Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter. Kapan Kamu kasih Mama Cucu??


__ADS_3

Mama berjalan masuk ke dalam kamar lalu duduk di bibir ranjang tepat di sampingku.


Tangan yang dulu membesarkanku hingga sekarang ini terangkat untuk mengelus suraiku pelan sambil menatap wajahku dengan senyumannya yang sangat menyejukkan hati.


"Mama mau tanya, apa kalian gak ada rencana untuk memberi kami keturunan? Kamu anak pertama lho, sayang."


Aku tersenyum tulus lalu menyentuh tangan yang mengelus suraiku lalu kuletakkan di atas pahaku dengan menggenggamnya erat.


"Ada kok, ma. Mungkin belum waktunya. Tapi, Azlan akan berusaha. Lagi pula Azlan masih sibuk, ma."


"Eonje, Azlan? Eommaneun imi neulg-eoss-eoyo. Dangsin-eun wae geuleohge il-eulhabnikka? Nnaeneun ilhaji anhneun geos-eul useonsihabnida."


Mama menggerakkan tangannya di dalam pergelangan tanganku, sepertinya ia sedikit lelah menunggu kedatangan sang cucu.


"Eomma, Azlan, Dara-ege useon sun-wileuljueossseubnida. Azlan-i ilhaji anh-eumyeon jib-eseo mueos-eul meog-eulkkayo?"


Aku menatap matanya meyakinkan.


(Kapan, Azlan? Mama udah terlanjur tua nanti. Kamu sih, kenapa kerja yang lebih utama? Istri kamu prioritaskan jangan pekerjaan.)


(Mama, Azlan juga memperioritaskan Dara kok, ma. Kalau Azlan gak kerja, kami di rumah mau makan apa?)


"Heo, eommaga meonjeo jugge du jima, lei."


"Huseu, eomma. Geuleohge malhaji masibsio. johji anhda. Malsseum-eungidoibnida. Gieoghaseyo."


"Geunde yagsog hagessji gwiyeobgo jal saeng-gigo aleumdaun eommawa sonnyeoege jullae?"


"Mullon ijyo, eomma. Jeogjeolhan sigan-eul gidaligo issseubnida."


(Huh, jangan sampai mama keburu mati duluan, Azlan.)


(Hus, mama. Jangan ngomong gitu, ih. Gak baik. Kata-kata adalah doa, ingat itu.)


(Tapi, kamu janji 'kan akan kasih mama sama papa cucu yang lucu, tampan dan juga cantik?)


(Pasti, ma. Tinggal nunggu waktu yang tepat aja.)


Aku menarik tangan mama keluar dari kamar berpapasan dengan Dara, Tante Adel, Bibi Kim, Tante Rina, Tante Ratna dan keponakanku keluar dari kamar sebelah.


"Wah, cucu nenek udah harum rupanya."


Mama memeluk Chaca, Zahra, Azka, Tika, Hani, dan yang lainnya lalu membawa mereka turun ke bawah.


"Hari mulai malam, sebaiknya kami pulang dulu ya, Azlan, Dara."


Papa berpamitan seraya memberikan tangannya untuk kami cium. Tak hanya papa, mama dan yang lainnya. Kami melakukan hal yang sama lalu mengantarkan mereka sampai ke depan.


Ceklek!


Pintu kututup rapat, sementara Dara berjalan menaiki anak tangga. Mungkin saja dia juga ingin membersihkan diri.


Aku memainkan ponselku untuk melihat berita sekaligus hiburan di dalamnya. Kemudian, aku berselancar ke aplikasi InstaGram di mana terakhir aku memposting foto memeluk tubuh Dara yang dibaluti selimut dan juga menggenggam tangannya.


Itu sudah 4 bulan yang lalu. Aku membidiknya ketika ia masih tertidur dengan pulasnya. Terlihat lima puluh enam ribu likes dengan postingan terakhirku.


[Semoga langgeng Pak Azlan ]


[So sweet sekali, pak.]


[Bahagia selalu, pak.]


[Sehat terus ya, Pak Azlan , Nyonya Azlan ]


[Samawa, pak.]


Aku tersenyum membaca komentar dari mereka delapan puluh persen, orang yang mengikutiku adalah rekanku dan sisanya keluarga dan mungkin saja penggemarku.

__ADS_1


Tap ... tap ... tap ....


Aku menoleh ke arah sumber suara derap langkah kaki yang menyentuh lantai kayu di tangga.


"Ayo, salat!" perintah Dara lalu kembali masuk ke dalam kamar.


