Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 35. Kang Yuri Si Penggoda


__ADS_3

Aku melangkahkan kaki menuju ke arah Dara dan Fero yang sedang berpelukan lalu menarik tangan Dara dengan kasar hingga dia terkejut menatapku dengan penuh air mata.


"Pulang!" Aku menarik tangannya, tapi langkahku terhenti karena ada seseorang yang menarik tangan Dara.


"Lepaskan!" bentakku.


"Lepaskan tangan itu." Aku menarik tubuhnya seraya menatap tajam ke arah Fero.


"Lepas, Fer," pintanya. Fero melepaskan genggamannya lalu aku kembali menarik tubuh Dara secara kasar untuk masuk ke dalam mobil.


Dirumah


Sampai di rumah, aku berjalan mendahuluinya dan duduk di bibir ranjang menatap Dara dengan brigas yang berdiri di ambang pintu.


"Jadi, Fero itu pelarian?" tanyaku padanya.


"Bukan."


Dirinya kembali terisak membuatku jengah menatap gadis ini. Aku menarik tubuhnya masuk ke dalam dan mengunci pintu kamar dari luar.


"Ini hukuman untukmu," ucapku lalu berjalan menuju kamar sebelah.


***


Pikiranku masih terngiang mengingat Fero dengan beraninya memeluk istriku. Aku meninju dinding dan meninggalkan bercak merah di sana. Aku membaringkan tubuhku di ranjang dan terlelap.


***


Pagi ini, aku teringat akan Dara yang belum makan sejak kemaren. Aku membuka pintu secara perlahan dan melihatnya yang sedang meringkuk di atas ranjang seperti janin.


Tanganku terulur untuk memyentuh rambut lembutnya, tapi pikiranku kembali melayang mengingat tangan Fero yang menyentuhnya kemaren malam sehingga aku menarik kembali tanganku agar menjauh darinya.


"Kak." Dara menatapku dan mendekapku erat.


"Maaf."


Aku memejamkan mata kuat saat mendegar kata maaf yang terlontarkan dari bibirnya. Aku berdiri sehingga pelukan itu terlepas, mataku menatap kosong ke arah jendela kamar.


Aku melangkahkan kaki meninggalkannya sendirian di dalam kamar.


Sampai di dapur, aku menyuruh Bi Ima agar mengantarkan sarapan untuknya dan melarang Dara untuk keluar rumah. Aku kembali ke kamar untuk mengambil pakaian ke kantor dan membersihkan diri ke kamar sebelah.


Saat ini, aku benar-benar tak ingin menatap wajahnya. Pikiranku berkecamuk.


Di kantor


Sampainya di kantor, aku menatap bingkai foto berukaran 5R bermotif hati. Ya, di sana adalah foto pernikahanku dengan Dara . Senyuman bahagia kami terpancar di sana.


Ceklek.


"Ada yang mau bertemu dengan Anda, tuan," ucap Alazka.


Tak lama, datanglah seorang wanita yang sangat kukenal. Kang Yuri, dia berjalan ke arahku dengan anggun tak lupa dengan senyumannya. Aku menatapnya datar lalu menghidupkan CPU.


"Annyeong," sapanya.


*Halo*


Aku diam seraya membuka berkas melalui komputer dan ia mendudukkan tubuhnya tepat di atas meja kerjaku.


'Dasar penggoda,' batinku seraya menggeram kesal menatap tingkahnya.


"Ya, wae geuleohge nal musihaneungeoya?" tanyanya seraya menyentuh pipiku.


*Hei, kenapa kau mengabaikanku seperti itu?*


"Deo isang gwichanhge hajima." Aku menepis tangannya sedikit kasar.


*Jangan menggangguku lagi*


"Bu-in-ege munjega issseubnikka?"

__ADS_1


*Kau ada masalah dengan istrimu itu?*


"Geugeon dangsin-i hal il-i anibnida." Aku menatapnya tajam.


