
Pagi hari, Dara memberikan satu selimut untuk Bi Ima yang sedang bekerja di dapur. Beliau mengucapkan terima kasih banyak dan menerima pemberian Dara.
Mereka mulai menyiapkan sarapan bersama, Azlan yang melihat sang istri sedang berkutat di dapur, tersenyum manis melihat pemandangan tersebut. Selain manis, ia juga rajin.
Selesai sarapan, Azlan menjalankan mobilnya menuju kantor. Mereka menyapa Azlan mood sambil menundukkan kepalanya.
Di kantor Azlan
Alazka yang melihat Azlan segera berlari mengerjarnya yang sudah menduduki meja kerja.
"Selamat pagi," sapa Alazka seraya masuk ke dalam ruangannya.
"Pagi," balas Azlan sambil membuka berkas yang sudah tergeletak di meja kerjanya.
"Semua karyawan sangat bahagia sekarang. Ternyata properti itu sangat laris dan terjual dengan harga mahal, ya," ucap Alazka mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Itu juga berkat Anda, Tuan Alazka," kata Azlan. Alazka yang mendengarnya terkekeh pelan, bisa-bisanya Azlan membuat lelucon pagi ini.
"Mengenai bonus gajian itu, apa tidak berlebihan?"
Azlan menghentikan jarinya menari-nari di atas keyboard komputer lalu beralih menatap Alazka yang dari tadi menunggu jawaban darinya.
"Kalian pantas menerimanya, termasuk kau. Terima kasih."
Alazka tertegun mendengar ucapan dari Azlan.
"Saya juga berterima kasih pada Anda, Tuan Azlan. Karena sudah memberikan saya pekerjaan dengan jabatan yang tinggi."
Azlan tersenyum mendengarnya. Alazka berpamitan untuk mengerjakan tugas yang diberikan Azlan padanya. Apalagi kalau bukan mendesain properti model terbaru.
Azlan juga mengirim file properti rapat kemaren pada Seok beserta dengan harga. Agar mereka juga membuat desain properti tersebut.
Tok ... tok ... tok ...
Ceklek.
"Permisi, pak. Ada seorang wanita yang mau melamar pekerjaan," ucap Qila, selaku admin di kantornya.
"Bawa dia masuk."
Wanita itu mengangguk patuh lalu mempersilahkan calon pekerja wanita itu masuk ke dalam ruangannya.
Ia mengalihkan atensinya pada komputer ke wanita yang berjalan menju meja kerjanya dengan setelan baju kemeja putih yang terdapat pita di tengah-tengahnya dan rok hitam 5 senti di atas lututnya.
"Saya mau melamar kerja di kantor bapak." Ia memberikan map yang berisi dengan data-datanya.
Ia baru saja menyelesaikan sarjana 1.
Azlan mengecek lebih detail data-data tersebut. Nilainya lumayan juga, B+.
"Saya akan meletakkan kamu di bagian Akunting, bersama dengan karyawan lainnya. Mereka ada 7 orang, jadi kalian bisa membagi tugas masing-masing. Jangan main-main di bagian keuangan ini, jika sampai di antara kalian yang berani menyeludupkan atau berbohong pada saya. Persiapkan mental kalian."
Michelle Angel, nama gadis yang melamar pekerjaan di kantor Azlan itu menganggukkan kepala mengerti.
"Kamu boleh bekerja sekarang. Nama panggilan kamu siapa?" tanya Azlan.
"Angel, bapak bisa manggil saya Angel."
"Baik."
Angel berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya berjalan keluar ruangan. Tapi, baru selangkah, Azlan kembali memanggil namanya sehingga ia berbalik badan menatap Azlan.
"Mulai besok, jangan pakai rok ketat dan pendek seperti itu. Batasnya sampai bawah lutut dan untuk make up kamu, jangan terlalu menor."
Deg.
__ADS_1
Baru saja ia mengagumi ketampanan Azlan dengan sengaja ia menjatuhkan harga dirinya.
"Baik, pak." Ia membalikkan tubuhnya berjalan keluar rungan sambil mencebikkan bibirnya kesal.
"Kamu anak baru, ya?" tanya Mira melihat keberadaan Angel yang baru saja keluar dari ruangan CEO itu.
"Iya."
"Diletakkan di bagian mana sama Pak Azlan ?"
'Oh, jadi namanya Azlan,' batin Angel.
"Keuangan."
Mata Mira langsung berbinar.
"Wah, kita sama. Ayo, ikutlah denganku. Akan kutunjukkan bagaimana bekerja di sini." Mira menarik tangan Angel menuju ruangannya.
Sementara Azlan menyuruh Alazka agar segera ke ruangannya.
"Ada apa?" tanya Alazka yang melihat Azlan tengah berdiri menghadap jendela.
"Pindahkan ruanganku ke lantai 11, persiapkan ruangan untukku."
"Baiklah."
Alazka tidak bisa menolak tawaran Azlan. Ia segera menyuruh anak buahnya untuk merombak lantai 11 yang tadinya digunakan untuk ruang rapat, kini berubah menjadi ruang CEO.
Pukul 16.00 WIB, Azlan bersiap-siap untuk pulang. Tapi, ia tak sengaja menabrak Angel yang tengah membawa setumpuk berkas di tangannya dan sekarang sudah berserakan di lantai.
