Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 33. Cemburu


__ADS_3

"Mandi," ucapku melihat Dara yang sedang meregangkan kepalanya di bawah matahari pagi yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


"Kakak ini selalu-"


"Saya hitung sampai tiga, kalau kamu gak mau mandi, saya gendong dan memandikanmu. Satu, du--"


Brak!


Aku terkekeh begitu Dara langsung berlari masuk ke dalam kamar dan menutup pintu belakang dengan kasar.


"Sekalian aja pintu kamar mandinya lepas, biar saya bisa melihatmu!" teriakku masuk ke dalam rumah.


"Aku akan mencekik mu, Pak Azlan !" bentak Dara dari dalam kamar dan lagi-lagi aku dibuat tertawa terbahak-bahak.


Sementara aku menyiapkan sarapan pagi karena bibi tidak masuk karena sedang berhalangan sakit. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain memberinya waktu sampai tubuhnya benar-benar pulih.


****


Aku sudah sibuk di dapur sejak lima belas menit lalu, menyuruh bawahanku untuk membelikan bahan makanan seperti daging, susu, telur dan sayur. Aku tak lupa membelikan susu untuk Dara dan vitamin yang hampir habis.


"Kak ...."


Aku menoleh begitu mendengar panggilan lembut dari Dara , rambut ikalnya basah dan rapi, tapi dua kancing bajunya terbuka. Lagi-lagi aku diuji pagi ini.


"Perbaiki kancing bajumu, sebelum aku yang memperbaikinya," ucapku yang fokus mengaduk masakan di teflon.


Dia gelagapam dan buru-buru mengancingkan bajunya. Aku melihat ekspresi dan raut wajahnya di balik kaca microwave.


Aku menuangkan masakan di dalam mangkuk dan meletakkan di atas meja makan.


"Kakak dapat dari mana semua ini?"


"Saya membelinya," jawabku enteng.


Dara menatapku melongo, tapi kuhiraukan dengan duduk di kursi dan memberikannya segelas air putih hangat dan segelas susu coklatnya.


***


Setelah selesai sarapan , aku dan Dara membersihkan rumah. Walau ini bukan tugasku, tapi aku membantunya walau sedikit. Perlahan demi perlahan peluh dari pelipis keluar dari tubuhku, rasanya letih sekali.


Dara membersihkan lantai dengan vacum, sementara aku mengepelnya. Kami membersihkan seluruh rumah sampai ke rooftop. Ah, rasanya aku benar-benar menyesal membuat rumah sebesar ini.


"Ah, capek." Aku menjatuhkan diri di atas kursi dan mengipaskan diri menggunakan tanganku.


Tet!


Dara menatapku saat mendengar tombol rumah berbunyi. Apa ada tamu? Siapa yang datang tanpa memberi kabar padaku?

__ADS_1


Dara berjalan masuk ke dalam rumah sementara aku mengikutinya dari belakang dan berhenti di tangga terakhir.


Ceklek.


"Siapa?" tanya Dara


"Saya Amel."


Aku melangkahkan kaki menatap tamu tersebut dan ternyata ia adalah Tante Amel. Penampilannya sedikit terbuka dengan pakaian ketat dan dress mini di bawah lutut. Berbeda saat dulu aku masih lajang. Dia memang tak memakai hijab, tapi dia lebih tertutup dari sekarang.


"Apa kabar tan?" tanyaku berjalan menghampirinya.


"Baik, boleh saya masuk?"


Kami menganggukkan kepala dan merangkul Adnan untuk menuntunnya duduk di sofa.


"Wah, kamu dapat perempuan ini dari mana?" tanya Tante Amel pada Dara .


Apa maksud dari wanita ini? Pikirku menatapnya heran dan merubah ekspresiku seperti biasa-biasa saja.


"Saya melihatnya dan jatuh cinta pada pandang pertama. Jadi, saya langsung menikahinya karena dia perempuan baik," jawabku seraya menggenggam tangan Dara untuk memanasinya.


"Ah, begitu kah? Kamu 'kan tampan dan mapan. Apa salahnya mencari yang sederajat."


Kali ini aku benar-benar emosi mendengar ucapannya yang merendahkan gadisku.


Tante Amel terkejut dan detik berikutnya ia berpamitan pulang karena ada urusan mendadak. Dara menatapku tajam.