*Itu bukan urusanmu*


"Ibwa, geuleohge hajima. nal geobnage hae," ujarnya diselingi dengan kekehan.


*Hei, jangan seperti itu, kau membuatku takut sayangku*


Aku berdecih lalu berdiri dari kursi. Sepertinya Yuri menantang emosiku.


"Keluar," ucapku pelan.


"Kau tak mau bermanja dulu denganku?"


"Keluar!" teriakku sampai mengeluarkan urat kepalaku. Dia tersentak kaget lalu berjalan menghentak-hentakkan kakinya menimbulkan suara yang nyaring, membuat kupingku sakit mendengarnya.


Aku mengembuskan napas jengah lalu membuka jas dan melemparnya ke sofa. Aku mengirim pesan ke Alazka agar wanita tadi segera diusir jika ia kembali ke kantor.


Tok ... tok ... tok ...


Ceklek.


"Ada apa lagi?" tanyaku jengah seraya membalikkan tubuh menghadap pintu. Mataku membola melihat kehadiran mama yang tersenyum padaku dan ia menutup pintu sambil berjalan ke arahku.


"Mana cantik?" tanyanya yang sudah mendudukkan diri di sofa.


"Di rumah," jawabku singkat pura-pura sibuk di depan komputer.


"Apa kau menjaganya dengan baik?"


Deg.


Jariku berhenti menari di atas keyboard mendegar pertanyaan mama.


"Tentu." Aku menjawab tanpa menatapnya berusaha untuk menyembunyikan kegugupanku.


Aku berdesis mendengar ucapan mama, bagaimana bisa mama menitipkan Cinta sementara kami sedang merenggang sekarang.


"Iya," ujarku.


"Ma, hari ini Reyn ada meeting sama karyawan. Mama mau menunggu di sini?" Aku berdiri menatapnya.


"Ah, mama akan pergi sekarang. Kamu silahkan meeting." Mama berjalan ke arahku lalu memelukku erat.


"Hati-hati ya, ma. Jangan lupa kabari kami kalau sudah sampai," tuturku saat kami berada di luar ruangan. Mama menganggukkan kepalanya lalu ia berjalan keluar kantor, sementara aku melangkahkan kaki dengan maskulin menuju ruang rapat.


Selesai rapat, aku mendapat pesan dari Cinta bahwasanya ia sudah ada di rumah. Ia mengirim video 10 detik ketika ia sedang ngemi di ruang televisi yang menyala dan mengarahkan kamera ponselnya ke arah Adnan yang tak tahu dengan rekaman tersebut.


Aku keluar dari kantor menuju supermarket untuk membeli perlengkapan rumah.


Aku mengambil seledri, daun bawang. bawang bombai, kaldu jamur, saus tiram, dua kilo udang segar, dan beberapa mangkuk ice cream.


Setelah selesai membayarnya di kasir, aku berjalan menuju mobil dan meletakkan semuanya di bagasi mobil kecuali ice cream. Aku meletaknya di samping pengemudi dan mulai berjalan menuju rumah.


Di rumah


Sampai di rumah, aku membawa barang belanjaan tersebut dan melewati mereka yang sedang bersantai di ruang televisi.


Aku tak melihat keberadaan Bi Ima di sini. Ke mana wanita itu?


"Bibi izin, katanya anaknya lagi sakit," sahut Cinta.


Huh, hari ini aku akan memasak makan malam untuk mereka. Aku memasukkan beberapa mangkuk ice cream yang kubeli tadi ke dalam freezer. Saat aku mencuci udang di wastafel, aku merasakan kehadiran Dara yang sedang mengambil air dingin di dalam kulkas.


"Bisa minta tolong?" tanyaku ragu. Ya, aku sangat ragu, dan pertanyaan itu akhirnya lolos dari bibirku.


Dara berbalik menatapku.


"Tolong tumiskan satur yang ada di kulkas, iris bawang putih dan merah, potong halus seledri sama daun bawangnya," pintaku.

