Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 84.Cepat Sembuh


__ADS_3

Setelah sup ayam dan jus alpukat habis, aku membawa bekas piring dan gelas koter ke dapur lalu mencucinya di wastafel.


Aku menangkupkan piring dan gelas koter di rak. Samar-samar terdengar suara adzan magrib.


Aku masuk ke dalam toilet dapur untuk mengambil air wudu dan melaksanakan salat magrib di kamar.


Setelah selesai, aku izin pulang pada Bunda Fisya untuk pulang ke rumah.


"Kenapa kalian gak nginap di sini aja?"


"Hehehe, kapan-kapan aja, bu. Sekarang keadaan Dara sedang gak baik. Nanti malah ngerepotin lagi. Besok juga Azlan harus ke kantor. Kalo di sana, Bi Ima ada yang urus Dara ."


Bunda Fisya hanya bisa mengangguk pasrah lalu aku menggendong Dara keluar dari kamar menuju mobil.


Chaca segera membukakan pintu mobil untuk Dara di samping kursi pengemudi.


"Terima kasih sayang."


Aku berucap seraya mendudukkan Dara di sana dan memberi beberapa lembar uang yang kukeluarkan dari dompetku.


"Sudahlah Nak Azlan , buat kalian saja. Kami juga megang uang kok," tolak Bu Fina.


"Sedekah, bu. Sekalian ini buat jajan Chaca selama dua minggu."


Aku memberikan uang senilai satu juta rupiah dengan lembaran uang berwarna biru.


"Makasih ya, Kak. Semoga Kak Dara cepat sembuh."


"Makasih ya doanya, sayang."


Aku mengelus pucuk kepalanya lalu mencium keningnya sambil menyalami tangan Bund Fisya dan berakhir menjalankan mobil menuju rumah.


****


Sampai di depan gerbang rumah, aku turun dari mobil untuk membuka gerbang itu dan kembali menutupnya.


Sampai di dalam garasi mobil, aku kembali menggendong Dara menuju kamar.


"Badan kamu ringan sekali. Besok-besok makan yang banyak."


Ralat, sebenarnya aku berbohong. Berat badan Dara sekarang sudah naik dan aku sedikit kesusahan ketika harus menaiki anak tangga menuju kamar kami.


"Istirahatlah, kakak mau mandi dulu, makan, salat."


Aku mendudukkan Dara di ranjang lalu aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh, kembali beribadah dan makan malam bersama.


Aku tak bisa memberi Dara mie, daging ataupun telur. Jadi, aku membuatkan menu salad buah untuknya.


Masih ada buah kiwi, buah apel, buah naga, buah lemon, keju, dan susu kental manis di dalam kulkas.


"Malam ini kamu vegetarian, ya. Di dalam kulkas tadi ada telor sama mie. Kakak lupa beli bahan makanan untuk kita."


"Iya."


Dara menjawab dengan anggukan diiringi dengan senyuman. Sementara aku kembali ke dapur untuk membuatkan susu coklat hangat untuknya.

__ADS_1


Setelah selesai, aku menyuruh Dara untuk membuka pakaiannya karena aku juga harus membersihkan tubuhnya.


"Ha?"


"Apa?" tanyaku balik menatapnya yang sudah menggenggam handuk basah.


"Tapi--"


"Kamu mau tidur, tapi gak mandi seharian?" potongku.


"Gak."


Aku mengangkat tubuh Dara lalu mendudukkannya di kursi yang sudah kudekatkan di ranjang.


Aku mengambil posisi duduk di bibir ranjang menghadap ke arahnya sementara Dara duduk membelakangiku.


"Dibuka bajuku?"


"Iya," jawabku singkat.


Dara melepaskan kancing kemejanya. Ya, saat aku keluar kamar, aku juga memberikan baju kemeja berwarna biru milikku padanya.


Dara melepaskan 3 buah kancing kemeja bagian atas lalu menurunkan baju kemeja itu di bagian belakang.


Mataku membola melihat punggungnya yang putih, bersih dan mulus. Apalagi sekarang kondisi kamar yang terang, sehingga kulit punggung itu memantulkan cahaya.


Glek!


Aku menelan ludah lalu mulai menyentuh punggungnya dengan handuk basah itu. Aku membersihkan punggungnya dengan pelan lalu beralih ke tengkuk, bahu dan pergelangan tangan.


