Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 61.Dilema


__ADS_3

Aku menarik koperku seraya membawa kunci kamar. Mereka juga memberikan sebuah kartu untuk membuka pintu jika kunci kamar hilang.


Ceklek!


Aku menggerakkan handle pintu dan mendorongnya dengan waktu yang bersamaan.


Sangat letih hati dan pikiran. Ini yang kurasakan saat ini. Semuanya terasa hambar.


Aku sangat ingin memeluk tubuh mungil itu, tapi aku teringat akan seorang perempuan kecil di gendongan Dara tadi pagi.


Siapa dia?


Apa dia anaknya Dara?


Bukan, Dara tidak mungkin menikah dengan Jong Ru ataupun pria di California ini.


Tok ... tok ... tok ...


Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka dari luar. Seorang wanita berpakaian seragam khas karyawan di hotel ini.


"Excuse me sir. I brought towels and some of your necessities. Do you need food to fill your stomach?" tanyanya seraya berjalan masuk ke dalam kamar dan meletakkan beberapa helai handuk di atas nakas.


(Permisi tuan. Saya membawakan handuk dan beberapa keperluan Anda. Apakah Anda membutuhkan makanan untuk mengisi perut?)


Aku menganggukkan kepala.


"Yes, I want some halal food and a glass of avocado juice. Take me with no time." Aku berucap padanya.


(Ya, aku ingin makanan halal dan segelas jus alpukat. Bawakan aku dengan waktu yang singkat.)


"I'll bring it to you."


(Saya akan membawakan untuk Anda.)


Perempuan itu pergi sebelum ia menutup pintu kamar dengan rapat.


Aku mengambil semua handuk tersebut membawanya ke dalam kamar mandi.


Seusai mandi, aku memakai body lotion ke tubuhku lalu memakai baju yang oanjang lengan.


Aku duduk di bibir ranjang seraya melihat pemandangan panorama Los Angeles, California yang spektakuler.


Sangat memanjakan mata, apalagi jika ada Dara di sini. Aku akan memeluknya dengan erat.


Tok ... tok ... tok ...


Ceklek!


"Sir, this is your order."


"Put it on the table."


Tak lama, terdengar suara pintu tertutup. Aku menghela napas panjang, dan memijit pelipis ku yang terasa pening.

__ADS_1


'Dara, jigeum-eun gwaenchanh-ayo. maebeon dangsin-i pil-yohabnida. Du beonjjae gihoeleul jwo. Naega da gochil ge. ulineun geu gaggag-ui silsuleul balo jab-eul geos-ibnida. Sasil, naneun dangsin-ege na-e daehan modeun geos-eul sumgiji anh-assseubnida. Wae dangsin-ui ma-eum-i geuleohge himdeul-eoyo? naneun-i modeun gotong-eul gyeondil su eobs-seubnida. Igeos-i dangsin-ui neukkim-ibnikka? Dangsin-i jib-eul tteonal ttaedo naneun haengboghaji anhseubnida. Bi Minado dangsin-i geuliwoseo apayo. Nappunman anila manh-eun salamdeul-i dangsin-ui toesa-e yeonghyang-eul michyeossseubnida.' Aku membatin.


(aku tidak baik-baik sekarang. Aku sangat membutuhkanmu di setiap waktuku. Berikan aku kesempatan kedua, aku akan memperbaiki semuanya. Kita, kita akan memperbaiki di setiap kesalahan itu. Bahkan, aku tidak menutupi semua tentangku padamu. Kenapa hatimu sangat keras sekali, sayang? Aku tak kuat menerima semua penderitaan ini. Apakah ini dulu yang kau rasakan? Aku bahkan tak merasa bahagia bila kau pergi dari rumah. Bi Minah sekarang sudah sakit-sakitan karena dia juga merindukanmu. Banyak orang yang berdampak dengan kepergianmu, bukan hanya aku.)


Air mataku kembali luruh. Aku sangat cengeng semenjak kepergian Adnan. Bahkan, aku sempat berbicara dengannya walau tak terkesan manis.


Aku teringat bagaimana cara dia menatapku, tak ada cinta di sana. Tapi, aku merasakan rindunya yang mendalam.


Aku bisa merasakan ada guratan terkejut dan pilu di sana. Aku sangat ingin merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku dan menengkannya.


Itu ilusi dan bukan kenyataan.


Untuk saat ini dan kedepannya, jika tak ada perubahan dari Adnan.


***


Pagi ini, aku kembali berjalan keluar dari hotel. Tapi, terlebih dahulu aku sarapan di restoran yang tersedia di hotel ini.


