
PoV Azlan
Aku menjemput Dara tepat pada pukul 16.00 WIB. Tapi, sebelum itu aku mencicipii kue buatan bunda Dara. Aku memberi masukan agar kue buatannya di jual online agar ada pelanggan dan dia mendapatkan keuntungan yang besar.
Mereka setuju dengan ucapan ku dan aku membawa Dara pulang ke rumah. Sampai di rumah, Dara juga sangat ingin membuat dessert coklat atau dessert lainnya. Aku tak melarangnya dan membiarkannya untuk berinovasi sendiri.
Dara duduk di ranjang sambil menatap layar pipih tersebut sementara aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Dara menggunakan kamar mandi tersebut. Kami melaksanakan rutinitas salat magrib dan isya lalu keluar dari kamar berpapasan dengan Bi Ima berpamitan pulang.
"Wah, Bi Ima masak banyak hari ini," ucapku memandang beberapa masakan Bi Ima yang tergeletak manis di atas meja makan.
Aku dan Dara duduk dan menikmati makan malam hari ini dengan menu rendang ayam, opor ayam, gulai ayam dan ayam kecap.
Malam Hari
Setelah selesai makan, aku dan Dara duduk di sofa ruang televisi untuk melihat acara hari ini. Dara tidak menatap layar televisi, tapi malah menatap layar ponselnya yang menampilkan video tutorial cara buat pudding buah dan dessert coklat.
"Sayang, kamu 'kan bisa buat pudding buah. Kenapa harus diliat lagi tutorialnya?"
Dara mem-pause video tersebut lalu menatap ke arahku.
"Biar lebih ada bahan, kak. Masa itu-itu aja resepnya." Dara menjawab
pertanyaan ku seraya menekan tombol 'pause' dan kembali menatap layar ponselnya.
Aku hanya ber oh ria sambil menatap layar televisi hingga pukul sembilan malam tiba.
***
Aku dan Dara berbaring di ranjang seraya menatap wajahnya. Entahlah, sekarang wajah cantik itu seperti candu bagiku jika tidak dilihat sebelum tidur, aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak.
***
Saat aku sampai ke kantor, papa sudah menunggu kedatanganku di lobi.
"Kenapa gak masuk aja, pa?" tanyaku seraya membuka pintu ruangan ku dan kami duduk di sofa.
"Papa minta tolong sama kamu mengenai bisnis papa di Korea. Ada kendala yang tidak bisa papa selesaikan sendiri."
Aku mengerutkan kening, untuk pertama kalinya papa minta tolong padaku dan menyuruh ke sana. Aku mulai bimbang, bagaimana bisa aku meninggalkan istriku--Dara di Indonesia. Sementara kami sudah membuka hati dan merasakan benih-benih cinta mulai tumbuh di hatiku dan hati Dara.
"Tapi, Dara gimana?"
__ADS_1
"Kamu bawa dong. Kalau masalah nua sudah selesai, kalian bisa sekalian honeymoon di sana. Dara 'kan belum pernah ke kampung halamanmu di Seoul," timpal papa.
'Ada benarnya juga sih,' batinku.
"Oke." Aku tersenyum menatap papa lalu ia keluar dari ruangan ku untuk segera ke Korea tanpa menginap di sini. Mungkin ia meninggalkan beberapa pekerjaannya untuk hari ini.
***
4 jam aku berkutat di depan layar komputer, mataku terasa lelah dan tengkukku juga terasa sakit.
"Ah," ringis ku seraya menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri.
Sekarang sudah pukul 17.00 WIB, pasti staff dan karyawan ku sudah pada pulang. Aku segera bersiap-siap dan melangkahkan kaki menuju mobil dan segera pulang ke rumah.
***
Tok ... tok ... tok ....
Aku mengetuk pintu dan melihat Dara yang mengenakan baju tidur pororo yang pendek lengan.
Cantik.
"Ayo, masuk. Bi Ima sama aku tadi buat semur ayam buat kakak."
PoV Author
Saat makan malam, Azlan mulai membicarakan perihal Seok datang ke Indonesia tadi pagi. Seok menyuruh Azlan untuk segera ke Korea karena bisnis Seok sudah di ujung tanduk.
