Sebuah Harapan

Sebuah Harapan
Masih Bertemu


__ADS_3

Jam makan siang telah selesai ica sekretaris ku sudah menunggu dengan setia di ruangan ku


"kita sudah siap untuk berangkat bu" kata ica


"iya"dengan berdiri dari kursi dinasti ku" apa sudah ada kabar dari mereka ca?"tanya ku


"sudah bu dan mereka sudah menunggu kita"


"baik lah" dengan menyerahkan beberapa map kepada nya, aku berjalan di depan dan di ikuti oleh nya dari belakang"sebentar semua nya"panggil ku"kalau kerjaan kalian semua sudah selesai langsung pulang saja"


"kami gak menunggu bu iga?" tanya nya


"untuk apa?"


"ya kami juga kepingin tau bu apakah mereka mau bekerja sama dengan kita" tari memandang ku dengan wajah tertunduk


"masih ada hari esok" jawab ku pelan"kalau misalnya ada yang mencari saya bilang saja saya sedang keluar"


"iya bu" mereka menjawab nya dengan kompak"mari ca"ajak ku dia mengikuti ku sampai di parkiran mobil dan aku melihat pak kardi sudah menunggu kami dengan setia dia membuka kan pintu mobil untuk ku dan ica duduk di sebelah pak kardi


"kita langsung berangkatkan non?"


"iya langsung saja pak" jawab ku dengan menyandarkan kepala ku di kursi belakang, aku heran kenapa akhir akhir ini aku suka pusing dan mual pada hal kehamilan ku sudah memasuki Tri semester kedua


"ibu kenapa?" tanya ica


"hanya sedikit pusing ca"


"atau kita cancel aja pertemuan ini bu?"


"jangan" suara ku pelan"ndak enak mereka sudah menunggu kita masak kita batalin begitu saja"ica membalikan badan ke arah ku dan tersenyum


"kenapa kamu tersenyum ca?"


"gak ada bu" jawab nya dengan membalikan badan nya ke arah depan


"kita ke kafe podo moro kan non?"

__ADS_1


"iya pak" jawab ica dan pak kardi memandang ke arah nya"maaf pak"pak kardi melajukan mobil nya sedikit kencang karena ica mengatakan kalau kita sudah di tunggu oleh mereka, sementara aku tertidur di kursi belakang dengan nyenyak sampai aku ndak menyadari kalau kami sudah sampai di tempat yang di tuju


"bu" panggil ica dengan menyentuh tangan ku


"kita sudah sampai ya ca?" tanya ku spontan terbangun


"sudah bu"


"akhir akhir ini saya suka tidur ca" kata ku dengan keluar dari mobil


"biasa wanita hamil bu, kakak ipar saya juga sama seperti ibu"


"hamil?"tanya ku


"suka tidur dimana saja bu"


"apakah kakak kamu itu juga hamil ca?"


"malah tinggal nunggu hari nya bu" sambil berjalan memasuki kafe


"saya belum pernah hamil bu"


"tapi kakak kamu"


"mungkin sebelum hamil kakak saya punya hobi bu"


"apa?"


"tidur"


"tidur itu hobi juga ya ca?" tanya ku, ternyata bu iga ini polos banget ya masak dia bertanya seperti itu, batin nya


"barang kali saja bu" aku belum mengenal klien yang ingin bekerja sama dengan perusahaan ini


"ca"panggil ku dengan menarik tangan nya


" ada apa bu, ibu mual lagi?"

__ADS_1


"ndak,,"


"lalu apa bu?" tanya nya dengan serius melihat wajah ku


"saya belum mengenal mereka"


"oh kirain bu, kalau itu mah gampang"


"gampang gimana?"


