Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 128.Bibi Dara bisa Menaklukkan Paman


__ADS_3

Dara mengira Azlan akan menenggelamkannya, ternyata tidak.


Puk!


Tanpa sengaja, Dara memukul pelan bahu AZLAN karena dia kehilangan oksigen. Azlan begitu semangat saat birai mereka menyatu dan menyalurkan rasa yang kadang Azlan tahan karena sang istri tengah mengandung.


Mama juga memberi pencerahan bahwa seorang wanita yang tengah mengandung tidak boleh melakukan hubungan badan dan itu bisa mengakibatkan anak yang dia kandung keguguran.


"Kak-"


"Kakak hanya ingin ini saja. Tidak lebih, jangan takut. Kamu jangan grogi gitu, dong. Rileks."


Azlan memotong ucapannya sambil menyentuh birai Dara dengan jari telunjuknya.


"The plan is that you want to take you swimming. This is also for the needs of you and our children. So that your body is healthy and the possibility of your height changes. Don't think anything weird, honey. There is no way your brother will kill you if you are not wrong, you could say that your husband is insane and crazy people say," gerutu Azlan pada Dara


(Rencananya kakak mau mengajakmu berenang. Ini juga untuk kebutuhan kamu dan anak kita. Biar tubuh kamu sehat dan kemungkinan tinggi badan kamu berubah. Jangan berpikir yang aneh-aneh, sayang. Tidak mungkin kakak akan membunuhmu jika kamu tidak ada salah, bisa dibilang suamimu ini tidak waras dan gila kata orang.)


"Yes, but brother, don't be like this either. What will people say if we go too far? I'm also the one who is shy and my skin feels very hot too. Luckily, I used sunblock. Brother, all kisses, I'm embarrassed to know. What will happen to Azka, Dara and the others later? They are still small, don't deserve to see this kind of thing."


(Ya, tapi kakak jangan kayak gini juga dong. Apa kata orang nantinya kalau kita sampai kelewatan batas? Aku juga yang malu dan kulit aku rasanya juga panas sekali tadi. Untung aja pake sunblock. Kakak sih, pake cium-ciuman segala, malu tahu. Nanti kalau Azka, Dara dan yang lainnya lihat gimana? Mereka masih kecil, gak pantas liat yang beginian.)


Azlan tertawa mendengar ucapan Dara. Lalu ia berdiri dan kembali ke tempat Azka dan yang lainnya berada. Mereka tengah berteduh di bangku pantai dengan makanan yang mengisi perut mereka.


"Dari mana saja, paman?" tanya Dara.

__ADS_1


"Tadi, habis berenang."


'Tadi wajah Dara benar-benar menggemaskan. Sebegitu takutnya dia jika aku akan melakukan hal yang ia pikirkan di pantai itu? Aku juga tak ingin berbagi tontonan gratis dari lara turis yang melihat adegan kami. Hanya membuktikan saja, apakah Dara masih canggung atau tidak. Tapi, nyatanya dia masih grongi dan sesikit takut. Lumayan juga pukulannya tadi, aku hanya takut jika jantungku terjadi masalah akibat pukulannya,' batin Azlan sambil tersenyum mengingat kejadian tadi sembari mengelus dadanya bekas pukulan Dara.


"Ya udah, kalau negitu kalian mandi di toilet umum. Bersihkan tubuhnya."


Azlan memberikan tas yang berisi pakaian. Walaupun Azlan memberikan pakaian panjang lengan miliknya pada Dara. Tapi, Dara sudah menyiapkan perlengkapannya yang lain.


Dara, Ahyun, Dara dan Zahra masuk ke dalam toilet umum khusus perempuan. Sementara Reyndad dan Azka masuk ke dalam toilet umum khusus pria.


Setelah selesai, mereka pulang. Terlebih dahulu Azlan membawa mereka makan di restoran. Makanan ringan tidak akan mengenyangkan perut mereka dengan lama.


"Ayo, dipilih apa yang kalian suka," seru Azlan seraya memberikan buku menu pada Azka, Ahyun dan Dara.


"Kamu sayang?" tanya Azlan pada Dara yang duduk di sebelahnya.


"Sama kakak aja."


