Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 79.Aku akan buat dia mencintaiku


__ADS_3

Meature area, mohon bijak dalam membaca part ini. Anak-anak yang belum punya KTP jangan dibaca, ya. 🚫🔥


Aku menekan sedikit tengkuknya untuk memperdalam ciuman kami tanpa *******.


Duk!


Aku melepaskan ciuman kami saat Dara memukul dadaku.


Aku membuka mata seraya mengangkat kepalaku dan sebuah cahaya silau berhadapan langsung ke arahku.


Ternyata musik sudah berhenti dan orang-orang menatap ke arah kami. Astaga, aku merasa malu sekarang.


"Wow, it turns out that Mr Azlan's partner is a very romantic couple. Congratulations! You got gifts from us. Please come on the stage."


(Wah, ternyata pasangan Tuan Azlanadalah pasangan yang sangat romantis. Selamat! Kalian mendapatkan hadiah dari kami. Silahkan naik ke atas panggung.)


Aku tercekat mendengar kata MC. Apa? Naik ke atas panggung? Mendapatkan hadiah? Kami tak melakukan apa-apa, hanya ...


"Astaga, itu gara-gara kakak," celetuk Dara sambil menepuk lenganku.


"Ayo, kita naik ke atas panggung."


Aku tersenyum lalu menarik tangan Dara menuju panggung.


Terlebih dahulu aku bersalaman dengan Mr. Kyen dan Nyonya Dewi. Mereka meminta 5 orang fotographer untuk membidik kami dan Dara mengambil foto bersama di ponselnya.


Lalu seorang MC memberikan bingkisan coklat dengan berbagai macam. Ada berbentuk bulat, hati, bulan, persegi, segitiga, batangan dan tetesan air.


"Thank you so much Mr. Kyen, Nyonya Dewi," ucap Dara.


Suara riuh tepuk tangan mengiringi kami saat aku dan Dara turun dari panggung, tepatnya di atas pelaminan mereka.


Satu jam kemudian, kami pulang menuju hotel dengan mobil yang sudah disiapkan.


***


Ting!


Suara kunci pintu terbuka ketika aku menempelkan kartu di sebuah monitor dekat pintu.


Kami berjalan masuk seraya melepaskan sepatu. Dara langsung berjalan masuk ke dalam kamar.


Sementara aku berjalan ke kamar mandi untuk mandi.


Aku mengguyur tubuhku di bawah air shower dengan air sedikit panas lalu mengeringkannya menggunakan handuk.


Aku keluar dari kamar mandi dengan keadaan telanjang dada lalu melihat Dara yang tengah menikmati coklat. Hadiah tadi.


"Jangan sampai sisa coklat itu tertinggal di ranjang ya, sayang."


"Hm."


Aku kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajuku.


Setelahnya, aku duduk di meja rias untuk memakai body lotion di pergelangan tangan, perut, leher dan kakiku.

__ADS_1


Dara sangat menyukai coklat dan es krim. Bahkan coklat-coklat yang ada di dalam mulutnya sudah menumpuk di kedua pipinya.


Melihatnya saja membuat gigiku ngilu.


"Jangan banyak-banyak makan coklat. Nanti kamu gemuk, giginya sakit dan berjerawat."


"Emang bisa berjerawat?"


"Ya bisa dong. Itu 'kan gula, gula bisa menyebabkan jerawat. Sini, bagi kakak."


Aku mengambil sebuah cokat berbentuk hati.


Wah, ternyata bukan hanya coklat kosong saja. Melainkan di dalamnya terdapat saus strawberry yang meleleh saat digigit.


"Kakak yang ini saja."


Dara memberiku semangkuk coklat berbentuk bulat. Aku memasukkan ke dalam mulutku yang ternyata hanya coklat kosong saja.


"Yang gak enak kamu kasih ke kakak. Dasar curang."


Aku menggeser beberapa coklat dari Dara menuju lantai lalu menggelitik perut dan pinggangnya karena ia mulai mempermainkan ku.


"Kak, geli ... jangan."


Aku terus menggelitik Dara tanpa ampun.


"Ini hukuman untukmu karena kamu udah mempermainkan suami kamu sendiri."


Aku kembali melancarkan aksiku. Dara yang hanya bisa tertawa dan meminta ampun. Ia tak bisa memberontak dan berbaring di ranjang.


Cup!


Mata kami bertemu.


Aku merasakan napas Dara hilang.


