
Kami sampai di kantor dan seperti biasa dengan setia pak kardi membukakan pintu mobil untuk ku dan aku langsung ke luar, ica mengikuti langkah ku dari belakang menuju lift begitu lift berhenti aku langsung masuk ke dalam ruangan ku untuk istirahat sejenak ku baringkan tubuh ku di sofa rasa nya sungguh nikmat.
Sementara di luar semua karyawan pada ngumpul membicarakan diri ku
"gimana ca?
" apa nya?
"kerjasama nya dong masak apa nya?
" aku tu bener bener gak menyangka"
"kenapa?
" bu iga itu bukan aja cantik tapi juga pintar"
"terus" mereka sungguh sangat penasaran
"belum ada sebulan bu iga jadi direksi"
"kelamaan kamu"
"ya sabar dong" jawab nya
"habis kamu ngomong nya lama banget"
"semua proposal yang di ajukan ke pperusahaan kita di tanda tangani dengan bu iga dan beliau juga mengajukan syarat ternyata mereka semua sepakat"
"wow,,, hebat juga ternyata bu iga ya ca"
"baru tau kan?
" iya"jawab mereka serempak
"dan aku selaku sekretaris nya sangat bangga bukan cantik dan pintar saja bu iga tapi jiwa keibuan dan kelembutan nya baru aku dapati sebagai pemimpin di sini dan gak sombong ramah lagi" mbak tari hanya diam mendengarkan kata kata ica,
"aku jadi pengen mengenal nya lebih dekat"
"jangan yang aneh aneh lo"
"aku gak aneh tapi aku penasaran"tari pergi dari obrolan mereka dan menuju ruangan ku
" tok... tok.. "
"masuk" kata ku dengan masih posisi berbaring di sofa dengan mata terpejam aku mendengar pintu di tutup kembali"ada apa ca? tanya ku
"maaf Bu saya tari"jawab nya ku buka mata ku dan aku berusaha untuk duduk
" duduk lah"kata ku pelan dan dia duduk tepat di depan ku"ada apa tari?
"saya merasa malu bu" aku melihat rok nya yang terlalu pendek dan sempit dan dia merasa ku pandangi berusaha menarik rok nya agar sedikit turun
"malu kenapa?
" bu,, saya ingin mengembalikan mobil itu"
"kemana?
" ke bu iga"aku tersenyum
"saya ndak bisa nyetir tari" dia langsung menatap ku heran mungkin dia terkejut seorang iga menantu konglomerat ndak bisa nyetir mobil jangan kan nyetir mobil nyetir motor saja aku ndak bisa
"lalu bagaimana bu?
__ADS_1
"mobilnya sekarang dimana?
" di rumah"
"ndak kamu bawa? dia menggelengkan kepala"kamu pakai saja dan setiap bulan kamu potong pakai gaji kamu"
"beneran bu? tanya nya
"tapi ingat saya ndak mau hal ini terulang lagi"
"Terima kasih bu" kata nya dengan jongkok memegang tangan ku
"kamu ngapain? tanya ku dengan menarik tangan nya untuk berdiri
" saya gak menyangka kalau ibu memiliki hati yang sangat besar"puji nya
"hati saya kecil"
"tapi bagi saya sangat besar"
"jangan terlalu memuji saya"
"tapi kenyataan bu"
"kamu belum mengenal saya dengan baik"
"saya akan mengenal ibu dengan baik"aku hanya tersenyum mendengar kata kata nya
" satu lagi"kata ku ketika dia berdiri
"apa bu?
" saya ndak suka melihat cewek memakai rok terlalu pendek dan ketat seperti itu"wajah nya merona merah mendengar kata ku"mulai besok jangan di pakai lagi"
"akan aku pikirkan nanti, sekarang aku mau pulang ingin tidur" kata ku pelan sambil keluar dari ruangan ku"ca"panggil ku
"ya bu" jawab nya sambil berjalan ke arah ku, semua karyawan menatap ku karena wajah ku kelihatan pucat
"saya pulang dulu ya" kata ku pelan
"ibu sakit?
" ndak tau kenapa tiba tiba saya merasa ndak enak badan"jawab ku dengan memegang perut ku"oya map warna biru di atas meja saya tolong kamu simpan saja dulu ya saya mau pulang"
"baik bu, hati hati bu" aku tersenyum dengan berjalan memegang perut ku, suasana di lift masih sunyi karena bukan jam istirahat atau pun jam pulang. aku langsung menuju mobil dan pak kardi berdiri bersandar di mobil begitu melihat ku dia langsung berdiri dan membuka kan pintu mobil untuk ku. dan dia juga masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin
"kita mau kemana bu? tanya nya dengan melihat ku melalui kaca spion
" pulang"jawab ku pelan
"non iga sakit? tanya nya" kalau sakit kita kerumah sakit saja non?
"ndak pak,, kita pulang saja setelah istirahat pasti baikan" jawab ku
"baik non" mobil pun melaju menuju rumah sesampai nya di rumah aku di sambut dengan bi surti
"non iga sakit? tanya nya dengan melihat wajah ku yang pucat
" sedikit ndak enak badan bi"jawab ku sambil berjalan menuju dapur
"tapi non iga kelihatan pucat sekali"
"ndak papa bi"
__ADS_1
"saya buat kan jus atau teh non?
" ndak usah bi, saya mau air putih saja"
"kalau begitu non iga duduk saja biar saya ambilkan non"aku menuruti kata nya aku berjalan menuju sofa dan begitu terkejut nya aku melihat mas irwan juga di sana dia menatap ku
" tumben kamu cepat pulang? aku ndak menjawab nya"kamu tadi dari mana? tanya nya dan aku langsung melihat nya sehingga pandangan kami bertemu
"bertemu dengan klien?
" klien atau pacar? tau dari mana dia aku bertemu dengan devan, bi surti datang dengan membawa segelas air putih
"Terima kasih bi" dan dia pun langsung pergi meninggalkan kami, aku langsung meminumnya sampai habis dan langsung berdiri
"kamu mau kemana?
" ke kamar"
"kamu belum jawab pertanyaan ku"
"apa yang harus aku jawab?
" siapa dia?
"dia siapa?
"jangan pura pura lupa kamu" aku berdiri di depan nya
"maksud kamu apa mas?
" aku tanya dia itu siapa dan punya hubungan apa kalian? aku menarik nafas dalam dalam
"teman ku waktu SMA"
"teman atau pacar kamu?
" aku ndak mau membahas nya"
"tapi aku mau membahas nya?
" untuk apa?
"aku ingin tau sejauh mana hubungan kamu dengan nya?
" yang pasti ndak sejauh seperti hubungan kamu dengan nya"
"kenapa kamu jadi ngomongin aku?
" aku lagi malas mas"kata ku sambil berjalan dengan meninggalkan nya tapi dia menarik tangan ku sampai aku hampir jatuh
"mau kamu apa sih mas? tanya ku dengan berusaha melepas kan pegangan nya dari tangan ku
" aku ingin tau jawaban nya?
"aku ndak perlu menjawab nya"
"aku jadi curiga?
" curiga kamu ndak beralasan"
"beralasan"
"kamu cemburu? tanya ku dan berjalan menuju ke kamar ku dan dia mengikuti langkah ku menaiki anak tangga.
__ADS_1