Sahabatku Suamiku

Sahabatku Suamiku
Chapter 72.Tetaplah Seperti Ini


__ADS_3

"Wah, kakak tahu isinya?" tanya Dara padaku.


Aku terkekeh pelan lalu mengambil cemilan yang berada di dalam mangkuk dan memasukkan ke dalam mulut Dara.


"Iya, kakak punya IQ lebih dari kamu. Kamu harus bahagia karena bisa mendapatkan suami yang cerdas, mapan dan tampan seperti kakak," ujarku dengan percaya diri tingkat dewa.


"Alah, cuman itu."


"Hei, kamu itu harus bersyukur. Karena orang tampan seperti kakak."


Dara berdecak lalu berbaring di ranjang. Sementara aku memakai sheetmask untuk menyegarkan kulitku yang lelah.


"Kamu mau gak?" tanyaku seraya meratakan sheetmask di wajahku.


"Enggak, udah pake kok."


Setelah selesai, aku duduk di ranjang sambil memainkan ponselku.


"Sayang."


"Hm."


"Potongin rambut kakak malam ini," pintaku.


Dara membalikkan posisi berbaringnya menghadapku. Jangan ditanya dengan tatapan matanya yang tajam.


Aku melepas sheetmask di wajahku lalu menarik tangannya menuju kamar mandi, tapi terlebih dahulu aku mengambil gunting yang ada di meja rias.


Aku meninggalkan Dara di kamar mandi karena aku harus mengambil kursi santai untukku duduk di depan cermin wastafel.


"Ayo."


Aku mendudukkan diri di depan cermin wastafel. Sementara Dara hanya diam menatapku.


"Aku gak pintar dalam hal ini. Nanti kalau jelek gimana?"


"Kamu tahu, sayang? Rambut ini sangat mengganggu aktivitas kakak di luar. Apalagi bagian poninya udah sampai ke pipi. Kalau dipanjangin lagi, kakak kelihatan lebih tua."


"Kakak memang tua, udah tiga puluh dua tahun," tukasnya.


"Yak, gini-gini kakak kelihatan delapan belas tahun tahu. Kakak sangat pandai merawat diri," gerutuku.


"Jadi, kakak maunya gimana?"


Aku mulai menyisir rambutku terlebih dahulu lalu mengukur rambut yang harus Dara potong menggunakan gunting yang melekat di tangan mungilnya.


Dara mengambil posisi berdiri di belakangku lalu memperhatikan tanganku ke cermin.


Dara mulai memotong rambut bagian depan sampai alis. Awalnya Dara memotong poniku hingga kelopak mata, tapi aku memintanya untuk memotong lagi sampai di bawah alis.


Aku memutar kursi hingga menghadap ke arahnya, agar ia bisa leluasa mengerjakan perintahku dan aku juga bisa melihat wajahnya yang serius.


Jarak antara wajahku dan wajah Dara cukup dekat, hanya berjarak dua kepalan tangan.

__ADS_1


Sehingga aku dapat merasakan napas hangatnya menyentuh dagu hingga dadaku yang terekspose di depan matanya.


Aku juga bisa merasakan tangannya begitu gugup sejak awal hingga saat ini.


"Kenapa kamu segugup itu? Kita sudah lama menikah, dan kamu masih gugup?"


Pertanyaanku membuat aktivitasnya terhenti. Tubuhnya yang tadi merunduk mendadak berdiri tegap dan sorot matanya menghadap ke depan.


Aku terkekeh melihat tingkahnya yang begitu lucu dan menggemaskan. Aku ingin menerkamnya saat ini juga.


"Hei, cepatlah kerjakan tugasmu," titahku.


Dara membuang napasnya kasar dan kembali memotong rambutku di sebelah kiri.


Setelah selesai, aku berdiri menghadap cermin untuk melihat hasilnya. Tidak begitu buruk, pikirku.


"Terima kasih sayang."


Aku mengambil gunting dari tangan mungilnya lalu memanggil Alazka untuk membantuku memangkas rambut di bagian belakang.


Tak berselang lama, Alazka datang ke kamarku. Sementara Adnan sesegera mungkin memakai jilbab untuk menutupi rambutnya.


"Why?"


"Dwismeoli dadeum-eul dowajuseyo. Je anaeneun hal su eobs-seubnida," pintaku seraya memberikan alat untuk memangkas rambut pada Alazka.


(Tolong bantu aku untuk memangkas rambut bagian belakang. Istriku tak bisa melakukannya.)


"Goss," umpat Alazka.


Sementara Dara menunggu di ruang televisi.


10 menit kemudian, aku dan Alazka keluar setelah membersihkan sisa-sisa rambut yang tertinggal di tubuhku menggunakan handuk bersih.


"Sayang," panggilku.


Dara menoleh ke arah kami saat netranya fokus pada layar televisi LCD.


"Gimana?" tanyaku seraya duduk di sampingnya.


"Bagus, cocok. Makasih tuan."


"Hei, panggil Alazka saja," celetuk Alazka pada Dara pasalnya Dara memanggilnya dengan sebutan 'tuan'.


"Oh, iya gimana kalo kita makan malam di sini?"


Aku menatap ke arah Dara. Yang benar saja.


"Boleh."


