
Aku menghentikan aktivitasku yang tengah menyemprotkan air barbara di rambutku dan beralih menatap Dara.
Apa dia tengah hamil? Pikirku.
"Ayo, kita ke dokter. Mana tahu kamu sakit lagi."
Aku berjalan cepat menuju gantungan kunci lalu menoleh ke arah Dara dengan wajah yang sulit diartikan.
"Why?" tanyaku ketika melihat gelagatnya yang aneh.
Dara berlari ke kamar mandi dan terdengar suara bahwa ia mual dan memaksakan untuk mengeluarkan isi dalam perutnya.
Aku berjalan mengikutinya dari belakang lalu menahan rambutnya agar tak terkena muntahannya dan memijit tengkuknya lembut.
"Ya sudah, siap-siap ke dokter sekarang. Pake jilbab, bawa minyak angin. Jangan membantah," tekanku ketika Dara ingin membuka suaranya.
Aku membersihkan bibirnya dengan air kran lalu memapahnya duduk di bibir ranjang.
Sementara aku sibuk mengisi tas mungil dihiasi rantai kecil milik Dara dengan minyak angin dan meletakkan dompetku di dalamnya.
Kami berjalan beriringan bersamaan dengan datangnya Bi Ima.
"Mau ke kantor, tuan?" tanya Bi Ima padaku.
Aku menggelengkan kepala.
"Bukan, bi. Kami mau ke rumah sakit. Dara tadi mual-mual, makanya harus di cek sekarang. Assalamualaikum."
Aku menarik tangan Dara agar kami segera memasuki mobil dan menancap gas menuju rumah sakit.
***
Dokter wanita itu memeriksa Dara lalu ia keluar dengan wajah bahagia. Aku menunggunya di mejanya dan aku tak bisa melihat apa-apa karena ditutupi oleh tirai berwarna hijau muda.
"Gimana dok?" tanyaku tak sabaran lalu mendudukkan Dara di kursi sampingku.
"Selamat ya, Pak Azlan , Nyonya Azlan tengah mengandung buah hati kalian."
__ADS_1
Mendengar kabar yang mengembirakan itu, aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan seraya mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga dan memeluk Dara.
"Jadi, bagaimana dok? Maksud saya, apa yang harus dia lakukan dan saya lakukan untuk kebaikan bayinya?" tanyaku lagi.
"Untuk saat ini, perkembangan janinnya masih sangat lemah jadi harus meminum susu ibu hamil dan meminum vitamin yang akan bapak tembus nantinya. Jangan mudah stress, banyak pikiran, tetap happy dan untuk saat ini jangan berhubungan dulu."
Aku melirik ke arah Dara yang tengah menundukkan kepala malu mendengar perkataan dokter itu.
"Terima kasih banyak, dok. Saya permisi."
Aku dan Dara keluar dari ruangannya setelah dokter itu memberikan resepnya pada kami. Aku menyuruh Dara untuk duduk di kursi tunggu dan aku berjalan menuju ruang lab untuk menembus administrasi dan obat.
Lalu aku menyusul Dara yang tengah menunggu kedatanganku dengan membawa obat-obatan yang ada di dalam kantong plastik bermerek itu.
"Ayo."
Kami kembali berjalan dengan pelan menuju parkiran mobil. Diperjalanan pulang, Dara menginginkan buah mangga.
"Yang masak juga gak apa-apa. Aku mau mencium baunya."
Aku membelokkan mobilku menuju swalayan lalu Dara memilih buah mangga dengan mencium aromanya yang ia inginkan. Aku juga mengambil 10 kotak cemilan ibu hamil untuk ia makan bila menginginkan.
Sampai di rumah, aku memberikan roti itu karena ia masih merasa mual jika nasi masuk ke dalam lidahnya.
Setelahnya baru aku memberikan buah mangga yang ia beli tadi. Aku melihat Dara sangat lahap memakan buah mangga yang sudah matang itu lalu ia juga memintaku untuk mengambilkan buah lemon yang ia simpan ke dalam kulkas.
Mungkin saja dia ingin lidahnya dibasahi dengan air asam-asam dan aku tak bisa membantahnya untuk tidak memakan buah asam ini jika perutnya sudah terisi lebih dahulu.
Aku memberitahukan pada keluargaku di room chat WhatsApp.