Aku beranjak dari sofa setengah berlari menaiki anak tangga dan melihat Dara yang sudah siap dengan mukenahnya.


Aku berjalan memasuki toilet, tapi terlebih dahulu aku mengacak-acak kepalanya yang dibaluti mukenah sambil tersenyum manis menatapnya yang sangat terlihat cantik di mataku.


***


Pukul 8 malam, aku membawa Dara ke rooftop sambil membawa kembang api. Bi Ima juga mengantarkan pudding dan jus buah untuk menjadi teman kami.


Tap!


Aku menghidupkan lampu setiba di atas membuat suasana kian romantis.


"Bagaimana?" tanyaku menoleh ke arahnya yang berdiri sambil menatap indahnya bulan dan bintang yang bersinar di malam hari.


"Cantik," gumamnya.


Aku tersenyum lalu berdiri di belakang tubuhnya dan memeluknya dari belakang.


"Kenapa pake acara terkejut, sih?" tanyaku heran dengan tingkahnya.


"Geli, tahu!"


"Kamu harus terbiasa, sayang."


Terdengar suara helaan napas yang keluar dari mulutnya. Aku menghidupan kembang api menggunakan korek api lalu mengarahkannya ke atas langit.


Piuw ... piuw ... piuw ....


Berbagai macam warna yang dihasilkan oleh letusan kembang api di udara. Aku tersenyum menatap Dara yang sangat menikmati betapa eloknya malam hari ini dihiasi dengan cahaya dari kembang api.


"Banget."


Aku kembali menghidupkan kembang api lain yang hanya seukuran lidi lalu membakar ujungnya dengan menggunakan korek api.


Aku memberikan kembang api yang menyala-nyala itu pada Adnan. Tetapi, ia menolak, dan menghindar.


"Jangan takut, ini gak buat jari mungil kamu terluka. Kecuali kalau kamu sentuh apinya."


Perlahan namun pasti, Dara mengambil kembang api yang ada di tanganku.


Wajah yang tadinya seperti ketakutan, kini tergantikan dengan senyuman. Aku memanggil bibi untuk membidik momen kami berdua dengan ponsel milik Dara.


Cekrek!


Pict 1.


Kami tersenyum menatap kamera sambil memamerkan kembang api yang ada di tangan kami.


"Sebentar, bi. Kembang apinya habis."


Aku kembali menyalakan kembang api kedua lalu Bi Ima kembali menjepret kami.


Cekrek!


Pict 2.


Aku merangkul pinggang Dara seraya menatap wajahnya. Sementara Dara melempar senyumannya ke arah kamera.


Cekrek!


Pict 3.

__ADS_1


Aku memeluk Dara dari belakang seraya menatap langit malam. Kedua tangan Dara dipenuhi dengan kembang api. Masing-masing satu tangan satu kembang api.


Cekrek!


Pict 4.


Aku dan Dara sama-sama menatap satu sama lain.


Cekrek!


Pict 5.


Aku mengecup keningnya dengan lembut.


Cekrek!


Pict 6.


Aku tetap memeluknya dari belakang sambil memamerkan bahagianya kami dengan tertawa menatap kamera.


Cekrek!


Pict 7.


Kami tertawa bersama. Seolah-olah foto itu hasil candid.


"Makasih, bi."


Aku berucap saat Bi Ima memberikan ponselnya setelah dirasa cukup.


"Foto lagi," pinta Dara seraya mengambil lampu tumbler putih lalu aku letakkan antara bahu dan kepalaku.


Dara juga melakukan hal yang sama lalu mulai mengambil gambar dengan tersenyum manis ke arah kamera, tertawa.


Pict 2.


Dara menyandarkan kepalanya ke bahuku.


Pict 3.


Dara tersenyum manis ke arahku sementara aku menatap ke kamera ponselnya.


Pict 4.


Kami saling menatap.


Pict 5.


Aku sengaja mencium bibirnya sambil memegang tangannya agar ponsel tidak jatuh.


"Kak."


"Wae?" tanya menatap wajahnya yang memerah.


Aku mengambil ponselnya lalu membidik dengan gaya aku menatap wajahnya yang terlihat tanpa ekspresi.


Cekrek!


"Ih, kakak!" teriak Dara yang melengking membuat telingaku sakit.


****


👋🙋Haii readers


🙏💕Terimakasih atas dukungan nya, like, gift dan SILAHKAN DIREVIEW BAWEL


sorry for typo nya🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2