Sebuah Harapan

Sebuah Harapan
Cemburu


__ADS_3

"**Kita memang baru kenal, tapi aku cemburu liat mu bersamanya"


~Ikhsan Al-Zair**


🍃


   Ikhsan melewati koridor yang panjang untuk bisa sampai pada kelasnya. Hari ini ia cukup lelah setelah debat panjang di rumah.


  Flash back on


    "Ikhsan harus memakai mobil di sekolah. Nama baik Al-Zair harus di jaga. Kita ini keluarga terpandang di Hamburg, Ikhsan. Kau harus paham itu" ujar Fano ke Nurma (bunda Ikhsan dan Fano) yang membuat Ikhsan semakin geram.


   "Emang apa salahnya ha?, lagian motor ku tidaklah motor tua, itu adalah motor Horex VR6," ujar Ikhsan pada Fano yang anggap remeh motornya.


  "Cukup, Ikhsan. Kali ini jangan membantah," ya memang begitulah Ikhsan yang tak mampu membantah Bundanya.


 


  Pada akhirnya Ikhsan harus berangkat ke Universitas bersama Fano.


   Flash back off


   "Apa salahnya aku menggunakan motor saja. Lagian motor ku harganya setengah harga mobil dia yang 113,936.70DEM (1Miliar indonesia)," ujar Ikhsan kesal.


   Di saat Ikhsan sedang jalan, tiba-tiba ia di tabrak oleh seorang perempuan cantik yang tidak asing wajahnya bagi Ikhsan.


   "Maaf, maaf. Gw buru-buru" ucap perempuan itu. Ia kaget kalau yang ia tabrak adalah Ikhsan.


 


   "Lu lagi," ujar Ikhsan dengan wajah datarnya. "Kenapa siap ketemu lu aku harus di tabrak?," ujar Ikhsan kesal.


  Perempuan itu adalah orang yang menabraknya di market bandara beberapa minggu lalu. Perempuan itu adalah Ipah.


   "Kan gw udah minta maaf," ucap Ipah menunjukkan senyum manisnya.


   Cukup lama Ikhsan menatapnya dan Ikhsan segera pergi meninggalkan Ipah yang masih berdiri mematung karena merasa bersalah.


  "Nama mu Latifatul kan," ucap ikhsan saat menghentikan langkahnya.


  "Iya, aku-" belum selesai ucapannya. Ikhsan sudah memotongnya.


  "Ikutlah denganku nanti, lu harus bayar kesalahan lu. Setelah selesai kelas nanti gw tunggu di parkiran," Ikhsan mengambil keputusan itu sebelah pihak.


  "Gw gak bisa," ikhsan tak menggubris jawaban Ipah dan malah langsung pergi.


🍃🍃


   "Bro," sapa Steve pada Ikhsan. Yang tertunduk malas saat duduk di depan kelas sambil nunggu dosen.


  "Hmm" ucap ikhsan singkat. Hubungan Steve, Rico, dan lainnya cukup erat dengan Ikhsan.


  "Kenapa bro?," ucap Rico sambil menepuk bahu temannya yang baru seminggu bersama.


  "Gak ada," saat Ikhsan menoleh ke dalam kelas. Sosok Ipah datang sambil berjalan dengan 2 perempuan lainnya yaitu Mandy dan Clara. Clara yang melihat Ikhsan tersandar lemas di depan kelas langsung menyapanya.


  "Pagi, Ikhsan Al-Zair yang gantengnya satu kampus," ucap Clara yang membuat Steve dan Rico tertegun.


  "Ya, pagi," ucap Ikhsan datar.


  Pagi langsung mau mengatakan kalau ia tidak bisa untuk menemui Ikhsan nanti. Tapi, ia memilih untuk tetap pergi karena di pikir-pikir tidak enak bicara dengan Ikhsan yang terlihat murung. Di saat Ipah mau masuk kelas, ia di panggil oleh Ikhsan kembali.


   "Jangan lupa nanti," ucap Ikhsan datar


  


   "Iya, tapi-" belum selesai Ipah bicara, dosen yang bernama Anita telah berjalan ke arah mereka. Dan merekapun segera masuk ke kelas.


🍃

__ADS_1


   *LINE ON"


      "Fan, nanti gw keluar kelas jam 1. Lu keluar jam 3 kan?," Ikhsan mengirim pesan ke Fano


  


    "Iya, kenapa?"


    "Gw ada urusan bentar, gw pinjam mobil, nanti jam 3 gw jemput lagi,"


    "Ok, jemput aja kunci sekarang mumpung kelas gw lagi kosong. Atau gk gw antarin aja lah ke kelas lu,"


   "Lu aja deh. Gw lagi ada dosen,"


   "Ok"


   Read


     *LINE OFF"


     "Henrick, temanin gw ke kelas Fisika 1 bentar," ucap Fano kepada temannya yang bernama Hendrick.


    "Ok, ngapain?," tanya Hendrick.


    "Mau ngantarin kunci mobil ke Adik gw,"


   "Lu ada adik?," tanya Peter.


