
Pukul 16.00 PT, Dara sudah selesai menyiapkan makan malam beserta sereal yang ia buat dengan susu hangat. Yayuk pulang ke rumah dengan wajahnya yang lelah.
Ia tersenyum pada Dara sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi. Setelah Yayuk menggunakan kamar mandi, Dara memakainya untuk membersihkan tubuhnya.
Malam ini, Yayuk memberikan informasi bahwa ia akan memasukkan Dara ke kursus bahasa Inggris khusus orang dati Indonesia agar ia cepat memahami bahasa Inggris.
"Apa biayanya murah?" tanya Dara.
"Gak ada yang murah, Ra. Di sini kehidupannya mahal, gak ada yang gratis."
"Baiklah."
Dara menyetujui permintaan Yayuk walau ini terlalu cepat.
Keesokan harinya, Dara dan Yayuk sampai di sebuah gedung kursus bahasa. Di sini semuanya lengkap, mulai bahasa Jepang hingga Mandarin.
"Bisa kita mulai?" tanya wanita itu pada Dara.
"Bisa."
Rintia mulai mengajarkan Dara pada dasar-dasar berbahasa. Walaupun memakan waktu berjam-jam, tali ini adalah tanggung jawab Rintia untuk mengajarkan kliennya hingga benar-benar fasih.
Di tempat Azlan
Azkabu telah selesai mengerjakan pekerjaan kantornya. Mama mengajaknya makan malam bersama Cinta di sebuah restaurant mewah.
***
Malamnya Azlan hanya memakai baju kemeja dan celana jeans hitam.
Mama heran dengan kedatangan Azlan yang hanya sendirian tanpa ditemani menantu cantiknya.
"Ke mana Dara ?" tanya mama.
Azlan terseyum kecut lalu duduk di kursinya. Bagaimana aku harus menjelaskan ini semua? Pikirnya.
"Kami berpisah."
Dua kata itu mampu membuat mama dan Cinta terkejut bukan main.
Silvia berdiri dari duduknya menatap sang anak dengan tajam.
"Eotteohge? Museun jis-eul hangeoya?!" bentak mama.
*Bagaimana bisa? Apa yang telah kau lakukan?!*
Cinta mendudukkan mama kembali pada tempatnya seraya mengelus pundak sang ibu agar amarahnya reda. Pengunjung di restoran melihat ke arah mereka sambil berbisik.
"Mian haeyo, eomma. Dara -i na-ege mul-eossda. Gwageoe geunyeoneun yusan-eulhaess-eul ttae naleul anjhigo uliege heeojyeodallago yocheonghaessseubnida. Naneun geuui eoliseog-eun yocheong-eul geojeolhaessjiman geuneun danji jujanghaessda. Naneun geugeos-eul beos-eossda," jelas Azlan .
*Maaf, ma. Dara yang minta padaku. Dulu, dia mendiamiku saat ia keguguran dan meminta kami untuk berpisah. Aku sempat menolak permintaan bodohnya itu, tapi dia malah bersikeras. Aku melepaskannya.*
Mama dan Cinta mendesah pelan.
"Dagsin-eun geuleul chaj-eul ttaekkaji geuleul chajseubnida. Geuleohji anhdamyeon naega hangug-eulo bonaeseo geogieseo bulangjaga doelgeoya. Mos bad-eumyeon gajog kadeueseo ileum-eul jiugo nae adeullo saeng-gaghaji anh-eul geyo!"
Mama menyeka air matanya yang telah membasahi pipi mulusnya. Setelah ia mengucapkan kalimat itu, mereka pergi tanpa menyentuh makanan yang telah dipesan.
*Kamu cari dia sampai ketemu. Jika tidak, akan kukirim kamu ke Korea dan jadi gelandangan di sana. Jika kau tidak mendapatinya, akan kuhapus namamu dari Kartu keluarga dan aku tidak akan menganggapmu sebagai anakku!*
Azlan memejamkan matanya ketika terasa memanas.