[모두 좋은 아침입니다. 현재 Azlan Adipratama 씨의 가족이 석씨와 석씨의 손자를 임신하고 있다는 기쁜 소식이 있습니다. 그러나 레이다 드 부인은 많은 사람들이 방문 할 수 없기 때문에 아직 방문하지 마십시오. 레이다 드 부인이 편하게 식사를하실 때 여러분 모두에게 말씀 드리겠습니다. 메시지를 읽어 주셔서 감사하고 여러분 모두의기도를 잊지 마세요.]
(Modu joh-eun achim-ibnida. Hyeonjae Azlan Adipratama ssiui gajog-i seogssiwa seogssiui sonjaleul imsinhago issdaneun gippeun sosig-i issseubnida. Geuleona leida deu bu-in-eun manh-eun salamdeul-i bangmun hal su eobsgi ttaemun-e ajig bangmunhaji masibsio. Leida deu bu-in-i pyeonhage sigsaleulhasil ttae yeoleobun moduege malsseum deuligessseubnida. Mesijileul ilg-eo jusyeoseo gamsahago yeoleobun moduuigidoleul ij-ji maseyo.)
(Selamat pagi, semuanya. Kita mendapatkan kabar bahagia bahwa keluarga Nyonya Azlan Adipratama tengah mengandung cucu untuk Tuan Seok dan Nyonya Seok sekarang. Tapi, aku mohon untuk tidak dulu berkunjung karena Nyonya Azlan tidak bisa untuk dikunjungi banyak orang. Aku akan memberitahukan jika Nyonya Azlan sudah bisa makan dengan nyaman, aku akan memberitahukan pada kalian semua. Terima kasih sudah membaca pesannya dan jangan lupa doa dari kalian semua.)
Send!
__ADS_1
Aku kembali memfokuskan pada Dara yang duduk di ranjang sambil menikmati lemonnya yang sangat asam itu.
"Kakak kerja aja, 'kan ada bibi di rumah."
"Kamu yakin?"
"Iya," jawab Dara menganggukkan kepalanya.
Aku menghela napas kasar seraya merapikan poniku lalu menganggukkan kepala tersenyum padanya.
Di sisi lain aku juga mau berlama-lama di sampingnya, tapi aku juga punya tanggung jawab lain. Sebelum pergi aku mengecup keningnya lama seraya mengelus perut datarnya itu.
***
Aku berjalan memasuki kantor dengan air muka yang ceria. Pasalnya usaha kami membuahkan hasil dan Dara sekarang tengah mengandung anakku.
Ada perasaan bahagia di lubuk hatiku dan semangat untuk lebih giat bekerja lagi.
Ceklek!
"Bos!"
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat seseorang yang datang ke ruanganku. Alazka, dia membawa setumpuk berkas dengan wajahnya yang kelelahan.
"Bos, banyak sekali permintaan perusahaan lain untuk buat properti baru. Tapi, kali ini minta barang elektronik. Apa staff IT bisa dipakai?"
Aku mengecek satu per satu berkas yang ia bawa. Cukup sulit dan aku juga harus turun tangan di sini untuk memastikan barang atau properti itu layar dipakai.
"Ya, biar gue yang cari. Gue bakal buat pengumuman di web dan sebar dari staff IT melalui InstaGram."
Alazka mengangguk paham dan kembali keluar dengan membawa berkasnya.
"Santai, bro," ujarku padanya sebelum pintu ruanganku ditutup olehnya.
***
Selesai istirahat, aku mengumpulkan staff IT dan Alazka untuk segera datang ke ruanganku.
__ADS_1
"Pasti kalian bertanya-tanya kenapa saya menyuruh kalian untuk datang kemari. Saya mendapat laporan dari Manager Alazka bahwa khusus untuk kalian, kantor kita akan mendapatkan banyak tugas dari rekan-rekan yang telah bekerja sama dengan kita untuk membuat properti elektronik. Jika barang nantinya telah teruji dan laku, saya akan memberikan hadiah untuk kalian. Intinya, kalian harus bekerja keras beberapa minggu ini."
Mereka memandang satu sama lain lalu menganggukkan kepalanya. Sementara Alazka menghembuskan napas lega karena bukan hanya dia yang akan merancang gambarnya, tapi juga aku akan menolong