Jantungku berdetak sangat kencang, napasku sedikit memburu dan jakunku naik turun menahannya.


Aku beranjak dari ranjang lalu membungkuk sedikit di depan Dara untuk membersihkan tubuhnya bagian depan.


Huh, tahan Azlan. Istrimu sedang sakit sekarang, pikirku saat aku melihat dadanya.


Sementara Dara menatap ke bawah saat aku mulai sibuk dengan tubh bagian depannya.


Aku berjongkok dan meletakkan kaki kanannya lalu kembali melap kaki mungil, putih, halus, lembut itu di pangkuanku.


Lalu aku meletakkan kaki kanan itu dan meraih kaki kirinya yang terluka. Dara sedikit meringis saat aku mengangkat kaki itu ke pangkuanku.


Setelah selesai, Dara menyuruhku untuk membawanya ke toilet karena harus membersihkan wajah dan menggosok gigi.


"Kakak keluar bentar, aku mau ganti ini."


Dara menunjuk ke arah perutnya. Aku yang mengerti segera keluar dari toilet lalu menutup pintu sambil menunggunya di depan pintu kamar mandi.


"Udah?" tanyaku.


"Belum."


Aku masih setia berdiri di depan pintu toilet dan membuka pintu toilet saat Dara berteriak dari dalam kamar mandi.


Aku membopong Dara berjalan menuju ranjang.

__ADS_1


"Besok jangan dibasahi dulu lukanya kalo kamu mandi. Usahakan jangan basah, lukanya masih belum kering. Tunggu sampai 3 hari lagi."


Dara tersenyum seraya menganggukkan kepalanya mengerti.


"Lagian kenapa sih, kamu pake manjat pohon mangga segala? Emang kamu bisa manjat?" tanyaku padanya.


"Jangankan pohon mangga, pohon durian pun juga kupanjat."


Aku terdiam mendengarnya. Apakah Dara sedang bermimpi atau bagaimana?


"Beneran?"


"Mau dibuktiin?"


"Jangan," kilahku.


Jika dia mau manjat pohon durian yang pohonnya lebih besar dari pohon mangga. Aku sangat tertegun mendengar sisi lainnya.


Biasanya banyak perempuan yang sangat takut dengan ketinggian. Termasuk aku. Apa kalian ingat saat kami lergi ke pasar malam dan naik wahana kora-kora?


Ya, begitulah aku (Author)


Benar-benar takut ketinggian, tapi memiliki otak yang cerdas.


Aku berbaring di ranjang lalu meletakkan bantal guling di tengah-tengah membuat Dara terlihat bingung.


"Nanti kakak gak tahu kalo peluk kamu, malah luka kamu yang kena."


"Iya."


Dara mengambil boneka bear yang dulu kubelikan untuknya dan memeluk boneka itu.


"Bisakah kakak menjadi boneka itu?"


"Ha?" Dara kembali menatapku.


"Kakak iri kalo kamu peluk boneka itu bukan kakak."


Aku menggembungkan kedua pipiku membuat bibirku maju ke depan.


"Tapi, 'kan kakak yang beliin boneka ini. Anggap aja aku meluk kakak."


"Haish, sama saja enggak."


Aku memiringkan posisiku menghadap ke arah Dara dengan meletakkan tangan kiriku sebagai bantalan untuk pipiku sementara tangan kananku berada di atas bantal guling.


"Cepat sembuh ya, chagia. Lain kali, kalo mau melakukan sesuatu itu harus hati-hati. Kalo enggak, ya gini hasilnya."


"Hm, jadi kakak merasa terbebani?"


"Enggak, sayang. Kakak gak suka kamu sakit. Kalo kamu sakit, kakak bisa merasakan apa yang kamu rasakan juga. Pokoknya, apapun masalh yang kamu hadapi, jangan pernah sembunyiin dari kakak. Kamu ini tanggung jawab kakak, kalaupun nyawa taruhannya. Kakak siap, asalkan kamu bisa melihat indahnya dunia. Kakak juga rela mengorbankan diri kakak buat kamu."


Sorry for typo🙏


Cepat sembuh ya Dara

__ADS_1


__ADS_2