   "Liat aja nanti,"


   "Kalau gitu gw ikut deh. Kata orang di sana ada MahaSiswi cantik, kalau gak salah namanya Latifatul, " ucap Peter sambil nyengir lalu melangkah tanpa menunggu aba-aba dari Fano.


   "Dasar Fak Boy" ujar Henrick yang membuat Fano tertawa.


   Jarak kelas Fano dan Ikhsan cukup jauh. Ikhsan berada di lantai ke tiga sedangkan Fano di lantai kedua jurusan fisika. Karena setiap jurusan mempunyai gedungnya sendiri.


   Sebelum ia sampai di kelas. Dari kejauhan Fano melihat dosen keluar dari kelas Ikhsan.


  "Hy, ada orang," ucap Fano lagi.


  "Ya, ikhsan ada. Siapa ya?," setelah Fanny menjawab ia menyuruh Fano masuk saja bersama kedua temannya.


  "Ini udah jam 1 broth. Sebaiknya lu pergi cepat ya. Nanti jemput lagi," sejak kapan Fano manggil Ikhsan dengan panggilan Broth. Fano melempar kunci ke arah Ikhsan. Ketika ia melihat sekali lagi, ia melihat sosok Ipah yang begitu aduhai dan Fano langsung menghampirinya dan meninggalkan kedua temannya.


  "Aku Fano," ujar Fano sambil mengulurkan tangannya ke arah Ipah


  "Aku Ipah, " lama Fano menggenggam tangan Yuna yang posisi duduknya di sebelah Ikhsan.


  "Hmm," kedua teman Fano mendehem. Dan fano melepas genggamannya.


  "Aku abangnya Ikhsan, atau lebih tepatnya kembarannya,"


  "Ha?????" serentak isi kelas kaget.


  "Gak usah lebay deh," ucap Ikhsan. Ikhsan mendadak panas melihat Ipah bersalaman dengan Fano.


   Gw kenapa, gw cemburu. Ah, tidak. Ujar Ikhsan dalam hatinya.


   "Kalau gitu gw balek ke kelas. Daa Ipah," Fano berlalu pergi dengan kedua temannya tadi.


  "Lu punya kembaran Bro?," tanya Steve yang penasaran.


  "Hmm," ucap Ikhsan datar. "Latifatul," ikhsan memanggil Ipah menandakan untuk Ipah harus segera mengikutinya.


   "Cla, ndy, aku duluan yak," ucap Ipah pada Clara dan Mandy.


   "Yaudah, jangan kelewatan ma Ikhsannya," ucap Clara di sambut gelak tawa Stev, Rico, dan Mandy.


   "Apaan sih," pipi Ipahmerona.

__ADS_1


🍃


   "Ayok," Ikhsan dan Ipah yang sudah di parkiran menyuruhnya untuk masuk dalam mobil.


  "Kita mau kemana?,"


  "Naik atau tidak sama sekali," ucap Ikhsan datar.


   Hufftt, kalau gak ganteng udah gw cakar-cakar nih anak, batin Ipah bicara.


   Selama di perjalanan tidak ada yang memecahkan keheningan dalam mobil.


    "Maaf,," ucap Ipah pelan.


   Ikhsan tetap diam dan mulai menyalakan rokoknya.


   "Jangan ngerokok, aku gak suka," spontan Ipah, emang aku siapa dia yang ngelarang-larang dia ujar batin Ipah.


 


   "Aku hanya mau bertanya," ujar Ikhsan.


  "Apa?,"


  "Sejak kapan kamu di Jerman,?"


  "Dari umur 11 tahun, aku resmi jadi warga negara Jerman," ujar Ipah yang menatap Ikhsan lama. "Kalau kamu?," sambungnya.


   "Aku di sini dari umur 1 tahun," Ikhsan mulai aktif dalam bicara. "Dimana kampung mu?," sambungnya.


    "Bukittinggi, Sumatra Barat. kamu?" Ikhsan tercengang, karena asalnya juga dari Sumatra barat.


 


   "Kamu tau 50 kota?,"tanya Ikhsan.


   "Tau lah, lumayan dekat sih sama Tanah Datar. Memangnya kamu dari sana ya?," ujar Ikhsan


 


   "Bunda ku yang dari sana, dari kampung yang kalau gak salah namanya kotobaru mungka,"


   "Owh, aku tidak terlalu tau daerah sana," ujar Yuna.


   "Dimana rumahmu?," kata Ikhsan yang sudah mulai berhenti bertanya.


   "Di komplek perumahan A,"


   "Yaudah, turun,"


   "Teganya kamu nyuruh aku turun di tepi jalan," kata Ipah sedikit emosi.


   "Katanya rumah mu di komplek A kan, tuh liat!" Ipah menoleh ke samping, ternyata benar kalau ia telah sampai, ia yang terlalu nyaman ngobrol dengan ikhsan sampai tidak sadar.


   "Makasih" ucap Ikhsan


   "Hmmm," Ikhsan segera tancap gas menuju kembali ke kampus untuk menjemput Fano.


🍃


Gimana? Masih jelek? Hahahah. Sory.


Vote, komen and share.


  


 


     

__ADS_1


    


__ADS_2