
rasa keram yang aku rasakan perlahan lahan mulai hilang dan bi surti tau karena pegangan tangan ku mulai mengendor dia rasakan di tangan nya.
"gimana sudah enakan mbak?
"sudah dok"dan kami pulang, hari sudah malam aku pun langsung menuju ke kamar ku untuk beristirahat, aku ndak melihat mas irwan kemana dia aku ndak tau.
Pagi ini aku sedikit malas untuk ke kantor tapi aku harus ke kantor karena aku ndak mau mami mengatakan aku ndak bertanggung jawab dengan pekerjaan ku dan aku tau mami ndak akan mengatakan itu pada ku, semua karyawan ku sudah sibuk dengan pekerjaan nya masing masing ndak dengan ku, saat ini aku hanya sibuk memainkan HP ku sampai jam makan siang aku tetap memainkan HP, aku merasakan perut ku terasa lapar HP ku masuk kan dalam tas dan ku buka pintu
"deerrr... " aku begitu terkejut dengan suara itu sampai aku memegang dadaku, siapa yang berani mengejutkan aku siang siang begini kurang kerjaan sekali, dan ku tarik nafas ku
"kamu?
" terkejut ya? tanya nya
"kalau aku pingsan bagaimana?
" bagus dong,,, artinya aku memiliki kesempatan buat gendong kamu"
"itu nama nya mencari kesempatan dalam kesempitan"
"aku menolong bukan memanfaat kan"
"kamu ngapain kemari?
" makan siang yuk?aku tersenyum"kenapa tersenyum? tanya nya
"kamu tau saja kalau aku sedang lapar"
"insting ku tajam sayang" mendengar sebutan itu semua karyawan menatap ke arah ku
"jangan menyebut ku dengan sebutan itu"
"kenapa?
"aku bisa tergila gila"
"itu yang aku harapkan"
"jangan seperti itu devan"
"aku gak keberatan honey" ah lagi lagi dia membuat aku tersenyum dengan wajah merona
"jangan memanggil ku seperti itu?
" kenapa?
"aku bisa kecanduan devan"
"kalau kamu kecanduan kamu bisa nelpon aku"
"ngapain?
" untuk menghilangkan kecanduan pada diri mu"jawab nya, seperti itulah devan setiap kali aku dekat dengan nya aku benar benar merasa nyaman dan itu aku rasakan dari dulu sampai sekarang"gimana jadi makan gak ne?
__ADS_1
"ica,, " panggil ku
"ada apa bu?
" keluar yuk?
"dengan senang hati bu" kami menuju parkiran, pak kardi sudah berdiri menyambut kami
"maaf Pak kardi"kata ku
"kenapa non?
" saya akan pergi sama ica dan pak devan"
"lalu saya non?
" pak kardi bisa pulang, nanti kalau ada perlu saya telpon pak kardi"
"baik non" kami meninggalkan pak kardi dan menuju mobil devan, devan tetap romantis dia membuka kan pintu mobil samping stir
"Terima kasih"
"jangan ucapkan itu" jawabnya, aku selalu tersanjung atas sikap dan perlakuan nya dan karena sikap nya aku merasa belum memiliki suami dan calon anak, untuk sementara biarlah aku melupakan semua nya to aku juga sudah memberi tau mami ketika aku akan berjalan dengan devan,
"makan dimana kita? tanya nya yang membuat aku terkejut dan menoleh ke arah nya" kita mau makan di mana sa....? dia berhenti ndak melanjutkan kata kata nya karena dia melihat dari kaca spion ada ica, pasti dia lupa kalau kita sedang bertiga dan berempat lagi dengan calon anak ku, membuat aku tersenyum dan menggelengkan kepala
"kenapa?
"di kontrol bicara nya?
" kamu sudah menikah? tanya ku
"belum"
"kenapa belum menikah?
"aku hanya ingin kamu yang menjadi istri ku dan ibu dari calon anak-anak ku ga"
"kamu salah?
" aku gak salah"
"jangan mengharap sesuatu yang akan membuat mu kecewa dan sakit hati nanti nya"
"salah kah aku ga?
" salah devan kamu mengharap pada orang yang ndak tepat van"dia tersenyum
"dengan selalu melihat senyuman dan wajah mu yang cantik aku gak akan merasakan yang nama nya sakit hati"
"itu sekarang"
"selama nya"aku selalu kalah dengan kata kata nya, devan jangan membuat ku seperti di awang awang karena kalau jatuh akan sakit nanti nya
__ADS_1
"apakah kamu serius dengan ucapan mu devan?
"apa aku pernah bermain main dengan ucapkan ku?
devan ketika sekolah adalah siswa yang selalu konsisten dengan ucapan nya dan dia juga siswa yang cerdas dan cool sehingga dia selalu di gandrungi cewek cewek di sekolah, aku dan dia dulu satu angkatan cuma beda jurusan dan aku ndak tau kenapa dulu dia justru memilih ku dari pada cewek lain yang lebih kaya di banding kan ku dan aku ndak tau kenapa aku bisa jatuh kepelukan nya, tapi jujur dia memang romantis banget
"aku ndak pernah mengatakan begitu"
"tapi tatapan mu gak bisa di bohongi"
"aku ndak mau terlalu jauh melangkah"
"kenapa?
" aku takut rasa ini akan muncul lagi"
"itu yang aku harapkan"
"aku mohon devan, aku ndak mau disalahkan dengan mertua ku karena belum bercerai aku sudah jalan dengan lelaki lain"
"memang nya kita melakukan apa? aku melihat ica di kursi belakang dia sibuk dengan handset nya atau pura pura aku ndak tau
"jalan, makan dan kamu selalu menjemputku di kantor"
"kita bertiga gak berdua, berempat lagi sama calon anak kamu" kata nya"maaf kan om devan ya cok"kata nya dengan berusaha memegang perut ku tapi sebelum tersentuh perut ku ke tepiskan tangan nya
"kenapa?
"aku ndak mau anak ku juga akan kecanduan dengan sikap mu"spontan dia tertawa terbahak bahak membuat ica melongo
"hus" kata ku dengan berusaha menutup mulut nya
"kamu pikir aku narkoba apa?
" sejenis nya"mobil berhenti di sebuah kafe dan kami pun turun, devan jalan duluan diikuti ica lalu aku jalan paling belakang karena aku mengangkat HP dulu
"kamu di mana nduk? tanya mami mas irwan
" lagi di cafe mi"
"kamu cuma jalan berdua dengan nya?
" ndak mi,,, aku mengajak ica"
"ya sudah makan yang banyak, mami yakin kamu gak akan melakukan tindakan tindakan yang memalukan"
"percaya sama aku mi, dan mami bisa nelpon ica mi"
"mami percaya sama kamu nak, mami hanya khawatir nak?
" khawatir,,,khawatir kenapa mi? tanya ku dengan mengerutkan kening ku, ica dan devan berdiri menunggu ku, aku menyuruh mereka agar jalan duluan aku masih nelpon
"kamu dan anak kamu akan meninggalkan mami"
__ADS_1
"ndak akan terjadi mi, percaya lah?
" Terima kasih nak, Terima kasih"kenapa mami sekhawatir itu pada ku apa dia tau kalau pernikahan ku benar benar sudah ndak bisa di pertahan kan, HP dimatikan dan aku berjalan menuju kursi dimana ica dan devan duduk dan menunggu ku.