
Kami keluar dari restauran dan pak kardi dengan sigap membukakan pintu mobil untuk ku dan semua nya masuk ke dalam mobil, mesin menyala dan dengan perlahan lahan mobil meninggalkan parkiran mobil
"mau kemana lagi non?
" mall"
"ndak usah pak kita pulang saja"
"kenapa bu?
" ibu mengantuk, dan bapak mu juga sudah lelah"aku memandang ketiga adik ku terlihat wajah kecewa mereka sehingga membuat ku menjadi iba
"kalian sudah kenyang? tanya ku, tapi mereka sama sekali ndak menjawab"kalian kecewa sama mbak? mereka tetap diam" ya sudah kalau kalian marah sama mbak"kata ku dengan wajah cemberut dan memandang keluar melalui jendela mobil.
"kita ndak marah mbak" kata nina
"iya mbak" Nina menimpali kata kata Nino, aku memandang rino yang sudah mulai menguap, mungkin efek kekenyangan jadi bawaan nya mengantuk, ku sandarkan tubuh ku di bangku dengan mengusap perut ku
"kita pulang saja pak" kata ku
"baik non" biarlah saat ini aku mengikuti kata kata ibu ku untuk ndak pergi, tapi suatu saat aku akan mengajak mereka ke mall. mobil sampai dan kami pun turun dan masuk ke kamar nya masing masing karena malam sudah larut, bapak menggendong rino yang sudah tidur,
Di kamar aku belum bisa memejamkan mata, pikiran ku sedang berkecamuk, panggilan masuk atas nama mas irwan ya suami ku kata nya sedang berusaha menelpon ku tapi ndak ku angkat hanya ku pandangi saja, beberapa pesan masuk melalui WA dan pesan masuk semua ndak aku balas, aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan mungkin saat ini dia benar benar merasa kehilangan diri ku atau hanya berpura pura aku juga ndak tau tapi ketika aku membaca pesan nya dia sangat mencintai ku dan merindukan ku tapi bagi ku semua nya itu bohong, ya kebohongan publik mungkin kemaren dia bisa mempermainkan ku tapi saat ini aku ndak akan tertipu lagi, cukup selama ini dia mempermainkan perasaan ku karena mulai hari ini aku ndak sebodoh yang kamu bayangin mas, mungkin kemaren hati ku begitu luluh mendengar kata kata mu tapi saat ini hati ku sudah beku kamu butuh waktu untuk mencairkan nya dan itu ndak mudah,
"mbak" panggil nina, aku memandang nya"mbak iga kenapa?
"ndak ada" jawab ku
"mbak iga kelihatan sedang memikirkan sesuatu?
" kamu seperti anak dukun saja"
"ini karena mbak iga" kata nya dengan naik ke ranjang dan mendekati ku
"kok mbak iga?
"jangan berusaha mengelak mbak"
"kamu semakin pintar membaca pikiran orang lain nin"kata ku dengan memegang pipi nya
__ADS_1
"mbak iga lagi ada masalah?
"sedikit" jawab ku
"mbak iga bertengkar lagi dengan mas irwan?
" ndak bertengkar"
"lalu?
" kamu akan tau ketika kamu sudah berumah tangga nin"dia menatap ku dan juga perut ku yang sudah membesar"kamu mau tidur dengan mbak mu ini to? tanya ku
"iya mbak" jawab nya, aku mulai membaringkan tubuh ku dengan menambahkan beberapa bantal sehingga aku sedikit bersandar.aku berusaha memejamkan mata ku tapi aku ndak bisa tidur karena waktu baru menunjukkan jarum di angka 21.45. HP ku bergetar ku lihat nama di panggilan masuk sandi
"halo manis" sapa nya begitu aku mengangkat HP ku
"aku bukan simanis"jawab ku
"kenapa? tanya nya
" karena aku bukan simanis jembatan Ancol"dia tertawa terbahak bahak sehingga membuat aku tersenyum, sifat nya yang urakan ndak pernah berubah
"kemana? tanya ku bingung dengan menatap nina yang di sebelah ku yang sedang memain kan HP nya.
" mendaftar kan diri kamu ke komedi?
"ndak lucu tau"dia tertawa kembali
" sorry,,, sorry,,, aku becanda manis"itu panggilan kesayangan dia ketika kami di SMP dulu, kenapa kamu dan devan hadir hampir bersamaan tapi sayang kamu hadir ndak tepat san"kenapa diam?
"aku sedang mendengarkan kamu berbicara"
"aku sedang diam" jawab nya"apa kamu sedang mengingat masa masa kita dulu ga?
"ndak" jawab ku berbohong
"sungguhkah itu?
" sungguh"jawab ku meyakin kan nya, karena aku ndak mau memberikan harapan yang ndak pasti sehingga dia akan menunggu ku karena dia berhak bahagia tapi bukan dengan ku,
__ADS_1
"kamu tau ga?
" apa itu?
"ketika aku tadi bertemu dengan mu aku berharap kamu masih sendiri, tapi begitu aku melihat perut mu semua nya menjadi suatu hal yang gak mungkin"aku merasa nada kekecewaan dia
" kamu tau ndak san?tanya ku
"apa?
" kamu itu ganteng dan sukses"
"terus?
" aku yakin pasti banyak perempuan yang jatuh cinta pada mu"
"termasuk kamu?
" itu dulu san dan jangan mengingat nya kembali"
"kamu sudah melupakan masa masa itu?
"terpaksa san dan kisah itu sudah lama sekali sehingga hampir hilang di ingatan ku" jawab ku karena aku memang ndak merasakan apa pun ketika kami bertemu hingga sekarang.
"kamu benar ga kisah itu sudah lama sekali, tapi boleh kan aku menjadi teman mu? tanya nya
" kamu ndak perlu meminta izin kalau ingin menjadi teman ku"
"Terima kasih ga"kata nya"waktu sudah malam tidurlah karena gak baik wanita hamil tidur terlalu malam" hp di matikan aku tersenyum dan geleng geleng kepala,
"siapa mbak?
"sandi"jawab ku
"kenapa dengan nya?
"ndak ada"aku memejamkan mata ku, aku merasa terharu karena devan dan sandi begitu besar perhatian nya pada ku
Mas irwan yang di rumah nya berjalan mondar mandir dengan berusaha menelpon ku
__ADS_1
" kamu kemana seh ga, angkat dong telpon ku jangan menghindar, sungguh aku sangat menyesal atas kejadian kemaren ga kenapa aku masih menemui nya dan jalan bareng dengan nya pada hal aku benar benar mencintai mu"ada telaga bening yang jatuh dari sudut mata nya dan dia berusaha mengusap nya"kenapa aku baru menyesal sekarang, kenapa ketika aku dan Winda bertemu dengan kamu kata kata ku menyinggung kamu kenapa aku gak meminta maaf pada mu ga, kalau kamu gak mau angkat telpon aku jawab pesan aku ga, setidak nya aku tau kamu sekarang berada dimana, benarkah kamu sedang ada urusan penting dari kantor atau kamu kembali ke rumah ibu atau bisa jadi kamu keluar kota bareng sama mantan kamu? kata nya"aku gak rela ga, aku gak rela"dia seperti orang yang kehilangan sesuatu yang berharga yang selama ini ndak pernah dia hargai.