"Bahkan, aku tidak dianggap sebagai anaknya," gumamnya.
Azlan berlari memasuki mobilnya yang terparkir dengan rapi di parkiran. Ia melesat menyusuri kota Jakarta untuk menemui Dara . Ia juga tak memberitahukan perihal ini pada sang mertua--bunda Fisya.
Langkahnya menuju toko bakery karena dulu Dara langganan beli kue disana. .
Azlan tetap berada di dalam mobil seraya menunggu seseorang keluar dari toko itu.
1 jam kemudian, Azlan mendapati Fero berjalan keluar dari tokonya. Azlan segera keluar dari mobilnya.
"Ya!" teriaknya.
*Hei!*
__ADS_1
Fero menoleh ke arah Azlan yang menatapnya sangar. Azlan menghadiahi Fero sebuah pukulan yang mendarat di pipinya hingga tubuhnya tersungkur ke tanah. Beruntung kotak kue itu berada di dalam box motornya.
"Heh, maksud lu apa?" tanya Fero sambil berdiri.
Sebuah luka lebab di tulang pipinya bekas pukulan Azlan . Itu sangat ngilu dan menyakitkan.
"Di mana Dara ?" tanya Reyndad membuat Fero terkekeh pelan.
"Maksud lu apa? Mana gue tahu Dara
Bukannya sama lo, ya?" tanya Fero.
"Lo jangan bohong, gue tahu lo nyembunyiin Dara dari gue."
Fero semakin geram dengan perkataan Azlan seolah-olah Dara berada di rumahnya.
Tanpa basa-basi, Fero meninju rahang Azlan membuatnya tersungkur ke tanah sehingga jas yang ia kenakan kotor akibat ulahnya.
Fero tak membuang waktu, ia kembali meninju Azlan dengan bringas. Tapi, keberuntungan tidak berpihak pada Fero, melainkan Azlan .
Azlan mendorong tubuh Fero yang berada di atasnya dan meninju Fero dengan membabi buta.
Roy yang mendengar perkelahian dari luar tokonya segera berlari dan melerai keduanya.
"Hei, apa yang kalian lakukan, ha?!" bentak Roy pada Fero lalu menatap ke arah Azlan .
Ia melepaskan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Azlan
"Pak Azlan , ada apa Anda kemari?" tanya Roy sopan.
Fero menatap bosnya heran dengan tingkah dan gaya bicaranya pada Azlan
"Saya hanya mencari apa yang harus saya cari. Tapi, saya tak menemukannya," ucap Azlan menatap Fero tajam dan masuk ke dalam mobilnya.
Azlan sempat memainkan suara mobilnya lalu melesat menjauh dari toko menuju rumahnya.
Pipi dan pelilisnya berdarah akibat bahu hantam antara ia dan Fero. Tapi, lebih menyakitkan jika Dara meninggalkannya.
Rumahnya yang dulu hidup karena Dara , kini sepi. Walau terkadang Bi Ima--Asisten Rumah Tangganya membuatkannya makanan yang dulu Adnan buatkan untuknya.
Malam harinya
Sanpai di rumah, Azlan membersihkan tubuhnya dan duduk di balkon. Ia membiarkan tubuhnya di terpa angin malam, dulu dia sangat kesal ketika Dara berdiri di balkon dengan hari malam.
Kenangan dan kenangan itu kembali berputar.
Reyndad menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit tanpa bulan.
"Jigeum eodi gyeseyo? Dangsin-i eodi issneunji mal haejuseyo. Nan dangsin-i geuliwoyo," ucap Azlan.
*Kau di mana sekarang? Beritahu aku di mana keberadaanmu. Aku merindukanmu*
Azlan menutup matanya ketika matanya sedikit mengabur akibat pelupuk matanya menggenang.
Air mata itu jatuh tepat di telapak tangannya.
Ia sangat merindukan Adnan. Merindukan pelukan wanita itu walau ia tak membalasnya.
Merindukan matanya.
Merindukan suaranya.
