
"Kalian ngomong apa, sih? Kalian saja," ucapku seraya memasukkan buah kiwi dan buah lemon.
Seketika aku menghentikan kunyahanku, bukan karena dinginnya es. Melainkan rasa lemon yang sangat asam, sangat asam.
Aku menggelengkan kepala saat rasa asam lemon itu menjalar ke pipi bagian dalam.
"Kapan ada acara pelelangan lagi? Om juga mau berbisnis sama kamu. Kebetulan pasokan properti di perusahaan kami menurun," timpal Om Richard--Kakak papa.
"Segera siapkan uang yang banyak ya, om."
Aku terkekeh pelan setelah mengucapkan kata itu. Tidak mungkin Om Richard kehabisan uang atau sahamnya ketika membeli propertiku.
"Ngomong-ngomong, berapa harga rumahmu ini, Azlan? Ini sangat besar untuk kalian berdua."
"Gak mahal kok, om. Kalau untuk my wife, apa yang enggak? Yang penting dia merasa nyaman dan aman. Aku juga mendesain rumah ini dengan sebaik mungkin. Membeli perabotan yang sangat bagus dan tahan lama."
"Hm, anakmu memang sangat dewasa sekali Seok."
Mereka menatap kagum ke arah papa sambil menepuk bahunya pelan.
***
Sore hari, aku dan Dara mengantar bunda dan Chaca pulang sekaligus berkunjung ke rumah mereka.
"Assalamualaikum," ucapku seraya memasuki rumahnya yang berlantai keramik dan karpet berbulu.
"Wa alaikum salam."
Mereka menjawab salamku lalu kami duduk di atas karpet berbulu itu.
"Hei, di sana ada kursi. Kenapa kamu duduk di situ, nak?" tanya ibu padaku.
"Suka aja, bu."
Aku merasakan bulu halus nan tebal itu dengan telapak tanganku.
"Baby bear," ucap Dara berjalan ke dapur.
Rumah bunda Fisya sudah banyak perubahan. Dia sudah mealasi keramiknya dengan karpet berbulu berkat ia menjual dan menjajahkan kuenya di kedai dan di sosial media.
Bunda Fisya sekarang sudah ahli dalam membuat kue, mengkreasikan dengan berbagai model.
"Ibu kemaren juga beli beberapa perlengkapan memasak kita. Gelas, piring, sendok, garpu, teflon. Ini berkat menantu ibu yang membantu keuangan kami dan ibu gunakan untuk membuat kue."
Aku menoleh ke arah mereka yang tengah membicarakan sesuatu seraya merangkul pinggang Dara.
Aku dapat mendengarnya walaupun dengan jarak yang cukup jauh.
"Kak Azlan, kemaren Chaca ulangan bahasa Inggris dapat nilai 97," ucap Chaca seraya memperlihatkan kertas double polio padaku.
"Wah, padahal kurang 3 lagi kamu dapat nilai sempurna."
"Iya, itu karena Chaca telat untuk ngumpul. Jadi, yang terakhir itu Chaca jawab asal-asalan."
__ADS_1
"Lain kali, jawabnya jangan asal-asalan ya. Kamu bisa belajar sama Kak Dara, 'kan dia sekarang bisa bajasa Inggris, atau sama kakak."
Chaca menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lucu menampakkan sederetan gigi kecilnya. Ia kembali memasuki kamar untuk meletakkan kembali kertas tersebut lalu menghidupkan televisi dan menyalakan kipas angin.
Chaca tertawa renyah ketika melihat serial kartun yang lucu. Dia juga menceritakan bagaimana alur sebelumnya padaku.
Aku hanya menganggukkan kepala, tapi pikiranku kembali ke Dara dan ibu yang tak kunjung ke ruang televisi bersama kami.
"Kakak keluar sebentar."
Aku beranjak dari karpet menuju mobil. Sepertinya aku meninggalkan sesuatu.
Ting!
Aku menekat remote control karena mobilku dikunci otomatis. Aku memakai mobil Tesla milik Cinta berwarna merah, karena mobilku yang batu sedang dalam mode isi baterai.
"Astaga, ini cemilan kok bisa di sini?"
Aku mengambil cemilan bermerek M&M. Mungkin Dara lupa untuk mengeluarkannya.
