
Pintu lift terbuka aku dan ica keluar menuju parkiran mobil karena sudah pasti pak kardi menunggu, benar begitu sampai parkiran mobil pak kardi sudah bermenunggu dan dengan setia membuka kan pintu mobil ku dan seperti biasa ica duduk di depan sebelah pak kardi. mobil berlahan lahan meninggalkan parkiran kantor
"pak"
"iya non"
"nanti pak kardi masuk saja ke dalam cafe ya?
" ngapain non?
"pak kardi belum makan kan? dia tersenyum" nanti kalau pak kardi makan biar saya yang bayar tagihan nya"
"saya gak biasa masuk cafe non"
"maka nya biasa kan pak" jawab ica
"saya malu"
"dengan siapa?
"mereka non"
"jangan di hiraukan pak" lagi lagi ica yang menjawab nya
"benar kata ica pak" kata ku dengan tersenyum, hari ini aku merasa bahagia dan aku ndak tau apa yang membuatku bahagia hari ini, apakah karena telpon dari ibu tapi itu seperti biasa biasa saja dan mobil berhenti tepat di parkiran cafe samudra dan dengan setia pak kardi membuka pintu mobil untuk ku, begitu aku keluar dari mobil aku sedikit merapikan baju ku dan rambut ku,
"mari pak" ajak ku dan ica mempersilahkan ku jalan di depan di ikuti nya dan pak kardi, begitu kami masuk
"silahkan bu" seorang pelayan menyambut kami"mari bu"ajak nya dengan menuju meja yang sudah di pesan, perasaan aku dan ica ndak ada mesan aku dan ica saling pandang sementara pak kardi duduk di meja lain
"maaf mas kami belum ada pesan meja? kata ica
" tapi sudah ada yang memesan nya mbak"
"siapa yang memesan nya mas?
" saya gak mengenal nya mbak"
"dan mereka sekarang kemana mas?
" belum datang mbak"aku dan ica duduk di kursi yang sudah di pesan karena kami ndak tau siapa yang memesan nya
"sebentar mas"panggil ku
" iya mbak"
"untuk bapak yang pakai baju hitam itu tagihan nya ke saya saja ya mas" kata ku dengan melihat ke arah pak kardi
"baik mbak" dan pelayan itu pun pergi
"mereka belum datang bu" kata ica
"mungkin kita yang kecepatan kali ya ca" kata ku ica hanya tersenyum
"sekali kali kita yang datang duluan kan gak papa bu"
__ADS_1
"ya ndak papa juga cara"aku dan ica melihat pelayan datang ke arah kami dengan membawa buket bunga
"untuk bu iga" kata nya dengan menyerahkan ke ica
"saya ica mas" pelayan itu tersenyum
"maaf salah" jawab nya dengan menyerahkan buket mawar warna putih ke arah ku
"dari mana ini mas? tanya ku penasaran karena ndak ada yang tau kalau aku menyukai mawar putih
" dari pengagum rahasia ibu"jawab ica
"jangan sembarangan kamu ca"
"lalu dari mana bu? aku menggelengkan kepala" kalau ibu gak tau berarti itu memang betul"
"betul apa ca?
