Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 102. Ketakutan Dara


__ADS_3

Flashback ON


Aku berjalan menuju meja rias sambil melirik Dara yang tengah duduk di atas ranjang memeluk boneka bear-nya.


Setelah mencolokkan kabel hair dryer, aku menekan tombol lalu mengarahkan ke poniku agar lekas mengering.


"Kakak ada masalah?" tanyanya.


Aku menggelengkan kepala menjadi jawaban atas pertanyaan Dara padaku. Bagiku, dia tak perlu tahu masalah ini.


****


Malam setelah salat isya, kami makan malam dalam keheningan. Hanya dentingan sendok dan piring yang berbunyi.


Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Dara sesekali memberiku tempe goreng buatannya ke dalam piringku.


Aku membalas pemberiannya dengan sebuah senyuman manisku. Bagaimana bisa aku membohongi Dara ? Sementara ketika aku menatap wajah dan manik mata itu, aku merasa berdosa. Apalagi teringat dengan pesan teror itu.


****


PoV Author


Pukul 10 malam, mereka tidur di ranjang king size itu. Tengah malam, Dara terbangun karena ia sesak dan harus mengeluarkan kotorannya ke toilet.


Ia menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali hidung, lalu berjalan sambil berlati kecil menuju toilet dengan memegang perutnya.


Hujan di luar lebat, sehingga cahaya kilat dapat menembus tirai tebal yang menutupi jendela kamar mereka.


Duar!


"KAK !"


Azlan langsung terbangun. Bukan karena petir yang bergemuruh, tapi karena Dara berteriak sangat keras. Ia mencari keberadaan istrinya dengan senter ponselnya.


Malam ini hujan deras dan sialnya mati lampu.


Pria itu berlari ke kamar mandi karena mendengar Dars memanggil namanya dari arah sana. Ia memutar knop pintu dan benar saja, Dara berjongkok di bawah wastafel.


"Kemari." Azlan menarik tangan Dara keluar.


"Aku takut gelap."


Dara masih menutup matanya. Dapat Azlan lihat wajah sang istri yang sangat ketakutan.


"Tak ada apa-apa."


"Tuan, Nyonya, tolong buka pintunya. Ini bibi di luar."


Azlan langsung membukakan pintu, Dara juga ikut dengan memegang bajunya sangat erat.


"Non Dara tak apa?" Bi Ima melihat sang majikan, tentu ia tahu jika Dara sangat takut dengan kegelapan.


"Tak apa, Bi," jawab Dara


"Syukurlah. Pakai lampu ini saja. Tapi, mungkin tidak terlalu terang, bibi lupa mengecasnya." Bibi Ima menyerahkan lampu berukuran sedang pada Azlan.


"Terimakasih, Bu," ucap Azlan.


"Iya. Sudah ya, bibi pergi dulu. Tolong jaga Non Dara nya, tuan."


Setelahnya, Azlan langsung menutup pintu, ia berjalan dengan menggandeng Adnan dan kemudian menyalakan lampu yang diberikan pembantunya tadi, Memang benar lampunya tak seterang yang biasanya.


"Sudah, tidur lagi," kata Azlan setelah ia meletakkan lampu itu di atas meja.


Dara menurut, ia berbaring di tempatnya, begitupun Azlan.


"Sudah tahu hujan, malah pergi-pergi," ucap Azlan.

__ADS_1


"Aku kebelet pipis tahu," ujar Dara.


"Baru saja masuk sudah mati lampu," sambungnya.


"Jadi, belum sempat?"


Dara mengangguk. "Iya, belum."


"Jangan ditahan, nanti perutmu sakit."


Azlan langsung bangkit dari tidurnya.


"Pipis dulu. Ayo, kakak temani."


"Tidak mau."


"Kenapa? Bisa jadi penyakit tahu kalau ditahan."


Dara mendengus sebal. "Aku takut."


"Ya, kakak temani."


"Tapi, aku malu."


Azlan memasang wajah kesal.


"Ya sudah, jangan membangunkan kakak kalau nanti sudah sangat mendesak ingin buang air kecil."


Ia berbalik membelakangi Dara yang mulai menyesal karena menolak tawaran Azlan--sang suami.


Dara tak tidur, ia bergerak ke sana kemari karena ingin buang air kecil. Berjalan sendiri tak berani, tapi ragu membangungkan Azlan.


Apalagi suaminya itu sudah mengatakan untuk tidak membangunkannya.


Tapi, ini sudah sangat mendesak. Dara sudah tak tahan. Mau tak mau ia harus membangunkan Azlan.


