
"Belajarlah hari ini dan amalkan esok hari"
🍃🍃
"Sepertinya di hari pertama kuliah, aku akan jadi seorang yang terkenal di kampus," kata Fano sombong.
"Hmm," Ikhsan hanya mendehem dan berlalu meninggalkan Fano menuju garasi.
Ikhsan hanya memiliki sebuah motor sedangkan Fano memiliki sebuah mobil. Ikhsan memilih tidak membeli mobil karena mobil itu panas.
"Bunda, aku berangkat," kata ikhsan sambil mencium tangan bundanya itu.
"Fano juga ya nda,"
Ikhsan yang sudah memakai helm tiba-tiba pundaknya di pukul oleh Fano. "Lu, mau pakai motor? Lu mau buat malu keluarga Al-Zair ya?," kata Fano sombong.
"Lah,,, apa hubungannya bege," jawab Ikhsan sambil mengeluarkan Hondanya dari garasi.
"Kita itu orang kaya bodoh, cepat, naik mobil gue," Fano mulai emosi.
"Terus kenapa? Apa hubungannya? Kalau lu malu, gk usah anggap gw saudara di fakultas nanti," kata ikhsan sambil berlalu dengan hondanya.
Fano yang kesal langsung menancap mobilnya cepat.
🍃
Jam sudah menunjukkan pukul 9, pertanda kelas akan di mulai.
Fano dan Ikhsan menempati kelas yang berbeda. Ikhsan di Fisika 1 dan Fano di Fisika 7. Jaraknya lumayan jauh, mengingat fakultas Hamburg yang begitu besar.
Hari pertama kelas, Ikhsan sudah di hadapi oleh seorang dosen gendut laki-laki dengan tampang sangar dan memiliki kumis dan jenggot lebat.
"Morning", ucap dosen itu dengan bahasa inggris. Maha Siswa dan Maha Siswi di wajibkan menggunakan bahasa Inggris di kelas.
__ADS_1
"Morning pak," jawab mereka serentak. Kecuali Ikhsan yang cuek saja.
"Nama saya Alberto Carlo, umur saya 47 tahun dan bergelar S3. Jadi-" belum selesai dosen itu bicara, ia mendengar Ikhsan bicara dalam bahasa cina.
"Umur 47, tapi udah seperti umur 60 saja," ucap ikhsan pelan dalam bahasa cina.
"Permisi tuan, kamu bilang apa?," tanya sang dosen dengan marah.
"Ah, tidak pak. Saya hanya bilang umur 47, tapi masih seperti umur 27 tahun aja," jawab ikhsan sambil mengeluarkan senyuman yang membuat cewek-cewek di kelasnya itu terpana.
"Hahahah.. Makasih. Tapi lain kali gunakan bahasa Inggris, ok?," sang dosen memperingatkan.
"Siap pak," jawab ikhsan. "Dasar, untung dia gk bisa bahasa kanton," umpat ikhsan dalam hatinya.
Sesi perkenalan pun di mulai. Sang Dosen menyuruh satu-persatu Maha Siswa dan Siswi untuk maju.
"Ok, siapa yang mau duluan?," kata Alberto.
"Saya pak," jawab seseorang laki-laki berkulit putih, tinggi hampir sama dengan Ikhsan.
"Id linenya?," jawab seorang cewek di sudut yang bernama Laura. Yang membuat seisi kelas tertawa termasuk Ikhsan. Pak dosen yang killer itu mengerti tentang anak muda dan membiarkan saja jam kuliah kali ini di habiskan untuk perkenalan.
"Di catat ya, aku hanya akan menyebutkannya satu kali," kata Steve dengan sombong.
"Steven.2267" para cewek-cewek itu segera membuka hp mereka dan segera add akun linenya si Steve.
"Ok lanjut," sahut Alberto sang Dosen.
"Saya Rico De Parto, asal Meksiko," Rico sangat tinggi. Lebih tinggi dari Ikhsan. Dengan rambut sisir kiri dan kulit putih.
"Ok lanjut" tak terasa giliran Ikhsan pun tiba. Dengan malas ia berdiri dan mulai memperkenalkan diri.
"Aku Ikhsan, asal-" belum selesai ia bicara, tiba-tiba seorang perempuan yang wajahnya tidak asing bagi Ikhsan memasuki kelas. Ya, dialah perempuan itu.
"Permisi pak. Saya Latifatul Hasanah. Maaf terlambat pak. Saya dari kantor dekan mengurus surat beasiswa saya pak," ucap Yuna dengan mata yang memelas.
__ADS_1
"Owh, kamu Latifatul ya. MahaSiswa yang paling bagus nilainya tahun ini. Silahkan masuk," seluruh MahaSiswa melongo mendengar ucapan pak Alberto. Tidak hanya cantik tapi juga cerdas.
Latifatul segera masuk dan kebetulan kursi yang kosong hanyalah kursi di sebelah Ikhsan.
"Kamu," ucap Latifatul kaget.
"Udahlah, lupain aja. Duduk aja kalau mau," jawab ikhsan malas lalu kembali menatap ke depan.
Ganteng-ganteng tapi dingin, dasar batin Latifatul bicara.
"Silahkan perkenalkan dirimu lagi Ikhsan, setelah itu giliran Wahyuna," kata pak Alberto.
"Aku Ikhsan, aku asli orang Indonesia, tapi ayah ku orang Jerman. Ada yang mau bertanya?," Ikhsan memberi kesempatan untuk mahasiswa lain bertanya.
"Apa nama Ig nya, Ikhsan. Kenalan dong," kata cewek-cewek itu serentak.
"Aku gk makai Ig," jawab ikhsan bohong. Ikhsan sangat malas meladeni cewek-cewek itu.
"Ah, bohong" kata cewek-cewek itu kecewa.
Latifatul masih cemas, dengan kejadian di market lampau hari. Teguran Alberto membangunkan Latifatul dari lamunannya. Sekarang gilirannya untuk perkenalan diri.
"Aku Latifatul Hasanah,bisa di panggil Ipah, juga asal Indonesia, tapi ayahku asal Jerman," Ikhsan melirik Yuna sebentar lalu kembali melihat ke depan. "Ada yang mau bertanya?," sambungnya.
"Mau jadi pacar ku gk?," pertanyaan Steve itu membuat seisi kelas tertawa termasuk pak Alberto yang pernah muda itu. Tapi, Latifatul tidak mengubris pertanyaan itu lalu duduk kembali.
"Ok, kelas kita akhiri. Kali ini santai dulu. Pertemuan selanjutnya serius lagi, ok" kata sang dosen dengan bijak sana.
*Latifatul Hasanah
🍃
Gimana? Masih jelek? Hahah.. Maaf yak..
Vote, komen, and follow.
__ADS_1
Ini baru awalan. Insyaallah kedepannya lebih baik lagi.