Azlan segera berjongkok untuk memungut berkas tersebut dan memberikan pada Angel.
"Makasih, pak."
"Kalo dilihat-lihat, dia tampan juga. Mirip orang Korea, lebih tampan dari Oppa Korea. Garis wajahnya bak dewa," gumam Angel menatap punggung Azlan dan melihat gaya berjalan CEO itu dengan maskulin.
Di rumah
Sampai di rumah, Azlan membuka dasi dan kemejanya lalu membersihkan diri. Dara sudah menyiapkan air untuk sang suami dan sekarang ia tengah berkebun di belakang rumah.
"Wah, rajin sekali."
Atensinya teralihkan ketika mendengar suara bariton milik Azlan.
"Sudah pulang?" tanya Dara sambil menggemburkan tanah hitam yang akan ia tanam beberapa bunga lain.
"Bahkan kamu tidak tahu suamimu pulang karena sibuk dengan bunga-bunga itu," gerutu Azlan
"Mandilah."
Dara meletakkan cangkul ukuran kecil di suatu bilik dekat rumahnya lalu membersihkan tangan dan kakinya di kran air yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman.
"Nanti malam mau dibuatkan apa?" tanya Dara
"Kakak makan semua masakan yang kamu buat," ucap Azlan sambil mengecup pipi Adnan.
"Mandilah, kamu bau."
Dug!
Dara memukul lengan Azlan Sehingga lelaki itu tertawa melihat wajah Dara yang marah. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Kak, pasta gigiku habis!" teriak Dara dari dalam kamar.
Sementara Azlan menoleh ke belakang, ia menepuk jidatnya karena tadi ia memakai pasta gigi milik Dara dan lupa memberitahu padanya.
__ADS_1
Ia mematikan televisi dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Iya, nanti kita beli ke swalayan, ya." Azlan berucap ketika ia berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Beli yang banyak!" teriak Dara dari dalam.
"Iya."
Azlan melangkahkan kakinya menuju meja kerja, sekedar melihat grafik kantornya. Ia melihat Dara yang berjalan menuju lemari dengan kimono dan aroma tubuh Dara yang menusuk indra penciumannya.
"Kak, perutku kok makin membesar, ya? Pipiku juga malah makin tembab. Lihat, kakiku juga berisi sekarang. Gak kurus kayak dulu," oceh Dara yang melihat tubuhnya di lemari kaca.
"Kamu sedang mengandung, sayang. Itu efeknya," balas Azlan kembali menatap layar komputer miliknya.
"Tapi, jelek tahu. Udah pendek, tembam lagi."
"Tapi, di mata kakak, kamu tetap istri kakak."
Dara tak menjawab dan memilih kembali masuk ke dalam kamar mandi seraya membawa bajunya.
Di Swalayan
Selesai makan malam, mereka memasuki mobil untuk pergi ke swalayan membeli keperluan rumah.
Dara mengambil pasta giginya 5 buah dan memasukkan ke troli yang didorong oleh Azlan. Ia kembali memasukkan minyak goreng ukuran 2 liter sebanyak 5 buah, susu ibu hamil, sabun cuci piring, sabun cair untuk pakaian dan tubuh, kaldu jamur, gula, garam, beberapa macam buah segar yang dipilih Azlan, pengharum ruangan, semprot khusus nyamuk, pengharum lantai, minyak angin, terigu, tepung beras, mentega, susu cair UHT, susu kental manis, vanila, perlengkapan untuk memasak kue, dan lainnya.
setelah di rasa cukup, mereka membawa barang-barang tersebut ke kasir untuk dihitung.
"Semuanya Rp. 4.213.412, bu."
Dara memberikan black card pada karyawan tersebut. Lelaki tersebut melirik ke arah Azlan yang memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya.
Lalu mengembalikan black card milik Dara dan menyuruh beberapa orang untuk membawa barang belanjaan mereka menuju mobil.
"Udah dapat berapa tip hari ini?" tanya Azlan pada laki-laki yang memakai seragam itu.
"Belum ada, mas," ucap dua orang pria tersebut.
Azlan Mengeluarkan uang empat ratus ribu dan memberikan pada mereka.
"Terima kasih, pak." Mereka pergi meninggalkan Azlan dan Dara . Mereka masuk ke dalam mobil dan berjalan pulang menuju rumah.
Sampai dirumah
Sampai di rumah, Dara meletakkan belanjaan mereka ke dalam kulkas dan Azlan menyimpannya di kabinet.
"Ayo, tidur. Ibu hamil gak boleh larut-larut tidurnya."
"Iya."
Mereka terlebih dahulu mengganti bajunya dengan baju tidur begitu juga dengan Azlan
Usia kandungan Dara kini memasuki 2 bulan, kadang ia mengatakan pada Azlan bahwasanya ada yang bergerak di dalam perutnya dan itu sangat sering terjadi.
"Berarti bayi kita sehat."
"Apa janin itu bergerak juga, ya?"
"Iya, sayang."
Azlan menanggapi sikap polos sang istrinya lalu mengelus perut Dara dengan sayang.
👋Byee
Jangan lupa direview ya, kak.
__ADS_1