Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 30. Mantu Cantik


__ADS_3

POV Azlan


Makan malam, kami hanya berbincang ringan diselingi dengan lelucon papa pada Dara . Aku tersenyum melihat kedekatan papa dan Dara --menantu cantiknya itu.


Setelah selesai makan malam, aku mengajak Dara untuk berkeliling kota Seoul memakai pakaian tebal, tak lupa dengan hijabnya.


Kami berjalan kaki berdua menuju Namsan Seoul Tower karena Dara ingin berfoto ria. Aku dan Dara menaiki tower tersebut, tidak terlihat lelah di raut wajahnya. Sampainya di atas Tower Namsan, ia langsung membidik kota Seoul yang dipenuhi dengan bintang dan lampu jalan kota yang sangat indah.


Lalu aku mengajaknya untuk memakan khas Korea yaitu bulgogi. Setelah pesanan sampai di atas meja restoran, aku memotong kecil daging sapi yang sudah dipanggang dan diberi bumbu lalu menyelimuti daging sapi tersebut dengan selada.


"Makan pake daun?" tanya Dara.


"Konon, katanya kalau makan pake selada itu lebih nikmat." Aku menyuapinya lalu ia mengunyah hasilnya.


"Hm, enak banget."


Aku tersenyum melihatnya lalu melanjutkan makan ku yang tertunda beberapa menit lalu.Dara memakan daging sapi yang sudah ku potong lalu memasukkan daging tersebut bersamaan dengan selada ke dalam mulut mungilnya.


Aku melirik ke arah jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 11 malam KST.


"Ayo, kita pulang." Aku menarik tangannya menuju kasir untuk membayar makanan kami lalu berjalan menuju villa dengan berjalan kaki sekitar 4 kilometer.


Terkadang aku juga menunjukkan taman di mana dulu aku bermain bola bersama teman-teman di sini. Sampai di rumah, aku dan Dara melakukan ritual membersihkan wajah dan menggosok gigi dan memakai perawatan wajah.


"Ah, ternyata di sini dingin juga, ya," ucapnya seraya merebahkan tubuh di atas ranjang. Sementara aku menghidupkan penghangat ruangan lalu memeluknya erat untuk menghilangkan rasa dingin yang menjalar di tubuh kami.


"Iya, makanya orang Korea itu putih pucat," jawabku.


"Menurut perkiraan cuaca, besok pagi turun salju."


"Benarkah?"


Aku menganggukkan kepala seraya menghirup dalam-dalam aroma mawar putih di rambutnya.


"Kalau tubuh kamu rasanya aneh, saya udah tulis di setiap obat itu, jadi kalau saya gak ada di rumah, kamu bisa cari obatnya di laci nakas."


"Oke."


Aku mengecup pipi Dara sebelum akhirnya kami membaca ayat sebelum tidur dan menutup mata.


***

__ADS_1


Pukul 03.00 KST, aku terbangun ketika mendengar suara Dara bergumam tak jelas. Terlihat keringat membanjiri wajah dan lehernya. Aku menempelkan punggung tanganku di keningnya. Panas.


Aku membuka laci nakas lalu mengambil air putih di dapur dan kembali ke kamar dengan membawa baskom yang berisi air panas serta handuk kecil.


"Sayang." Aku menepuk bahunya lalu ia membuka mata dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Minum obat dulu, kamu demam." Aku mendudukkan tubuhnya di ranjang agar memudahkan ia menelan obat beserta air mineral di dalam gelas. Setelah selesai, ia kembali berbaring, aku melirik ke arah jendela yang samar-samar salju mulai turun.


Aku mengompresinya dengan air hangat tanpa mematikan penghangat ruangan. Kini aku tidak bisa tertidur karena melihat keadaannya yang sekarat, aku melangkahkan kaki ke kamar papa bahwa hari ini aku tidak bisa ke kantor karena menantunya demam.


Aku berdiri di depan jendela di mana sudah terlihat jelas salju turun ke bumi, sementara tubuh Dara sangat sensitif dengan suhu yang mendekati minus. Ini kali pertamanya Dara ke Korea dan tubuhnya langsung terkejut.


"Kak."