"ibu tinggal mengenalkan diri pada mereka dan secara otomatis mereka akan mengenalkan diri ke pada ibu, atau sebalik nya bu" aku menganggukkan kepala dan kembali berjalan menuju ke meja dimana mereka sedang menunggu dan alangkah terkejut nya aku melihat mas irwan juga berada di antara mereka dan dia langsung berdiri dan menatap ku dengan tatapan penuh tanda tanya, mereka semua pun ikut berdiri dan menjabat tangan ku dan juga ica


"maaf Pak,,, saya akan mengenalkan direksi baru di perusahaan kami" mengapa mereka memandang ku terus, apakah mereka heran kenapa wanita hamil bisa di perkerjakan di sebuah perusahaan dan itu bukan main main aku langsung di angkat sebagai direksi yang di bilang cukup lumayan atau mereka kagum dengan kecantikan ku semua orang tau kalau aku itu cantik apa lagi rambut aku kepang ke belakang di tambah polesan wajah ku yang ndak menor seperti mereka yang di luar sana, mungkin mas irwan heran kenapa aku bisa di angkat direksi


"saya Gilang bu" seorang lelaki dengan perawakan gendut dan pendek tapi dia kelihatan elegan dengan penampilan nya


"saya iga sandriawati dan biasa di panggil iga pak"


"saya Hendra bu" kurus dengan kumis tipis menghiasi bibirnya dan sangat kelihatan dari penampilan nya kalau dia lelaki sukses


"saya vijay bu" kalau di lihat dia ndak mirip dengan india tapi kenapa nama nya seperti orang India"jangan bingung dengan nama saya bu, karena kakek saya yang keturunan india"aku tersenyum begitu juga dengan ica dan lelaki yang ku anggap sebagai seorang suami tapi ndak pernah menghargai ku, irwan wijaya hardi diningrat begitu melekat nama itu di otak ku karena dia adalah calon ayah dari anak yang aku kandung, dia menjabat tangan ku dengan melihat ke arah perut ku yang sudah mulai besar


"silahkan duduk bu"dengan senyum manis nya pak vijay mempersilahkan aku duduk, ketika aku ingin duduk tanpa sengaja atau sengaja mas irwan menyenggol ku sehingga membuat tas dan HP yang aku pegang jatuh, aku berusaha mengambil nya dan ketika aku membungkuk kan badan mas irwan juga mengikuti gerak ku dengan memegang jari ku


"apa kabar kamu?" tanya nya pelan dengan mengambil barang ku yang jatuh dan tanpa sengaja pandangan kami pun bertemu jujur dada ini berdebar debar karena semakin aku membenci nya semakin dalam rasa ini, bodoh kah aku ***** kah aku tapi aku ndak bisa mencegah rasa ini, apakah dia juga merasakan hal yang sama


"baik" jawab ku gugup, dia berusaha ingin membantu ku tapi aku menolak nya"Terima kasih"kata ku yang membiarkan tangan nya yang masih terjulur ke arah ku, ica membantu ku berdiri dengan menarik tangan ku


"ibu gak papa?" tanya nya yang melihat ku nyegir menahan sesuatu dengan memegang bawah perut ku


"ndak,, " aku dan ica duduk bersebelahan ah mata indah itu selalu menatap ku tanpa berpaling sedikit pun lelaki yang memiliki mata indah itu ndak lain suami ku sendiri yang membuat aku menjadi sedikit salah tingkah tapi aku berusaha menutupi rasa itu, salah kah aku yang masih menganggap nya suami ku"ca mana proposal nya?"tanya ku


"ini bu" dengan menyerahkan semua map diatas meja, dan kami pun langsung membicarakan tentang kerja sama dan mereka pun sepakat dan langsung menanda tangani kontrak kerja terkecuali dia ayah biologis anak ku


"saya bisa minta no HP bu iga"


"minta saja dengan sekretaris saya" begitu banyak yang kami bicarakan dan akhir nya mereka semua pun pergi dengan alasan masih banyak urusan tapi se endak nya aku senang karena mereka mau bekerja sama dengan kami.

__ADS_1


__ADS_2