Dara yang mendengar berita tersebut hanya diam tak berkutik, Azlan yang mengetahui kegelisahan sang istri langsung menyentuh punggung tangan mungil miliknya sambil tersenyum manis.
"Kamu juga ikut ke sana, sayang. Papa yang nyuruh?"
Seketika wajah Adnan berbinar-binar.
"Beneran?" tanyanya antusias. Azlan menganggukkan kepala seraya menyuapi dirinya yang tinggal beberapa suap lagi makan malam itu akan habis.
****
Selesai makan malam, Azlan mendapat notifikasi bahwa Seok sudah membeli tiket keberangkatan mereka menuju Korea Selatan.
"Sayang, kita besok pagi berangkat pukul 10 pagi."
"Ha?"
__ADS_1
Azlan menatap Dara yang terperangah mendengar pertanyaannya. Gadis itu segera berlari menuju lemari lalu mengeluarkan kedua koper dan memasukkan baju-baju mereka.
"Jangan gegabah dong sayang. Kita punya banyak waktu buat packing-packing," jawab Azlan menghentikan kegiatan Dara.
"Kalau mau bawa dua koper, usahakan jangan berlebihan bawa bajunya. Kita juga akan beli perlengkapan di sana."
Dara menganggukkan kepala tanda mengerti lalu Azlan meletakkan kedua koper tersebut di samping almari. Mereka membaringkan tubuh untuk menyiapkan tenaga untuk hari esok.
****
Pukul 07.00 WIB, Dara sudah menyiapkan perlengkapannya dengan sang suami. Pergerakannya terhenti ketika mendengar suara ketukkan pintu dari luar.
"Eh, bibi. Maaf, bi, kami sekarang harus ke Korea karena ada kendala di bisnis papa. Ini ada uang untuk pegangan bibi." Dara memberikan sebuah amplop berwarna coklat yang berisi uang senilai 20 juta dari Azlan.
"Ini kebanyakan, non."
"Gak apa-apa, bi. Anggap aja ini rezeki bibi."
Bi Ima tersenyum dan memeluk majikannya dengan haru. Ia pulang ke rumahnya kembali dan Dara menutup pintu rumah.
"Bi Ima ke sini?" tanya Azlan yang sedang berdiri di depan cermin untuk menata rambutnya dengan gel.
"Iya, aku udah kasih uangnya." Dara duduk di bibir ranjang sambil mengunci koper mereka menggunakan gembok kecil yang sudah di beri pin.
Azlan memesan taksi online sebelum mereka berangkat. Azlan juga sudah menyiapkan sweeter dan beberapa baju yang bisa menghangatkan tubuh mereka saat di Korea dengan layanan VVIP.
"Ayo." Azlan membawa kedua koper tersebut sementara Dara membawa tas kecil yang cantik karena di sana adalah peralatannya dan Azlan.
Di luar, taksi online tersebut sudah menunggu kedatangan mereka. Azlan memasukkan kedua koper mereka ke dalam bagasi di bantu sang sopir taksi online dan mereka langsung menuju bandara.
Di Bandara Soekarno-Hatta
POV Azlan
Sampai di bandara, Aku segera memperlihatkan tiket penerbangan secara online dan mereka menunggu penerbangan ke Korea menggunakan pesawat Cathy Pasific. Sebelum sampai ke Busan, Aku dan Dara menginap di bandara Hongkong semalam.
Aku melihat ke arah Dara yang memejamkan matanya kuat. Tanganku menyentuh tangannya membuat manik brownies hazel tersebut terbuka menatapku.
"Jangan takut, waktu tempuh kita mungkin 10 jam.
"10 jam?" Dara mengulai ucapanku. Mungkin ini adalah pertama kali untuknya.
"Kamu bisa liat pemandangan di sana." Aku menunjuk ke arah langit yang biru dan cerah. Tak lama, ada sebuah peringatan bahwa pesata akan take off.
__ADS_1
Aku menggenggam tangan Dara yang sudah mengeluarkan keringat dinginnya. Wajar, karena ini pertama kali baginya. Saat pesawat lepas landas, Dara segera memelukku dengan erat membuatku terkejut setengah mati merasakan pelukannya yang sangat kasar itu. Tak lama, setelah pesawat sudah di atas, ia melepaskan pelukannya.