
Dara melepaskan tangannya di dalam genggamanku dengan kasar. Tanganku terhempas dengan kasar di udara seiring tubuhnya berjalan masuk, matanya menatapku dengan tatapan benci seolah tak ada rasa rindu dan cinta di sana.
Sementara aku hanya bisa diam mencerna ucapannya.
Don't ever see me again.
"Geulaeseo,ige dangsin-i na-ege han jis-ingayo, Dara? Wae naleul neoegeseo meol-eojige mandeulgo, neoui gyeot-eseo salajigo, naega geogieeobsneun neo jasin-ui haengbog-eulo meolliseo neoleul chyeodabogo sip-eo? Jigeum museun saeng-gag-eulhago issnayo, Dara? naneun dangsin-eul chaj-eulyeogo ae sseossgo, simjieo eomeonido dangsin-ui ileum-eul buleumyeo pohyohayeo dangsin-eun ppalli jib-eulo dol-a wassseubnida."
Aku menyeka air mata dengan kasar, kembali masuk ke dalam Cafe Halal untuk membayar makananku dan kembali ke hotel.
(Jadi, ini yang kamu lakukan padaku, Dara? Kenapa kamu ingin membuatku menjauh darimu, menghilang di sisimu, menatapmu dari kejauhan dengan kebahagiaanmu sendiri tanpa ada aku di sana? Apa yang ada dipikiranmu saat ini Dara? Dulu aku berusaha mencarimu, bahkan ibu meraung memanggil namamu agar kau cepat kembali ke rumah.)
***
Sampai di hotel, aku memasukkan bajuku ke dalam koper. Aku melihat dari cermin meja rias bahwa Jong Ru tengah selesai melakukan ritual mandinya.
"Mwohaneungeoya? Indonesialo dol-aga sinayo?" tanya Jong Ru seraya membuka lemari.
(Apa yang kau lakukan? Apa kau akan kembali ke Indonesia.)
Aku menatap punggung telanjangnya dengan tajam.
"ne, Indonesialo dol-agabnida. Na hanteseo daeu ra-eul magneungeoya?"
Tangannya yang tadi bergerak memilih baju seketika terhenti mendengar pertanyaanku.
(Iya, aku akan kembali ke Indonesia. Apa kau menutupi keberadaan Dara dariku?)
"Museun mal-iya?"
__ADS_1
(Apa maksudmu?)
Aku terkekeh mendengar pertanyaannya. Tubuhnya berbalik menatapku yang menatapnya dengan tajam dan pakaian yang kumasukkan ke dalam koper masih belum usai.
"Museun mal-iya? Ya, na hanteseo Daeu ra-eul sumgin salam ani eoss-eo? Kaelliponia-e dangsin-i issdaneun sasil-e sangdanghi nollassseubnida. Nae mollae geuleul mannan geos gatgun-yo chungbunhi myeonghwaghabnikka?!" bentakku.
(Apa maksudku? Hei, bukannya kau yang menyembunyikan keberadaan Dara dariku? Dulu aku cukup heran dengan keberadaanmu di sini, California. Ternyata, kau sudah menemuinya tanpa sepengetahuanku. Apa itu sudah cukup jelas?!)
"Ya, maldo andwae. Naega Dara-eul kkyeoanneun geol bwass-eo? Geolieseo geunyeoui son-eul jab-a? Ima na ppyam-e kiseu? Dangsin-eun geugeos-eul *** anh-assda?" Jong Ru menatapku dengan bertanya-tanya dan heran.
(Hei, jangan berbicara yang tidak-tidak. Apa kau melihat aku tengah berpelukan dengan Dara? Berpegangan tangannya di jalan? Mencium kening atau pipinya? Apa kau melihatnya?)
"Naneun dangsin-i son-eul jabgo geodgeona kiseuhaneun geos-eul bon jeog-i eobs-seubnida. Geunde cheoeum-e geu hallal kapee gwansim-i saeng-gyeoss-eul ttae wae eunpye haess-eo? oneul achim-e Dara-eul mannassneunde eoje kapeeseo geuui jonjaeleul neukkyeossdeon geos gat-ayo. Sasil jeoneun samusil chulseog-e daehae mun-uihagonhaessneunde jig-wondeul-i han dal neomge kaelliponia-e galagohaessseubnida. Geu gyeolgwa geuleul mannaleo gassda. Nae dwieseo ileoneungeoya na hanteseo gajyeo gass-eo? Ulineun yeojeonhi guggawa jong-gyoe beobjeog-eulo gusogdoeeo issseubnida," tukasku.
