Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 104.Peringatan Papa


__ADS_3

(Appaneun ije chimchag haeyo, Azlan-ne anaeleul dolbwajuseyo. Geuneun ulileul wihae gajog-eul tteonagi wihae gikkeoi huisaenghaessseubnida. Dangsin-eul wihae, dangsingwa hamkke salgi wihae. Geuleul usgo, haengboghago, usgo, pyeon-anhage mandeusibsio. appawa eommacheoleom. Abeojiui sawiege mwonga jalmoshan gyeong-u. Dangsin-ui siseol, appaga absudanghaessseubnida. dasineun modeun geos-eul huimanghaji masibsio.)


(Papa tenang sekarang, Azlan. Kamu jaga istri kamu, ya. Dia sudah rela berkorban meninggalkan keluarganya demi kita. Demi kamu, demi hidup bersama kamu. Buat dia tertawa, bahagia, tersenyum dan nyaman di samping kamu. Sama seperti papa sama mama. Jika sampai kamu bertindak yang tidak-tidak pada menantu papa. Fasilitas kamu, papa sita. Jangan pernah berharap lagi dengan semuanya.)


Aku menganggukkan kepala mengerti.


"Ne, appa. Modeun jean-e gamsadeulibnida. Azlan-eun hangsang modeun geos-eul gieoghago hal geos-ibnida."


(Ya, pa. Terima kasih atas semua sarannya. Azlan akan selalu ingat dan laksanakan semuanya.)


"좋구나. Assalamualaikum."


(Johguna. Assalamualaikum.)


(Ya sudah. Assalamualaikum)


"Waalaikum salam."


Terlebih dahulu papa menutup telepon kami. Aku memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jas yang tergantung.


Aku berbaring di sofa seraya meletakkan tangan kiri di atas keningku lalu menutup mata. Aku bukan tidur, melainkan untuk menenangkan pikiranku.


Sekarang pukul 9.45 WIB. Rasanya aku malas untuk bekerja. Mengingat kejadian tadi pagi, membuatku sangat penasaran dengan wajah wanita itu.


Dari mana dia mengetahui alamat rumahku? Apa yang telah ia lihat di sana? Apa dia mengintai Dara ? Tapi, seingatku tirai di dapur cukuplah tebal. Sama seperti di kamar.


Karena aku menyetelnya. Jadi, tidak ada yang bisa melihat dari luar. Aku mengambil ponsel untuk menyetel lagu Bishop Briggs - Like a River.


Shut your mouth and run me like a river


Tutup mulutmu dan larilah seperti sungai


How do you fall in love?


Bagaimana kamu jatuh cinta?


Harder than a bullet could hit you


Lebih keras dari peluru bisa mengenai Anda


How do we fall apart?


Bagaimana kita berantakan?


Faster than a hair pin trigger


Lebih cepat dari pemicu pin rambut


Don’t you say, don’t you say it, don’t say


Tidakkah kamu berkata, bukankah kamu mengatakannya, jangan katakan


Don’t you say it, one breath and it’ll just break it


Apakah Anda tidak mengatakannya, satu nafas dan itu hanya akan mematahkannya


So shut your mouth and run me like a river


Jadi tutup mulutmu dan larilah seperti sungai


Shut your mouth


Tutup mulutmu


Baby, stand and deliver


Bayi, berdiri dan berikan

__ADS_1


Holy hands oh they make me a sinner


Tangan suci oh mereka membuat saya orang berdosa


Like a river


Seperti sungai


Like a river


Seperti sungai


Tales of an endless heart


Kisah hati yang tak ada habisnya


Cursed is the fool who’s willing


Terkutuklah orang bodoh yang mau


Can’t change the way we are


Tidak dapat mengubah cara kita


One kiss away from killing


Satu ciuman jauh dari pembunuhan


Don’t you say, don’t you say it


Bukankah kamu berkata, bukankah kamu mengatakannya


Don’t say, don’t you say it


Jangan katakan, tidakkah kamu mengatakannya


One breath it’ll just break it


So shut your mouth and run me like a river


Jadi tutup mulutmu dan larilah seperti sungai


Tok ... tok ... tok ....


