Sebuah Harapan

Sebuah Harapan
Kecelakaan


__ADS_3

Malam ini aku benar benar bingung dengan perasaan ku sendiri setelah makan malam aku kembali ke kamar ku dan tidur tapi mata ku kenapa ndak mau terpejam, ku miring kan badan ku ke kanan dan ke kiri sembari mengusap perut ku sama saja aku masih merasa gelisah, handphone ku berdering di panggilan masuk tertulis Mami tumben ada apa mami nelpon ku malam malam begini, sebenar nya belum malam sekali karena waktu masih menunjukkan angka 22.10 menit,


"halo mi"


"kamu dimana ga?" kedengaran sekali suara mami begitu khawatir


"di rumah mi memang nya ada apa mi?" dada ku mulai berdebar begitu cepat


"irwan ga irwan"


"kenapa dengan mas irwan mi?" rasa takut mulai menghampiri ku


"irwan kecelakaan ga" pecah suara mami menjadi tangisan aku berusaha menahan tangis ku"sekarang kamu pergi ke rumah sakit"mami menyebut nama rumah sakit dimana mas irwan di bawa"nanti mami menyusul"HP langsung ku matikan


"bi,,, "panggil ku dengan sedikit lari menuruni anak tangga


"non pelan pelan jangan lari lari" kata bi surti merasa ngeri melihat ku"non hati hati"


"iya bi" jawab ku yang sudah berada di dekat bib surti


"ada apa non?"


"panggilkan pak kardi bi panggilkan!!"

__ADS_1


"baik non" bi surti langsung pergi memamggil pak kardi, benarkah ini terjadi pertanda itu jelas tapi aku dan bi surti datang dengan pak kardi


"ayok pak kardi dan bi surti"


"kemana non?" tanya bi surti bingung karena aku turut mengajak nya


"kerumah sakit"


"ngapain non?"


"mas irwan bi" aku berusaha menahan air mata ku tapi aku sudah ndak mampu membendung nya"kecelakaan"betapa terkejut nya mereka mendengar kalau anak majikan mereka kecelakaan,aku masuk mobil dengan menangis


"yang tenang ya non" kata bi surti mengusap punggung ku"mudah mudahan den irwan gak kenapa kenapa"berusaha menenangkan ku yang menangis, begitu mobil berhenti di parkiran rumah sakit aku langsung lari tapi bi surti berhasil menarik tangan ku


"jangan lari terus non,,, bisa khawatir dengan kandungan non iga" aku berusaha berjalan cepat di ikuti pak kardi dan bi surti karena benar kata bi surti ndak baik wanita hamil berlarian. aku langsung menuju receptionis dan bertanya apakah ada pasien yang baru masuk atas nama irwan hardi Wijaya diningrat dan di kamar nomor berapa dia di rawat


"non...... " panggil bi surti"jangan lari non"aku ndak memperdulikan teriakan bi surti dan aku sampai di depan pintu ruangan operasi dengan nafas terengah engah dan keringat membanjiri wajah ku rambut ku berantakan tapi aku ndak perduli dengan kondisi ku, ku usap perut ku karena merasakan sedikit nyeri di bawah nya"non iga gak papa kan?"tanya bi surti begitu khawatir melihat kondisi ku yang berantakan, aku hanya diam dengan berjalan mondar mandir di depan pintu ruangan operasi dimana mas irwan yang saat ini berada di dalam"duduklah non"ajak bi surti dengan menarik tangan ku untuk duduk, dan akhir nya seorang suster keluar


"apakah ada saudara nya?"


"saya dok"


"silahkan masuk bu"begitu terkejut nya aku melihat kondisi nya, kepala nya di perban karena kata dokter ada pembekuan darah di dalam otak nya maka nya harus di ambil tindakan di kening dan pipi nya terdapat perban dan dokter mengatakan kembali kalau itu jahitan akibat pecahan kaca, tangan nya begitu banyak luka goresan aku ndak sanggup menahan air mata ku melihat kondisi nya sebenci apa pun aku saat ini aku ndak akan mampu membiarkan nya dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


"kondisi nya dalam keadaan belum sadar bu" aku hanya diam menatap nya


"aku begitu sakit atas perbuatan mu mas atas sikap mu sudah terlalu banyak kamu menggores luka di hati ku bahkan belum lagi sembuh luka ku sudah kamu siram kembali dengan air garam" kata ku dengan menyentuh tangan nya"tapi kenapa sekarang aku justru ndak tega melihat mu dalam keadaan ini bukan kah seharus nya aku bersyukur dan senang kamu tertimpa musibah seperti ini mas dan air mata ini selalu tumpah karena sikap dan perilaku mas"batin ku"aku takut mas takut"bi surti dan pak kardi berdiri di belakang ku dengan menatap anak majikan nya, bi surti mengusap punggung ku


"yang sabar ya non"


"salah kah aku menangis bi?"bi surti diam dengan menatap ku" salahkah aku menangisi orang yang terlalu sering menyakiti ku bi?"dengan mengusap air mataku"bodoh kah aku masih mencintai orang yang sudah menyakiti ku bi?"tanya ku dengan memeluk nya, ni surti mengusap usap punggung ku


"sekeras apa pun wanita masih memiliki sisi lembut non, berulangkali seorang wanita di khianati dan di sakiti oleh suami nya dia tetap memaafkan nya dengan tulus"kata nya" bibi yakin kalau non iga memiliki sifat semua itu"


"tapi terkadang saya ndak kuat bi"


"wajar non karena kita hanya manusia biasa"ku menarik nafas dalam dalam dengan menatap wajah nya seperti orang yang sedang tidur pulas, harus kah kami berpisah karena perceraian atau karena dia sudah tiada lagi, aku ndak akan sanggup membayangkan semua nya harus kah anak ku yang belum lahir sudah menjadi yatim atau sebelum lahir anak ku sudah memiliki ibu tiri?aku sudah ndak sanggup membayangkan nya jika perpisahan ini harus terjadi tapi bukan kah kami selama ini sudah berpisah bahkan sudah ndak satu atap lagi, kenapa aku jadi takut kehilangan diri nya, batin ku sambil menangis dan kenapa justru aku duluan yang memiliki rasa ini


"jangan pernah menyalahkan diri sendiri non"


"aku telah kalah bi, telah kalah"


"kalah dengan siapa non?"


"dengan diri ku sendiri bi, kenapa aku begitu mencintai nya bi kenapa?"


"rasa itu datang gak bisa di tebak non dimana dia akan muncul dan hilang dan rasa itu tidak bisa menempatkan pada tempat nyahati karena dia bukan perasaan dan jangan pernah mengatakan kalau non iga telah kalah karena ini bukan kompetisi atau sebuah audisi karena ini menyangkut perasaan hati"

__ADS_1


"tapi bi" kata ku pelan dengan mengusap perut ku


"sudah jangan pernah mengatakan apapun yang membuat non iga merasa bersalah"ku usap wajah nya yang terdapat beberapa luka, aku akan menjaga mu sampai benar benar sembuh mas.


__ADS_2