Sementara matanya menatapku terkejut.


Saat aku hendak memajukan kepalaku, sebuah tangan menempel di dadaku menghentikan aksiku.


Aku tersenyum seraya mengambil tangan mungil itu lalu kuletakkan di atas kepalanya.


Aku kembali menyatukan keningku lalu bibirku. Menyesap manisnya coklat dari dalam mulutnya dan memberikan kelembutan di sana.


Dara hanya diam, tak memberontak dan bergerak.


Dia hanya menikmati apa yang kulakukan pada dirinya.


Aku melepaskan pangutan kami lalu mengecup lama pipinya sebelah kanan.


"Bisakah kakak mendapatkan ciumanmu setiap hari? Bukan, setiap saat kapan kakak minta."


Aku menatap lekat mata dark knight itu, diam dan hanya deru napasnya yang sangat pelan menerpa bibirku.


"Hei, kamu kenapa liatin kakak kayak gitu? Kakak bukan penculik," ujar ku karena tatapan Dara begitu aneh bagiku.

__ADS_1


"Tapi, kenapa jantung ini sepertinya mau copot. Napasku sesak dan berkeringat," balas Dara.


Aku melebarkan mataku mendengar ucapan polos darinya.


Bukan dia saja, melainkan aku juga merasakan hal itu.


Aku beranjak dari atas tubuhnya lalu Dara segera mengambil posisi duduk.


"Gosok gigi, cuci muka. Kita langsung tidur."


Aku bawa coklat-coklat itu ke luar kamar untuk menyimpannya di dalam lemari es.


Saat aku kembali ke kamar, aku tak melihat Dara di sini. Hanya suara kran air yang terdengar.


Aku menatap wajahku di depan cermin meja rias. Mengembuskan napas secara perlahan, mengingat kejadian tadi saja membuatku jantungan.


Jujur, aku menyukai Dara yang menerima perilakuku tadi.


'Geuga naleul dasi saranghage mandeulkkayo? Nae bangsigdaelo? Geuga nae modeun haengdong-eul bad-adeul-ilkkayo? O, ileon. Naneun jigeum, oneul bam geuligo yeong-wonhi jeongmal haengboghabnida,' batinku seraya menyentuh rahangku dengan kedua tanganku.


(Apa aku akan membuat dia mencintaiku lagi? Dengan caraku sendiri? Apa dia akan menerima semua perilakuku? Oh, Tuhan. Aku benar-benar bahagia sekarang, malam ini dan selamanya.)


"Kakak kenapa?"


Aku melepaskan kedua tanganku yang berada di rahang ku dan berbalik tubuh menatap Dara. Wajahnya basah.


"Enggak, pendingin ruangannya dingin. Kamu turunin suhunya, kakak mau gosok gigi dulu."


Aku berjalan memasuki kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Huft.


Aku menyenderkam tubuh di belakang pintu kamar mandi seraya mengembuskan napas kasar.


Aku menghidupkan wastafel lalu membersihkan wajah dan gigiku. Aku kembali memakai pasta gigi milik Dara, Pure.


Aku berjalan menuju meja rias dan melihat Dara yang tengah memakai produk ke wajahnya.


"Kak, kayaknya wajah aku mau jerawatan deh. Gara-gara pake make up tadi," adunya.


Aku berjalan selangkah mendekati tubuhnya lalu memegang wajahnya dengan kedua tanganku sehingga wajahnya mendongak ke atas.


Benar, ada beberapa bintik-bintik merah di sana. Pipi, kening, dagu, dan hidung.


Aku mendudukkan tubuhnya di kursi lalu mengambil kapas seraya merobeknya tipis dan membasahinya dengan toner.


Aku menempelkan kapas yang basah itu di wajahnya.


"Tunggu sampai kering," ucapku lalu kembali mengambil kapas baru, membasahinya dengan penyegar lalu menggosoknya dengan lembut di wajahku.


Setelah selesai, aku memakai serum wajah dan membuka kapas yang sudah kering dari wajah Dara.


Membuang kapas bekas itu di tong sampai lalu meneteskan dua tetes cairan kental itu di telapak tanganku sebelum akhirnya kuaplikasikan ke wajahnya.


"Besok kakak cari salep untuk jerawatnya."

__ADS_1


"Gak perlu, itu terlalu berlebihan."


"Kalo jerawatnya cepat kempes sih, gak apa-apa. Kalo bekasnya susah ilang."


__ADS_2