
Dara menggelengkan kepalanya ribut lalu memberontak agar tubuhnya menjauh dari tubuhku. Aku mengeratkan pelukanku pada pinggangnya seraya menatap wajahnya lekat membuat ia salah tingkah.
Dara menutup mulutnya dengan sebuah tangan dan tangan lainnya beralih pada perutnya. Seketika keluarlah suara yang membuat ia harus mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya tersebut.
Aku melepaskan pelukanku dan kakinya melangkah menuju kamar mandi. Aku mengikutinya dari belakang lalu membantunya untuk mengeluarkan isi dalam lerutnya dengan memijat tengkuknya lembut.
"Kamu masuk angin?" tanyaku menatap wajahnya yang memerah.
"Ah, mungkin saja," jawabnya sambil membersihkan bibirnya dengan air yang mengalir di wastafel. Dara tidak mengeluarkan apa-apa dari dalam mulutnya, hanya saliva saja membuatku heran.
"Kita ke dokter saja," ajakku.
"Tidak, aku takut jarum suntik." Dara berjalan lemah keluar dari kamar mamdi, dengan gesit aku membantunya hingga ia membaringkan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang.
Pikiranku kalut melihat Dara yang tengah melemah saat ini. Aku keluar dari kamar untuk menyuruh Bi Ima agar memanggilkan dokter untukku.
Tak berselang lama, datanglah seorang dokter perempuan ber nickname Dhea memeriksa kondisi Dara.
"Bagaimana?" tanyaku penasaran.
"Selamat, Anda resmi menjadi seorang ayah."
Seketika senyumanku merekah mendengar jawaban darinya. Aku memeluk tubuh mungil Dara dengan haru lalu dokter tersebut berlalu pergi setelah aku membayar administrasi. Beliau memberikan beberapa vitamin untuk Dara. .
"Aku akan memberitahukannya pada mereka."
Aku mengambil gawai lalu memberi kabar ini pada orang tuaku dan juga keluarga Dara. Mereka jelas sangat bahagia.
"Ayo, makan buah."
Aku memotong buah apel saat kami berada di belakang rumah. Dara tidak nafsu makan karena faktor hamil mudanya. Aku juga harus ekstra sabar menghadapi moodnya yang kadang berubah-ubah.
"Aa." Aku menyodorkan sepotong buah apel padanya, tapi bibir mungil itu enggan untuk dibuka.
"Ayo, buka. Setidaknya perutmu jangan kosong. Kamu tahu, di dalamnya sudah ada Azlan junior," sambungku.
Dara memalingkan wajahnya membuatku pasrah harus bagaimana lagi menghadapinya.
Aku menatap lekat wajahnya yang terlihat murung lalu mengecup singkat bibir itu.
"Astaga," desisnya menatapku tajam.
"Kalau gak kayak gitu, kamu bakalan murung terus," ucapku berlagak lucu.
Ting!
Aku merongoh saku celana untuk membuka isi pesan masuk melalui ponselku.
__ADS_1
(Bisa datang ke rumah, Azlan ? Ada masalah sama mesin air di sini.)
Aku mengerutkan kening membaca pesan dari Tante Amel. Aku kembali menyimpan benda pipih tersebut lalu menggenggam tangan Adnan.
"Sayang, aku mau keluar sebentar, ya. Tante Amel suruh aku ke rumahnya ..."
Ucapanku terhenti ketika Daramenatapku tajam mendengar nama Tante Amel.
"Ja-jangan gitu, dong. Dia suruh aku ke rumah buat perbaiki mesin airnya," ujarku tersenyum meyakinkannya.
"Ya udah, sana."
Senyumku langsung memudar mendengar kata-katanya. Sangat-sangat tidak sopan. Aku kembali mengecup bibirnya dan berjalan keluar dari rumah.
"Bi, tolong jaga Dara , ya," perintahku pada Bi ima yang sedang makan siang di meja makan.
"Siap, tuan."
Dirumah Tante Amel
Sampainya di depan pagar rumah bercat hijau itu, aku segera masuk ke dalam.
Ceklek.
"Ayo, Reyn." Tante Amel menarikku masuk ke dalam rumahnya membuatkh sedikit terkejut. Aku ditarik sampai ke ruang dapur miliknya di mana mesin air tersebut berada di sana.
Grep.
