
Tinggal aku ica dan mas irwan, kenapa dia ndak pergi apakah dia akan mengatakan sesuatu atau dia mengingin kan perceraian itu secepat nya karena dia ingin menikahi kekasih nya.
"bu" panggil ica
"ya" jawab ku dengan memandang ke arah nya
"saya duluan ya bu" pamit nya dengan memandang ke arah mas irwan dan apakah ica tau kalau lelaki yang di hadapan nya adalah suami ku
"kenapa?" aku memandang ke arah ica"maksud saya iya"kelihatan kalau aku gugup, ica tersenyum heran kenapa aku begitu gugup di depan suami nya seperti orang yang baru saling mengenal"kenapa kamu tersenyum?"
"kenapa bu iga begitu gugup di depan suami sendiri seperti orang yang baru mengenalnya?" bisik nya di telinga ku membuat aku terkejut dan terbatuk kecil"ibu jangan terkejut karena saya sudah lama mengenal nya"aku memandang ke arah ica"saya permisi dulu tuan irwan dan nyonya irwan"mas irwan pun begitu terkejut mendengar sebutan itu dan dia pun pergi meninggal kan kami berdua
"apakah kamu mengatakan pada nya kalau aku suami kamu?"
"dan apakah kamu ndak mengenalnya?" tanya ku dengan melihat ke arah nya yang sedang mengingat siapa sebenar nya ica itu
"wajah itu tidak asing"
"kalau ndak asing berarti kamu mengenal nya mas"
"mungkin" jawab nya dengan berusaha memegang tangan ku tapi aku menarik tangan ku untuk mengusap perut ku yang terasa bergerak"kamu sekarang berubah ga"
"aku ndak berubah"
"penampilan kamu"
"tuntutan mas"
"jabatan kamu"
"mungkin"
"kok mungkin?"
"karena kamu ndak pernah melihat nya mas"
"aku baru menyadari ga"
"tentang?"
"perbedaan kamu dan Winda"
"jangan membandingkan aku dengan kekasih mu mas"
"kenapa?"
"kamu bertanya?"
"karena memang semuanya beda"
"karena aku bukan adik nya"
"aku baru menyadari hal itu"
"terlambat"
"jika aku ingin hidup bersama mu apakah kamu mau menerima ku?" tanya nya
__ADS_1
"akan aku pikirkan"
"anak itu butuh figur seorang ayah"
"tapi aku ndak mengingin kan anak ku memiliki figur seorang ayah seperti kamu mas"
"tapi anak itu butuh seorang ayah"
"dan aku ndak pernah mengatakan kalau kamu bukan ayah dari anak ku"jawab ku pelan
" aku berharap kamu bisa menerima ku"
"kalau kamu merubah sikap mu"dia terdiam dengan memainkan jari nya
"apakah semua nya baik"
"seperti yang kamu lihat sekarang mas dan aku sudah terbiasa hidup tanpa kamu"
"apakah kamu serius ingin berpisah dengan ku?"
"jika kamu ndak berubah"
"kalau aku berubah"
"kita lihat saja apa aku bisa menerima kamu"
"aku gak akan menceraikan mu"
"aku yang akan menceraikan mu"lagi lagi dia terdiam"kelihatan jelas mas kalau kamu begitu mencintai nya"
"kamu tinggal mengatakan kalau kamu sudah menikah"
"tidak segampang itu"
"itu artinya kamu ndak ingin berpisah dari nya"kata ku" sudah lah mas setiap kali kita bertemu kenapa kita selalu membicarakan tentang nya"kata ku dengan mengusap usap perut ku tapi sekarang dia juga berubah ndak pemarah seperti dulu apakah itu artinya dia mencintai ku juga
"bolehkah aku memegang perut kamu?" izin nya dengan berpindah duduk di sebelah ku
"ini anak kamu juga" jawab ku pelan, dan dia pun mulai menggerakkan tangan nya mengusap usap perut ku dia tersenyum
"apa kabar nak?" tanya nya"maafkan papa ya nak dan papa berjanji kalau kekuarga kecil kita akan bersatu dengan bahagia"
benarkah dia berubah karena aku merasakan kelembutan nya yang selama ini ndak pernah aku rasakan ah ndak ini mungkin modus dia saja"sudah berapa bulan kehamilan kamu ga?"