__ADS_1


Dara menganggukkan kepala tanpa mengucapkan sepatah atau dua kata. Ia mulai meracik bumbu-bumbu yang aku sebutkan tadi.


Sementara aku menumis udah di teflon. Lalu membiarkannya sejenak seraya mengambil bawang merah dan putih di dalam kulkas yang sudah di bersihkan lalu memasukkan cabe merah dan bawang ke dalam blender.


"Ah."


Aku menatap Dara yang sedang menyimpan jarinya di dalam genggaman. Apa dia terluka?


"Kenapa?" tanyaku.


"Tidak," jawabnya menahan sesuatu.


Aku menarik pergelangan tangannya dan melihat jari telunjuknya berdarah.


"Apa yang kamu pikirkan?" Aku hendak memasukkan jarinya ke dalam mulut, tapi ia menahannya. Aku menggenggam tangannya erat dan menghisap sebentar luka itu dan membawanya ke wastafel untuk di cuci.


"Hati-hati dong." Aku meniupkan jarinya dengan lembut.


"Kya! Apa yang kalian lakukan di sini?!" teriak Cinta dengan ponselnya.


"Mama, lihat anakmu ini. Dia berani sekali berduaan di dapur, padahal Cinta ada di sini."


"Hei, hentikan." Aku berucap seraya menjauhkan ponselnya dari wajahku.


"Hahaha." Cinta berlalu sambil menatap layar ponselnya. Keadaan menjadi canggung.


"Sudahlah, biar saya yang masak." Aku mentiriskan udah tersebut lalu memasukkan cabe yang sudah digiling halus ke dalam teflon. Jujur, aku merasakan tangan Dara gemetar saat jarinya menyentuh permukaan mulut bagian dalamku.


Aku melupakan kekesalanku padanya karena insiden tadi. Aku menoleh ke arah Dara yang diam mematung.


"Gak capek berdiri terus?"


Ia berjalan menuju meja makan dan aku merasakan bahwa ia sedang memperhatikanku. Walaupun aku lelaki, tapi keahlian dalam memasak tidak di ragukan. Ya, wajar karena aku anak pertama. Mama mengajarkanku karena memasak tidak tergantung dengan status.


Setelah selesai, aku meletakkan piring yang berisi masakan itu di atas meja. Dara menuangkan air minum ke dalam gelas dan 3 mangkuk kecil untuk mencuci tangan.


"Makan Cinta!" teriakku.


Cinta datang seraya menatap masakan yang terpajang rapi di meja makan.


"Wah, banyak sekali."


Aku memberikan sendok dan garpu pada mereka berdua dan kami mulai menikmati makan malam.


Drt ... drt ... drt ...


Ponsel Cinta bergetar, ia menatap layar tersebut dengan senyuman.


"Halo, Ma."


Kami menatap ke arah Cinta, apa mama menelfonnya.


"Ma, kami sedang makan malam." Cinta mengarahkan ponselnya ke arah kami. Ternyata mama sedang video call.


"Wah, bagaimana kabarmu cantik?"


Sangat terdengar jelas suara mama di balik ponsel itu karena Cinta me-loudspeakernya.


"Baik, ma," jawab Dara sambil tersenyum.


"Dia gak mau bicara sama kakak?" tanyaku pada Cinta.


"Ma, mama mau ngobrol sama kakak?" tanya Cinta padanya.


"Enggak, mama mau sama si cantik."


Huh, aku harus sabar menghadapi wanita-wanita ini. Kesabaran Ku diuji malam ini, sebenarnya anaknya itu aku apa Dara , sih? Merasa dicampakkan saja.


Aku menyuapi nasi dan lauk ke dalam mulutku. Setelah habis, aku membawa piring dan gelas kotor di wastafel untuk dibersihkan. Dara dan Cinta masih asyik mengobrol dengan mama.


Sementara aku berjalan menuju ruang televisi.

__ADS_1


__ADS_2