
Begitu selesai makan aku tidur kembali,sampai kapan aku akan tidur terus seperti ini,aku yakin mami mas Irwan penasaran dan akan naik terus bertanya kenapa aku ndak turun untuk makan atau sebagai nya,aku ndak perlu menjawab karena ketika mami melihat tato ku yang begitu banyak di leher akan tau kenapa aku ndak keluar dari kamar.belum lagi hal itu hilang dari pikiran ku mami sudah berdiri tepat di hadapan ku yang sedang berbaring miring
"kamu kenapa ndak turun?tanya mami dengan mengusap punggung ku dan aku langsung terduduk,mami tersenyum melihat ke arah ku
"jadi ini alasan kamu gak turun?mami sudah tau alasan ku"seperti inikah kelakuan Irwan terhadap kamu ga?tanya mami"apa dia gak ingat kalau keluarga kamu berada di sini?rasa malu ku semakin membesar
"ibu mu juga tadi bilang kalau leher kamu merah merah semua dan ibu mu sangat khawatir sekali"kata mami dengan tersenyum,mas Irwan masuk ke dalam kamar dan santai
"seperti inikah kelakuan kamu wan?tanya mami nya dengan menjewer telinga nya
"sakit mi sakit"kata nya dengan berusaha melepaskan tangan mami dari telinga nya"kenapa mami tiba tiba menjewer telinga ku?
"lihat?kata mami dengan menunjuk leher ku
"lupa mi"
"Irwan,,,Irwan"kata mami nya dengan memegang kening nya"pagi tadi ibu nya iga begitu khawatir melihat leher anak perempuan nya yang hamil merah merah semua,bahkan ibu nya sempat meminta mami membawa iga kerumah sakit atau kebidan wan"aku hanya mampu terdiam,mas Irwan benar benar ndak bisa mengontrol diri,pada hal aku lagi hamil besar dan dengan kondisi sakit baru pulang dari rumah sakit tapi semua itu dia abaikan.
"kalau ibu nya bertanya kembali dengan mami jawab aja ya mi iga hanya alergi"
"enak kamu"kata mami dengan menepuk jidat nya dan mas Irwan hanya tersenyum
"mami mau kemana?mami ndak menjawab hanya tersenyum.
Malam mulai datang,mas Irwan sibuk mempacking barang barang nya,
"mas"panggil ku
"hmmm"jawab nya tanpa menoleh ke arah ku
"mas"panggil ku sekali lagi
"hmmmm"masih sama jawaban nya
"kamu dengar aku mas?tanya ku,dia berdiri dan langsung mendekati ku yang duduk di ranjang
"dengar,,,,kamu mau bicara apa?
"ibu dan ketiga adik ku ikut kita kan mas?tanya ku,dia memandangi wajah ku yang khawatir dengan tersenyum
__ADS_1
"jadi"dengan menyentuh hidung ku yang mancung,dia kembali menyusun barang yang akan di bawa ke Jakarta"kita naik mobil aja ya?tanya nya
"naik apa saja boleh mas"dia mengancungkan jempol nya,aku merasa bahagia sekali dengan mengusap perut aku berjalan menuju lemari dan ku ambil baju seperlu nya karena di Jakarta baju ku juga banyak,kami saling pandang dan tersenyum dia berdiri dan memeluk ku dari belakang,di cium nya leher ku bertubi tubi dengan mengusap perut ku,
"udah ah"kata ku dengan melepaskan pelukan nya
"kenapa,,,kamu udah bosan?
"tato di leher ku saja belum hilang mas,kamu malah ingin menambahi nya lagi"
"aku akan membuat tato yang gak akan bisa di lihat orang lain"kata nya dengan tersenyum
"dimana?tanya ku
"dimana aku suka"jawab nya dengan tertawa,
hari sudah menjelang pagi,mas Irwan sudah rapi,tapi aku masih berbaring malas
"kamu niat ikut gak seh?tanya nya dengan mengusap punggung ku
"bentar mas"jawab ku dengan mengucek ngucek mata ku
"buruan,ibu sudah nunggu di bawah"
"gak"aku langsung turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi dengan memegang bawah perut ku yang terasa keram,aku sudah lama ndak merasakan keram perut ku tapi pagi ini,mulai ku guyur tubuh ku,ibu ya kenapa ibu ndak pernah mengatakan pada ku tentang sikap bapak dan aku sampai merasa ndak percaya kalau bapak bisa melakukan hal seperti itu pada ibu bukan kah ibu sudah ikut berjuang untuk mencukupi kebutuhan anak anak nya,tapi apa balasan bapak terhadap ibu,dan bapak juga ndak pernah nelpon ibu atau memang bapak benar benar ingin berpisah dengan ibu?kalau itu yang ingin bapak mau baiklah aku akan membawa ibu dan ketiga adik ku ke Jakarta mungkin ini yang terbaik buat mereka to selama ini ibu sudah melakukan yang terbaik dan bapak juga ndak ada menjemput ibu di sini,tapi harus kah ibu berpisah dengan bapak ketika usia nya sudah senja?ah ibu sungguh malang jalan hidup mu,apakah ini yang dinamakan takdir?
"yang,,,"suara mas Irwan dengan mengetuk pintu kamar mandi
"ya"
"kamu kenapa lama?
"iya sebentar lagi mas"aku membilas tubuh ku dan keluar dengan hanya memakai handuk,perut ku sudah begitu besar sehingga handuk yang ku pakai sudah ndak muat
"kamu kenapa lama?
"ndak ada mas"jawab ku dengan memakai baju hamil model daster
"kamu bohong?tanya nya,ku tatap mata nya begitu dalam"ada apa?
__ADS_1
"harus kah ibu ku berpisah dengan bapak ketika usia mereka sudah senja?tanya ku mas irwan memandang ku tanpa menjawab"aku takut memiliki nasib yang sama dengan ibu ku mas"aku memegang bawah perut ku dengan mengigit bawah bibir ku karena perut ku masih terasa keram
"perut kamu keram?tanya nya dengan ikutan memegang bawah perut ku"dr.naura sudah mengatakan kalau kamu gak boleh stres ga"
"aku memikirkan nasib ibu ku mas"
"jangan kamu pikirkan"
"bagaimana mungkin aku ndak kepikiran mas dia itu ibu ku"air mata ku mulai mengalir
"tenang"dia memeluk ku dengan mencium kepala ku dan mengusap punggung ku"selagi kita dapat membantu nya maka beban ibu mu akan berkurang"
"tapi sampai kapan mas?tanya ku dengan menatap nya
"sampai aku gak mampu"
"sungguh mas?tanya ku dengan memeluk nya kembali
"percayalah pada ku"
"terima kasih mas"kata ku"terima kasih"ku peluk erat erat tubuh nya yang kekar
"kalian ngapain?tanya mbak Rani,kami begitu terkejut dan langsung melepaskan pelukan
"ada apa ga?tanya mami,aku menunduk kan kepala"hai kenapa diam?tanya mami lagi dengan memegang punggung ku
"sekarang ini beban mas Irwan bertambah mi"
"bertambah?tanya mami bingung"maksud kamu apa?aku ragu untuk menjawab nya,aku menatap mas irwan
"ibu dan ketiga adik ku akan tinggal bersama kami mi"
"ohhh...bagus itu"mami tersenyum
"mami ndak marah?
"kenapa marah,setidak nya ada yang menjaga kamu"ku peluk mami dengan bahagia
"terima kasih mi"
__ADS_1
"udah"mami mengusap punggung ku"buruan turun ibu mu sudah menunggu"
"iya"mami dan mbak Rani keluar dari kamar kami.