"pertanyaan aneh untuk seorang suami"dia tersenyum
"betul kata kamu ga aku suami yang aneh seharus nya aku tau setiap perkembangan kehamilan kamu" kenapa aku jadi iba kepada nya aku seperti kena sihir"maafkan atas sikap ku dulu ga, mami benar benar kecewa melihat ku seharus nya aku gak melakukan hal itu"masih dengan mengusap perut ku"acara empat bulanan kehamilan kamu gak di lakukan karena ulah ku"
"semua sudah terjadi"
"mudah mudahan aku masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki nya"kata kata nya seperti orang yang akan pergi untuk selama nya"aku antar ya?" tanya nya
"ada pak kardi"
"jadi supir mami sekarang sudah sama kamu?"
"mami yang meminta nya"dia tersenyum melihat ku sungguh benar benar aneh
__ADS_1
"aku duluan"kata ku dengan melihat jam tangan yang sudah menunjukkan angka jam 04.30
" kamu benar benar gak mau aku antar?"melihat ke arah ku yang sudah berdiri
"Terima kasih" tolak ku
"kapan kamu kontrol lagi?" tanya nya dengan ikut berdiri dan kami berjalan berdampingan
"belum tau"
"aku ingin mengantar mu"
"aku bisa sendiri"
"izin kan aku ga karena aku juga ingin melihat perkembangan calon anak ku yang berada di rahim mu" dengan melihat ke arah perut ku
"kalau aku ingat"
"benarkah kamu sudah melupakan ku?"kami berhenti dan saling pandang
" kamu yang memaksa ku mas"lagi lagi dia tersenyum
"aku antar sampai mobil"
"aku bisa sendiri" tapi dia langsung memegang jari ku untuk menuntun ku menuju mobil dan kami melihat pak kardi sudah menunggu ku
"apa kabar pak?"tanya mas irwan dengan menjabat tangan pak kardi
"den irwan,,, baik den dan aden sendiri gimana?"
"seperti yang pak kardi lihat" jawab nya
"jaga istri saya baik baik ya pak" pesan nya dengan membuka kan pintu mobil untuk ku"masuk lah"kata nya dan aku pun menuruti nya"jangan ngebut ngebut pak karena dia sedang mengandung pengganti ku"aneh sekali kata kata nya
"baik den, saya permisi dulu den" kata pak kardi berjalan membungkukkan sedikit badan nya menuju setir dan mobil pun melaju meninggalkan nya dia melambaikan tangan nya, ku sandarkan badan ku di bangku mobil dan mengingat setiap kata kata nya, aku seperti merasakan firasat yang ndak enak tentang nya tapi aku berusaha menepis nya mungkin ini hanya perasaan ku saja
"non iga kenapa?" tanya pak kardi melihat ku melalui kaca spion depan mobil
"perasaan saya kenapa ndak enak ya pak"
"memang nya kenapa non?"
"ndak tau pak"dengan mengusap usap perut ku yang merasakan mual
" kita langsung pulang non?"
"iya pak" mobil melaju sedang menuju rumah, aku ingin cepat cepat pulang dan ingin istirahat karena kepala ku pusing. akhir nya sampai seperti biasa pak kardi membuka kan pintu mobil pada hal aku sudah melarang nya tapi dia tetap melakukan nya untuk ku, aku langsung masuk ke dalam rumah dan bi surti menyambut ku
"sudah pulang non?"
"sudah bi" jawab ku langsung menuju kamar untuk segera mandi
"non iga kenapa pak?"
"ketemu dengan den irwan bi"
aku langsung mandi dan ganti baju daster yang sedikit pendek selutut setelah itu ku baringkan tubuh ku.
__ADS_1