
(Appaneun ije chimchag haeyo, Azlan-ne anaeleul dolbwajuseyo. Geuneun ulileul wihae gajog-eul tteonagi wihae gikkeoi huisaenghaessseubnida. Dangsin-eul wihae, dangsingwa hamkke salgi wihae. Geuleul usgo, haengboghago, usgo, pyeon-anhage mandeusibsio. appawa eommacheoleom. Abeojiui sawiege mwonga jalmoshan gyeong-u. Dangsin-ui siseol, appaga absudanghaessseubnida. dasineun modeun geos-eul huimanghaji masibsio.)
(Papa tenang sekarang, Azlan. Kamu jaga istri kamu, ya. Dia sudah rela berkorban meninggalkan keluarganya demi kita. Demi kamu, demi hidup bersama kamu. Buat dia tertawa, bahagia, tersenyum dan nyaman di samping kamu. Sama seperti papa sama mama. Jika sampai kamu bertindak yang tidak-tidak pada menantu papa. Fasilitas kamu, papa sita. Jangan pernah berharap lagi dengan semuanya.)
Aku menganggukkan kepala mengerti.
"Ne, appa. Modeun jean-e gamsadeulibnida. Azlan-eun hangsang modeun geos-eul gieoghago hal geos-ibnida."
(Ya, pa. Terima kasih atas semua sarannya. Azlan akan selalu ingat dan laksanakan semuanya.)
"좋구나. Assalamualaikum."
(Johguna. Assalamualaikum.)
(Ya sudah. Assalamualaikum)
"Waalaikum salam."
Terlebih dahulu papa menutup telepon kami. Aku memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jas yang tergantung.
Aku berbaring di sofa seraya meletakkan tangan kiri di atas keningku lalu menutup mata. Aku bukan tidur, melainkan untuk menenangkan pikiranku.
Sekarang pukul 9.45 WIB. Rasanya aku malas untuk bekerja. Mengingat kejadian tadi pagi, membuatku sangat penasaran dengan wajah wanita itu.
Dari mana dia mengetahui alamat rumahku? Apa yang telah ia lihat di sana? Apa dia mengintai Dara ? Tapi, seingatku tirai di dapur cukuplah tebal. Sama seperti di kamar.
Karena aku menyetelnya. Jadi, tidak ada yang bisa melihat dari luar. Aku mengambil ponsel untuk menyetel lagu Bishop Briggs - Like a River.
Shut your mouth and run me like a river
Tutup mulutmu dan larilah seperti sungai
How do you fall in love?
Bagaimana kamu jatuh cinta?
Harder than a bullet could hit you
Lebih keras dari peluru bisa mengenai Anda
How do we fall apart?
Bagaimana kita berantakan?
Faster than a hair pin trigger
Lebih cepat dari pemicu pin rambut
Don’t you say, don’t you say it, don’t say
Tidakkah kamu berkata, bukankah kamu mengatakannya, jangan katakan
Don’t you say it, one breath and it’ll just break it
Apakah Anda tidak mengatakannya, satu nafas dan itu hanya akan mematahkannya
So shut your mouth and run me like a river
Jadi tutup mulutmu dan larilah seperti sungai
Shut your mouth
Tutup mulutmu
Baby, stand and deliver
Bayi, berdiri dan berikan
__ADS_1
Holy hands oh they make me a sinner
Tangan suci oh mereka membuat saya orang berdosa
Like a river
Seperti sungai
Like a river
Seperti sungai
Tales of an endless heart
Kisah hati yang tak ada habisnya
Cursed is the fool who’s willing
Terkutuklah orang bodoh yang mau
Can’t change the way we are
Tidak dapat mengubah cara kita
One kiss away from killing
Satu ciuman jauh dari pembunuhan
Don’t you say, don’t you say it
Bukankah kamu berkata, bukankah kamu mengatakannya
Don’t say, don’t you say it
Jangan katakan, tidakkah kamu mengatakannya
One breath it’ll just break it
So shut your mouth and run me like a river
Jadi tutup mulutmu dan larilah seperti sungai
Tok ... tok ... tok ....
