
"Kita ke 'Cafe Halal' itu aja," tunjuk Azlan
"Jangan!" gertak Jong Ru membuat Azlan menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Wae?"
"Ani, geogi eumsig-i bissada," jawab Jong Ru.
(Bukan, di sana makanannya mahal."
"Bissan? Bunmyeonghi hallal eumsig-imyeo seuta hotelmankeum bissaji anh-eul sudo issseubnida. Uhoejeon."
(Mahal? Jelas itu makanan halal, gak mungkin semahal di hotel berbintang, kali.
Balik kanan.)
Jong Ru langsung memutar mobilnya tanpa melihat ke kaca spion. Beruntung tidak ada mobil lain di belakang mobil mereka.
Jong Ru dan Azlan turun dari mobil. Jujur, Jong Ru sangat takut jika Dara sampai tahu Azlan berada di California.
"Mau duduk di mana?" tanya Jong Ru.
"Dekat pintu masuk saja."
Azlan mendudukkan dirinya di kursi yang ia inginkan. Sementara Jong Ru celingak-celinguk melihat keberadaan Dara. Tidak ada, pikirnya.
"Hi good morning. What would you like to order, sir? We provide special halal food at this restaurant at an affordable price," ucap pelayan pria bernama Stevan.
(Hai, selamat pagi. Anda mau pesan apa, Tuan? Kami menyediakan makanan halal khusus di restoran ini dengan harga yang terjangkau.)
"Ah, I see. we ordered halal food, beef and favorite drinks at this restaurant," ujar Azlan tanpa melihat buku menu yang Stevan berikan padanya.
(Ah, begitu rupanya. kami pesan makanan halal daging sapi dan minuman favorit di restoran ini.)
Stevan berlalu meninggalkan mereka.
"Ternyata lo bohongin gue," hardik Azlan menatap ke luar jendela.
Saat Jong Ru melirik ke arah luar, Dara sedang berjalan keluar restoran. Huh, untung gak ke sini, pikir Jong Ru seraya memijat pelipisnya.
"Wae?" tanya Azlan Sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Jong Ru menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. Mereka menikmati menu yang Azlan pesan.
"I mas-iss-eoyo. igeos-eun naegai sigdang-eseo meog-eo bon eumsig jung gajang mas-issneun eumsig-ibnida. A, sigsa sigan-edo maeil-i sigdang-eseo meog-eul geos gat-ayo," cerca Azlan.
(Lezat sekali. Ini makanan paling enak yang pernah ku makan di restoran ini. Ah, rasanya aku akan makan di restoran ini setiap hari, bahkan setiap waktu jam makan.)
"Jong Ru, nugai kapeleul soyuhago issneunji al su issnayo?" tanya Azlanmembuat Jong Ru mengedipkan mata tak percaya.
(Jong Ru, bolehkah aku tahu siapa pemilik cafe ini?)
"Mueos ttaemun-e? Sigsaleul jeulgisibsio. isanghan geol yogu hajima, Azlan."
(Untuk apa? Nikmati saja makanmu. Jangan meminta yang aneh-aneh, Azlan.)
__ADS_1
"Aish."
Azlan kembali melanjutkan sarapannya. Entah kenapa, hati Azlanbetah untuk berlama-lama di cafe itu.
Setelah selesai, Azlan membayar makanannya. Jong Ru beralasan tidak membawa dompet.
Saat Azlan membayar makanannya di kasir, tiba-tiba Dara masuk ke dalam cafe dengan busana gamis maroon, memakai helm di kepalanya dan sebuah masker yang menutupi sebagian wajahnya.
Azlan terpaku melihat wanita yang ia tak kenal. Ada sebuah desiran aneh yang ia rasakan di tubuhnya.
'Naega Dara -eul saeng-gaghan iyuneun mueos-ibnikka? Geu yeojajochado Dara-gwa maeu heubsahabnida. Ani, kiman. Hajiman jaseeseo bomyeon-i yeojaneun jogeum baega buleun,' batin Azlanmenatap wanita itu yang berjalan masuk ke cafe tanpa menghiraukan sebuah tatapan yang telah ia rindukan selama 3 tahun.
(Kenapa aku terpikir Dara ? Bahkan perempuan itu mirip sekali dengan Dara . Bukan, hanya tinggi badannya saja. Tapi, jika dilihat dari postur tubuhnya, wanita ini sedikit berisi.)
"Sir," panggil wanita yang ada di depannya. Wanita itu menyerahkan black card miliknya.
"Sorry."
Azlan mengambil black card-nya lalu kembali ke tempat duduknya di mana Jong Ru sudah menunggunya sambil menatap ke arah jendela.
