang berisi kimchi buatan Azlan. Tapi, Azlan malah menariknya ke tengah-tengah mereka.
"Saya juga mau makan."
"Kakak buat lagi aja."
"Gak bisa dong."
"Gak bi--"
Cup.
Ucapan Dara terhenti ketika Azlan mencium pipi sebelah kanan.
"Kenapa? Mau lagi?"
"Makan berdua aja."
Azlan tersenyum gemas melihat Dara berubah karena ia mencium pipinya. Azlan menyuapi dirinya dan juga Dara yang hanya diam dan menerima perlakuan Azlan padanya.
Setelah selesai, seorang wanita paruh baya mengetuk pintu rumah mereka, Dara dan Azlan menyambutnya dengan senang hati dan mempersilahkan duduk di sofa ruang tamu.
"Saya ke sini mau melamar jadi Asisten Rumah Tangga di rumah ini."
Dara tersenyum melirik ke arah Azlan .
"Wah, terima kasih banyak, bu. Anda di terima," ucap Dara dengan antusias.
"Saya akan carikan pembantu lain, karena Anda tidak mungkin mengerjakan pekerjaan rumah ini sendiri," ujar Azlan.
"Ya sudah, kalau begitu bibi langsung bekerja."
"Oh, iya nama bibi siapa?" Dara menatap wanita paruh baya tersebut dengan lembut.
"Nama saya Ima."
Azlan dan Dara menganggukkan kepala.
"Kalau Bi Ima mau istirahat, silahkan di pilih kamar yang ada di sana, ya." Dara menunjuk beberapa pintu di lantai bawah, Ima mengangguk paham lalu ia langsung bekerja. Sementara Azlan d dan Dara melakukan pemanasan di belakang rumah sambil menikmati matahari pagi.
Setelah 15 menit kemudian, Dara berlari mrngambil selang air yang digunakan untuk membersihkan kolam atau mencuci mobil.
"Tunggu." Azlan menghindari cipratan air yang cukup kuat dari selang yang dipegang Dara . Azlan berjalan mendekati selang yang lain lalu terjadilah adegan di mana mereka saling berperang air.
"Hai, bi." Azlan menundukkan tubuhnya membuat Dara menoleh ke belakang yang ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Azlan mengerjainya.
"Rasakan." Azlan membasahi kepalanya, lalu Dara menghindari cipratan air tersebut dengan melangkah mundur.
"Ah!"
"Hei, Dara ."
Azlan terkejut ketika Dara terjatuh ke dalam kolam berenang. Ia masuk ke dalam kolam untuk membantu Dara duduk di bibir kolam sembari terbatuk-batuk.
"Kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Azlan dengan khawatir. Dara menggelengkan kepalanya.
"Kamu bilang dong kalau gak bisa berenang."
Dara hanya diam mendengar ocehan dari sang suami. Azlan menuntun Dara untuk bangkit dan berjalan menuju kamar.
Di dalam kamar
"Kamu mandi ya, bajunya basah. Kamu bisa masuk angin nanti." Azlan menutup pintu kamar mandi sementara ia mandi di kamar sebelah.
__ADS_1
Setelah selesai, Azlan menatap Dara yang tengah melamun di balkon kamar. Ia melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar seraya mengambil minyak angin da mendekati Dara dan menatap gadis itu.
"Ada apa?"
Dara menoleh ke arah Azlan yang mengambil posisi duduk di dekatnya.
"Aku trauma." Dara menjawab pertanyaan Azlan membuat lelaki itu mengeluskan kepala sang istri.
PoV Azlan
Aku memijat kepala Dara dengan minyak angin dengan lembut membuat gadis itu memejamkan mata menikmati sentuhanku.
"Ada yang sakit?" tanyaku dan Dara menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak.
Kemudian, aku beralih memijat tengkuk dan kedua bahunya walau hanya dilapisi dengan baju kaos maroon berlengan pendek tersebut.
Setelah selesai, aku memeluknya dan menempatkan kepalanya di dadaku.
"Maaf, saya nyelamatin kamu terlambat," bisikku.
"Justru aku yang berterima kasih."
Aku menatap gadis itu yang menyentuh lenganku.
"Kakak gak kerja?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Papa yang suruh, tapi untuk besok pagi mungkin iya."
Dara menganggukkan kepalanya pelan.
"Ayo, kita ke mall. Beli peralatan dapur," ajakku. Dara mengiyakan ajakkanku lalu kami bersiap-siap dan pergi ke mall.
Sampainya di sana, aku menggenggam tangan mungil itu saat aku dan Dara keluar dari parkiran mobil dan berjalan masuk ke dalam mall. Aku dan Dara membeli beberapa lusin piring, mangkuk, teflon, wajan kaca, sendok untuk memasak, sendok, garpu,sumpit, dan gelas, di bantu dengan Bi Ima yang memilihnya.
Setelah sampai di rumah, aku dan Dara berjalan masuk menuju pintu rumah sambil membawa barang-barang belanjaan yang kami beli di mall.
Dara menatanya dengan rapi di lemari kaca, sementara aku menyiapkan jus buah yang tersimpan di kulkas agar letihnya terobati.
"Udah selesai?" tanyaku.
"Udah," jawabnya mengelap keringat yang ada di pelipis tanpa menoleh ke arahku.
"Ini jusnya." Aku menyodorkan segelas jus alpukat ke Dara lalu ia menerimanya dengan senyuman sambil mengucapkan terima kasih.
