Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 91.Hanseol


__ADS_3

"Dasar kamu."


Aku terkekeh pelan seraya melepaskan pergelangan tanganku dari pinggangnya lalu kembali duduk untuk memberi waktu Dara memasak.


Setelah itu, ia mengambil piring sementara aku menyiapkan gelas, air minum, dan semangkuk air untuk mencuci tangan.


Aku lebih dulu mengambil masakan Dara dari papa. Aku ingin tahu bagaimana rasa terong itu ketika digoreng dengan cabe merah dan ditemani dengan seonggok ikan teri.


"Hm, mashita," seruku menoleh ke arah Dara


"Ini makanan aku dulu waktu masih sekolah SMA," ujar Dara kembali menyantap makanannya.


Ini benar-benar nikmat sekali, pikirku.


Aku menghabiskan sepiring sambal terong itu bersamaan dengan nasi. Aku menambah hampir 4 piring dan sekarang perutku lumayan penuh.


"Papa pamit pulang dulu, ya."


"Ah, iya. Hati-hati, pa."


Aku dan Dara berucap secara bersamaan lalu mengantar papa sampai ke gerbang rumah.


Aku kembali menuntun Dara masuk ke dalam rumah. Lalu duduk di karpet berbulu tepat depan televisi.


Aku mengambil setoples snack lalu memakannya tanpa mengalihkan pandanganku pada layar televisi yang menayangkan berita harian.


"Kak, aku mandi dulu."


"Pergilah."


Terdengar suara pintu kamar tertutup rapat sementara aku tetap mengunyah. Aku mengambil remote untuk mencari siaran lain.


***


Malam harinya, Hanseol mengajakku ke rumahnya. Entah apa yang terjadi di sana, tapi aku mengajak Dara untuk menemaniku.


Awalnya aku sangat ragu dan bimbang dengan ajakannya melalui pesan.


Hanseol


[형님, 집에 올 수 있습니까?]


(Oppanim, jib-e ol su issseubnikka?)


(Kakak, bisa datang ke rumah?)


"Emangnya ada acara apa di sana?" tanya Dara yang tengah memakai eyebrow mascara ke alisnya.


"Entahlah, sayang. Semoga tak terjadi apa-apa nantinya," ucapku seraya menatap aktivitasnya.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, Dara dan aku berjalan keluar rumah. Aku membuka garasi mobil lalu mengeluarkan mobil tesla sementara ia tengah menyimpan kunci rumah ke dalam tas mungil sandang itu.


"Ready?"


"Ready."


Aku menancap gas menuju rumah Hanseol.


***


Sampai di sana, rumahnya tampak sepi. Aku membuka pagar rumah yang setinggi keningku lalu membawa Dara berjalan di sampingku seraya menggenggam tangannya.


Ceklek!


Pintu terbuka seiring langkah kami menapaki teras rumahnya.


"Ada apa?" tanyaku to the point.


"Masuk dulu."


Ibu Hanseol tersenyum ramah ke arah kami seraya menyuruh kami masuk ke dalam rumahnya.


Aku semakin menggenggam erat tangan Dara lalu menariknya masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa.


"Tunggu sebentar, nak. Eomma panggil Hanseol dulu."


Tak lama dari kepergian bibi, Hanseol dan bibi datang kembali menemui kami. Hanseol hang hanya menggunakan tanktop dan celana abu-abu yang sangat pendek.


Membuat mataku sakit melihat penampilannya malam ini.


Aku mengembuskan napas kasar dengan tingkah Hanseol yang sangat tidak ada sopan santunnya.


"Mian haeyo, ileohge bam-e jib-e olago malhae jusyeoseo joesonghabnida."


"Seolmyeonghae, mwoga jalmos dwaessneunji yeogilo olago haessjanh-a."


"Geunde wae delyeo wass-eo?"


Hanseol menunjuk ke arah Dara.


(Maaf, kak sudah menyuruh kakak datang ke rumah malam-malam begini.)


(Jelaskan, ada apa kau menyuruhku kemari.)


(Tapi, kenapa kakak bawa dia?)


"Wae? Geugeon dangsin-i hal il-i anibnida. Museun tteus-inji seolmyeonghasibsio."


"Dongsaeng samusil-e jiwonhago sipseubnida. Hal su-issda?"

__ADS_1


"Mwo? Gujig jung? Beob-eul gongbuhago issseubnikka? Hoegye? Keompyuteo mich neteuwokeu gonghag? Maketing? Animyeon geonchugga?"


Aku menatap Hanseol merendah. Pasalnya ia kuliah dengan jurusan perawat.


(Kenapa? Itu bukan urusanmu. Jelaskan apa maksudmu.)


(Aku mau melamar kerja di kantor kakak. Bisa?)


(Apa? Melamar kerja? Apa kau kuliah jurusan hukum? Akuntansi? Teknik komputer dan jaringan? Pemasaran? Atau Arsitek?)


Terlihat bahwa ia sangat gugup dengan berbagai pertanyaanku. Apakah ia mengira aku lupa alias pikun dengan jurusan yang ia pengang sampai saat ini.