Aku menoleh ke arah ranjang, lalu berjalan mendekatinya yang terbaring lemah di atas ranjang. Aku membasahi handuk tersebut dan kembali menempelkan ke pelipisnya dan mengambil handuk lain untuk diletakkan di lehernya agar demamnya segera turun.


****


Pukul 09.00 KST, Dara belum menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan sadar. Aku sudah menyiapkan semangkuk bubur dan segelas susu coklat di nakas.


Perlahan, kelopak matanya bergerak seiring dengan memperlihatkan bola mata yang sangat kurindukan.


Aku meletakkan bantal di kepala ranjang lalu menyuapinya bubur walaupun dia menolak, aku tetap keras kepala agar dia menghabiskan bubur tersebut dan mengancamnya untuk tinggal di Korea selama-lamanya.


Setelah segelas susu dan semangkuk bubur habis, aku membersihkannya di wastafel dan kembali ke kamar dengan sepiring buah yang sudah kuracik.


Dara melahapnya walau perlahan, dan memberinya vitamin agar tubuhnya tidak drop.


"Kakak gak ke kantor?" tanyanya dengan suara lemah.


"Tidak, saya akan menjaga kamu sampai kamu sembuh," jawabku seraya menaikkan selimut sampai leher agar ia tidak kedinginan.


Aku meletakkan termometer digital ke dalam mulutnya untuk melihat suhu tubuhnya yang belum juga turun.


"Kamu tidur saja. Saya mau bersih-bersih dulu." Aku mengecup dahinya pelan lalu membuka tirai jendela agar panas matahari dapat masuk lalu berjalan ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, aku melihatnya yang sudah terlelap membelakangi cahaya matahari, aku mengganti pakaian dengan cepat lalu kembali mengecek suhu tubuhnya dengan termometer telinga.


Aku bisa bernapas lega karena suhu tubhhnya sudah kembali normal. Aku membiarkannya untuk terlelap beberapa saat karena obat penurun panas juga mengandung obat tidur yang tidak lebih.


***

__ADS_1


Tap .. tap ... tap ....


Suara langkah kakiku saat aku berjalan menuruni anak tangga untuk sarapan, karena sampai jam 12 siang aku belum mengisi perutku.


Aku menatap ke arah jendela yang sudah dipenuhi dengan salju. Aku mengambil sekop untuk menyingkirkan butiran salju yang sudah menggunung di depan rumah hingga tak terlihat jalan menuju rumah.


15 menit kemudian, aku masuk ke dalam rumah dengan deru napas memburu. Aku menggosong kedua tangan seraya menghembuskan napas di sana agar tubuhku kembali hangat dan kembali melihat keadaan Dara.


Didalam kamar Dara


"Masih pusing?" tanyaku seraya duduk di bibir ranjang dan mengelus rambut ikalnya.


"Udah mendingan," jawabnya sambil tersenyum.


"Makasih."


"Sama-sama."


"Ya udah, kamu mandi gih," sambung ku. Dara berjalan pelan menuju kamar mandi menggunakan sendal berbulu warna biru.


Aku keluar dari kamar untuk membuatkan ramyeon yang sudah papa sediakan dj kabinetnya. Setelah selesai, Dara turun ke bawah dan melihat kegiatanku.


"Tara!"


Aku meghidangkan semangkuk kaca bening yang berisi ramyeon di dalamnya sekitar 2 bungkus dan memberinya semangkuk kecil nasi tak lupa dengan sendok makan untuknya karena Dara belum bisa menggunakan sumpit.


"Ini ramyeon, makanan khas Korea."


Dara hanya menganggukkan kepala seraya mengambil sesendok ramyeon lalu ia campurkan ke mangkuk nasinya.


"Enak?" tanyaku.


"Banget," jawabnya membuatku langsung melahap hasil buatan ku.


"Wah, kalau dingin-dingin makan yang hangat kayak gini, rasanya perfecto," ujarku.


"Kalau kamu sudah benar-benar sembuh, saya akan membawamu ke suatu tempat."


Dara menghentikan acara makannya dan beralih menatapku seolah bertanya 'ke mana?'


Kami menghabiskan makan siang sambil bercanda dan menonton televisi yang berisi drama Korea tanpa subtitel. Dara dibuat bingung sendiri dan beralih ke ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2