"Wae geuleohge neuj-eoss eo?"
"I kapeeseo adeu nan-ui jonjaegam-eul neukkyeossda."
Jong Ru terdiam mendengar jawaban dari Azlan.
(Kenapa lama sekali?)
(Aku merasakan kehadiran Dara di cafe ini.)
(Jangan mengada-ngada, Azlan . Ini California, mana mungkin Dara di sini.)
"Naneun geugeos-eul guseonghaji anhseubnida. Jigeum nae gibun-eul malhaneun geosppun-ibnida. Geuge jalmos-ingayo?" gumam Azlan seraya menoleh ke belakang. Berharap wanita yang ia temui tadi berada di sini.
(Aku bukan mengada-ngada. Aku cuman bilang apa yang aku rasakan saat ini. Itu salah?)
"Huh, kamu di mana sayang?"
Azlan berjalan keluar cafe. Ada rasa ingin berlama-lama di sana. Entah apa yang ada di pikiran Azlan saat ini.
***
Dara melihat Jong Ru yang berdebat dengan seorang pria bertubuh tinggi. Ya, Dara sempat menyaksikan perdebatan mereka, tapi tak tahu apa yang mereka ucapkan.
Pasalnya, cafe milik Yayuk selalu ramai dikunjungi muda mudi, turis dan orang-orang penting sekali pun.
"Aneh," gumam Dara lalu kembali masuk ke dalam suatu ruangan.
Dara menuntaskan pekerjaannya dengan mencuci piring.
"Miss, sorry to bother. I'll do the dishes," ucap salah satu teman kerjanya.
(Nona, maaf jika mengganggu. Biar saya saja yang mencuci piringnya.)
"No need, Mia," tolak Dara
__ADS_1
(Tak perlu, Mia.)
"Then, we'll work on it together."
Mia menolong Dara tengah mencuci piring yang sangat banyak.
(Kalau begitu, kita akan mengerjakannya bersama-sama.)
"Earlier, there was a tall man who was watching you. When you enter the cafe wearing a helmet and mask. Maybe he's stunned to see your charm," timpal Mia yang membersihkan piring yang telah Dara bersihkan dengan sabun ke. air mengalir.
(Tadi, ada seorang pria bertubuh tinggi yang memperhatikanmu. Waktu kamu masuk ke cafe memakai helm dan masker. Mungkin dia terpanah melihat pesonamu.)
"Male? Who?" tanya Dara penasaran.
(Laki-laki? Siapa?)
"I also don't know, because earlier he paid for his food with a black card," jelas Mia.
(Aku juga tak tahu, pasalnya tadi dia membayar makanannya dengan black card.)
"Hey, ladies. Can you guys speed up the work? Lots of visitors today, ladies," ucap seorang pria seraya tertawa melihat keterkejutan antara Mia dan Dara
(Hei, nona-nona. Bisakah kalian percepat kerjanya? Banyak pengunjung hari ini, nona-nona.)
"Yes, be patient," ucap Dara.
(Iya, bersabarlah.)
Setelah selesai membersihkan piring. Lelaki itu menolong Mia dan Dara melap piring-piring tersebut dengan kain bersih yang tersedia di kabinet dapur.
Pria itu membawa piring itu kepada 5 orang chef handal di cafenya untuk menyiapkan makanan yang para pengunjung pesan.
"Dara, today you are on duty at the cashier," ucap Mia seraya melihat jam tangan gold melingkar di pergelabgan tangan kirinya.
(Adnan, hari ini kau bertugas di kasir.)
"Okay, come on help me," Dara menarik tangan Mia dan perempuan tadi yang bertugas di kasir segera ke depan untuk melayani para pengunjung.
(Baiklah, ayo bantu aku.)
Mereka bekerja paruh waktu, mulai jam 9 pagi hingga jam 6 sore. Jadi, pengunjung di cafe milik Yayuk selalu ramai.
***
Azlan berjalan mengelilingi kota California dengan berjalan kaki. Ia mengenakan setelah santai dengan kaos hitam dan celana jeans hitam, mantel yang membaluti tubuhnya dan masker yang menutupi sebagian dari wajah tampannya.
Azlan sedikit lupa mengenai jalan menuju 'cafe halal' karena letaknya sangat jauh dari hotel yang ia tempati.
"Apa di sini ada cafe halal juga?" monolognya.
"Sepertinya tidak."
Azlan menoleh ke depan-belakang, samping kiri dan samping kanan.
Dia sedikit bingung dengan kota ini karena sangat ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang.
__ADS_1