(Aku memang tak pernah melihat kalian berjalan sambil berpegangan tangan ataupun berciuman. Tapi, pertama kali aku tertarik dengan Cafe Halal itu, kenapa kau malah menutupinya? Aku menemui Dara tadi pagi, benar dugaanku bahwa kemaren aku merasakan kehadirannya di cafe itu. Bahkan, dulu aku menanyai kehadiranmu di kantor dan karyawanmu bilang kau ke California untuk satu bulan lebih. Ternyata, kau pergi untuk menemuinya. Kau melakukan ini di belakangku, teman. Apa kau mengambilnya dariku? Kami masih terikat hubungan dengan resmi oleh negara dan agama.)
"Mwo? aAdeu nan-i dangsin-ege heeojilagohaji anh-assnayo? Geunyang bad-adeul-iji geulae? Eojesbam dangsin-i hwanan geolbogo jeongmal nollassnayo? ye, naneun il-eonan modeun geos-eul algo issseubnida. Bioneun nal bodo-e anj-aissneun yeojaleul bwassgi ttaemun-e yeop-e gabang-iiss-eossseubnida. Naneun geuleul jib-eulo delyeowa eumsiggwa swil su-issneun jangsoleul jueossgo, geuege os, hyudaepon, dongwa myeoch gaji pilsupumdo sajueossseubnida. Naega dangsin-ui munjeleul non-uihaess-eul ttae, Dara-eun dangsin-ui ileum-eul deudgo sipji anh-assseubnida. Simjieo geuneun dangsin-ui ileumgwa geuege neomu meolli gan dangsin-ui taedo-e hyeom-ogam-eul neukkyeossseubnida."
(Apa? Buaknkah Dara mengajakmu berpisah? Kenapa kau tidak menerimanya saja? Apa dia sangat terkejut melihatmu marah kemaren malam? Ya, aku mengetahui semua kejadiannya. Karena aku melihat wanitamu duduk di trotoar dengan keadaan hari hujan dan di samping ada sebuah koper miliknya. Aku membawanya ke rumah dan memberikan makanan dan tempat istirahat, aku juga membelikannya baju, ponsel, uang dan beberapa kebutuhannya. Kau tahu, waktu aku membahas masalahmu, Dara tak ingin mendengar namamu bahkan ia merasa muak dengan namamu dan sifatmu yang sudah keterlaluan terhadapnya.)
"Joh-ayo, dangsin-ui geumji doen gwangyeleul dasineun banghaehaji anhgessseubnida. Naega Dara-eul bonae julge. Geuga jeongmallo dangsin-eul joh-ahago dangsin-ui salang-eul bad-a deul-indamyeon, dangsin-ui gyeolhon-i god seongsa doel su issdolog ganeunghan han ppalli ihon seolyuleul bonae deuligessseubnida. Igeos-i dangsin-i wonhaneun geos-i anibnikka?"
(Baiklah, aku tidak akan mengganggu hubungan terlarang kalian lagi. Aku akan melepaskan Dara untukmu. Jika dia benar-benar menyukaimu dan menerima cintamu, aku akan mengirimkan surat cerai secepatnya agar pernikahan kalian segera diselenggarakan. Bukankah ini yang kau mau?)
Aku memasukkan kembali pakaianku yang berada di atas ranjang dan keluar dari kamar. Sebelum aku keluar dari kamar, aku memberikan beberapa puluh lembar uang pada Jong Ru untuk membayar semuanya.
Aku menenteng koper lalu menunggu taksi di depan lobi.
Tin!
__ADS_1
Langkahku berjalan menaiki taksi tersebut. Aku memberikan ponsel untuk menuju ke hotel berbintang yang berada di tengah-tengah kota California kepada supir taksi.
"Had reached."
Aku memberikan uang yang ia minta lalu menenteng koperku masuk ke dalam The Ritz-Carlton.
"Can I help you sir?"
"Yes, I'd like to stay a few weeks at this hotel."
"Alright, then please complete this registration. You can fill it on the table there."
Perempuan itu menunjuk beberapa meja yang berjejer rapi di samping meja resepsionis. Aku mengambil kertas dan bolpoin yang ia berikan lalu mengisinya di salah satu meja.
(Ada yang bisa saya bantu tuan?)
(Ya, saya mau menginap beberapa minggu di hotel ini.)
(Baiklah, kalau begitu silahkan isi registrasi ini. Anda bisa mengisinya di meja sana.)
Setelah selesai, aku memberikan pada kedua perempuan itu. Mereka mengisinya ke layar monitor komputer. Aku kembali duduk sambil memainkan ponsel, menunggu panggilan namaku siap untuk di sign.
"Mr Azlan!" panggil mereka. Aku berdiri dari tempat duduk dan berjalan ke arah meja tersebut.
"Yes."
"You can use the 15-floor room right in room 201."
(Tuan Azlan!)
__ADS_1
(Ya.)
(Anda bisa memakai kamar berlantai 15 tepat di kamar 201.)