"Saya pesan makanan dulu," sambung Alazka seraya merongoh saku celananya. Delivery.


Tiga puluh dua menit kemudian, pintu kamar kami diketuk oleh seseorang. Alazka yakin jika itu adalah orang yang mengantar makananya.

__ADS_1


"Ayo, kita makan."


Alazka membawa makanan ke dalam setelah ia menutup pintu kamarku. Banyak sekali plastik dan kotak di sana.


"Kenapa sebanyak ini?" tanya Adnan.


"Kita akan menghabiskan semuanya. Tak apa," ujarku.


Di sana Alazka membuka satu per satu kotak yang berisi Macaron, Madeleine, Confit De Canard, Roasted Potato.


Info:


Roasted Potato:Kentang yang di oven bareng dengan kaldu ayam ini bisa jadi makanan yang mengenyangkan, tentu saja anda bisa sekaligus membeli roasted chicken-nya karena sang penjual juga menjual menu ayamnya. Tapi, jika tetap mau maksimal 5 Euro tidak ada pilihan lain selain pesan kentangnya saja.


Sebelum kami makan, terlebih dahulu Dara membuat coklat panas untuk minuman kami.


Kami menikmati makan malam ini, Alazka menceritakan tentang pernikahan Mr. Kyen.


Pasalnya beliau menyelenggarakan banyak sekali games untuk para undangannya termasuk kami.


"Wah, terima kasih atas waktunya Azlan. Gue balik ke kamar dulu. Selamat malam."


"Ya, malam," jawabku singkat seraya berjalan menuju pintu kamar.


Setelah Alazka hilang, aku kembali berbaring di ranjang dan kami mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah.


"Semoga saja gamesnya gak aneh-anah, ya."


"Kamu kenapa ngomong gitu, sih?"


Aku memeluk tubuhnya dan menariknya ke dalam dekapanku.


"Gak apa-apa."


Aku tersenyum tulus mendengar ucapan terakhirnya. Ada-ada saja.


Saat aku membuka mulut hendak berbicara, tiba-tiba aku mendengar suara dengkuran Dara.


"Ya ampun, lagi-lagi aku ditinggal tidur olehnya."


Aku mengeratkan pelukanku pada tubuhnya, meresapi kehangatan dari


tubuhnya dan aroma yang menjadi canduku hingga sekarang.


Aku memperbaiki posisi kepalanya yang sedikit mengadah ke atas sehingga nanti ketika ia bangun takut jika lehernya sakit.


Aku menaikkan selimut yang tadinya menutupi setengah tubuh kami hingga lehernya.


Sebelum itu aku juga menurunkan suhu ruangan karena terlalu dingin sehingga Dara tertidur seraya memeluk tubuhnya sendiri.


"Idaeloiss-eo la, nae hyeongcheoleom. Jeoldae byeonhaji ma, yeobo. Nega nae gyeot-eseo pyeon-anhaejil ttaekkaji mwodeun hal geos-ida. Geu nunmul-i heulleodo silmanghaji anh-eulge naega muchaeg-imhan salam-in geos gat-a naneun jeongmallo jeojuleul bad-assda. Ije naneun maeu haengboghabnida. Dasineun seulpeohaji malgo haengboghaseyo. I munjeleul jigjeob daluji masibsio. Naneun dangsin-ui nampyeon-ibnida. Naleul dangsin-ui dongsang-ina inhyeongcheoleom saeng-gaghaji masibsio. Naega jonjaehandago saeng-gaghandamyeon jeongmal huimanghabnida. Munjee daehae geoui iyagihaji anhseubnida. Joh-eun bam, dalkomhan kkum. Dangsin-ui kkum-i ilueojigileul balabnida."


(Tetaplah seperti ini, seperti Daraku. Jangan pernah berubah, sayang. Aku akan melakukan apapun hingga kau benar-benar nyaman di sampingku. Aku takkan membuatmu kecewa bahkan jika air mata itu terjatuh, rasanya aku seperti seorang pria yang tak bertanggung jawab. Aku sangat merutuki diriku. Sekarang, aku sangat bahagia. Jangan pernah sedih lagi, tetaplah bahagia. Jangan pernah kamu tutupi masalah ini sendiri, aku suamimu. Jangan anggap aku seperti patung atau bonekamu. Aku sangat berharap jika kau menganggapku ada. Kau jarang sekali cerita mengenai masalahmu. Good night sayang, mimpi yang indah. Semoga mimpimu menjadi kenyataan.)

__ADS_1


(Hangul\=>이대로있어 라, 내 형처럼. 절대 변하지 마, 여보. 네가 내 곁에서 편안해질 때까지 뭐든 할 것이다. 그 눈물이 흘러도 실망하지 않을게 내가 무책임한 사람인 것 같아 나는 정말로 저주를 받았다. 이제 나는 매우 행복합니다. 다시는 슬퍼하지 말고 행복하세요. 이 문제를 직접 다루지 마십시오. 나는 당신의 남편입니다. 나를 당신의 동상이나 인형처럼 생각하지 마십시오. 내가 존재한다고 생각한다면 정말 희망합니다. 문제에 대해 거의 이야기하지 않습니다. 좋은 밤, 달콤한 꿈. 당신의 꿈이 이루어지기를 바랍니다.)


__ADS_2