Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 96.Memanjakannya


__ADS_3

PoV Azlan


Aku meletakkan nampan di nakas seraya duduk di bibir ranjang dan melihat Dara belum juga bangun dari tidurnya.


Tanganku menangkupkan kedua pipinya yang berisi sehingga bibir plum itu mengerucut, menggemaskan.


"Kak."


Dara melepaskan tanganku dari pipinya dan kembali melanjutkan tidurnya dengan posisi terlentang yang kepalanya menghadap ke arahku.


Terlihat poninya basah akibat keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya.


"Ayo, makan. Kakak buat makanan enak. Kamu pasti suka," kataku seraya mengambil mangkuk berisi Patbingsu dingin lalu kutempelkan tepat di pipinya sehingga mata itu terbuka dengan paksa.


Dara bangun dari tidurnya sambil memegang kepalanya.


"Minum air hangat dulu."


Aku memberikan segelas air putih hangat padanya lalu Dara meneguk sedikit lalu memberikan kembali padaku.


"Kamu mau makan apa?" tanyaku menatapnya yang tengah melamun. Jangan ditanya dengan rambutnya yang acak-acakan bak singa itu.


"Roti ikan itu," tunjuknya pada sepiring bungoeppang.


Aku memberikan bungoeppang padanya lalu Dara menyantapnya dengan pelan. Ia menatapku dari atas ke bawah.


"Gak ke kantor?" tanyanya dengan suara serak.


"Ini masih jam 6, masih lama jam 9."


"Kakak siap-siap gih, mandi kakak lama. Sana!" usirnya mengibaskan tangannya ke arahku agar aku pergi dari sana.


"Iya, habiskan sarapannya. Kakak udah makan tadi."


Aku beranjak dari ranjang menuju penggantung pakaian untuk mrngambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


PoV Author


Semenjak kepergian Azlan meninggalkan Dara di kamar seorang diri. Kini pikirannya kembali pada kejadian dini hari tadi.


Entahlah, bagaimana nantinya. Dara kini tengah dilanda kebingungan dan membuat kepalanya sakit.


Matanya tertuju pada kue ikan atau bungoeppang buatan Azlan sungguh enak. Apalagi ia tengah menyantap selai matcha kesukaannya setelah coklat.


Senyuman kecil yang menghiasi bibirnya saat membayangkan betapa bahagianya ia bisa mendapatkan lelaki yang pintar memasak, tapi pasti tak suka dengan mengupas atau mengiris bawang.


Perih katanya.


Tapi, Azlan selalu membuatkan makanan atau sarapan jika Dara tengah kelelahan. Apalagi mereka tempur tadi malam.


Setelah dirasa cukup, Dara kini beralih untuk memakan bubur labu buatan Azlan. Manis dan hangat.


Saat kerongkongannya tak bisa menelan, ia kebingungan dengan sebuah termos purple pink itu. Tangan mungil itu meraihnya lalu membuka tutup termos itu.

__ADS_1


Isinya adalah susu coklat kesukaannya ditambah dengan beberapa es batu di dalamnya sehingga munculla asap dingin yang keluar dari dalam termos tersebut.


"Ah!"


Dara kembali melanjutkan untuk menghabiskan sarapannya setelah ia meminum beberapa teguk susu coklat special dari sang suami.


(Aku iri, aku dengki. Semoga kita bisa mendapatkan lelaki seperti Azlan. Walau bukan CEO atau seorang Direktur ya, guys.)


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Azlan keluar dengan rambut basah dan handuk yang melilit di pinggangnya berwarna hitam dan di atss kepalanya berwarna gold.


Dara kembali teringat dengan kejadian semalam. 'Ah, kenapa pikiranku kotor sekali sekarang,' batinnya.


Matanya terus menatap kegiatan Azlan yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk lalu mencolokkan kabel hair dryer ke colokan lalu mengarahkan hair dryer ke rambutnya.


Saat Azlan melepaskan handuk yang berada di bahunya, ia melirik ke arah Dara yang tengah menatapnya tanpa berkedip.


"Kenapa liatin suami kamu kayak gitu? Keingat kejadian semalam? Mau lagi?"