Merindukan wajahnya.
Merindukan genggamannya.
Merindukan wangi tubuhnya.
Merindukan wangi rambutnya.
Merindukan tawanya.
Merindukan kecupan dari bibirnya ke pipinya.
Merindukan masakannya.
__ADS_1
Merindukan wajahnya ketika ia sedang marah dan kesal akibat ulah Azlan
Merindukan wajahnya ketika ia sedang terlelap.
Merindukan kehangatan tubuhnya.
Merindukan cebikan dari wanitanya.
Merindukan kehadirannya.
Merindukan apa yang ada pada diri wanita itu.
Pukul 00.58 WIB, Azlan masuk ke dalam kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah di atas ranjang.
Pagi harinya
Pagi ini, Azlan keluar dari kamar menuju halaman belakang. Tanaman yang dulu Dara siram, kini sudah layu dan ada yang mati.
Bi Ima hanya bekerja sampai pukul 12.00 siang karena Reyndad tak ingin Bi Ima kelelahan.
Tak ada waktu untuk menyirami tanaman itu bagi beliau.
Dia pun juga tak ada waktu karena seharian bekerja dan jarang untuk lari pagi.
Bertahun-tahun sudah
Bertahun-tahun mereka hidup berpisah. Ia juga memberitahukan perihal ini pada bunda Fisya hingga wanita itu menangis histeris. Bunda Fisya tak bisa berjumpa dengan anaknya--Dara karena Dara tak pernah mengunjungi Indonesia.
Bukan, bukan Dara lupa. Melainkan ia tengah menikmati hidupnya yang sekarang. Menetap di California bersama Yayuk.
Siang ini, ia mendapat kabar bahwa Jong Ru akan mengunjunginya selama 5 hari.
Dara begitu senang, ia mengirim alamat cafe Yayuk pada Jong Ru agar ia menemuinya di sana.
Pukul 09.00 PT, Jong Ru sampai di California. Ia memesan kamar yang terlalu mewah karena Jong Ru tak membawa uang miliaran. Jadi, ia harus berhati-hati dalam memilih penginapan.
Pukul 12.08 PT, Jong Ru pergi ke alamat yang dikirim Dara padanya menggunakan taksi.
Ting!
Dara menoleh ke arah pintu yang berbunyi. Yayuk mendesain pintu masuk dengan sebuah lonceng di atasnya sehingga pegawai tahu bahwa cafenya kedatangan tamu.
Matanya berbinar menatap Jong Ru dengan pakaian tebal dan jas panjang yang melengkapi penampilannya.
"Hai," sapa Dara berlari ke arahnya.
Di mata Jong Ru, Dara sedikit berubah dari penampilannya yang terlihat modis dan fenimin walau mengenakan hijab di kepalanya.
Riasan make upnya tak berubah jauh. Tapi, kulitnya kini lebih putih dan terawat kini.
Jong Ru tersenyum manis ke arah wanita yang berjalan menghampirinya dengan senyuman indah menghiasi wajahnya.
"Wah, kamu sangat berubah sekarang. Lebih putih dari sebelumnya," ucap Jong Ru tanpa berbohong.
"Mungkin karena cuacanya dingin. Tapi, aku selalu berjemur di bawah matahari pagi, kok," balas Dara.
Dara mempersilahkan Jong Ru untuk duduk dan ia memberikan buku menu pada Jong Ru.
"Aku pesan latte saja."
Dara hendak berjalan ke belakang, tapi ditahan oleh Jong Ru.
"Pesankan saja pada temanmu," ucap Jong Ru menatapnya intens.
Jong Ru menyuruh Dara duduk di depannya dan Dara menyuruh temannya untuk memesan latte untuk pelanggan barunya.
"Please order a latte for him (boy). He's my friend," ucap Dara pada pegawai perempuan.
*Tolong pesankan latte untuknya (laki-laki). Dia temanku*
"Okay, please wait a moment."
*Baik, mohon tunggu sebentar.*
Dia berjalan meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1