Aku terkejut ketika sebuah tangan memelukku dari belakang. Ketika aku hendak berbalik, Tante Amel menahannya.
"Kau tahu, aku selalu menunggumu hingga saat ini. Bahkan, saat kau sudah menikah dan memiliki istri, rasa itu semakin tumbuh Reyn."
Aku mengedipkan mata beberapa kali ketika tangan dengan tidak sopan bergerak naik ke atas dadaku.
Aku menghempaskan tangannya dengan kasar sehingga pergelangan tangan kanannya mengenai meja keramik kompor. Aku tak peduli dengan ringisan kesakitannya.
"Saya sudah bilang dari dulu, kalau Anda itu keluarga saya." Aku menatapnya tajam.
"Kalau pun kamu merasa bosan dengan istrimu, saya siap temani kamu."
Aku meludah ke arah kiri lalu menatapnya muak. Berani sekali wanita ini menjelek-jelekkan Adnan di depanku.
"Apa hakmu? Kau hanya duri untuk kehidupanku. Kau kaya, kau cantik. Carilah laki-laki yang mencintaimu." Aku melangkahkan kaki keluar dari rumah mewah tersebut menuju mobil.
"Dasar wanita ja**ng," gumamku masuk ke dalam mobil. Aku merasakan bajuku sudah bercampir dengan parfum miliknya saat dia memelukku tadi. Tanpa pikir panjang, aku melepas pakaian tersebut dan menancap gas menuju rumah.
Di rumah
__ADS_1
Sampai di rumah, aku menenteng baju tersebut ke dalam kamar lalu merendamnya ke dalam mesin cuci. Aku membaringkan tubuhku di ranjang memikirkan perkataan Tante Amel yang beraninya membicarakan Dara .
Aku memalingkan wajah ke samping di mana pemilik wajah damai itu tengah terlelap. Tanganku bergerak menyentuh surai ikalnya yang menutupi wajahnya dan menyimpan beberapa helai tersebut ke belakang telinganya.
"Tetaplah bersamaku, sampai kapanku."
Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku untuk menghilangkan kata-kata kotor Tante Amel yang masih bersarang di otakku.
Aku tak pernah memikirkan kekurangan Dara. Bagiku, Dara adalah segalanya setelah keluargaku. Dia bahkan lebih dari mantan kekasihku.
Malam harinya
Malam ini, aku mengajaknya untuk jalan-jalan ke mall sekedar menghilangkan penat sehatian di rumah.
Dara tertarik pada permainan bola basket yang ada di dalam mall. Awalnya ia tidak bisa memasukkan bola basket tersebut ke dalam ring.
Setelah aku melakukan beberapa skors, ia mulai bisa walaupun kadang tidak lolos. Aku melihat ada raut wajah bahagia di wajah polosnya.
"Chagi."
Aku berhenti memasukkan bole ke dalam ring ketika mendengar sebuah suara yang tak asing di telingaku.
"Kang Yuri," gumamku. Wanita itu berjalan ke arahku dengan senyuman manisnya.
Kang Yuri memelukku tepat di depan Dara Aku menoleh ke arah Dara yang diam mematung melihat kejadian ini di depan matanya.
"Apaan sih!" bentakku membuat pelukannya terlepas.
"Kau lupa sama aku, sayang?" Kang Yuri menangkupkan wajahku dengan kedua tangannya.
"Saya sudah punya istri!" tekanmu lalu meraih tangan Dara.
Bukan, aku tidak bisa meraih tangan mungilnya karena ia lebih dulu pergi meninggalkan kami dengan air mata.
Aku menggeram kesal menatap Kang Yuri yang menatap Dara sinis. Saat aku ingin mengejarnya, tanganku dicekal olehnya dengan tatapan lembut.
"Apa? Kenapa kau lebih mementingkan gadis itu ketimbang aku? Aku pacarmu, dulu kau selalu memprioritaskan ku, Azlan ."
Aku melepas cekalan nya dan beralih menatap Dara yang sudah hilang oleh kerumunan.
"Aish," umpat ku berlari untuk mencari keberadaan Dara
Di parkiran
Sampai di parkiran, aku disuguhkan dengan air hujan mengalir dari atas ke bawah dan seorang wanita yang berada di dalam pelukan pria tak jauh dari parkiran roda empat.
"Oh, jadi dia sama Fero," gumamku mengeraskan rahang menatap adegan tersebut.
__ADS_1
Review yang panjang ..