Seketika kelopak mata Dara berkedip tak tentu lalu memasang wajah kesal dan kembali mengambil roti ikan.


Matanya membola ketika merasakan selai coklat yang meleleh di dalamnya. Sementara Reyndad tertawa kecil melihat tingkah sang istri yang terlalu berlebihan.


Handuk yang melilit pinggangnya ia lepas sehingga Dara terkejut bukan main. Ia mengalihkan pandangannya ke bawah sampai terdengar suara semprotan parfum yang dipakai Azlan.


"Kak, bisa gak sih ganti baju ke dalam kamar mandi!" teriaknya kesal.


Setelah merapikan rambutnya dengan gel, Azlan duduk di tepi ranjang seraya melihat istrinya yang menghabiskan kue ikan dan melihat 2 mangkuk yang telah kosong.


"Badan kamu kurang enak?" tanya Azlan seraya menyentuh kening Dara.


Tidak panas.


"Enggak."


Dara menjawab singkat.


"Oh iya, kalau kamu nanti minta apa-apa, kamu telfon kakak aja. Hari ini kakak gak meeting, jadi gak terlalu sibuk. Kamu nanti mau dibawain apa?"


"Gak ada, yang penting nanti cepat pulang, ya."


"Iya, sayang."


"Maaf, ya. Pagi ini gak bisa urus kakak. Soalnya--"


"Iya, kakak ngerti kok."


Azlan menggenggam tangan Dara dan mengecup punggung tangan itu berkali-kali sehingga Dara tertawa melihat tingkah konyol Azlan.


"Nah, kalau gini 'kan enak liatnya. Kakak pergi dulu," pamitnya seraya mengecup seluruh wajah Dara dan berakhir dengan birainya.


Saat Azlan keluar dari kamar, ia melihat Bi Ima yang tengah membersihkan lantai rumahnya dengan vacuum cleaner.

__ADS_1


"Bi, tolong jaga rumah sama Dara ya."


"Siap tuan. Hati-hati ya, tuan."


"Iya, bi. Terima kasih."


Azlan berjalan keluar rumah dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Sehingga siapapun yang melihat, akan terkagum-kagum dengan pesona dan kharisma yang dimilikinya.


Azlan mencabut charger mobilnya yang telah terisi penuh, lalu mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sementara Dara meletakkan sisa roti ikannya di piring lalu menelfon Cinta.


"Halo, kakak ipar," sapanya saat panggilan terhubung.


"Ah, Cinta. Kamu masuk kelas hari ini?" tanya Dara penasaran.


"Iya, kak. Ada 3 kelas hari ini, mungkin pulangnya jam 12 siang. Kenapa?"


"Ah, gak apa-apa, dek. Ya sudah, semangat ya, kuliahnya."


"Hehehe, baik kakak ipar."


Tut!


Panggilan terputus oleh Dara. Jujur saja, Dara sangat ingin menceritakan kejadian ini dengan Cinta--Adik Azlan.


Karena kalau ke Azlan dengan langsung, kemungkinan Azlan tak akan masuk kantor hari ini. Sehingga membuat pikiran sang suami menjadi tambah banyak.


Dara menghembuskan napasnya seraya menggaruk kepalanya pelan. Ia menyibak selimut bermotif kupu-kupu lalu berjalan ke kamar mandi untuk memulai harinya.


***


Setelah memakai lip blam, barulah Dara keluar dari kamarnya, terlihat Bi Ima yang tengah membuat teh di atas meja.


"Pagi, Bi."


"Pagi, non. Eh, non tadi waktu bibi datang. Kok pintu pagar rumah non kebuka? Apa kemaren kalian kedatangan tamu?" tanya Bi Ima.


"Kebuka, bi?"


Bi Ima menganggukkan kepalanya ribut.


'Siapa wanita itu? Apa dia akan mengganggu kehidupan rumah tangga kami?'


"Mungkin Kak Azlan lupa kunci kali, bi. Kemaren 'kan hujan deras banget."


"Oh, iya."


Bi Ima percaya begitu saja lalu ia mulai menyeruput teh buatannya itu. Sementara Dara menghibur dirinya dengan menonton serial televisi drama China kesukaannya.


*****


Sorry for typo🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2