"Apa?"


"Apa?" tanyaku balik.


"Kakak kenapa gitu banget, sih jawabnya?"


"Seharusnya seperti itu." Aku mengunci pintu rumah dan berjalan menuju ruang televisi agar meredakan mood dan emosiku yang di ujung tanduk.


Dara memberiku segelas air dingin dan aku meneguknya hingga tandas seraya mengelap ujung bibirku yang mengeluarkan sisa air dingin itu.


"Dia siapa?"


Aku menatapnya lama membuat gadis itu takut dan melepas tatapanku.


"Bagian dari keluarga mama. Dulu dia menyukai saya, tapi saya menganggapnya sebagai bibi." Aku menjawab pertanyaannya membiat Adnan terperangah. Mungkin, gadis ini terkejut mendengar cerita singkat dariku.


"Aku menganggapnya sebagai keluargaku," ucapku dan menatap Dara yang menundukkan kepalanya.


Aku bisa bernapas dengan lega kali ini, kurasa tak ada lagi yang harus kututupi pada Dara

__ADS_1


Keesokan harinya


Pagi ini, aku kembali bekerja karena sudah cuti beberapa minggu dan sekarang aku akan disibukkan dengan urusan kantor dengan tugas dan berkas yang menumpuk juga rapat.


Aku pulang dengan keadaan yang berantakan dan duduk di sofa tanpa melepaskan sepatu. Ah, rasanya benar-benar penat dan melelahkan sekali.


"Sudah pulang?"


Aku menoleh ke arah sumber suara yang sangat kurindukan. Beban yang tadinya kupikul sendiri, perlahan mulai mengurai. Amarah yang tadinya meluap seakan disiram dingin nan lembut oleh gadis itu.


"Apa kamu menyukai pria itu?" tanyaku karena aku tadi melihat Dara sedang berduaan dengan seorang pria di mall. Dara memang sudah meminta izin padaku, tapi Alazka membawaku makan siang di mall dan melihatnya dari kejauhan.


"Siapa? Fero?" tanyanya dengan nada polos. Tak tahu saja bila aku menggeram tak suka saat mendengar nama pria bre***ek itu.


Aku menurunkan kedua kaki di lantai dan beralih menatap Dara dalam-dalam dengan tatapan datar.


"Jangan sebut nama pria itu di depanku."


Dara hanya diam tak bergeming sambil meremas ujung bajunya dan menggigit bibir bawahnya.


Wajahnya semakin memerah dan gadis itu kembali menggigit bibir bawahnya membuat bibir itu menjadi pelampiasan rasa bersalah.


Aku menyentuh bibir bagian bawahnya menggunakan ibu jari membuat gadis itu refleks melepaskan gigitan dari bibirnya sendiri.


Aku mengusap bibir bawahnya dengan perlahan, tempo yang teramat lembut. Bibirnya sudah sangat memerah karena ia menggigitnya sangat kuat.


"Jangan digigit, kamu bisa melukainya. Ini milikku," ucapku.


Sepertinya tidak ada masalah sama sekali dengan perkataan yang keluar dari bibirku. Tapi,Dara terlihat seperti ingin pingsan.


Aku berjalan ke kamar meninggalkannya yang masih mematung. Tubuhku sudah lengket oleh keringat dan harus dibersihkan.


Malam harinya


Malam ini, kulihat Dara sedang memasak bersama Bi Ima di dapur. Sementara aku mengerjakan file yang masih tersimpan di flash disk milikku.


Ceklek.


Aku hanya diam mendengar suara pintu kamar terbuka tanpa mengalihkan pandanganku pada monitor komputer yang sedang menyala.


"Makan malam dulu."


"Nanti saja." Aku berucap tanpa menoleh dan tak mendengar sura itu lagi.


Tak lama, aku mendengar suara langkah mendekat ke arahku dan sebuah nampan dengan segelas susu dan sepiring makan malam dengan menu ayam bumbu dan semangkuk tumis kangkung.


Aku tersenyum menatap Dara dan memeluk pinggangnya. Aku bisa merasakan bahwa tubuhnya seketika kaku.

__ADS_1


"Apa aku menyakitimu?" tanyaku menatapnya yang sedang terkejut. Ekspresinya sangat lucu sehingga membuatku terkekeh pelan menatapnya.


__ADS_2