Aku mengangkat kepalaku ketika mendengar suara ketokan pintu dari luar.


"Masuk!" teriakku lalu memperbaiki posisi dudukku.


Mira masuk ke dalam ruanganku seraya memberi map.


"Pak, kami sudah memilih peserta yang akan bapak jadikan sekretaris. Dari empat puluh lima orang, kami mengambil hanya 5 orang saja," jelas Mira.


Aku membuka berkas yang berisi biodata mereka. Ya, para staff kutugaskan untuk memilih mereka dengan seleksi yang lumayan ketat.


Mereka mencari di internet mengenai latar belakang dan beberapa nilai kerja mereka sendiri.


"Saya akan menyetujui apa yang akan kalian pilih. Kalau begitu, suruh staff Teknik Informasi untuk mengumumkan nama mereka di mading dan web."


Aku memberikan kembali berkas pada Mira. Perempuan itu mengangguk menyetujui permintaanku lalu berpamitan keluar dari ruanganku.


"Huh, lain kali gue suruh Alazka buat properti lain. Karyawan semakin banyak," ujarku seraya memijit pelipisku.


Ting!


Sebuah pesan masuk dari Ridho selaku orang yang menyiapkan apartemen untuk para karyawanku.


Ridho

__ADS_1


[Assalamualaikum, pak. Apartemen yang bapak minta hampir selesai. Kami akan memasang listrik. Jadi, minggu depan karyawan dan staff bapak bisa menggunakan apartemennya.]


Aku mulai membalas pesan untuk Ridho.


[Baiklah, berapa total semuanya?]


Send!


Ping!


Ridho


[Sekitar 2,1 miliar, pak.]


To Ridho


[Berikan nomor rekeningmu.]


Send!


Ridho mengirim nomor rekeningnya melalui ponselku, aku langsung memasukkan uang yang dia minta melalui E-Bangking.


To Ridho


[Saya sudah kirim ke rekening kamu. Pict]


Aku mengirim hasil screenshoot dari ponselku padanya.


Ping!


Ridho


[Terima kasih banyak, pak. Saya akan mengerjakannya dengan cepat.]


Aku tak membalas pesannya karena hari ini aku akan ke perusahaan orang untuk mengikat kerja sama dengan mereka.


Beberapa staff laki-laki dan karyawan perempuan, telah memanggilku untuk segera bersiap-siap.


Aku mengenakan jas merah, lalu mengambil barang-barangku dan kami mulai berjalan menggunakan mobil masing-masing.


CT Group


Aku keluar dari mobilku dengan kesan yang sangat maskulin. Semua karyawati CT Group terpanah dengan kesanku yang berwibawa.


Seorang CEO pemilik CT Group keluar bersama orang penting lainnya untuk mrnyambut kedatangan kami.


Aku dan karyawanku berjalan memasuki kantor CT Group lalu mereka memberi ucapan selamat datang padaku.


"Terima kasih," ucapku membuat karyawan lainnya terpanah denganku.


Astaga, aku menjadi tidak nyaman jika dipandang dengan kesan yang sangat aneh.


"Silahkan masuk Pak Azlan Adipratama," ucap CEO bernickname Dimas Putra.


"Terima kasih banyak, pak. Sudah repot-repot," ujarku sambil tersenyum pada beliau.


"Hahaha, saya juga begitu, pak. Malahan saya di kantor bapak diberi kalung bunga. Kayak liburan aja," tutur Pak Dimas padaku.


"Itu hanya penyambutan kecil-kecilan saja pak."


Tak lama, mereka duduk bersamaan denganku. Aku tersenyum ramah ke arah mereka.


"Saya dengar bapak sudah menikah, terpaut berapa tahun usia kalian?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya, pak. Sekitar 8 tahun."


"Wah, makin hari Pak Reyndad makin segar bugar aja," celetuk perempuan yang duduk bersebrangan denganku.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapannya.


"Kami sangat senang karena bapak Azlan mau menerima undangan kami untuk datang kemari. Bapak orang yang sangat disiplin dan sangat-sangat profesional. Apalagi, bapak juga dermawan terhadap semua karyawan bapak," tutur seorang gadis yang duduk di dekatku.


__ADS_2