WP24 Restaurant and Lounge di Ritz Carlton LA menawarkan interpretasi modern koki Wolfgang Puck mengenai masakan tradisional Cina. Juga dapat menikmati pemandangan


Ritz-Carlton Los Angeles menawarkan akses mudah ke kawasan bisnis, keuangan, hukum, budaya, dan mode di Los Angeles. The Ritz-Carlton Los Angeles berjarak kurang dari 3,2 km dari Disney Concert Hall dan 3,2 km dari Dodger Stadium.


Aku menaiki taksi yang menunggu samping gedung hotel Ritz-Carlton.


"Take me to the address Cafe Halal."


(Antarkan saya ke alamat Cafe Halal.)


Supir taksi itu menancap gas setelah aku berucap ke mana yang aku tuju.


***


17 menit kemudian, aku melihat mobil Jong Ru berhenti tepat di depan cafe tersebut.


Ia berjalan masuk dengan setelan kemeja dan mantel yang melekat di tubuh jangkungnya.


Aku memakai kacamata khusus, lalu mengklik bagian belakang yang terletak di telinga. Alat perekam yang sangat handal, aku membelinya sudah lama karena hanya ingin memilikinya saja.


Klik!


Aku mematikan rekaman tersebut.


"I'll have a vanilla latte," ucapku mengangkat tangan pada seorang waiters.


Tak lama, seorang wanita datang membawakan minumanku dan pergi untuk melanjutkan tugasnya.


Mataku terus memantau pintu keluar dari Cafe Halal itu. Jujur saja, aku sangat ingin memukul wajah Jong Ru hingga memar tak terbentuk.


Tapi, semua emosi dan egois ini kutahan dahulu. Ada waktunya semuanya bisa dituntaskan dan dikeluarkan dengan cara yang sangat brutal jika ia berusaha membohongiku.


Aku menelpon seseorang yang kubayar untuk memata-matai mobil Jong Ru. Aku membidik mobil beserta nomor plat mobilnya menggunakan kamera ponsel lalu mengirim pada orang yang sudah kubayar.


Ping!

__ADS_1


[All right, I'll be there now so as not to lose track.]


Pesan darinya masuk ke dalam ponselku.


(Baiklah, saya akan ke sana sekarang agar tak kehilangan jejak.)


23 menit kemudian, aku melihat mobil sedan berwarna hitam yang berada tepat di depan mobil milik Jong Ru.


Ting!


[My car is black, sir.]


[Yes, I saw it. Do your job clean. Do not leave traces or dirty stains. If you don't, you won't get paid more than me.] Aku membalas pesan darinya.


[Fine, I understand sir.]


(Mobilku berwarna hitam, tuan.)


(Iya, saya melihatnya. Lakukan tugasmu dengan bersih. Jangan tinggalkan jejak ataupun noda kotor. Jika tidak, kau tidak akan mendapatkan bayaran lebih dariku.)


(Baik, saya mengerti tuan.)


Aku meletakkan ponselku di meja lalu kembali menatap ke arah Cafe Halal. Tak berselang lama, Jong Ru dan Adnan keluar dari cafe.


Aku terburu-buru berjalan menuju kasir untuk membayar pesananku walau tidak tersentuh.


Aku memakai topi, mantel dan masker hitam. Berjalan masuk ke dalam mobil sedan milik orang suruhanku.


"Are you coming too sir?" tanya pria bertubuh besar.


"Yes, we will follow that car."


"Okay."


Marx menjalankan mobilnya ketika mobil Jong Ru menjauh dari Cafe Halal itu. Kami mengikuti dari belakang walau ada sebuah mobil yang mwmberi jarak antara mobil yang kutumpangi dengan mobil Jong Ru.


Mereka berjalan menuju taman kanak-kanak.


"What are they here for?" gumamku tanpa membuka kaca jendela mobil.


Terlihat Adnan berpelukan dengan gadis kecil yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Ia berlari ke arah Adnan seraya merentangkan kedua tangannya.


Mereka berpelukan dan Jong Ru mengusap kepala gadis tersebut dengan gemas.


Senyuman Adnan merekah, ia tertawa lepas ketika mendengar ocehan dari seorang gadis mungil itu yang berjalan ke arah mobil.


Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas Adnan maupun Jong Ru tertawa lepas mendengarnya.


Adnan tak seperti ini sebelum aku mengenalnya. Dia bahkan menutup hatinya untukku dan membuka hatinya untuk sepupu jauhku.


Pintu mobil tertutup sempurna. Mobil iru berjalan menuju entah ke mana. Kami mengikuti mobil itu dari belakamg walau jaraknya lumayan jauh bahkan kami hampir kehilangan jejak.


Dia ke taman,' batinku.

__ADS_1


Mobil itu berhenti ke sebuah taman yang dipadati kalangan usia. Mulai dari anak-anak dan yang sudah renta.


__ADS_2