Azlan memesan makanan sehat yang dia inginkan bersama Dara dan Ahyun. Setelah selesai makan di restoran, mereka kembali dilanjutkan dengan perjalanan menuju rumah Bibi Kim untuk mengantar Dara, Azka, Zahra dan Ahyun.


"Paman, sering-sering ya bawa kami pergi main," pinta Zahra dari belakang, sementara Azlan hanya melihatnya dari kaca spion mobil.


"Paman sibuk sayang, besok kalau adiknya udah lahir kalian yang sering main ke rumah paman. Lihat adiknya, bawa bicara, bawa main."


"Pokoknya kalau bisa adik itu perempuan paman."

__ADS_1


"Nah, kalau adiknya nanti perempuan. Azka gak perlu lagi cari pacar. 'Kan udah ada anak paman," sambung Azka.


Sementara Dara dan Azlan hanya diam mendengar ocehan yang mereka. Azka minta yang perempuan, sementara Dara dan Zahra minta yang laki-laki.


"Yang penting, kalian berdoa saja supaya adik bayinya sehat selalu dari sekarang hingga melahirkan nanti. Perempuan atau laki-laki itu urusan belakangan. Azka yang minta perempuan nanti malah keluarnya laki-laki juga 'kan kalian nanti akan bahagia, senang bisa dapat teman baru. Bukan begitu?" tanya Azlan pada mereka.


Azka hanya diam menundukkan kepalanya sambil memainkan jemari Adnan.


"Tapi, paman. Azka cuman mau, keinginan Azka itu. Berangan-angan juga tak apa, paman. Tidak dosa, jikalaupun Tuhan sayang sama Azka, pasti Tuhan mengabulkan permintaan Azka. Tak ada salahnya, paman," tutur Azka seraya melihat wajah tampan Azlan di sampingnya.


"Ya, tak ada salahnya jika Azka tak menginginkan adik perempuan. Tapi, apa kalian mau ikhlas jika yang keluar nantinya tak sesuai dengan keinginan kalian?" tanya Azlan memastikan.


"It's okey, paman. Yang penting dapat dedek lagi, kalau gak sesuai paman bisa buat lagi sama bibi!" pekik Zahra.


Dara tertegun mendengar ucapan Zahra. Belum juga lahiran anak pertama, dan keponakan Azlan malah di suruh untuk ia membuatnya. 9 bulan bukan waktu yang sebentar. Apalagi ini adalah anak pertama mereka.


"Apa yang kalian katakan? Ini belum lahir sayang, jangan buat tante kalian terdiam mendengar ocehan kalian yang tidak pantas itu," sergah Azlan.


Mobil Azlan berhenti tepat di depan gerbang rumah Bibi Kim.


Mereka turun dari mobil Azlan dan juga Dara sembari melambaikan tangannya. Dara membalas lambaian mereka sampai akhirnya tak terlihat lagi mobil hitam mewah milik Reyndad dari pandangan mereka.


"Terima kasih, paman, bibi. Jaga adiknya ya, bi. Jangan sampai hilang lagi, Azka sayang sama bibi dan juga adiknya di sini. Oh iya, paman. Nanti malam kalau papa dan mamam ada waktu, kami akan main ke rumah untuk mengambil cutton candy dari kalian. Sampai jumpa Paman Azlan dan juga Bibi Dara."


"Ternyata Bibi Dara sempat tertegun mendengar ocehan Azka. Mungkin ada trauma di sana, tapi Paman Azlan benar-benar paham di situasi yang dialami wanitanya. Walaupun ia tak melihatnya, tetapi paman bisa merasakan hal itu. Apakah itu yang dinamakan cinta? Bahkan, aku yang mau menginjak sekolah menegah atas saja belum memikirkan hal pria. Tapi, setelah melihat keakraban mereka, aku jadi ingin menikah muda. Apalagi dengan pria yang sudah dewasa, mapan dan tidak sombong. Jujur saja, sulit mendapatkan pria yang benar-benar mencintai wanita yang terlihat dari fisik biasa-biasa saja. Di komik malah pria yang lebih kejam dan Bibi Dara bisa menaklukan Paman Azlan," gumam Ahyun saat ia berada di kamar tamu, di rumah Jeehyoon.

__ADS_1


__ADS_2