Aku kembali membawa cemilan itu dan disambut dengan senyuman dan mata yang berbinar-binar oleh Chaca.
"Makasih, kak."
"Iya, sama-sama, sayang. Dimakan cemilannya, jangan lupa gosok gigi," ujarku seraya merapikan rambut lurus milik Chaca.
Chaca yang setinggi bahu Dara, dia sudah terlihat sangat dewasa sekarang. Apalagi dia sudah hampir tinggi dari Dara.
Mereka cukup berbeda. Dara yang lebih putih darinya, tapi Dara berambut ikal. Sementara Chaca berambut lurus. Dari segi wajah, mereka terlihat seperti kembar.
Aku dan Chaca menatap layar televisi yang sekarang tengah menayangkan film Tom and Jerry.
Kami terkadang tertawa karena betapa bodohnya diantara salah satu dari mereka yang terkadang tidak tahu siapa yang harus dicari.
1 jam kemudian, aku berpamitan pada Chaca untuk ke belakang menemui Dara.
***
Saat di tengah jalan, aku berinisiatif untuk ke toilet karena ada yang harus dikeluarkan.
Ceklek!
Setelah selesai, aku kembali menutup pintu toilet dan mendengar suara tangisan Dara.
"Ayo, kita obati lukanya dulu."
Aku mendengar suara ibu. Aku segera berlari kebelakang rumah dan melihat ibu tengah merangkul Dara yang berjalan dengan tertatih.
"Ada apa, bu?" tanyaku pada ibu.
Kepala Dara yang tadinya menunduk segera mendongak menatapku yang berdiri di depan mereka.
Aku melihat wajahnya tengah menahan sakit di area kakinya yang tertutup rok navy.
__ADS_1
"Tadi Dara manjat pohon mangga di belakang rumah karena liat anak kucing yang gak bisa turun. Dia jatuh, lutut sama pergelangan kakinya kayaknya terkilir," ucap ibu panjang lebar.
Aku segera mengambil Dara dari ibu lalu mengangkat tubuhnya menuju kamar Dara.
Chaca yang tengah asik menonton televisi segera menanyakan kenapa Dara dibawa olehku.
"Kakakmu jatuh, sayang," jawabku.
Aku kembali berlari ke dapur untuk mengambil air dingin dan meminta ibu untuk mengambil handuk kecil.
Lalu kembali ke mobil untuk mengambil betadine, obat merah, dan kapas.
"Buka roknya, biar kakak yang obati luka itu," tuturku seraya membasahi handuk dengan air bersih.
Aku melihat Dara yang tengah menahan ujung roknya dengan kedua tangannya.
"Wae?" tanyaku.
"Aku bisa obati sendiri."
Dara merampas handuk kecil yang basah itu lalu duduk berbalik memunggungiku.
Perlahan-lahan ia menaikkan rok navy itu dan menangis menatap lututnya yang tengah terluka.
Aku tak bisa melihat luka itu karena posisi dia yang membelakangiku dan terhalang oleh kepala dan tangannya yang menutupi luka itu.
"Cepat bersihkan luka itu."
Aku kembali menunggu Dara untuk membersihkan lukanya sendiri. Tapi, dia hanya menangis kecil sambil segukan.
"Bisa?" tanyaku lagi.
Tak ada jawaban selain dengan suara tangisan dan segukannya.
"Berbaliklah, biar kakak yang bersihin lukanya."
Dara menggelengkan kepala sebagai penolakan dari tawaranku.
Aku mengembuskan napas kasar lalu menoleh ke arahnya dengan posisi yang sama.
Membelakangiku.
"Berbaliklah, kakak akan sembuhkan pergelangan kakimu itu yang terkilir."
"Nanti sak--it," jawabnya diiringi dengan segukan itu membuat suaranya terputus-putus.
"Sakitnya cuman sebentar, nanti juga baik lagi."
"Kalo sakitnya udah ilang, nanti kamu bisa jalan lagi. Kalo gak dipijit, nanti kaki kamu bengkak," sambungku.
Perlahan tubuhnya berbalik menghadapku.
Aku melihat wajahnya merah akibat menangis, matanya basah dan beberapa rambutnya keluar dari hijab yang dia kenakan.
__ADS_1
sorry for a typo