" ya ampun bu,,, ya pengagum rahasia ibu lah"
"pengagum rahasia saya itu ndak tau kali ya ca kalau yang di kagumi nya tu lagi hamil" kata ku dengan menunjuk ke arah perut ku
"mengagumi siapa saja kan gak salah bu"aku terdiam dengan melihat mawar putih aku jadi berpikir suami yang menikahi ku saja ndak pernah memberikan ku bunga jangan kan memeberi ku bunga, bunga kesukaan ku saja dia ndak tau jadi ndak mungkin kalau buket bunga itu dari nya lalu dari siapa,ketika aku sibuk dengan pikiran ku ada seseorang yang datang mendekati ku dan ica seperti nya aku mengenalnya tapi dimana ya dan wajahnya itu ndak asing bagi ku
"Hai" sapa nya
"Hai juga" jawab ica
"apa kabar? tanya nya pada ku
"kamu lupa dengan ku? pertanyaan yang membuatku tambah bingung" ternyata kamu benar benar melupakan ku ga"dia mengenal ku
"maaf aku benar benar lupa" jawab ku dengan menatap nya dan kenapa dada ku menjadi berdebar debar ketika dia menatap ku dan rasa ini
"kamu beneran lupa? aku dan ica saling pandang dan ica hanya menaikan kedua bahu nya menandakan kalau dia juga ndak mengenal nya, aku menjadi serba salah
" aku devan"deg jantung ku karena aku merasa terkejut, ya devan adalah lelaki yang pernah singgah di hati ku dan pernah mengisi dan menemani hari hari ku menjadi indah dan merasakan dunia hanya milik kami berdua yang lain ngontrak, kisah cinta di bangku SMA ah aku jadi tersenyum"kamu ingat?tanya nya, bagaimana aku bisa melupakan nya karena aku dulu sangat mencintai nya
"ya aku ingat" jawab ku gugup, ica tersenyum menatap ku
"nostalgia bu" kata ica
"siapa dia ga?
" saya sekretaris nya bu iga pak"jawab ica dengan menjabat tangan nya devan
"sekali lagi apa kabar ga? tanya devan dengan mengulurkan tangan nya ke arah ku
" sekali lagi baik van"dan kami saling berjabatan tangan dan saling pandang untuk melepas kan kerinduan yang bertahun tahun aku pendam karena ketika kami berpisah belum ada kata putus, tapi sekarang keadaan nya telah berbeda aku sudah menikah dan bahkan aku akan memiliki anak mungkin dia juga sudah menikah dan memiliki anak, dia duduk tepat di samping ku dan mengarah pada ku
"aku harap bunga kesukaan mu belum berubah? tanya nya
" ini dari kamu? tanya ku dengan menunjuk buket bunga, dia hanya tersenyum"sampai sekarang bunga kesukaan ku belum berubah van"
"dan rasa itu?
__ADS_1
" rasa apa? tanya ku balik, lagi lagi dia tersenyum dan aku melihat gaya nya ndak berubah hanya wajah nya yang berubah sekarang tumbuh kumis dan janggut tebal, meskipun kumis nya di cukur tipis ketampanan nya tetap terpancar
"rasa yang pernah ada ga"
"maaf Bu saya ke toilet sebentar" kata ica dan aku tau ica hanya ingin menghindari pembicaraan kami saja
"tapi keadaan nya sudah berubah van"
"aku tau ga"
" tau apa?
"firman sudah banyak cerita tentang kamu"
"berarti selama ini kamu masih berkomunikasi dengan firman?
" ya begitulah"
"selama ini firman membohongi ku"
"itu karena permintaan ku" aku melihat tatapan nya masih seperti dulu penuh cinta
"kenapa kamu dulu meninggalkn ku van?
" aku gak meninggalkan mu"
"lalu apa nama nya?
" aku ingin cita cita yang aku impikan berhasil"
"dan semua nya terlambat"
"aku masih memiliki kesempatan"
"kesempatan apa?
" menikahi mu"
"jangan gila van"
"aku gak gila ga, karena aku mendengar dari pacar firman dan dia menceritakan semua nya" kenapa intan harus menceritakan kehidupan pribadi ku dengan nya,bagaimana jika hal ini di ketahui mami.
"semua nya ndak benar?
" jika benar? aku diam dengan menatap ke arah nya,
"lupakan semua nya?
" aku belum bisa melakukan nya sampai sekarang"
"kamu harus berusaha?
" sudah ku coba"
"kamu melakukan nya ndak sepenuh nya?
__ADS_1
" sudah"aku ndak tau apa lagi yang harus aku katakan pada nya.