""Eum, samusil-eseo ilhal su issnayo? Jeog-eodo cheongso seobiseu cheoleom-yo. Jigeum-eun neomu bogjabhaeseo je gisul-eul ighil su eobs-seubnida. Geugos-eseo ilhaneun geos-i eolmana jaemi issneunji al-abogo sipseubnida."


"Mwo? Nolyeoghagoiss-eo? Sido hal jig-eob-i eobs-seubnida. Jeongong-e ttala gongbuhaeyahabnida!"


"Ganhosagadoeneun geos-eun maeu eolyeobseubnida. Wolgeub-eun uisawa bigyohal su eobs-seubnida. Ganhosagadoeneun geos-eun ttaettaelo maeu eolyeobdaneun geos-eul algo issseubnida."


Jujur aku tak mengerti ke mana arah pembicaraannya. Bagaimana bisa pekerjaan harus dicoba dulu.


(Hm, apakah bisa aku bekerja di kantormu? Setidaknya hanya sebagai Cleaning Service saja. Saat ini aku tak bisa mendalami jurusanku karena terlalu berbelit. Aku ingin mencoba mengetahui bagaimana serunya bekerja di sana.)


(Apa? Mencoba? Tidak ada pekerjaan yang bisa dicoba. Kau harus mendalami sesuai dengan jurusanmu!)


(Kumohon, menjadi perawat itu sangat sulit. Gajinya tak sebanding dengan dokter. Kakak tahu 'kan kalau menjadi perawat kadang itu sulit sekali.)


Aku menatap tajam ke arah Hanseol yang tak mengerti itu.


"Hanseol, ssineun jeongong-gwa sillyeog-e ttala gongbuhaeyahabnida. Nae samusil-eun yebi jig-won-ina jig-won-eul bunlyuhaneun de geim-eulhaji anhseubnida. Dangsin-eun hagsa hag-wi ilppun-ibnida. Hanpyeon jeoneun godeunghaggyo jol-eobsaeng-eul je-oehago dayanghan gisul-eseo seogsaleul seontaeghaessseubnida. Gwihaui buseoeneun gwihaui jig-eob-i eobs-seubnida. Ihaehae?"


(Hanseol, kau harus mendalami sesuai dengan jurusan dan skillmu. Kantorku tidak main-main dalam memilah calon pegawai atau staff. Kau hanya lulusan S1. Sementara aku memilih S2 dalam berbagai teknik kecuali lulusan Sekolah Menengah Atas. Di jurusanmu, tidak ada bagian dari pekerjaanmu. Kau mengerti?)


"Jeoleul dangsin-ui jig-won-eulo neoh-eojuseyo. Jeoneun samusil, keompyuteo, eeokeon-i seolchidoen bang-eseo ilhago sip-eossseubnida. Geuleona eomeonineun naleul heolaghaji anh-assseubnida. Piga museowoseo abeoji eomeoniui tteusdaelo haggyoe danyeoyo. Haeyahabnida."


Hanseol mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada memohon padaku.


(Tolong, masukkan aku menjadi karyawan mu. Dulu aku sangat ingin bekerja di kantor, di depan komputer dan di ruangan yang memiliki pendingin ruangan. Tapi, ibu tak mengizinkanku. Aku takut dengan darah, aku bersekolah dengan jurusan itu hanya kehendak ayah dan ibu saja. Aku terpaksa.)


"Yak, jeoneun CEOigo geu hoesaleul soyuhago issseubnida. Eojjaessdeun dangsin-eun wae geuleohge malhagi eolyeobseubnikka? Wae jeongmallo nae samusil-eseo ilhago sip-eo? Nal jug-il geongayo? Nae anaeleul jug-yeossdago? Nae jib-eul tto pagoe halgeoya?"


Aku berbicara sedikit keras menatap mereka berdua. Lalu aku merasakan sebuah tangan yang terasa dingin menyentuh kulit pergelangan tanganku, Dara.


"Azlan deuga museun tteus-iya? Hanseol-ineun yeoleobun moduleul wihae modeun geos-eul pogihaessseubnida. Ganhosaloseo geunyeoneun jeog-eun don-eul jibulhaessjiman bam neujgekkaji ilhaessgo jongjong bam 12 sie jib-eulo dol-a wassseubnida. Geunyeoui sanghwang-i maeu geogjeongdoebnida."


Kini Ibu Hanseol angkat bicara.


(Hei, aku itu seorang CEO, aku pemilik perusahaan itu. Kenapa kau sangat susah untuk dibilang, sih? Kenapa kau sangat ingin bekerja di kantorku? Apa kau akan membunuhku? Membunuh istriku? Kau akan menghancurkan rumah tanggaku lagi?)


(Apa maksudmu Azlan. Hanseol sudah mengikhlaskan semuanya demi kebaikan kalian berdua. Menjadi perawat gajinya hanya sedikit, tapi pekerjaannya sampai larut malam dan ia sering pulang ke rumah jam 12 malam. Aku sangat khawatir dengan keadaannya.)

__ADS_1


__ADS_2