Pukul 15.32 Aku mengajak Dara untuk berkebun di belakang rumah. Aku menggali tanah yang berdekatan dengan pagar menggunakan cangkul, sementara Dara menanam bunga dan menyiramnya menggunakan selang.
Setelah selesai, Dara membersihkan diri di kamar mandi dan selanjutnya aku menggunakan kamar mandi ketika ia sudah selesai.
Malam harinya
Makan malam kali ini, sangat berbeda. Di mana aku, Dara dan Bi Ima sedang menyantap makan malam bersama sesekali menceritakan kehidupan Bi Ima yang sangat sulit mencari uang dan sekarang ia mendapatkan pekerjaan tersebut.
Jujur, aku terhenyuh mendengar ceritanya. Masih ada ya, jaman sekarang orang sulit mencari pekerjaan. Hanya beberapa saja.
Setelah selesai makan malam dan salat isya, aku dan Dara duduk di ranjang seraya menonton televisi yang menayangkan film Korea berjudul 'W: Two World' oleh aktor ternama Lee Jong Suk berperan sebagai Kang Chul.
Dara begitu suka dengan film ini. Bukan filmnya, melainkan aktornya.
"Wah, ternyata aktor Korea lebih tampan dari pada aktor Indonesia," gumamnya sambil tersenyum.
"Termasuk saya," ucapku dengan percaya diri tingkat tinggi sambil mengedipkan kedua mataku membuat Dara mendesis dan menatap layar televisi.
"Kalau di Korea, serial seperti ini harus menunggu 1 pekan."
"Kenapa gitu?"
__ADS_1
"Entahlah," jawabku seraya menyandarkan rahangku di kepalanya.
1 Jam kami menonton drama Korea yang baru 2 episode, Dara tertidur di dadaku.
"Dramanya belum habis, udah ditinggal tidur aja," gumamku memegang rahangnya ketika kepalanya mulai jatuh. Aku memposisikan tubuhku berbaring dengan benar lalu melanjutkan untuk menonton drama tersebut sampai habis.
Pukul 00.17 WIB, aku mematikan televisi karena drama Korea tersebut sudah berakhir. Aku menyelimuti tubuh Dara yang tertidur dengan pulas di dadaku dan menyusulnya ke alam mimpi.
Pagi hari
Setelah mandi dan salat subuh, aku berjalan ke dapur dan melihat Bi Ima sudah menyiapkan sarapan di sana.
"Bi, saya langsung pergi ke kantor, ya. Bibi bilangin ke Dara."
"Baik, tuan."
Aku berjalan keluar rumah sambil menenteng jas, ponsel dan kunci mobil. Pagi ini, jadwalku cukup banyak dan berjimbun membuat kepalaku pusing melihat setumpukan berkas ini. Aku memanggil sekretarisku untuk membereskan semuanya dan mempersiapkan jadwal rapat nanti. Sementara aku mulai menggambar beberapa properti yang akan menjadi acuan rapat paripurna nanti.
Di kantor Azlan
Setelah selesai, Dila memanggilku agar segera menuju tempat rapat karena client sudah menunggu kedatanganku. Aku menyimpan file picture tersebut di flash disk dan membawanya ke ruang rapat.
***
"Saya membuka properti baru." Aku memerintahkan pada Leo agar ia segera membuka hasil karyaku. Mereka cukup terkagum-kagum melihatnya.
"Berapa Anda akan menjual properti ini?"
"Jika kalian minat, saya akan melelangnya setelah properti ini selesai." Aku tersenyum menatap mereka yang sangat antusias menginginkan properti ini.
Akhirnya, rapat selesai. Aku berjalan bersama client sampai mengantarnya ke depan kantor.
"Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda."
"Saya juga." Aku menerima jabatan tangan mereka sebelum akhirnya mereka pergi keluar dari kantor.
Ah, perutku berbunyi karena kosong dan belum terisi sejak tadi pagi. Aku memesan makanan pada staf kantor yang ada di kantin agar membawanya ke ruanganku sekaligus memberikannya uang lima puluh ribu rupiah padanya.
"Baik, pak." Perempuan itu pergi sementara aku berjalan menuju ruanganku sembari menunggu.
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk."
"Ini pak, pesanan bapak." Aulia meletakkan sepiring batagor dan segelas air mineral dingin dan biasa.
"Terima kasih."
Ia tersenyum dan keluar dari ruanganku. Sebelum aku makan siang, aku mengambil ponsel di laci meja untuk mem-video call Dara melalui aplikasi WhatsApp.
"Ya?" Dara menerima panggilan videoku dan terlihat ia sedang di ranjang.
"Baru bangun?" tanyaku.
"Dari tadi, ini udah mandi."
Aku manggut-manggut sambil memakan batagor tersebut.
"Maaf, ya kak. Aku telat bangun."
"Gak apa-apa. Kamu udah makan?"
"Udah. Tadi makan siang ayam kecap, Bi Ima yang buatin."
Aku tersenyum mendengarnya.
"Gimana rapatnya?" tanya Dara
"Lancar, gak ada kendala."
__ADS_1
"Ya sudah, saya makan siang dulu ya. Love you," ucapku menggodanya.
"Apaan sih." Dara tersenyum malu lalu mematikan video call-nya secara sepihak. Aku melanjutkan acara makan siangku sambil tersenyum mengingat tingkah Dara