
"maksud kamu apa yang? tanya mbak Winda
" aku masih banyak urusan, nanti kita sambung? kata mas irwan sambil berlalu dari hadapan mbak Winda
"tunggu!! panggil mbak Winda dengan menarik tangan mas irwan
" apa lagi? tanya mas irwan dengan menatap mbak Winda, sebenarnya mas begitu khawatir dengan kondisi dan biji kecambah ku, karena aku ndak ada yang menemani di rumah sakit
"kamu kenapa terburu buru? gak biasa nya kamu seperti ini? tanya mbak Winda dengan penuh curiga
" klien ku ini akan terbang ke Singapore, jadi aku harus buru buru sebelum dia berangkat?
"klien yang mana?
" kamu ingat waktu aku dan iga menemui nya di kafe? kata mas irwan dengan melihat mbak Winda yang berusaha mengingat ingat"ingat gak? gimana mau ingat waktu aku dan iga menemui nya kamu kan gak ikut, kamu sibuk pergi ke salon? kata mas irwan, mendengar kata salon mbak Winda tersenyum"udah aku pergi dulu, kalau kamu mau menjenguk iga telpon aku, biar kita barengan? kata mas irwan agar mbak Winda gak mencurigai nya.
"aku gak ke sana, biar yang lain aja, aku mau shopping sekaligus mediciur dan pediciur? mas irwan hanya tersenyum sinis mendengar kata kata mbak Winda yang gak pernah dia dengar untuk seorang laki laki ke salon hanya melakukan hal seperti itu.
" ya udah? kata mas irwan, magnet apa yang iga berikan padaku sehingga aku selalu memikirkan nya, pada hal sebelum ini hanya Winda yang selalu di pikiran ku, batin mas irwan sambil berjalan menuju lift, intan tersenyum sinis melihat mas irwan dan mbak Winda
"Hai tan!!!panggil mas aris" kenapa pandangan mu begitu sinis dengan pak bos dan calon nya?
"calon apa? celetuk kang lihin
" calon istri barangkali? jawab mbak ica
"sayang dong lajang dapat janda? kata mas aris
" apa beda nya? kata mbak dwi
"ya beda lah, kalau perwan menjepit? jawab kang lihin
"kalau janda? tanya inta
__ADS_1
"kita yang jepit? jawab kang lihin, sontak semua yang berada di ruangan tertawa.
mas irwan melajukan mobil nya sedikit kencang, karena mas irwan terburu buru menuju rumah sakit, sebelum ke rumah sakit mas irwan belanja buah dan makan. pintu kamar ruang rawat inap ku ada yang membuka, aku melihat ternyata mas irwan dengan membawa dua kantong plastik yang di tinting nya,
" gimana keadaan kamu, udah mendingan? tanya mas irwan dengan meletakkan kantong plastik di meja dan mendekati ku dengan memegang kening ku, aku dan mas irwan seperti orang yang baru kenal, setiap mas irwan mendekati ku, memegang kening ku, memegang jari ku dan mencium tangan ku, mengusap perut ku masih begitu canggung, setidak nya ini awal yang baik buat hubungan ku dan mas irwan"masih panas, Naura ada kemari? tanya mas irwan dengan mengambil buah,
"belum? jawab ku,
"gimana seh Naura? gimana demam kamu mau turun kalau kamu nya aja gak di periksa? kata mas irwan mengupas apel dengan sedikit kesal
"sabar dong mas? kata ku" barangkali saja ada pasien juga yang lagi sakit? kata ku lembut, mas irwan tersenyum, perkataan iga membuat hati ku begitu adem, lain dengan Winda, kenapa aku sekarang hobi membandingkan iga dan winda, mas irwan memberi ku potongan apel, dengan pelan ku gigit dan ku kunyah,
"manis gak? tanya mas
"mungkin karena mas irwan yang mengupas apel ini rasa nya begitu manis mas? jawab ku, membuat mas irwan tertawa.
"kamu bisa aja? jawab mas irwan dengan menjawil hidung ku, aku dan mas irwan seperti orang yang lagi kasmaran, orang yang lagi jatuh cinta" oya, tadi temen temen kantor mau jenguk kamu? kata mas irwan
"termasuk mbak Winda? tanya ku, mas irwan menatap ku, untuk sesaat aku dan mas irwan terdiam
"tau dari mana mereka kalau aku sedang di rawat inap mas?
" aku tadi ngomong sama mereka?
"oh? jawab ku, dengan manggut manggut, waktu sudah menunjukan angka 12.15
"sebentar lagi mereka datang, aku keluar sebentar ya supaya mereka gak curiga? kata mas irwan dengan menyentuh tangan ku" maafkan aku ga? kata mas irwan sambil berlalu dari hadapan ku, hanya senyuman kecut yang ku berikan kepada mas irwan, benar ndak berapa lama mas irwan keluar mereka datang, suara kang lihin begitu kas sehingga aku bisa mengenali nya
"Hai?? sapa mereka, aku jawab dengan senyuman, ternyata benar mbak Winda ada di antara mereka, dan ndak berapa lama mas irwan pun datang kembali,tapi tidak seperti tadi, cinta nya, genggamaan nya, usapan nya dan ucapan nya yang begitu lembut, hilang dalam sekejab, di hadapan mereka mas irwan seperti orang asing bagi ku.
"kamu sendiri aja ga? tanya mas aris" kemana suami mu?
"baru saja pergi mas?
__ADS_1
" kamu di tinggal sendiri dalam kondisi seperti ini ga? tanya mbak dwi
"ya mau gimana lagi mbak, suami ku hanya karyawan biasa mbak, begitu ada panggilan mendadak dari kantor pusat jadi mau ndak mau aku harus di tinggal? jawab ku dengan memandang intan,
"kalau aku punya suami seperti itu udah ku buang ke laut, biar dia berenang sama ikan hiu?celetuk mbak ica
" Hus kamu ini kalau bicara suka benar? kata mbak dwi, sontak membuat yang berada di ruangan terbahak bahak, mas irwan berdiri sebelahan dengan mbak Winda, begitu mesra nya mbak Winda menggenggam tangan mas irwan, mungkin mbak Winda ingin menunjukkan pada ku kalau mas irwan adalah kekasih hati nya dan ndak ingin di pisah kan.tapi mas irwan kenapa ndak berusaha menolak nya,
"eh ga kamu sakit apa? tanya intan mendekati ku
"demam tan? jawab ku, intan memegang kening ku
" kenapa demam nya belum turun juga ga? tanya intan kembali
"ndak tau? jawab ku
" yang ada demam kamu ini terpengaruh dengan hati mu juga ga? kata intan
"apa hubungan nya tan? tanya ?mas aris
" karena suami nya lagi sibuk?kata kang lihin
"ya mau gimana lagi? jawab ku
" sibuk dengan wanita lain? gumam intan, iga menarik tangan intan
"apa tan?? tanya mbak dwi, membuat aku kelabakan" kalau bicara itu yang jelas tan supaya gak ada yang salah dengar? lanjut mbak dwi
"sengaja mbak? jawab intan dengan memandang tangan mas irwan
" jadi kapan kamu boleh pulang ga? tanya kang lihin
"iya ne ga, gak ada kamu gak rame? celetuk mas aris
__ADS_1
" kenapa pak irwan dan mbak Winda diam saja? mana buah tangan nya? tanya intan, aku lihat sekarang intan lebih berani di bandingkan beberapa hari yang lalu.