Aku mengangkat kepalaku ketika mendengar suara ketokan pintu dari luar.
"Masuk!" teriakku lalu memperbaiki posisi dudukku.
Mira masuk ke dalam ruanganku seraya memberi map.
"Pak, kami sudah memilih peserta yang akan bapak jadikan sekretaris. Dari empat puluh lima orang, kami mengambil hanya 5 orang saja," jelas Mira.
Aku membuka berkas yang berisi biodata mereka. Ya, para staff kutugaskan untuk memilih mereka dengan seleksi yang lumayan ketat.
Mereka mencari di internet mengenai latar belakang dan beberapa nilai kerja mereka sendiri.
"Saya akan menyetujui apa yang akan kalian pilih. Kalau begitu, suruh staff Teknik Informasi untuk mengumumkan nama mereka di mading dan web."
Aku memberikan kembali berkas pada Mira. Perempuan itu mengangguk menyetujui permintaanku lalu berpamitan keluar dari ruanganku.
"Huh, lain kali gue suruh Alazka buat properti lain. Karyawan semakin banyak," ujarku seraya memijit pelipisku.
Ting!
Sebuah pesan masuk dari Ridho selaku orang yang menyiapkan apartemen untuk para karyawanku.
Ridho
__ADS_1
[Assalamualaikum, pak. Apartemen yang bapak minta hampir selesai. Kami akan memasang listrik. Jadi, minggu depan karyawan dan staff bapak bisa menggunakan apartemennya.]
Aku mulai membalas pesan untuk Ridho.
[Baiklah, berapa total semuanya?]
Send!
Ping!
Ridho
[Sekitar 2,1 miliar, pak.]
To Ridho
[Berikan nomor rekeningmu.]
Send!
Ridho mengirim nomor rekeningnya melalui ponselku, aku langsung memasukkan uang yang dia minta melalui E-Bangking.
To Ridho
[Saya sudah kirim ke rekening kamu. Pict]
Aku mengirim hasil screenshoot dari ponselku padanya.
Ping!
Ridho
[Terima kasih banyak, pak. Saya akan mengerjakannya dengan cepat.]
Aku tak membalas pesannya karena hari ini aku akan ke perusahaan orang untuk mengikat kerja sama dengan mereka.
Beberapa staff laki-laki dan karyawan perempuan, telah memanggilku untuk segera bersiap-siap.
Aku mengenakan jas merah, lalu mengambil barang-barangku dan kami mulai berjalan menggunakan mobil masing-masing.
CT Group
Aku keluar dari mobilku dengan kesan yang sangat maskulin. Semua karyawati CT Group terpanah dengan kesanku yang berwibawa.
Seorang CEO pemilik CT Group keluar bersama orang penting lainnya untuk mrnyambut kedatangan kami.
Aku dan karyawanku berjalan memasuki kantor CT Group lalu mereka memberi ucapan selamat datang padaku.
"Terima kasih," ucapku membuat karyawan lainnya terpanah denganku.
Astaga, aku menjadi tidak nyaman jika dipandang dengan kesan yang sangat aneh.
"Silahkan masuk Pak Azlan Adipratama," ucap CEO bernickname Dimas Putra.
"Terima kasih banyak, pak. Sudah repot-repot," ujarku sambil tersenyum pada beliau.
"Hahaha, saya juga begitu, pak. Malahan saya di kantor bapak diberi kalung bunga. Kayak liburan aja," tutur Pak Dimas padaku.
"Itu hanya penyambutan kecil-kecilan saja pak."
Tak lama, mereka duduk bersamaan denganku. Aku tersenyum ramah ke arah mereka.
"Saya dengar bapak sudah menikah, terpaut berapa tahun usia kalian?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, pak. Sekitar 8 tahun."
"Wah, makin hari Pak Reyndad makin segar bugar aja," celetuk perempuan yang duduk bersebrangan denganku.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapannya.
"Kami sangat senang karena bapak Azlan mau menerima undangan kami untuk datang kemari. Bapak orang yang sangat disiplin dan sangat-sangat profesional. Apalagi, bapak juga dermawan terhadap semua karyawan bapak," tutur seorang gadis yang duduk di dekatku.