Azlan tak menggubrisnya. Ia terlihat tidur dengan sangat nyenyak, pergerakan Dara sama sekali tak mengusik tidurnya.


"Kak Rey, ayo temeni," rengek Dara karena ia benar-benar sudah tidak tahan ingin buang air kecil.


Sebenarnya Azlan tidak tidur dan ia sengaja bersikap seperti itu. Ingin memberi pelajaran saja pada Dara .


"Ah! Susah sekali sih!" gerutunya dan memilih untuk pergi sendiri.


Dara mengambil lampu di meja dan berjalan masuk kamar mandi dengan langkah takut.


Kalau gelap begini, yang terbayang di kepalanya selalu hantu, belum lagi di luar hujan deras disertai petir.


"Tidak ada hantu, tidak ada," gumam Dara berusaha mengusir pikirannya tentang 'hantu'.


Ia tidak tahu saja ada orang yang menahan tawa karena tingkahnya. Siapa lagi kalau bukan Azlan.


Dan setelah Dara masuk, Azlan menyusul dan menunggu istrinya itu di depan kamar mandi.


"Kak Azlan, Kak Azlan , Kak Azlan."


Azlan ingin tertawa rasanya. Ia dapat mendengar sang istru terus merapalkan namanya di dalam sana.


"Azlan ...."


"Kenapa?"


"Astaga!"


Lampu di genggaman Dara hampir saja terlepas karena Azlan masuk setelah ia menggumamkan nama pria itu untuk mengurangi rasa takutnya.


Dan untung saja ia sudah selesai dan hendak keluar tadi.

__ADS_1


"Jangan pernah menolak tawaranku," kata Azlan dan langsung membawa keluar istrinya itu.


"Aku juga punya rasa malu," tutur Dara. Bersamaan dengan itu, Azlan mengambil alih lampu di genggamannya.


"I'm your husband."


"Lalu, kenapa?"


"Kenapa harus malu? Lagipula kaka menunggu di luar," ujar Azlan.


"Ya ... malu saja. Tadi juga kaka langsung masuk, untung aku sudah selesai."


"Karena pintunya tidak kamu kunci. Untung kakak yang masuk. Kalau hantu apalagi orang lain, bagaimana?"


"Jangan bicara hantu. Aku takut." Dara membaringkan dirinya.


"Tidak ada hantu," kata Azlan


Srak ....


Mereka sama-sama melihat ke luar jendela. Suara itu berasal dari sana. Setelahnya, Dara langsung menoleh pada Azlan yang memasang wajah datar dan terlihat biasa saja.


"Bukan hantu. Pasti hanya ranting." ucap Azlan seperti menenangkan Dara , ia juga memeluk wanita itu.


"Lihat dulu," pinta Dara.


"Itu ranting Dara -ah. Ranting pohon di samping kamar yang patah," ujar Azlan.


Tapi, Dara memasang wajah tak sukanya, satu fakta yang Azlan baru ketahui sekarang. Dara sama dengannya, tak suka jika permintaannya ditolak.


"Iya, iya. Akan kakak lihat." Azlan bangkit. Ia berjalan kearah jendela, menyingkap tirai berwarna abu-abu itu.


Dan di luar masih hujan dengan sangat deras. Azlan memperhatikan keadaan luar hingga matanya tertuju pada seseorang yang berdiri di luar pekarangan rumah.


"Hei!"


Azlan membuka jendela, orang itu pergi buru-buru setelah Azlan memanggil.


"Siapa dia?" gumamnya.


Orang itu memakai baju berwarna putih dan topi hitam. Wajahnya tak tampak.


"Kak, siapa?"


Azlan langsung masuk. Menutup rapat jendela dan tirainya juga. Ia menggeleng menjawab pertanyaan Dara.


"Bukan apa-apa."


"Siapa yang kau panggil?"


"Ada orang di depan rumah. Entah sedang apa hanya berdiri tanpa melakukan apapun," jawab Azlan sambil menyelimuti dirinya.


"Bagaimana kalau orang jahat?"


Azlan menggeleng kepalanya. "Bukan."


"Kakak tidak punya masalah dengan siapapun, 'kan?"


"Tidak ada. Sudah, tidur. Ini tengah malam, jamnya hantu berkeliaran." Azlan berbaring memunggungi Dara.


"Ck ... menghadap sini!" kata Dara dan berusaha membalikkan tubuh Azlan . Tapi, pria itu malah tak mau.


"Jangan marah, ya. Aku peluk sampai besok saja kok," ucap Dara lagi seraya memeluk Azlan dari arah belakang. Ia takut.


Azlan terkekeh dan melepas pelukan istrinya kemudian berbalik. "Kakak saja yang meluk."


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2