Sebuah Harapan

Sebuah Harapan
Masih Bertengkar


__ADS_3

sampai di kamar dia tetap mengikuti ku


"aku gak cemburu?


" lalu?


"hanya ingin tau?


" keinginantahu mu itu berlebihan mas?


"wajar dong aku kan suami kamu"


"apakah kamu menganggap ku istri mas? tanya ku dengan berbalik ke arah nya" aku lelah mas, aku capek dengan pernikahan ini? dia diam mendengarkan kata kata ku"tadi nya aku bahagia ketika kamu mengatakan pada karyawan mu kalau aku itu istri mu mas tapi begitu aku mendengar jangan sampai Winda tau kalau aku ini istri mu aku jadi sakit mas, sakit"air mata ku mulai jatuh di pipi ku"apa kamu menyadari mas?


"dia akan berbuat nekat kalau dia tau kamu itu istri ku"


"kalau begitu bukan kah lebih baik kita berpisah?


" agar kamu bisa leluasa jalan sama pacar kamu"


"terserah apa kata mu mas terserah" jawab ku dengan menunjuk dada nya"setiap kali kita bertemu pasti selalu bertengkar aku merasa sudah ndak nyaman"


"pasti karena nya?


" jangan melibatkan dia dalam hal ini karena dia ndak tau apa apa"jawab ku dengan memegang perut ku yang terasa keram, aku nyengir dengan menggigit bibir bawah ku dia melihat ku


"kamu kenapa ga? tanya nya dengan berusaha memegang perut ku tetapi aku menolak nya dengan menepis kan tangan nya


"ndak usah pura pura perhatian" kata ku pelan

__ADS_1


"kamu menganggap perhatian ku pura pura? tanya nya" kalau kamu gak mau aku membantu mu, baik terserah kamu aku gak perduli"kata nya dengan keluar dari kamar ku dan aku ndak memperdulikannya. Kenapa setiap kali aku bertemu dengan nya aku selalu bertengkar , apakah aku yang salah dalam hal ini? tapi aku sangat sakit jika mengingat hubungan nya dengan wanita itu walaupun aku tau sebelum dia menikahi ku dia lebih dulu mengenal mas irwan dan mas irwan juga ndak pernah menghargai aku sebagai istrinya,aku semakin merasakan keram yang sangat dengan berjalan tertatih tatih memegang bagian bawah perut aku berusaha menuruni anak tangga.


"bi" panggil ku pelan"bi surti"dengan memegang pagar tangga aku bertahan dan bi surti pun datang dan melihat ku dari bawah


"ada apa non? tanya nya dengan melihat ke arah ku yang sedang kesakitan


"bantu saya bi" bi surti langsung berlari kecil menuju ke arah ku


"non iga kenapa? tanya nya dengan membantu ku menuruni anak tangga, aku ndak menjawab hanya diam dengan menggigit bibir bawah ku"kerumah sakit saja ya non? bi surti kelihatan sekali kalau sedang bingung, aku menganggukkan kepala


" pak kardi,,,,,!!!!! panggil bi surti, dengan tergolong gopoh pak kardi lari menuju kami


"ada apa bi surti?


"buruan kerumah sakit"pak kardi melihat ku yang sedang ke sakitan


"non iga kenapa? tanya nya


"sakit bi" kata ku


"bertahan lah non"kata bi surti, aku meremas tangan nya bi surti untuk menahan rasa sakit


" rumah sakit mana ini bi? tanya pak kardi dan bi surti bingung menjawab nya aku memyebutkan nama rumah sakit di mana dokter Naura praktek, aku menangis merasa sakit, sakit karena mas irwan, lelaki egois yang ndak pernah menghargai istri nya.


"non,,,, " panggil bi surti dengan mengusap ngusap tangan ku dia memandang ku, mungkin selama ini bi surti ndak tau bagaimana hubungan ku dengan mas irwan, mobil sampai dan kami langsung turun, bi surti memapah ku menuju ruangan dokter Naura


"sebentar ya bu dr. Naura masih ada di ruangan operasi"


"lama lagi gak ya Sus? tanya bi surti

__ADS_1


" saya gak tau bu"jawab nya dengan memandang ke arah ku, suster membaringkan tubuh ku di ranjang tangan ku ndak lepas memegang tangan bi surti, suster mulai mentensi tekanan darah ku dan ndak berapa lama dr. Naura datang dia terkejut melihat ku


"kamu kenapa mbak? tanya nya, aku hanya menggelengkan kepala, dr. Naura langsung memeriksa ku dengan USG


"sakit dok" lirih ku


"saya sudah pernah bilang kalau mbak iga gak boleh stres" kata nya, aku memiringkan badan ku dan memegang tangan bi surti"dasar lelaki egois"kata nya, aku meremas remas tangan bi surti


"lalu bagaimana ini bu dokter? dr. Naura melihat ke arah ku yang berusaha menahan rasa sakit dan dr Naura mengusap usap pinggang ku dengan lembut


"ibu siapa nya?


"saya asisten rumah tangga non iga bu"aku mulai merasakan kram di perut ku mulai sedikit berkurang


"coba bibi usap pelan pelan pinggang nya ya, saya keluar sebentar"gantian bi surti mengusap usap pinggang ku di bantu dengan suster, aku masih posisi miring dengan mengusap bawah perut ku


"bisa ndak saya bertahan bi" kata ku pelan, bi surti menatap ku


"harus bisa non demi calon anak non"


Sementara diluar dr.Naura sedang menelpon seseorang dia kelihatan marah sekali siapa yang di telpon nya ndak tau, setelah menelpon dr. Naura masuk kembali ke ruangan nya dan membantu ku mengusap bawah perut ku


"besok bi kalau terjadi hal seperti ini bibi usap usap aja pinggang nya pelan pelan atau bawah perut nya juga tapi jangan di tekan ya bi"


"iya bu dokter"ku pegang kuat kuat bibir pinggir ranjang untuk menahan nya, pintu ruangan dr. Naura terbuka ternyata mas irwan yang masuk, dia melihat ke arah ku karena aku sedang berbaring pinggang dan perut ku sedang di usap usap oleh mereka.


" gimana ra?


"bukan aku tapi istri mu wan" jawab nya sinis"beruntung nya aku gak menikah sama lelaki yang egois dan kekanak kanakan seperti kamu"

__ADS_1


"maksud kamu apa?


" kamu gak sadar atau bagaimana wan? tanya nya, aku, bi surti dan suster hanya mendengarkan mereka berdua berbicara"istri kamu sedang berjuang mempertahan kan calon anak mu tapi kamu, sebenarnya kamu itu bapak nya atau bukan sih wan? mas irwan hanya diam"sedikit pun aku gak melihat cinta di mata mu, pandangan yang penuh khawatir jika terjadi sesuatu terhadap istri dan anak mu dan aku juga tidak melihat ada kecemasan di dalam diri mu ketika kamu mengetahui istri mu sedang menahan sakit akibat ulah mu, aku harap kamu gak akan pernah menyesal jika terjadi sesuatu terhadap istri dan calon anak mu"bi surti terdiam selama ini dia ndak tau bagaimana hubungan ku dengan suamiku tapi akhirnya dia mengetahui semua nya hari ini.


__ADS_2